
Setelah semua hal yang berhubungan dengan prosesi ijab kabul itu selesai maka Dewa langsung pergi menuju kamarnya dan yang paling membuat Maira tidak habis pikir adalah Dewa juga mengajaknya bahkan sambil menggenggam mesra tangannya.
Nyonya Dewi senyum penuh kemenangan ketika melihat pemandangan tersebut karena dia yakin jika Dewa tidak mungkin akan mampu menolak pesona seorang Maira yang cantik jelita itu, apalagi hari itu Maira terlihat sangat anggun dalam balutan pakaian pengantinnya. Namun seberapapun cantik dan anggunnya Maira hari itu, hanya Dewa saja yang tidak terkesan sedikitpun bahkan tidak penasaran untuk menatap wajah sang istri.
"Maira, kamu pasti lelah ayo kita beristirahat di kamar". Itulah kalimat pertama yang di dengar Maira dari mulut suaminya itu bahkan dia tidak dapat menjawab apapun selain hanya menurut dan mengikuti langkah Dewa.
Irama jantung Maira berdegup dengan sangat kencang sepanjang perjalanan menuju kamar Dewantara, gadis muda itu membayangkan hal yang membuat dia kesusahan bahkan hanya untuk sekedar menelan salivanya sendiri.
"Apa mas Dewa mau meminta haknya sebagai seorang suami?, ya Tuhan apa yang harus akau lakukan, apa aku harus melakukannya sedangkan aku tidak mencintainya?". Batin Maira terus bergejolak karena Dewa sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya ketika mereka menuju kamar.
"Tidak, aku tidak bisa aku belum siap Tuhan, tapi jika aku menolaknya aku akan berdosa dan belum lagi kalau mas Dewa Matahari bagaimana, bisa saja kan dia mencekik leherku sampai aku mati". Batinnya lagi sambil membayangkan jika Dewa benar-benar akan mencekik lehernya.
"Ayo masuk, ini kamar ku dan menjadi kamar kita sekarang". Ujar Dewa lagi membuyarkan lamunan Maira. Maira lagi tidak menjawab ucapan Dewa dia hanya menurut saja apapun yang di katakan oleh suaminya itu.
"Mandilah terlebih dulu, semua pakaian dan kebutuhanmu yang lain ada di lemari itu, mama sudah menyiapkannya". Ujar Dewa lagi sambil menunjukkan sebuah lemari dengan ukuran yang sangat besar.
Maira melangkah menuju lemari tersebut dan membukanya, betapa terkejutnya gadis itu ketika melihat isi lemari yang penuh dengan berbagai macam pakaian yang sangat bagus dan dari merk terkenal, Maira ingin protes namun dia sadar jika suaminya adalah orang terpandang jadi tidak mungkin jika dia memakai baju-baju lamanya yang akan membuat sang suami malu karena penampilannya.
Maira menuju kamar mandi lengkap dengan pakaian gantinya, setelah menunjukkan lemari kepadanya Maira sudah tidak lagi melihat sosok suaminya di dalam kamar, entah kemana pria itu namun irama jantung Maira masih berdegup tak karuan memikirkan apa yang akan terjadi setelah dia mandi nanti.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan ritual mandinya ternyata Maira tetap tidak melihat sosok Dewa di dalam kamarnya namun hal tersebut cukup membuat hatinya tenang. Namun tidak lama kemudian pintu kamarnya ada yang mengetuk sehingga Maira melangkah kearah pintu untuk melihat siapa yang datang.
Betapa terkejutnya Maira ternyata yang datang adalah dua orang pelayan lengkap dengan deretan makan yang mereka bawakan untuk Maira dan juga Dewa. Maira yang selama ini terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri merasakan hal tersebut sedikit berlebihan untuknya.
"Selamat sore nona Maira, kami di perintahkan nyonya untuk mengantarkan makanan ini ke kamar anda". Ujar mereka santun.
"Terimakasih ya, biar aku saja yang membawakannya ke dalam". Jawab Maira.
"Jangan nona Maira, kami yang akan meletakkannya ke dalam sesuai perintah". Bantah mereka saat melihat istri majikannya itu hendak membantu mereka.
Maira tidak ingin berdebat lagi, dia hanya pasrah dan mengikuti semua yang di inginkan oleh ibu mertuanya itu. Setelah para pelayan pergi Maira kembali masuk kedalam kamar dan melihat ternyata Dewa sudah duduk di atas ranjang kemudian pria itu memanggilnya.
