
Ricko ada sang asisten pribadi pemilik perusahaan itu dan kekuasaannya juga sama seperti pemilik perusahaan karena dia sangat di percaya oleh bosnya.
"Ada apa ini?". Tanya Ricko penasaran dan melihat sekilas kearah Maira.
"Cantik". Batin Ricko kerena memang Maira terlihat sangat cantik apalagi penampilannya sekarang sangatlah berkelas dan elegant.
"Ini tuan, gadis ini mau melamar pekerjaan tapi dia memaksakan padahal kami sudah jelaskan jika lowongan pekerjaan disini hanya untuk pria dan wanita yang sudah menikah saja". Jawab resepsionis.
Ricko menatap kearah Maira dan berkata "Maaf nona apa yang dikatakan oleh dia benar kami tidak-". Namun perkataannya terputus karena Maira langsung menjawab ucapan Ricko.
"Tapi saya sudah menikah tuan, jadi sudah seharusnya mereka menerima berkas saya karena saya memenuhi syarat yang perusahaan ini butuhkan". Ujar Maira lantang.
"Apa anda yakin?". Tanya Ricko penuh selidik karena jujur dia juga tidak percaya apalagi dia sempat mengagumi kecantikan gadis itu.
"Tentu saja". Jawab Maira sangat yakin dia kemudian membuka file berkasnya dan menunjukkan kepada Ricko karena Maira memang sengaja melampirkan bukti fotocopy buku nikahnya di sana selain agar mereka percaya, hal itu dia lakukan juga agar mereka tahu siapa suami Maira sehingga mungkin saja Maira akan mudah mendapatkan pekerjaan di sana. "Lihat ini buku nikah saya". Sambung Maira lagi.
Ricko yang melihat dengan teliti berkas tersebut sangat terkejut dengan kenyataan yang dia dapatkan apalagi nama suami Maira dan juga foto pria tersebut sangatlah tidak asing baginya. Ricko menatap Maira dengan tatapan yang sulit di artikan bahkan tanpa berkedip sedikitpun.
"Sekarang anda percaya kan tuan jika saya sudah menikah dan ini". Maira membuka tasnya dan mengambil buku nikah asli dan menyodorkannya kepada Ricko.
Ricko lagi-lagi di buat terkejut karena ternyata Maira tidak sedang berbohong dengan memalsukan dokumennya karena buku nikah asli yang berada di tangannya saat ini adalah bukti yang sangat akurat untuk membuktikan ucapan Maira tadi.
"Bagaimana tuan?". Tanya Maira penasaran melihat Ricko yang sama sekali tidak memberikan reaksi apapun.
__ADS_1
"Ah, ya kamu benar, kamu sudah menikah dan kamu bisa melamar pekerjaan disini, berkas ini akan langsung saya terima". Jawab Ricko canggung dan langsung mengambil berkas Maira tanpa menyerahkan lagi kepada resepsionis karena dia masih sangat dengan keaslian dokumen Maira.
"Terimakasih tuan, saya sangat berharap jika perusahaan ini bisa menerima saya, saya permisi dulu dan saya tunggu panggilan kerja dari anda". Jawab Maira antusias sambil menyalami Ricko dengan sedikit paksaan dan kemudian dia pergi dari perusahaan itu begitu saja.
Ricko masih diam seribu bahasa karena pikirannya sedang di penuhi dengan beribu tanpa tanya yang sangat ingin dia cari tahu kebenarannya. "Tutup lowongan pekerjaan itu sekarang juga". Titah pria itu kemudian kepada resepsionis agar mereka segera menghubungi pihak HRD perusahaan.
"Baik tuan". Jawab mereka kompak.
Setelah Maira menghilang dari pandangannya Ricko kemudian menuju ruang kerjanya di lantai atas dengan menggunakan lift tentu saja dengan berkas milik Maira yang masih berada di dalam genggamannya dan dalam perjalanannya menuju kesana pria tampan itu menghubungi seseorang dengan menggunakan ponselnya.
"Dapatkan informasi tentang mereka secepatnya dan jangan ada yang tertinggal sedikitpun". Ujar Ricko kemudian langsung memutuskan panggilan secara sepihak.
Tidak perlu waktu lama, Ricko yang mencari informasi tentang Maira dan juga suaminya langsung mendapatkan informasi yang dia butuhkan di hari itu juga dan apa yang dia dapatkan benar seperti apa yang Maira katakan bahwa Maira sudah menikah dengan pria yang bernama Dewantara bahkan sudah dua tahun lamanya.
...----------------...
