Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 75


__ADS_3

Keesokan harinya Shinta memutuskan untuk tidak pergi ke kantor dengan alasan tidak enak badan padahal dia masih kesal dan malas bertatap muka dengan Dewantara yang telah membentaknya tadi malam apalagi jika dia harus satu mobil dengan pria itu karena selama ini Shinta memang selalu pergi dan pulang ke kantor bersama dengan Dewantara.


Dewantara sendiri membiarkan hal tersebut agar karena Shinta memang lebih aman jika di rumah karena dia tahu jika wanita itu memang tidak bisa diam jika sedang berada di luar rumah. Anna juga sangat mengerti keadaan Shinta sehingga dia juga tidak ingin ikut campur terlalu dalam tentang urusan Shinta karena dia tidak ingin jika wanita itu tidak betah tinggal bersamanya di rumah Dewantara dan dia bisa kehilangan Shinta kapan saja jika wanita itu memutuskan untuk pergi dari sana.


"Dimana Shinta?". Tanya nyonya Dewi penasaran karena dia dan suaminya memang tidak tahu tentang kejadian tadi malam sehingga ketidakhadiran Shinta di meja makan pagi itu untuk sarapan bersama tentu menjadi pertanyaan bagi mereka.


"Dia tidak akan ke kantor hari ini ma, sepertinya dia tidak enak badan". Jawab Anna.


"Dia sakit?, kalau begitu mama akan segera panggilkan dokter untuknya".


"Tidak perlu ma, Shinta hanya perlu istirahat saja". Bantar Dewantara datar.


"Bagaimana kamu bisa tahu, mama harus memeriksanya dulu kalau begitu".


"Yang di katakan mas Dewa benar ma, Shinta hanya butuh istirahat saja nanti juga dia akan membaik kembali". Ujar Anna menahan langkah nyonya Dewi agar wanita paruh baya itu tidak khawatir dengan keadaan Shinta yang nyatanya dia baik-baik saja.


"Ah begitu, baiklah jika begitu mama akan suruh pelayan mengantarkan makanan ke kamarnya". Jawab nyonya Dewi sedikit tenang.


Perasaan Anna yang sulit di artikan seperti tadi malam ketika Dewantara yang sangat perhatian kepada Shinta kini muncul lagi ketika wanita itu melihat nyonya Dewi yang sangat peduli dan khawatir dengan keadaan Shinta, entah perasaan apa itu Anna juga tidak mengerti, apakah dia cemburu pada perhatian yang berikan kepada sahabat sendiri atau justru ini hanya pengaruh hormon kehamilan yang membuat pikirannya menjadi tidak menentu sehingga dia berpikir yang tidak-tidak.


"Ayolah Annabelle, yang benar saja kamu merasa cemburu atas perhatian orang-orang kepada sahabatmu sendiri". Batin Anna membuang jauh-jauh pikiran buruknya itu.


Dewantara rupanya memperhatikan gerak-gerik Anna sedari tadi karena dia merasa jika wanita itu sedang memikirkan sesuatu, apalagi Anna sejak tadi hanya mengaduk-aduk makan di piringnya tanpa memakannya sedikitpun.


"Kamu baik-baik saja An?". Tanya Dewantara penasaran.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja". Jawab Anna singkat bahkan terdengar ketus di telinga Dewantara namun pria itu tidak ingin memperpanjangnya lagi karena dia tahu betul bagaimana hormon kehamilan akan sangat berpengaruh kepada seorang wanita yang sedang hamil.


Sarapan berlanjut tanpa kehadiran Shinta pagi itu, mereka semua menyelesaikan sarapannya hampir di waktu bersamaan kecuali Anna yang sejak tadi terlihat tidak nafsu makan. Dewantara dan tuan Anwar kemudian langsung bersiap berangkat ke kantor agar mereka tidak terlambat untuk melakukan pertemuan penting dengan klien mereka.


"An, aku akan pulang lebih awal nanti agar kita bisa berbelanja untuk kebutuhan bayi kita". Ujar Dewantara lembut ketika hendak meninggalkan meja makan.


Seketika saja suasana hati Anna kembali ceria saat mendengar perhatian kecil dari Dewantara itu apalagi dia akan di ajak berbelanja tentu saja itu hal yang akan sangat menyenangkan baginya terutama di saat keluarga Dewantara sangat posesif kepadanya dan melarangnya untuk melakukan banyak hal termasuk hanya sekedar jalan-jalan ke pusat perbelanjaan bersama Shinta.


"Baiklah, aku akan bersiap nanti". Jawab Anna antusias sehingga membuat Dewantara ikut tersenyum melihat senyum di wajah wanita hamil itu.


