Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 73


__ADS_3

Satu minggu sudah Maira dan Rian menikah dan saat ini mereka sedang menuju bandara untuk kembali lagi ke Swiss. Maira akan menyelesaikan studinya di sana tentu saja dengan Rian yang akan setia menemani wanita yang telah sah menjadi istrinya itu.


Awalnya Maira mengira Rian tidak akan mengizinkannya lagi untuk melanjutkan study nya namun nyatanya pria itu sama sekali tidak egois dan memaksakan kehendaknya sendiri sehingga dia akan tetap mendukung apapun yang di lakukan oleh Maira asalkan itu akan membuat Maira bahagia namun tentu saja dengan syarat dia tetap harus ikut kemanapun Maira pergi.


"Lakukan apapun dan pergilah kemanapun sayang, tapi aku harus selalu berada di sampingmu". Begitulah yang dikatakan oleh Rian selalu kepada Maira sampai wanita itu sudah sangat hapal akan kami sakral itu.


Rian juga tidak peduli dengan perusahaannya, selain ada tuan Dhika yang selalu bisa dia andalkan, Ricko juga menjadi sasaran utamanya. Ricko di tunjukkan langsung oleh Rian memimpin perusahaan selama dia berada di luar negeri dan tentu saja atas saran Maira sahabatnya Shinta yang akan membantu Ricko, ya Shinta langsung mendapatkan jabatan yang cukup bergengsi di perusahaan tersebut yaitu sebagai sekretaris atau asisten pribadi Ricko.


Maira dan Rian bahkan sampai tertawa terbahak-bahak membayangkan jika Ricko dan Shinta bekerja sama dimana Ricko adalah pria yang kalem dan pendiam sedangkan Shinta adalah wanita yang banyak bicara dan selalu heboh sendiri, sudah bisa di pastikan jika Ricko akan sangat direpotkan oleh tingkah laku Shinta dan mereka akan menjadi sasaran utama kemarahan Ricko namun mereka sudah sepakat dan kompak tidak akan mendengarkan apapun keluhan dari pria itu dan membiarkan mereka saling beradaptasi satu sama lain.


Sebenarnya Maira merasa berat juga harus meninggalkan Indonesia lagi, terutama ketika orang-orang yang di sayangi semuanya sekarang menetap di Jakarta,termasuk Shinta yang sudah bertahun-tahun berpisah dengannya apalagi Anna,wanita itu bahkan tidak lama lagi akan melahirkan dan Maira sangat menantikan momen dimana Anna melahirkan bayinya itu karena dia juga sangat ingin merasakan merawat bayi Anna kelak namun study nya di Swiss juga sudah hampir selesai dan sangat di sayangkan jika tidak di lanjutkan.


Keberangkatan Maira dan Rian juga di antar oleh Shinta dan Anna yang pastinya Dewantara juga harus ikut bersama mereka karena memang pria itu tidak mengizinkan Anna pergi kemanapun tanpa dirinya jadi suka tidak suka dia tetap harus bertemu dengan Rian si musuh bebuyutannya itu.


Drama demi drama yang sangat berlebihan dan tidak penting menurut Rian dan Dewantara dilakukan oleh ketiga wanita yang saling bersahabat itu dan tentu saja Shinta lah yang paling heboh di antara mereka bertiga. Dalam hati Rian dan Dewantara pantas saja wanita cantik bernama Shinta itu masih sendiri sampai saat ini itu pasti karena tingkahnya yang sedikit konyol.

__ADS_1


Maira benar-benar sangat emosional saat detik-detik perpisahan mereka apalagi membayangkan jika dia tidak akan dapat menyaksikan proses persalinan Anna kelak. Ya, wanita itu memang sangat ingin merasakan hamil dan memiliki anak meskipun usia pernikahannya dengan Rian barulah satu minggu.


Hal itu di karena pernikahannya kali ini adalah pernikahan kedua baginya, dia bahkan pernah membayangkan di awal-awal pernikahannya dengan Dewantara dulu untuk segara memiliki keturunan agar dia memiliki teman hidup agar dia tidak sebatang kara lagi, namun kali ini keinginannya untuk hamil menjadi lebih besar lagi karena selain dia melihat Anna telah hamil, pria yang kali ini dia nikahi juga pria yang sangat dia cintai.


