
"Ini kamarmu sekarang". Ujar Dewa tiba di depan sebuah kamar yang masih terletak di lantai dua rumah mewah tersebut.
Maira tercengang mendengar kenyataan jika tenyata Dewa sebenarnya tidak berniat mengusirnya melainkan hanya ingin Maira pindah dari kamar saja namun tersebut jauh lebih baik di bandingkan jika Maira harus meninggalkan rumah tersebut.
"Maira sekarang hanya tinggal kita berdua di rumah ini jadi kita tidak perlu bersandiwara lagi sebagai suami istri, kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau di rumah ini ataupun di luar rumah kecuali kamarku begitu juga sebaliknya, apa kau mengerti?". Tanya Dewa serius dan Maira hanya dapat menganggukkan kepalanya karena masih bingung dengan situasi yang ada.
Dewa kemudian membuka dompetnya dan mengambil sebuah kartu dan menyerahkannya kepada Maira.
"Ambil ini dan pergunakan sesuka hatimu untuk memenuhi semua kebutuhanmu". Ujarnya menyerahkan kartu itu dan di sambut oleh Maira tanpa bantahan.
"Kamu juga tidak perlu khawatir tentang para pelayan disini karena mereka tidak mendengar atau melihat apapun selama berada di dalam rumah ini, dan di luar sana juga tidak ada yang tahu tentang pernikahan kita kecuali orang-orang tertentu jadi kamu tidak perlu khawatirkan apapun". Sambung Dewa lagi dan menegaskan berapa berkuasanya dia di dalam rumahnya bahkan tidak ada yang berani berkomentar apalagi membatah perintahnya.
"Sekarang masuklah dan beristirahat karena aku akan pergi". Titah Dewa kemudian membalikkan tubuhnya hendaklah meninggalkan Maira.
"Mas". Seru Maira kemudian Dewa berbalik lagi kearah Maira. "Tidak ada". Maira sebenarnya ingin bertanya hendak kemana suaminya itu malam-malam seperti ini namun melihat ekspresi wajah Dewa yang datar membuat dirinya mengurungkan niatnya karena memang dia merasa tidak punya hak apapun untuk mengetahui segala sesuatu tentang Dewa.
Dewa kembali melanjutkan langkahnya tanpa penasaran dengan apa yang hendak Maira tanyakan tadi karena pria itu memang sama sekali tidak peduli pada gadis yang berstatus sebagai istrinya itu. Entah apa tujuannya menikahi Maira bahkan Maira pun tidak tahu karena jika memang Dewa mencintai wanita lain kenapa dia tidak menikahi wanita itu dan menolak untuk di jodohkan dengan Maira saja.
Maira memejamkan mata dan menghirup oksigen dalam-dalam karena tadi ketika dia berpikir jika Dewa hendak mengusirnya dia merasa kalau seolah-olah oksigen sama sekali tidak melalui paru-parunya.
Maira kemudian masuk ke dalam kamar yang di peruntukan untuknya itu untuk beristirahat karena beban pikiran sudah cukup membuat tubuhnya lelah. Maira membanting tubuhnya di kasur empuk miliknya sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Tenang Maira, setidaknya kamu masih berada dengan mas Dewa di bawah satu atap yang sama, jika kamu tidak bisa memikat nya dengan tubuhmu maka pikat lah suamimu itu dengan perhatian dan masakan-masakan enak kesukaannya". Gumam Maira menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
Malam itu Maira tertidur masih dalam kondisi tadi hingga dia terbangun karena alarm di ponselnya berbunyi. Maira memang sengaja memasang alarm agara dia terbangun lebih awal dari Dewa dan bisa menyiapkan sarapan spesial untuk suaminya itu.
Dengan penuh semangat Maira bangun tidur dan membersihkan dirinya serta berganti pakaian agar dia tampak segar dan cantik di hadapan Dewa, gadis itu kemudian menuju dapur dan mengobrak-abrik isi kulkas untuk melihat apa yang mungkin dia olahraga untuk suaminya namun salah satu pelayan datang dan melarangnya.
"Nona, apa yang anda lakukan disini?". Tanya sang pelayan muda bernama Tini dengan nada suara yang sedikit keras.
"Tin, kamu mengagetkan ku saja, aku sedang mencari bahan-bahan makanan untuk aku masak". Jawab Maira.
"Masak?, tidak perlu nona, biar saya saja yang masakan untuk anda, anda ingin di buatkan apa?". Tanya Tini yang tidak menyangka jika. Maira ternyata mau memasak sedangkan dia adalah istri dari tuannya yang seharusnya tidak melakukan hal tersebut karena itu adalah tugasnya sebagai pelayan.
