Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 90


__ADS_3

Maira menatap sendiri wajah suaminya yang terbaring lemas di atas ranjang dengan bekas luka dan memar yang menghiasi hampir seluruh bagian wajahnya. Rian mengalami luka yang cukup dan juga benturan yang cukup keras di bagian kepalanya sehingga dokter mengatakan pria itu akan mengalami koma jika dalam dua puluh empat jam pertama ini dia tidak juga kunjung sadarkan diri.


Dalam keadaan harap-harap cas itu Maira juga merasa sedih ketika sang papa tuan Dhika tidak mau berbicara dengannya. Ya, pria paruh baya itu sudah mengetahui semua yang terjadi dalam rumah tangga anaknya dan dia sungguh sangat kecewa kepada putrinya Maira apalagi sampai membuat Rian terancam koma akibat ulah Maira sendiri.


Maira selalu mencoba untuk berkomunikasi dengan sang papa dengan maksud menjelaskan dan meminta maaf atas apa yang telah dia lakukan namun tuan Dhika langsung mengisyaratkan kepada Maira untuk diam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya.


"Hussst, sudahlah Maira tidak ada yang perlu di jelaskan karena meskipun kamu putri kandung papa namun Rian telah hidup dan dewasa bersama papa sehingga percuma kamu menjelaskan apapun karena itu semua tidak akan mengubah apapun, papa sangat mengenal siapa dan bagaimana Rian". Ujar tuan Dhika kecewa.


"Maira tidak ingin membela diri pa, Maira ingin meminta maaf kepada papa karena-". Lagi-lagi tuan Dhika mengisyaratkan agar Maira menyudahi perkataannya.


"Terlambat sudah untuk meminta maaf karena papa sudah terlanjur kecewa padamu, satu hal yang kamu tidak sadari dan kamu sia-siakan nak jika kami mencintaimu tanpa syarat dan tanpa karena tapi apa balasan dari cinta kami ini". Imbuh tuan Dhika kemudian dia langsung meninggalkan Maira begitu saja.


Semua ucapan tuan Dhika benar-benar menusuk jantung hati Maira, wanita itu benar-benar merasa sangat egois dalam bertindak tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang-orang yang mencintainya. Maira benar-benar menyesal kali ini bahkan seandainya waktu bisa di putar ulang maka dia tidak akan peduli tentang anak karena benar seperti yang di katakan oleh papanya jika suaminya dan papanya tidak pernah menuntut dia untuk memiliki anak.


"Pa, mas aku janji setelah ini aku akan memperbaiki segalanya dan kita akan hidup bahagia selamanya". Gumam Maira yang setia duduk di sofa untuk menunggu suaminya siuman sedangkan tuan Dhika sudah tertidur di samping Rian.


Entah jam berapa Maira tertidur namun ketika wanita itu terbangun matahari telah mulai menampakkan dirinya di celah-celah pintu dan jendela. Pemandangan di sekitarnya masih saja sama dimana papa dan suaminya masih tertidur dengan posisi yang sama seperti tadi malam. Maira menghampiri mereka dan tersenyum miris karena ulah nya mereka sekarang harus berada di sini.

__ADS_1


Maira membelai rambut suaminya dengan lembut dan setiap detiknya wanita itu seolah ingin mengucapkan kata maaf yang teramat sangat dalam kepada sang suami. Tanpa di sadari secara perlahan Rian menggerakkan tangannya dan tuan Dhika yang menggenggam tangan Rian langsung menyadari pergerakan tersebut sehingga dia langsung terbangun.


"Nak, kamu sudah sadar". Ujar tuan Dhika dengan suara parau khas orang baru bangun tidur.


"Sepertinya mas Rian sudah siuman pa, Maira panggilkan dokter dulu". Ujar Maira kemudian dia langsung berlarian keluar untuk memanggil dokter.


