Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 68


__ADS_3

"Jadi aku akan menikah besok?". Tanya Maira kepada dirinya sendiri.


Maira terkesima memandang gaun yang begitu indah di hadapannya itu bahkan dia belum bisa mencerna situasi yang sedang terjadi dimana dia akan menikah esok hari sampai akhirnya dia kembali membulatkan matanya dengan sempurna karena dia sama sekali tidak tahu tentang rencana pernikahan itu, tentu saja dia tidak akan menerimanya begitu saja.


"Apa yang kalian katakan tadi, aku akan menikah besok dan itu gaun yang di siapkan untukku?". Tanya menghampiri kedua wanita yang masih bingung dengan tingkah calon pengantin di hadapan mereka itu sehingga mereka hanya bisa mengangguk kompak.


"Tidak bisa, aku bahkan tidak punya satupun undangan di daftar tamu besok". Protes Maira karena dia sama sekali tidak mengundang siapapun termasuk sahabatnya Annabelle. "Aku harus menemuinya, dimana dia?". Tanya Maira lagi namun mereka tetap diam karena bingung siapa yang Maira maksud.


"Kenapa kalian diam saja". Protes Maira lagi.


"Si-siapa maksud anda nona?". Tanya mereka canggung karena baru kali ini mereka melihat pengantin ya g tidak tahu rencana pernikahannya sendiri.


"Tentu saja pria itu. Ck, dimana tuan muda yang kalian sebut calon suamiku itu?".


"A-ada di kamar sebelah non-". Belum selesai Maira mendengar jawaban mereka dia langsung melesat ke kamar sebelah untuk mengutarakan protesnya kepada Rian, kedua wanita cantik itu hanya saling menatap tanpa bisa mengatakan apapun lagi.


Maira menekan bel kamar sebelah beberapa kali dengan hati yang sangat kesal karena penghuni kamar itu sama sekali tidak merespon kehadirannya. Setelah beberapa lama dan puluhan kali Maira menekan bel tersebut pintu kamar itu terbuka sehingga dia langsung bersiap untuk memarahi Rian.


"Kenapa lama sekali hah?". Sentak Maira.


"Aku sedang mandi sayang, apa kamu terlalu merindukan ku heem". Jawab Rian lembut.


"Apa ini semua?".


"Apanya yang apa?".

__ADS_1


Maira memijat-mijat keningnya menghadapi tingkah tanpa dosa Rian. "Bagaimana bisa kita menikah besok dan aku tidak tahu apapun".


"Bagaimana bisa kamu tidak tahu, bukankah saat kita masih di Swiss aku sudah mengajak mu untuk menikah denganku, ayo masuk dulu tidak baik bicara di sini". Rian kemudian menarik tangan Maira dan wanita itu menurut saja.


"Aku belum menjawab apapun saat itu". Protes Maira lagi.


"Diam mu sudah cukup sebagai jawaban jika kamu menyetujuinya".


"Rian, kalaupun aku setuju tapi tidak seperti ini juga caranya aku bahkan tidak tahu apa-apa dan tidak ada satu orangpun sahabatku yang aku undang ke acara pernikahan kita, setidaknya Anna harus ada di acara pernikahan ku". Ujar Maira geram.


Melihat Maira yang sudah sangat kesal Rian kemudian langsung menarik pinggang Maira agar jarak di antara mereka tidak ada lagi. Pria itu menatap lekat mata indah calon istrinya itu berusaha meyakinkan Maira jika semua akan baik-baik saja.


"Percayalah kepadaku sayang, kamu akan mendapatkan pernikahan impianmu". Ujarnya penuh keyakinan.


Mendengar perkataan Rian apalagi dengan perlakuan manis dari pria itu Maira langsung luluh, seketika saja semua rasa kesal dan rasa ragu yang ada di pikirannya tadi hilang begitu saja. Sungguh Rian sangatlah tampan baginya malam itu sehingga membuat wanita itu terkesima akan ketampanannya.


" Eheem". Suara berat tuan Dhika memberi isyarat jika mereka harus segera menjauh. "Sabarlah sampai hari esok tiba". Celetuknya lagi.


Benar saja Rian dan Maira langsung saling menjauh satu sama lain, wajah Maira seketika saja memerah karena menahan malu sedangkan Rian sendiri lebih terlihat kesal kepada pria paruh baya itu.