Dengan hati yang sedikit lebih tenang Anna melangkah ke kamar Shinta untuk melihat sekaligus berbincang-bincang dengan wanita itu mumpung Shinta sedang tidak pergi bekerja karena jika wanita itu sudah masuk kerja maka bisa di pastikan waktu kebersamaan mereka sangatlah sempit.


"Bagaimana keadaan mu?". Tanya Anna menghampiri Shinta yang sedang bermalas-malasan di atas kasur.


"Aku bosan di rumah terus ternyata tidak masuk kerja hari ini bukanlah ide yang bagus untuk ku". Jawab Shinta lesu.


"Oh ya ampun ibu hamil ku yang sangat cantik ini jangan cemberut begitu, tenang saja seharian ini kita akan bersenang-senang, iya kan jagoan?, aunty akan membuat mommy mu dan juga kamu senang hari ini". Bujuk Shinta sambil mengelus-elus perut buncit Anna.


"Yeay, terimakasih Shin, kamu memang sahabat yang baik". Ujar Anna girang.


"Ck, tapi sayang sekali kita tidak boleh pergi kemanpun kecuali pria posesif itu yang membawa kita". Ucap Shinta kesal akan sikap Dewantara yang sangat posesif kepada Anna.


"Sudahlah ayo, rumah ini cukup besar untuk kita melakukan banyak hal". Anna menarik tangan Shinta untuk segera turun dari tempat tidur.


Mereka akhirnya benar-benar menghabiskan waktu seharian dengan berbagai kegiatan yang sangat menyenangkan mulai dari membantu nyonya Dewi mengurus bunga-bunga kesayangannya sampai pada kegiatan memasak karena Shinta memang sangat jago dalam hal itu sehingga Anna juga tidak mau kalah dan ingin pintar memasak seperti dia. Shinta sama sekali tidak keberatan untuk mengajari banyak hal kepada Anna soal urusan dapur.

__ADS_1


Selesai dengan urusan dapur bahkan mereka juga sudah makan siang, Shinta mengajak Anna untuk berenang sedangkan nyonya Dewi memutuskan ke kamarnya untuk beristirahat.


"Berenang?, ini sudah siang Shin, apa kamu tidak salah mengajakku berenang?". Tanya Anna tak percaya.


"Hei ayolah, di usia kehamilan tua seperti mu ini kamu harus banyak berolahraga agar proses persalinan mu lancar nantinya lagipula kapan lagi kita berenang tanpa ada yang menganggu dan kita bisa bebas berbikini ria". Sorak Shinta penuh semangat.


"Bikini?, dengan perutku yang sudah sangat besar ini?, yang benar saja, aku tidak mau". Protes Anna.


"Enak saja kamu bilang tidak mau, padahal aku sudah menuruti semua keinginan mu seharian ini tapi giliran keinginan ku kamu tidak peduli".


"Baiklah aku akan menemani mu saja, aku tidak akan berenang".


"No, kamu harus ikut berenang dan pakai Bikini ini, tenang saja tidak ada orang lain di rumah ini selain kita mumpung mas Dewa dan papa Anwar belum pulang. Oh ya ampun kamu pasti sangat cantik dan seksi dengan Bikini ini An". Ujar Shinta sambil membolak-balikan sebuah bikini di tubuh Anna.


"Tapi aku-".


"Diam, jangan protes lagi, pakai ini dan nikmati hari indah kita ini tanpa beban, lagipula sangat di sayangkan jika kolam renang sebesar itu tidak kita manfaatkan dengan baik dulu membayangkan punya kolam renang saja aku tidak pernah, cepat ganti bajumu". Titah Shinta tanpa bisa terbantahkan.


Anna kemudian dengan terpaksa menuruti keinginan Shinta memakai Bikini yang mengekspos hampir seluruh lekuk tubuhnya bahkan juga perut buncit nya, beruntung wanita hamil itu memang memiliki tubuh yang indah sehingga dia terlihat sangat seksi dan menggoda dengan Bikini yang sedang dia kenakan itu.


"Oh my God, kamu sangat seksi Anna. Ya ampun aku jadi ingin hamil rasanya tapi sayangnya tidak ada pria yang mau denganku, apalagi jika calon suamimu itu terus mengekang ku". Puji Shinta melihat Anna dengan pakaian renangnya itu apalagi rambut panjang Anna juga di ikat asal-asalan setinggi mungkin.


"Kamu terlalu berlebihan". Jawab Anna ketus.


Tanpa basa-basi lagi Shinta yang juga sudah mengenakan Bikini itu langsung mengerahkan jubah mandi kepada Anna agar di kenakan oleh Anna, dia juga melakukan hal yang sama lalu kemudian wanita itu langsung menyeret Anna ke kolam renang.

__ADS_1


"Swimming time". Seru Shinta riang.


...----------------...


__ADS_2