
Setelah satu jam Maira tidak sadarkan diri, dia berusaha membuka matanya dan melihat sekelilingnya, berharap jika yang baru saja dia dengarkan tadi hanyalah mimpi namun sayangnya ketika menatap wajah Rian dan juga tuan Dhika dia bisa melihat jika ada kegelisahan yang menandakan jika apa yang dia dengar tadi bukanlah mimpi belaka.
Setelah Maira di periksa oleh dokter, keadaan wanita itu ternyata tidak ada masalah yang serius yang terjadi kepada Maira, hanya saja Maira mengalami kelelahan dan kurang istirahat saja karena tubuh dan pikirannya akhir-akhir ini terlalu fokus pada persiapan pernikahan yang harus dia jalani sehingga dokter hanya memberikan tambahan multivitamin untuk menunjang kebugaran tubuh wanita cantik itu.
"Sayang, bagaimana keadaanmu, apa yang kamu inginkan hemm?". Tanya Rian mendekati Maira dan duduk tepat dihadapan wanita itu. Sedangkan Maira hanya diam seribu bahasa menatap Rian dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kamu baik-baik saja nak?". Tanya tuan Dhika yang tak kalah khawatirnya dengan keadaan Maira namun lagi-lagi Maira hanya dia dan kali ini dia justru membuang pandangannya karena dia tidak ingin menatap wajah tuan Dhika.
Rian seolah bisa membaca isi pikiran Maira yang belum siap dengan kehadiran tuan Dhika di sana sehingga dia memberi kode kepada papanya itu meninggalkan Maira berdua dengannya dulu sampai kondisi mental Maira stabil. Meskipun berat namun tuan Dhika menuruti keinginan Maira dan keluar dari kamar tersebut agar Maira bisa mencerna keadaan yang ada sebelum akhirnya dia akan menjelaskan semuanya kepada putrinya.
"Papa keluar dulu sayang, jika kamu sudah mau bertemu dan mendengarkan penjelasan papa maka papa siap menceritakan semuanya kepada kalian". Ujar tuan Dhika lagi namun Maira tetap tidak bergeming.
Setelah tinggal berdua dengan Maira, Rian menggenggam jari jemari Maira dengan lembut lalu mengelus pucuk kepala wanita itu dengan penuh kasih sayang sehingga pertahanan Maira runtuh, air matanya tumpah seketika meskipun dia tidak mau itu terjadi.
"Sayang, jika kamu berpikir tentang kita maka kita kan baik-baik saja, tidak hubungan darah di antara kita sehingga cinta ini bukanlah cinta terlarang". Ujar Rian lembut dan Maira langsung bereaksi seperti orang yang tidak percaya sambil menatap Rian penuh kebingungan.
"Jika kamu marah kepada takdir yang memisahkan mu dengan kedua orang tuamu maka aku justru sangat bersyukur karena itulah alasan kenapa kita di pertemukan saat ini sayang. Maira, aku bukanlah putra dari keluarga Mahendra meskipun namaku Rian Mahendra, aku bahkan tidak tahu menahu siapa orang tuaku dan dari mana aku berasal sedangkan kamu masih beruntung karena saat ini kamu masih memiliki papa. Aku tahu jika itu takdir buruk yang harus aku jalani namun ketika takdir mempertemukan kita bukankah semua takdir buruk itu tidak ada arti apa-apa sekarang, Maira takdirku bisa bersamamu itu yang terpenting bagiku saat ini, tidakkah bagimu juga begitu?". Tanya Rian penuh harap.
Maira sangat terharu mendengarkan perkataan yang di ucapkan oleh Rian sehingga dia langsung memeluk erat pria yang amat di cintainya itu.
"Itu adalah hal pertama yang aku takutkan". Ujar Maira singkat.
__ADS_1
"Benarkah, apa kamu sangat takut jika tidak jadi menikah denganku? ". Tanya Rian nakal.
"Bu-bukan seperti itu juga". Jawab Maira terbatas dengan wajah yang merona, wanita itu sangat sulit jujur pada perasaan sendiri sehingga Rian sangat suka menggoda calon istrinya itu.
