Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 70


__ADS_3

Acara akad nikah dan hiruk pikuk pesta pernikahan Maira dan Rian telah berakhir, mereka saat ini telah sah menjadi suami istri. Rian membawa Maira ke kamar yang telah di siapkan khusus untuk mereka berdua, kamar yang di design dengan begitu indahnya. Para sabahat Maira yang lainnya juga masih menginap di hotel untuk malam ini karena memang Rian telah menyediakan segala fasilitas lengkap untuk sahabatnya dan juga sahabat-sahabat Maira.


"Apa kamu bahagia?". Tanya Rian kepada istrinya itu.


"Tentu saja, terimakasih suamiku". Jawab Maira antusias.


"Aku suka panggilan itu". Rian memeluk Maira manja.


"Tapi aku masih bingung bagaimana bisa kamu membawa Anna bahkan Shinta untuk datang kemari".


"Apapun pasti akan aku lakukan untuk istriku yang cantik ini". Jawab Rian tanpa memberikan jawaban yang pasti, Maira tahu jika percuma dia bertanya kepada suaminya itu sehingga dia memutuskan untuk menginterogasi Anna dan Shinta perihal mereka bisa berada di hari pernikahannya nanti.


"Apa kita akan terus berbasa-basi dan tiduran begini saja sepanjang malam?". Tanya Maira.


"Maksudmu?". Tanya Rian bingung.


"Oh ya Ampun, bukankah kita sudah menikah, apa kamu tidak ingin kita melakukan itu?".


"A-apa?, apa kamu yakin?".


"Kenapa aku jadi tidak yakin?, jujur saja aku sangat penasaran bagaimana rasanya karena saat dulu kita melakukannya aku tidak sadarkan diri". Bisik Maira polos sehingga mengundang gelak tawa Rian.


Pria itu tidak menyangka jika Maira akan memintanya duluan karena dia berpikir jika Maira pasti lelah malam itu dan akan minta tidur cepat namun nyatanya apa yang dia pikirkan salah.


"Aku pikir kamu malah akan merengek untuk menundanya karena alasan wanita setelah acara pernikahan selesai mereka pasti lelah dan ingin segera tidur". Ujar Rian.


"Hello tuan, anda menikah dengan seorang janda jadi wajar jika aku tidak akan malu-malu lagi denganmu, aku janda yang menyedihkan bahkan aku belum tahu bagaimana nikmatnya bercinta itu". Gerutu Maira.


Rian tidak habis pikir dengan apa yang di katakan Maira, sungguh istrinya itu sangat polos bahkan terkesan tidak tahu malu. Rian kemudian mendekati Maira dan mengusap wajahnya dengan lembut, dia menatap mata istrinya dalam-dalam seolah menyalurkan rasa cinta yang begitu besar kepada Maira.

__ADS_1


"Apa kamu benar-benar sudah siap?". Tanya Rian dengan suara lembut dan tanpa rasa malu Maira langsung mengangguk mantap sehingga membuat Rian senyum penuh kemenangan. Jujur pria itu sebenarnya juga sudah tidak bisa menahan dirinya namun karena dia berpikir jika Maira kelelahan dan butuh istirahat maka tidak masalah jika dia menundanya dulu untuk malam ini.


Benar saja malam itu memang berlalu sebagaimana mestinya karena Maira yang sangat penasaran bahkan menunggu lama untuk mendapatkan apa yang di katakan oleh orang-orang tentang kenikmatan dunia itu, bukan hanya itu dia juga harus bersabar sampai menjalani pernikahan yang kedua kalinya dengan pria yang berbeda.


Di luar ekspektasi, ternyata permainan malam ini lebih di dominasi oleh Maira rupanya wanita itu benar-benar ingin mengeksplor dirinya sebaik mungkin. Rian bahkan sampai heran bagaimana bisa dia sudah tidak canggung atau malu sama sekali ketika setiap inci tubuhnya di lihat dan di cumbuii oleh pria itu.


"Kamu sangat hebat sayang, bahkan kamu tidak malu-malu lagi denganku". Ujar Rian di sela permainan sengit itu.


"Untuk apa malu, bukankah kita sudah pernah melakukannya jadi tentu saja sebelumnya kamu juga sudah melihat seluruh tubuhku kan". Jawab Maira polos.


"Apa kamu yakin kamu sudah siap?". Tanya Rian lagi ketika mereka sampai di permainan inti dan Maira langsung mengangguk tanpa ragu.