"Berjanjilah padaku jika kamu akan menemani Anna saat dia melahirkan nanti dan jangan lupa lakukan panggilan video denganku". Titah Maira sambil menunjukkan jari telunjuknya tepat di hadapan wajah Shinta dengan tatapan penuh intimidasi.


"Baiklah nyonya Mahendra perintah akan di laksanakan sebaik mungkin tapi pastikan juga jika kamu akan menggaji diriku dua kali lipat untuk bekerja di perusahaan mu dan juga menjaga Anna dengan baik". Jawab Shinta dan langsung di respon oleh Anna dengan menyikut lengan wanita itu.


Mereka bertiga tertawa atas candaan-candaan konyol yang selalu muncul dari mulut Shinta sampai akhirnya Maira memeluk erat sahabatnya Anna. "Jaga dirimu baik-baik dan pastikan kamu akan melahirkan anak kita dengan selamat". Ujar Maira penuh harus dan Anna tidak dapat menjawab apapun selain mengangguk dengan terasa air mata di sudut matanya.


Dewantara yang mendengar perkataan Maira barusan langsung menatap tidak percaya ke arah Maira dengan mata yang membulat karena wanita itu mengakui anak yang di kandungan Anna sebagai anaknya.


"Dan akan ku pastikan aku dan mas Rian akan bekerja keras agar aku segera hamil sama seperti mu". Bisik Maira di telinga Anna yang membuat Anna tertawa. Rian, Dewantara dan Shinta sampai penasaran perihal apa yang di bisikkan Maira di telinga Anna.


"Aku percaya jika kamu akan mampu melakukannya". Jawab Anna singkat.

__ADS_1


"Apa yang kamu bisikkan tadi hah?, kalian sedang membicarakan tentangku ya?". Tanya Shinta penasaran.


"Cih, apa pentingnya kami membicarakan tentang dirimu?. Ayo suamiku kita berangkat". Jawab Maira cuek kemudian dia mengalihkan pandangannya kearah Dewantara sambil berkata. "Mas Dewa aku titip Anna ya, tolong jaga dia dengan baik". Ujar Maira lagi.


"Tentu saja". Jawab Dewantara singkat namun penuh keyakinan.


"Ck, kamu ini dari dulu selalu begitu". Ringis Shinta kesal.


"Baiklah, An, Shinta kami pergi dulu dan jangan sungkan hubungi kami jika ada apa-apa terutama kamu Shin, tanyakan apapun yang tidak kamu ketahui tentang masalah perusahaan". Ujar Rian.


"Tentu saja tuan, aku pasti tidak akan pernah sungkan". Jawab Shinta terkesan tak tahu malu.


"Hati-hati di jalan tuan, jaga Maira dengan baik". Ujar Anna penuh kelembutan dan senyum yang menurut Dewantara sangat manis yang Anna tunjukkan di depan Rian. Ya, pria itu masih sangat cemburu ketika Anna bisa berbicara lembut dan tersenyum kepada Rian karena Dewantara yakin jika Anna menyimpan perasaan yang tak biasa kepada pria yang pernah menjadi majikannya itu.


"Adegan yang sungguh menyebalkan dan aku harus ikut terjebak di sini, sana cepatlah pergi aku sudah sangat mauk melihat wajahmu itu". Batin Dewantara sambil memandang tak suka ke arah Rian karena memang sejak tadi pria itu hanya bisa membatin saja untuk menghindari masalah.

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan mereka semua kecuali Dewantara karena memang mereka sangat jarang berkomunikasi, Rian menggandeng mesra tangan istrinya menuju kendaraan yang akan menerbangkan mereka ke Swiss. Disinilah awal mulai kehidupan tiga sahabat itu di mulai dengan kehidupan mereka masing-masing dan menjalani takdir yang mungkin akan membawa mereka pada kebahagiaan.


...----------------...


__ADS_2