Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 65


__ADS_3

"Bugh"


Terdengar jelas suara sebuah hantaman yang cukup keras mendarat di wajah Dewantara saat pria itu bersama Maira dan juga Anna baru keluar dari di sebuah restoran namun tentu saja bukan hanya Maira yang berada di sana melainkan juga Anna namun karena pri yang menghantam wajah Dewantara adalah Rian jadi sudah bisa di pastikan jika pria itu hanya melihat Maira dan Dewantara saja yang berada di sana.


Anna dan Maira kompak menjerit saat melihat ada seseorang yang tiba-tiba menyerang Dewantara itu. Dan lebih membuat mereka sangat terkejut adalah yang menyerang Dewantara itu ternyata adalah Rian. Mereka sama sekali tidak menyangka jika pria itu juga berada di Swiss saat ini.


Dalam keterkejutan mereka Rian kembali meraih kerah baju Dewantara dan bersiap untuk menyerangnya kembali namun Dewantara membalas pukulan Rian dengan tidak kalah kerasnya. Baku hantam antara kedua pria itu tidak terelakkan namun Maira hanya bisa mematung tanpa bisa padahal Anna sudah beberapa kali menyadarkan dan meminta Maira untuk melerai pergulatan panas itu sebelum keduanya celaka.


Maira merasa napasnya sesak dan seolah jantungnya juga berhenti berdetak sehingga dia sudah tidak dapat lagi mencerna perkataan Anna. Kaki Maira terasa lemas dan bergetar namun dia segera tersadar ketika melihat darah segar yang mengalir di sudut bibir Rian akibat hantaman dari Dewantara.


"Maira, cepat lakukan sesuatu atau mereka berdua akan mati". Teriak Anna sambil menepuk kasar bahu Maira. Anna sangat ingin melerai perkelahian tersebut namun keterbatasan untuk bergerak dengan perut buncitnya itu membuatnya mengurungkan niatnya.


"Maira aku mohon lakukan sesuatu". Sentak Anna lagi kemudian Maira langsung menghampiri keduanya dan melerai perkelahian itu.


"Rian, mas stop". Sentak Maira kepada kedua pria yang ada di hadapannya.


Mendengar teriakan Maira, kedua pria itu langsung menghentikan aksi brutal mereka sehingga membuat Anna tersenyum miris karena benar seperti apa yang dia pikirkan jika kedua pria itu akan mendengarkan ucapan Maira. Anna merasa seperti sangat kecil saat menyaksikan hal yang tidak pernah bisa dia lakukan sedangkan Maira bisa melakukannya dengan mudah.


"Jangan pernah tunjukkan lagi wajahmu di hadapanmu apalagi di hadapan Maira". Ancam Rian kepada Dewantara.

__ADS_1


"Ck, kau sedang mengancamku atau sedang mengajakku bercanda hah?". Jawab Dewantara meremehkan ancaman Rian.


Geram dengan jawaban yang di berikan oleh Dewantara, Rian kembali hendak menyerang Dewantara lagi namun Maira langsung menghentikan niatnya itu dengan kembali berteriak. "Jika kalian ingin mati tolong jangan di sini karena akan banyak orang yang akan di repotkan oleh kalian". Seru Maira kesal.


Rian menghampiri Maira dan langsung menarik tangan Maira untuk mengikuti langkahnya. Maira mencoba melepaskan genggaman tangan Rian namun tenaganya tidak cukup kuat untuk melepaskan genggaman tangan tersebut apalagi Rian sedang dalam keadaan marah pasti tenaga pria itu sedang meluap-luap.


Anna melihat interaksi sepasang kekasih yang telah terpisah cukup lama itu dengan tatapan yang sangat sulit di artikan, dalam hatinya dia mengagumi keberuntungan yang di dapatkan oleh Maira karena bisa di cintai oleh pria seperti Rian. Tatapan Anna tidak pernah lepas dari mereka berdua walaupun yang masih terlihat dari pandangannya itu hanyalah punggung Rian dan Maira yang semakin menjauh bahkan wanita itu seolah tidak peduli dengan kondisi Dewantara padahal pria itu mengalami luka yang cukup serius di wajahnya.


Ada rasa tidak nyaman di hati Anna entah itu sakit hati atau kesal terhadap sikap Rian, dia juga sulit mengartikannya karena pria yang pernah menjadi majikannya itu bahkan tidak melihat kearahnya sama walau hanya sekedar menyapa dirinya padahal selama ini Anna sangat setia kepada keluarga Mahendra bahkan dia kehilangan kesuciannya hanya untuk menunjukkan betapa dia sangat setia kepada Rian namun balasan yang dia Terima justru sebaliknya.