"Maira, ayo kita makan dulu kamu pasti sudah kelaparan sejak tadi". Ajak Dewa.
Hening, tidak ada satu patah katapun keluar dari mulut Maira dan juga Dewa, jika Dewa fokus pada makanannya dan sesekali melihat ponsel yang selalu berada di dekatnya maka Maira justru sibuk dengan pikirannya tentang apa yang akan terjadi di dalam pertamanya itu. Akankah Dewa memaksanya melakukan hal yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan sebelumnya itu.
Setelah selesai menyantap makanannya Dewa kembali menghubungi pelayan agar segera memindahkan sisa makanan mereka. Maira seperti hidup di negeri dongeng dimana segala sesuatunya dilayani dengan sangat baik berbanding terbalik dengan kehidupan Maira sebelumnya yang penuh dengan kesederhanaan namun jika Maira di suruh memilih maka Maira lebih memilih hidupnya yang dulu meskipun sederhana namun ada sangat ibu tercinta di sampingnya.
Situasi seperti ini membuat Maira sangat canggung apalagi dia merasa tidak pantas menerima perlakuan dan pelayanan layaknya putri raja seperti ini tapi untuk membantah Maira juga tidak kuasa karena dia juga belum bisa beradaptasi dengan sikap dan sifat suaminya yang sama sekali belum dia kenal dengan baik itu.
__ADS_1
"Maira, bisakah kita bicara sebentar". Ujar Dewa membuyarkan lamunan Maira.
"I-iya mas". Jawab Maira singkat, entah kenapa gadis itu selalu mati kutu ketika berada di dekat Dewa.
"Maira aku tahu jika pernikahan kita ini bukanlah pernikahan yang kita inginkan jadi oleh sebab itu aku harap kita bekerja sama untuk membuat pernikahan ini bisa berjalan senormal mungkin". Jelas Dewa yang membuat Maira bingung mendengarkannya.
"Ma-maksudnya mas?". Tanya Maira penasaran.
"Maira, aku tidak mencintaimu kerena aku mencintai wanita lain tapi aku juga tidak akan menceraikanm mu kecuali kamu yang memintanya terlebih dulu, pernikahan kita ini adalah keinginan mamaku dan aku menyetujuinya agar mama berhenti mengganggu hidupku dengan perjodohan demi perjodohan konyol yang selalu dia rencanakan untuk ku". Jelas Dewa lagi.
Deg...
Maira tidak menyangka jika suaminya akan berbicara sejujur itu di malam pertama mereka, bayangan yang sejak tadi pikirkan tentang bagaimana malam pertamanya akan berlangsung buyar seketika namun dia juga bingung haruskah dia bahagia karena ternyata dia tidak perlu melakukannya dengan terpaksa meskipun itu dengan suaminya sendiri atau dia harus sedih ketika mendengarkan kejujuran itu.
Namun yang jelas Maira merasa kecewa dengan pernyataan Dewa barusan karena menerima kenyataan jika suaminya tidak akan pernah mencintainya dan menunggu dia untuk meninggalkannya. Belum lagi ikatan suci pernikahan yang begitu di anggap enteng oleh seseorang seperti Dewantara.
Maira memang juga tidak menginginkan pernikahan itu dan juga tidak mencintai Dewa namun dia tidak berniat sama sekali tidak untuk berpisah dari suaminya itu karena dia berharap dengan seiring berjalannya waktu mereka bisa saling menerima bahkan bisa saling mencintai.
"Jangan harap apapun dari pernikahan kita Maira dan aku akan memberikanmu kebebasan untuk melakukan apapun yang kamu inginkan begitu juga denganku aku ingin melakukan apapun yang aku mau. Selama kamu menjadi istriku aku akan menanggung semua kebutuhanmu termasuk membiayai pendidikanmu sampai kapanpun dan aku sarankan jika pun kamu ingin kita berpisah jangan lakukan hal tersebut sekarang karena aku tidak mau jika mama curiga dan kamu juga pasti membutuhkan biaya hidup sampai kamu mendapatkan penghasilan sendiri". Ujar Dewa panjang lebar lagi. Melihat Maira tidak menjawab apapun Dewa mendekati Maira dan menatap wajah istrinya itu.
__ADS_1
"Santai saja karena aku tidak akan menuntut apapun darimu bahkan aku akan membantumu untuk mandiri agar ketika kita berpisah nanti kamu tidak akan ketergantungan kepadaku lagi". Sambung Dewa lagi kemudian pergi meninggalkan Maira begitu saja.
Bersambung....