"Jadi kamu tidak takut kehilanganku?". Tanya Rian tidak percaya.
Maira menjadi serba salah dengan pertanyaan dari Rian. Dia bingung harus menjawab apa, apalagi dia juga tidak ingin membuat Rian kecewa sehingga dia langsung menarik wajah Rian dan mengecup bibir Rian sekilas karena menurutnya itu dapat menjawab pertanyaan Rian barusan.
CUP...
"Wow, calon istriku sangat cerdas dalam menjawab pertanyaanku ternyata. Katakan apa kamu sangat menginginkan ku?". Ujar Rian kembali menggoda Maira.
"Awas, jangan terus menggodaku, Aku ingin beristirahat dulu". Jawab Maira sambil menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut bahkan tidak tampak sehelai rambut pun lagi.
Bukan perihal Maira masih suci atau tidak yang membuat Rian jatuh hati kepada wanita itu namun kebaikan hatinya Maira lah yang telah memikat dirinya namun keberuntungan saja yang sedang berpihak kepadanya dimana wanita yang telah berstatus janda itu ternyata masih polos dan tidak pernah di sentuh oleh suaminya.
Namun di sela-sela tawanya Rian kembali teringat akan sang papa yang mungkin saja saat ini sedang sedih dan khawatir karena penolakan dari Maira tadi sehingga Rian bertekad untuk menyelesaikan perihal kisah masa lalu ini secepatnya.
Rian berbaring di samping Maira yang masih betah menutupi tubuhnya dengan selimut dan memeluk wanita itu. "Sayang bukankah ini sangat tidak adil untuk papa". Ujar Rian pelan.
Maira menyibak selimutnya dan menatap wajah Rian. "Aku belum siap membahasnya".
__ADS_1
"Aku tahu itu, tapi bukan hanya dirimu yang tersiksa dan terluka disini Maira, nyatanya papa hampir kehilangan kewarasannya karena mencari dimana dirimu berada selama ini, papa tetap tidak pernah menghentikan pencarian itu bahkan setelah puluhan tahun lamanya. Sayang, tidakkah seharusnya kita mendengarkan apa yang terjadi di masa lalu sehingga kebahagiaan masa depan kita akan lebih sempurna". Bujuk Rian lagi dan dia berharap kali ini Maira akan mendengarkannya.
"Bagaimana jika yang akan kita dengar tidak sesuai dengan yang kita harapkan?". Tanya Maira lirih.
Rian sangat mengerti jika Maira takut akan kenyataan yang ada, apalagi dengan banyaknya rasa sakit dan kekecewaan yang terjadi di hidupnya selama ini. "Aku tidak akan memaksamu jika kamu belum siap".
"Apa menurutmu papa akan memberikan jawaban yang tidak akan mengecewakan kita?".
"Sayang, mungkin papa pernah melakukan kesalahan dengan membiarkan kamu tumbuh tanpanya tapi kamu bisa melihat dari sikap dan sorot matanya bukan jika dia sangat menyayangimu bahkan rela melakukan apapun demi dirimu".
"Ya, aku tahu itu. Beri aku waktu sampai esok hari karena aku harus mengumpulkan kekuatan untuk mendengarkan semua itu".
Rian tersenyum karena Maira sudah bersedia membuka diri untuk mendengarkan kenyataan yang ada. "Tidak perlu khawatir hemm, aku selalu ada bersamamu". Ujar pria itu kemudian.
"Terimakasih". Jawab Maira singkat.
"Hanya terimakasih saja, aku rasa itu saja tidak akan cukup untuk pria tampan yang selalu berada di sisimu seperti diriku".
"Jangan mulai lagi tuan". Ujar Maira ketus.
"Kamu masih saja memanggilku tuan, baiklah jangan salahkan aku jika malam pertama kita di mulai bahkan sebelum pernikahan". Ujar Rian geram kemudian bersiap menggoda Maira lagi tapi tentu saja Rian tidak akan melakukan apa yang di katakan karena pria itu tetap menginginkan malam pertama yang spesial dengan wanita yang sangat di cintainya itu.
__ADS_1
...----------------...