"Ck, papa mengganggu saja". Gumamnya.


"Kenapa kamu di sini sayang?". Tanya tuan Dhika tanpa mempedulikan wajah kesal putranya.


"Ck, papa sungguh ini tidak adil bagiku, bagaimana bisa Maira tidak tahu tentang rencana pernikahan Maira sendiri". Protes manja Maira kepada sang papa.

__ADS_1


"Sayang, tenangkan dirimu dan jangan pikirkan apapun yang akan membuatmu stress karena besok adalah hari penting bagimu, papa janji jika pernikahan mu besok akan menjadi hari istimewa bagimu". Jelas tuang Dhika lembut.


Setelah beberapa saat Maira berbincang dengan papanya dia merasa tenang karena pria paruh baya itu memang selalu bisa membuat putrinya itu merasa tenang. Namun yang tidak di sangka olehnya adalah ketika Rian di datang air oleh kedua sahabatnya yang akan menghabiskan malam lajangnya malam itu bahkan mereka juga membawa istri mereka masing-masing. Ya, mereka adalah Haikal dan Aninda serta Nino dan juga Sherly.


Malam itu Haikal dan Nino akan bermalam di kamar Rian sedangkan para istri mereka akan bermalam di kamar Maira. Hal itu membuat Maira sedikit merasa bahagia karena meskipun sahabatnya sendiri tidak menghadiri pesta pernikahannya setidaknya ada Aninda dan juga Sherly yang menemaninya malam itu. Meskipun mereka baru saja berkenalan namun para istri dari sahabat-sahabat Rian itu ternyata sangatlah mudah untuk akrab dengan Maira karena pribadi mereka yang sangat baik.


Sudah di pastikan jika ketiga wanita itu akan menjadi sahabat karena memang mereka sangat mudah akrab. Maira bersyukur karena untuk ke depannya akan lebih banyak orang yang bisa dia jadikan sahabatnya.


"Bersiaplah untuk malam panjang esok malam Maira, kamu pasti akan sangat kewalahan di buat oleh Rian". Celetuk Anin tanpa rasa canggung.


"Ya itu sudah pasti karena pria yang baru merasakan nikmatnya malam pertama pasti tidak akan pernah puas sedangkan kita akan merasa sakit dan lelah setengah mati". Ujar Sherly polos dan di sambut tawa oleh mereka bertiga.


"Tapi aku sudah pernah menikah sebelumnya" Jawab Maira polos.


"Kami tahu jika kamu belum tersentuh sama sekali karena mantan suamimu itu tidak pernah menyentuh mu kan". Ujar Anin lagi.


"Ah ya, aku bahkan lupa akan hal itu". Jawab Maira canggung.


Sebenarnya Maira tidak lupa jika Dewantara belum pernah menyentuhnya namun malam pertama besok baginya bukanlah hal baru baginya karena dia pernah melakukan hal tersebut sebelumnya dengan Rian. Namun wanita itu tidak mungkin menceritakan hal memalukan itu kepada kedua wanita yang tidur di samping kiri dan kanannya itu karena dia pasti akan sangat malu.


"Syukurlah jika mereka tidak mengetahui segala hal tentang diriku karena sepertinya mereka tahu segalanya". Batin Maira sambil bernapas lega.


Malam itu Maira tidak merasa kesepian dan sendirian lagi namun jauh di hati kecilnya dia tetap merasa tidak enak hati kepada Anna yang sama sekali tidak mengetahui rencana pernikahannya itu bahkan yang lebih membuatnya khawatir adalah ponsel Anna yang mendadak tidak bisa di hubungi padahal terakhir kali dia tiba di indonesia, Maira masih berbalas pesan dengan wanita itu.


Bukan hanya ponsel Anna saja, ponsel Dewantara juga mendadak tidak bisa di hubungi sehingga rasa khawatir Maira terhadap sahabatnya yang tengah hamil itu menjadi bertambah, Maira juga meminta bantuan sang papa untuk mencari tahu bagaimana keadaan Anna dan menyuruh sang papa mengirimkan beberapa pengawal untuk menjaga wanita hamil itu.

__ADS_1


"An, semoga kamu baik-baik saja dan mas Dewa memenuhi janjinya untuk selalu menjagamu". Batin Maira karena jujur dia masih takut jika Dewantara menyakiti Annabelle.


...----------------...


__ADS_2