Benar dugaan Maira jika dia mengandalkan nama suaminya maka dia akan sangat mudah mendapatkan pekerjaan, nyatanya baru tadi pagi dia melamar pekerjaan di perusahaan terbesar di kota tersebut bahkan lebih besar dari perusahaan Dewantara sendiri, sore harinya dia sudah di hubungi untuk melakukan tes wawancara keesokan harinya.
"Benar tebakanku, aku akan mudah mendapatkan pekerjaan hanya dengan mengandalkan nama besar Dewantara". Ujarnya penuh kemenangan.
Jangan tanya bagaimana bersemangatnya Maira untuk melakukan tes wawancara hari itu, gadis itu bahkan berdandan berjam-jam lamanya hanya untuk menuju perusahaan yang sudah lama dia impi-impikan itu apalagi gadis itu memang sudah sangat mahit dalam hal mempercantik diri.
Setelah merasa bahwa penampilannya sudah maksimal Maira segera menuju perusahaan tempat dia melamar pekerjaan, Mahendra Corp, ya perusahaan yang sangat sukses dalam bidangnya itu memang selalu menjadi impian bagi setiap orang agar dapat bekerja dan mengembangkan karir mereka di sana karena bisa di pastikan jika bekerja di perusahaan tersebut maka setiap orang akan mendapatkan karir yang cemerlang dan juga gaji yang sangat besar.
__ADS_1
Itulah salah satu misi Maira bekerja di perusahaan tersebut karena dia tidak mau di pandang rendah oleh Dewa jika kelak mereka berpisah, setidaknya dia punya karir yang bagus dan juga kehidupan yang mapan meskipun dia harus menyandang status janda di usia yang masih sangat muda.
Saat melakukan tes wawancara yang langsung berhadapan dengan Ricko yang Maira pikir adalah pemilik perusahaan tersebut Maira merasa banyak kejanggalan terutama ketika dia menyadari jika hanya dia satu-satunya orang yang melakukan tes wawancara hari itu dan apa yang di tanyakan oleh Ricko juga sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah pekerjaan melainkan lebih ke permasalahan pribadinya namun Maira tidak mau ambil pusing yang dia pikirkan hanyalah dia harus dapat bekerja dia perusahaan Mahendra Corp.
"Jadi kamu sudah menikah selama dua tahun lamanya?". Tanya Ricko penuh selidik.
"Iya tuan". Jawab Maira.
"Apa kamu sudah memiliki anak?. Pertanyaan ini hanya untuk memastikan jika urusan pribadi kamu tidak akan menggangu masalah pekerjaan nantinya".
"Belum tuan, Saya belum punya anak dan tidak berencana juga untuk memiliki anak jadi tidak akan menganggu saya dalam bekerja". Jawab Maira polos.
Namun jawaban polos Maira tersebut membuat Ricko semakin penasaran dengan pernikahan nyang sedang di jalani oleh Maira. Ricko merasa jika ada yang tidak beres dengan pernikahan mereka dan Ricko harus mencari tahu apa itu.
"Emmm, apa suami kamu mengizinkan kamu untuk bekerja di sini sementara dia juga punya perusahaan yang cukup besar?".
"Tenang saja tuan, suami saya pati setuju dan dia tidak akan mempermasalahkan dimana saja saya akan bekerja". jawab Maira tersebut semakin memperkuat dugaan Ricko jika Maira dan Dewa sedang menjalani pernikahan nyang tidak biasa seperti pada umumnya karena jika di simpulkan dari jawaban itu Dewa sama sekali tidak tahu jika istrinya sedang melamar pekerjaan di sana.
"Baiklah mulai besok kamu sudah bisa bekerja di perusahaan ini". Ujar Ricko mantap dan Maira sangat bahagia mendengarkan apa yang di katakan oleh bosnya itu.
Maira terus menghiasi wajahnya dengan senyum kebahagiaan karena sebentar lagi dia akan memiliki pekerjaan dan bisa menghidupi hidupnya sendiri dan tidak perlu takut lagi jikapun Dewa akan menceraikannya karena jujur untuk meminta cerai Maira masih tidak mau melakukannya karena selain dia merasa jika Dewa dan keluarganya sangat berjasa pada dirinya, Maira juga tidak mempermasalahkan tentang bagaimana Dewa memperlakukanya karena Dewa sama sekali tidak meminta haknya sebagai seorang suami.
Jikapun dia bercerai hidupnya akan sama seperti dia menjadi istri Dewantara karena pasti pria di luar sana tidak akan mau mendekati wanita yang sudah di ceraikan oleh suaminya apalagi di usia pernikahan yang masih sangat muda itu, mereka akan berpikir jika wanita seperti Maira adalah tipe wanita yang tidak bersyukur dan hanya mencari keuntungan dari seorang Dewantara tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya.
__ADS_1