Rian menuntun juniornya yang sudah sangat mengeras itu untuk memasuki diri Maira yang terdalam, dia sengaja menuntunnya secara perlahan karena dia tahu Maira pasti akan sangat kesakitan setelah penyatuan itu sempurna terjadi. Benar saja belum setengah penyatuan itu terjadi Maira sudah merintih kesakitan bawahnya sampai mencengkam dengan kuat punggung Rian dengan kuku-kuku panjangnya.


"Aws, kenapa sakit?". Tanya Maira bingung.


"A-apa?".


Rian yang sudah tidak tahan untuk menuntaskan segalanya langsung membekap bibir Maira dengan mulutnya agar wanita itu tidak menjerit dan tentu saja untuk membuat wanita itu merasa sedikit rileks tentunya namun kenyataannya Maira tetap tidak tahan akan sakit yang luar biasa yang dia rasakan di sana bahkan dia ingin memberontak dan mengakhiri permainan mereka namun Rian tidak membiarkannya pergi begitu saja.


Bibir itu memang harus segera harus di bekap sebelum Maira menggerutu kesal karena telah di tipu olehnya selama ini tentang hubungan yang pernah mereka lakukan saat Maira masih berstatus sebagai istri Dewantara. Rian yakin jika wanita itu pasti kesal karena Maira sangat merasa bersalah saat itu.


"Sayang tahanlah sedikit lagi". Bisik Rian dengan napas yang memburu.


Benar saja dengan perlahan tapi pasti junior itu berhasil mengusai diri Maira seutuhnya dan mencapai puncak kenikmatan yang sesungguhnya. Jangan tanya bagaimana keadaan Maira karena yang dia tahu adalah rasa sakit yang tidak terbendung itu menyimpan kenikmatan yang tiada tara juga di dalamnya sehingga membuatnya mengakui jika kenikmatan itu nyata adanya.


"Ahhhg". Desah Rian penuh kepuasan membuat Maira yang merintih kesakitan tadi mengeluarkan air mata haru.


Menuntaskan hasrat satu sama lain adalah hal yang menyenangkan bagi keduanya meskipun yang lebih dominan di rasakan oleh Maira adalah rasa sakit namun setidaknya dia sangat puas karena saat ini dia telah menjadi istri yang seutuhnya untuk Rian. Ada rasa bangga tersendiri bagi wanita itu apalagi dia menyerahkan kesuciannya untuk pria yang sangat dia cintai dan tepat di malam pertama mereka.

__ADS_1


Setelah selesai dengan aksinya Rian mengecup mesra kening istrinya dan tersenyum manis. "Terimakasih istriku sayang". Bisiknya namun Maira sama sekali tidak menjawabnya wanita itu justru langsung menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya hingga hanya rambut acak-acakan nya saja yang masih terlihat.


"Sayang, kamu kenapa, apa itu sangat sakit?". Tanya Rian melihat aksi Maira.


"Iya". Jawab Maira ketus.


"Kamu marah padaku?".


"Iya". Jawab Maira singkat lagi.


"Maafkan aku, lagipula apa bedanya tetap saja aku yang pertama kalinya menyentuhmu bukan?".


"Tapi aku malu".


"Malu kenapa?".


"Aku malu dengan tingkahku tadi". Walaupun tidak terlihat oleh Rian namun wajah Maira seketika memerah saat mengingat aksi memalukannya tadi apalagi dia yang meminta duluan kepada suaminya.


"Hahaha". Rian tertawa mendengar perkataan istrinya namun dia sangat menyukai sisi polos istrinya itu. "Tapi aku menyukai aksimu tadi, istriku yang polos ternyata cukup nakal juga, lagipula antara suami istri itu hal yang wajar sayang jadi tidak perlu malu karena kita akan terbiasa dengan itu semua". Sambung Rian lagi.


"Tetap saja aku bertingkah sangat memalukan". Jawab Maira lesu di balik selimut.


"Itulah keuntungan menikah janda mereka akan lebih agresif dan berpengalaman". Goda Rian lagi.


Maira langsung naik pitam mendengar perkataan suaminya itu, dia bahkan langsung membuka selimutnya dan memukul Rian dengan menggunakan bantal karena kesal kepada Rian yang trus menggodanya itu namun Maira lupa jika tubuhnya masih polos sehingga Rian sangat menikmati pukulan demi pukulan Maira apalagi dengan pemandangan indah di depan matanya itu.


Jika sudah seperti itu posisinya maka bisa kalian bayangkan sendiri apa yang akan terjadi selanjutnya bukan, apalagi mereka adalah pasangan pengantin baru tentu saja malam panjang itu akan di habiskan dengan berbagi peluh dan kehangatan tanpa henti.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2