"Tidak perlu Tini, aku ingin membuatkan sarapan untuk suamiku".
"Tapi nona, bagaimana jika tuan Dewa marah karena saya membiarkan istrinya memasak di dapur". Ujar Tini ketakutan. Mendengarkan n ucapan Tini Maira menghentikan sejenak aktivitasnya dan tersenyum sinis.
"Kamu tidak perlu khawatir karena mas Dewa tidak akan memarahimu karena aku akan membuatnya sarapan yang sangat spesial". Ujar Maira sambil tersenyum lalu kemudian dia kembali melanjutkan aktivitasnya.
Maira yang sudah terbiasa dengan aktivitas di dapur segera melakukan pekerjaannya dengan sangat mudah tanpa memerlukan bantuan siapapun bahkan Tini yang selalu berdiri di sampingnya sama sekali tidak kebagian peran apapun pagi itu.
Tini sengaja tidak meninggalkan istri majikannya itu sendirian karena dia takut jika Maira membutuhkan sesuatu atau mengalami kesulitan dan dia tidak berada di sana tapi nyatanya keberadaannya di sana sama sekali tidak di butuhkan oleh Maira kecuali hanya untuk teman berbincang-bincang saja.
Usia antara Maira dan Tini yang berbeda hanya beberapa tahun saja membuat kedua cepat akrab bahkan Maira banyak bertanya kepada pelayannya itu tentang banyak hal terutama kebiasaan-kebiasaan suaminya Dewantara dan Tini dengan senang hati menceritakan segala hal tentang tuannya itu bahkan tentang kebiasaan Dewa yang jarang pulang ke rumah bahkan sampai berminggu-minggu.
Maira sempat terkejut mendengarkan apa yang di katakan oleh Tini namun kemudian Maira menganggap hal itu wajar saja karena Dewa adalah seorang pengusaha tentu saja dia akan sering berpergian keluar kota bahkan ke luar negeri untuk urusan bisnisnya.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan aktivitas dapurnya Maira kemudian segera menyiapkan makanan yang di masak tadi di meja makan tentu saja bersama Tini yang selalu sigap membantu namun setelah semuanya siap Tini langsung kembali ke dapur untuk meneruskan semua pekerjaannya yang lain karena dia juga ingin memberi ruang untuk tuan dan nonanya yang mungkin akan sarapan bersama.
Maira yang awalnya semangat menantikan kehadiran Dewa merasa sedikit bosan karena sudah setengah jam suaminya belum juga kunjung turun dari lantai atas, hingga setelah empat puluh menit berlalu barulah Dewa turun dari lantai atas dalam keadaan sudah rapi dan kelihatan tampan dengan setelan jas kerjanya.
"Selamat pagi mas". Ujar Maira semanis mungkin namun sayangnya Dewa hanya tersenyum tanpa menatap kearah Maira dan justru lebih fokus pada ponsel yang berada di tangannya.
Dewa terus saja melangkah melewati Maira dan juga meja makan tanpa mengatakan sepatah katapun hingga Maira pun memanggilnya.
"Mas kamu tidak sarapan dulu?". Tanya Maira.
"Tidak perlu, aku akan sarapan di luar dengan klien ku". Jawab Dewa singkat.
Maira sangat sedih mendengarnya karena dia yang sudah bersusah payah untuk memasak tapi ternyata semua itu hanya sia-sia saja.
"Mas, aku nanti akan pergi ke kampus".
"Pergilah". Jawab Dewa singkat dan kemudian langsung naik ke dalam mobil yang membawanya pergi dari rumah.
Maira menatap lemah kearah mobil yang sakin menjauh itu, ternyata dia sama sekali tidak bisa menggapai Dewa yang sangat kelihatan membuat jarak di antara mereka untuk tidak ada interaksi yang berarti di antar keduanya.
Namun larut dalam rasa kecewa dan rasa sedihnya juga tidak akan membuat keadaannya berubah bukan sehingga Maira tetap mengembangkan senyumnya dan kembali masuk kedalam rumah untuk menghabiskan sendiri sarapan yang sudah susah payah dia siapkan tadi.
"Jadilah wanita mandiri dan tidak bergantung kepada siapapun Maira, ayo semangat menyelesaikan kuliahmu agar kamu bisa bekerja dan memiliki penghasilan sendiri". Batinnya sembari melahap makanannya, Tini yang menyaksikan hal tersebut dari kejauhan merasa iba melihatnya.
__ADS_1
Bersambung...