Dewantara ikut melihat arah pandangan Anna dia seperti menyadari sesuatu dari pandangan Anna tersebut sehingga dia mengumpat kesal di dalam hatinya.


Bisa di bilang saat ini posisi Anna dan Dewantara berada di posisi yang sama karena mereka sama-sama merasa cemburu dan iri dengan pesona yang mereka miliki sehingga bisa memikat banyak hati lawan jenisnya. Namun Dewantara tidak peduli akan hal itu untuk kali ini karena dia tetap akan berjuang mendapatkan hati Anna karena dia tidak berjuang hanya untuk Anna saja namun untuk anaknya juga.


"Kamu masih betah menatap punggung pria pujaan hatimu itu di sini atau mau ikut pulang denganku, wajahku sangat perih, aku butuh obat". Ujar Dewantara datar tanpa menatap kearah Anna.


"A-aku ikut pulang denganmu". Jawab Anna terbata-bata kemudian mengikuti langkah kaki Dewantara untuk meninggalkan restoran itu.


Ada yang lain dari sikap pria itu kepada Anna, Dewantara merasa jika Dewantara mengabaikannya dan tidak peduli kepadanya seperti hari-hari sebelumnya bahkan pria itu tidak membukakan pintu mobil untuknya seperti biasanya, hal itu di yakini Anna pasti karena pria itu merasa cemburu karena Rian telah membawa Maira pergi bersamanya.

__ADS_1


Kedua pasang pasangan itu meninggalkan restoran tersebut dengan perasaan campur aduk di dalam pikiran mereka masing-masing. Diam sepanjang perjalanan menuju rumah adalah solusi paling tepat saat ini untuk mereka semua untuk menghindari perdebatan yang semakin hebat terutama untuk Maira dan juga Rian.


"Lepaskan aku". Sentak Maira saat Rian memaksanya masuk ke dalam kamar, bahkan Rian menggendong tubuh Maira saat masuk ke dalam rumah.


"Menurut lah sayang karena suasana hatiku saat ini tidak baik untuk kita berdebat, tidurlah karena besok kita akan kembali ke indonesia". Jawab Rian datar.


"Kembali ke indonesia?, apa aku tidak salah dengar, aku masih punya kepentingan di sini dan aku tidak akan kembali ke indonesia apalagi denganmu".


"Kepentingan apa?, apa Dewantara sepenting itu untuk mu Maira Syahila?. Pria brengsek itu tidak pantas berada di dekatmu lagi". Sentak Rian dengan suara lantang.


"Jika pun iya itu bukan urusanmu sama sekali dan kau sudah tidak berhak untuk mengatur hidupku lagi".


"Aku berhak atasmu karena aku-". Ucapan Rian terputus saat dia bingung harus mengatakan jika dia siapa bagi Maira saat ini karena jika di katakan calon suaminya maka hal itu juga tidak masuk akal karena selama ini Rian sudah tidak menghubungi Maira apalagi membahas tentang pernikahan dan masa depan mereka.


"Apa?, kau siapa bagiku hah?". Tanya Maira murka dengan sikap tidak bertanggungjawab Rian selama ini. "Sadarlah rian Mahendra jika kau bukan siapa-siapa lagi bagiku dan tinggalkan rumahku secepatnya seperti kau meninggalkan ku dulu. Dan satu lagi dibandingkan denganmu mas Dewa tidak lah lebih buruk setidaknya dia ingin mencoba memperbaiki kesalahannya dengan menerima apapun keadaan di masa lalunya". Sambung Maira lirih.


Rasa sakit bukan hanya di rasakan oleh Rian saat mendengar hal itu keluar dari mulut Maira namun wanita itu juga merasa sangat sakit ketika harus mengatakan hal itu kepada pria yang sangat dia cintai itu. Jujur bukan pertemuan seperti ini yang mereka inginkan dimana mereka saling berdebat satu sama lain. Rasa rindu di dalam hari keduanya sepertinya hilang begitu saja saat ini.


"Aku bukan lagi siapa-siapa untuk mu Rian, kau telah memilih untuk meninggalkan ku dan mengakhiri semua itu tanpa sepatah katapun. Kau juga tidak perlu mengkhawatirkan aku karena aku lebih tahu apa yang terbaik untuk diriku sendiri". Ucap Maira sembari meninggalkan Rian yang mematung di sana.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2