Dokter yang memeriksa keadaan Rian merasa lega karena pria itu ternyata siuman dalam dua puluh empat pertama yang itu artinya Rian telah melewati masa kritisnya akibar geger otak yang di alami oleh pria itu. Kabar gembira itu juga di sampaikan oleh dokter kepada tuan Dhika dan juga Maira sehingga membuat mereka sangat merasa bersyukur terutama Maira karena jika terjadi sesuatu kepada suaminya itu Maira tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Mas, dimana yang sakit?, apa kamu membutuhkan sesuatu?". Tanya Maira menghampiri Rian setelah berbicara dengan dokter.


Sakit dan hancur itulah yang Maira rasakan namun wanita itu seolah tidak ingin menyerah apalagi putus asa untuk mendapatkan simpati dan maaf dari suaminya, dia bertekad akan selalu berada disisi Rian apapun yang terjadi. Maira melihat sarapan Rian di atas meja sehingga dia berinisiatif untuk menyuapi makanan untuk suaminya.


"Mas kamu sarapan dulu ya, setelah itu minum obat". Ujar Maira sambil menyodorkan sendok berisi makanan tepat di hadapan Rian.


Bukannya membuka mulutnya, Rian justru menepis sendok tersebut hingga berhamburan ke lantai, Maira sangat terkejut dengan perlakuan kasar Rian itu bahkan tanpa dia sadari air matanya jatuh dengan sendirinya.


"Jangan bertingkah seolah-olah kita sedang baik-baik saja Maira, pergi dari sini karena aku tidak membutuhkanmu". Sentak Rian tegas.

__ADS_1


Maira tidak bisa berkata-kata lagi melihat perubahan sikap dan nada bicara suaminya hanya air mata yang bisa di jadikan gambaran betapa dia sangat sedih dengan semua yang terjadi saat ini sehingga membuat Rian yang melihat hal itu menghela napas kasar.


"Mulai sekarang tidak perlu memberikan aku perhatian atau mempedulikan apapun tentangku lagi Maira, hiduplah seperti yang kamu inginkan dan begitu juga aku akan meneruskan hidupku dan akan lebih baik lagi jika kamu tidak menunjukkan wajahmu di hadapanku lagi". Ujar Rian lirih namun sangat tegas karena walau bagaimanapun jauh di dasar lubuk hatinya yang terdalam Rian tidak tega memperlakukan Maira seperti itu namun karena terlanjur kecewa terhadap istrinya memaksa pria itu untuk melakukan hal tersebut.


Deg.....


Maira masih tidak percaya dengan apa yang dia dengarkan barusan karena selama ini pria yang menjadi suaminya itu selalu memahami dan memaafkan semua kesalahannya namun sekarang keadaannya berbeda dan Maira bisa mengerti hal itu terjadi karena kesalahan fatal yang dia lakukan.


Tuan Dhika juga ternyata mendengar apa yang di katakan oleh menantunya itu kepada sangat putri, di satu sisi dia merasa sakit dan sedih ketika putri mengalami hal tersebut namun di sisi lain tuan Dhika juga setuju dengan keputusan Maira setidaknya sampai membuat putrinya itu sadar akan kesalahan yang dia lakukan selama ini.


"Ya Tuhan, sungguh sangat sulit berada di situasi seperti ini melihat putriku sendiri di perlakukan seperti itu oleh suaminya namun di sisi lain putriku juga sudah melakukan kesalahan yang aku sendiri tidak bisa memaafkannya, semoga ini bisa menjadi pelajaran bagimu nak". Batin tuan Dhika sambil menghapus air mata di sudut matanya.


Maka setelah Rian mengatakan hal tersebut, pasangan suami istri itu tidak lagi berkomunikasi dengan baik, jikapun Maira berbicara dengan Rian, pria itu tidak pernah menjawabnya atau bahkan menjawab dengan sangat singkat dan padat, Rian juga terlihat sangat menghindari Maira bahkan dia tidak pernah menatap wajah atau bahkan mata sang istri lagi.


Rian benar-benar terlihat sangat mandiri dalam segala hal semua saat ini jikapun dia membutuhkan bantuan maka tuan Dhika atau para pelayan lah yang akan sigap membatu dirinya karena ketika Maira ingin membantunya maka Rian akan mengangkat tangannya untuk memberikan kode kepada Maira agar wanita itu berhenti di tempat dan tidak mendekati dirinya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2