
Malam itu tuan Dhika membawa Maira ke sebuah hotel mewah untuk beristirahat dan menyembuhkan luka-luka di tubuh Maira dengan memanggilkan dokter ke sana, sebelum besok pagi tuan Dhika merencanakan untuk kembali ke Indonesia apalagi Maira terus menerus meminta kepadanya untuk membawanya kembali ke Indonesia.
Setelah merasa Maira tenang dan aman kemudian tuan Dhika meninggalkan Maira untuk beristirahat di kamar sebelah. Namun baru saja dia berpamitan untuk pergi meninggalkan Maira, wanita itu langsung menarik tangan tuan Dhika sehingga langkah tuan Dhika terhenti.
"Terimakasih tuan, jika saja anda tidak datang tadi mungkin saya sudah-".
"Ssst, tidak perlu berterimakasih karena itu sudah menjadi tugas papa untuk menjagamu nak". Tuan Dhika langsung memotong pembicaraan Maira karena dia tidak sanggup mendengar apalagi membayangkan nasib Maira jika dia terlambat tiba di Jerman tadi.
"Panggil saya papa, sama seperti Rian karena kamu wanita yang di cintai oleh putra papa jadi kamu tidak perlu sungkan lagi dengan papa". Sambungnya lagi.
Maira hanya bisa mengangguk pelan dengan wajah merah merona sekaligus dia merasa haru, dia tidak habis pikir bagaimana bisa tuan Dhika sepertinya sangat mendukung jika putra satu-satunya itu menaruh hati pada wanita seperti dirinya. Wanita yang tidak jelas asal usulnya dan bahkan lebih parahnya lagi Maira adalah masih istri sahabat dari pria bernama Dewantara.
"Ba-baik pa". Jawab Maira ragu.
Tuan Dhika memang memutuskan untuk tidak memberitahukan dulu yang sebenarnya kepada Maira karena walau bagaimanapun dia tahu jika Maira dan Rian tidak akan bisa menerima kenyataan yang terjadi saat ini dengan mudah sehingga beliau menunggu waktu yang tepat untuk berkata jujur tentang status Maira yang sesungguhnya.
"Untuk sementara biarlah seperti ini dulu Maira, kamu tidak akan mudah menerima papa sebagai papa kandung kamu dan papa juga tidak tega mematahkan hati Rian jika dia tahu yang sebenarnya". Batin tuan Dhika menatap pintu kamar Maira yang sudah tertutup rapat.
Keesokan harinya setelah menyelesaikan sarapannya, tuan Dhika dan Maira langsung menuju bandara untuk menuju Indonesia karena Maira sudah tidak betah lagi berada di Jerman padahal tuan Dhika ingin Maira menyembuhkan luka-lukanya terlebih dahulu namun wanita itu tetap bersikeras untuk kembali ke indonesia saja karena dia sudah sangat merindukan rumah peninggalan ibunya dulu.
__ADS_1
Ya, sepulang dari Jerman Maira memutuskan untuk kembali ke rumah peninggalan ibunya dimana masa-masa indah dalam hidupnya terukir disana dan dia ingin melupakan segala hal yang terjadi di hidupnya dengan memulai kehidupan baru yang lebih baik.
Tuan Dhika sendiri tidak melarangnya karena beliau tidak ingin Maira curiga dengan mengajak Maira untuk langsung tinggal bersama dengannya namun dia sudah menyiapkan para pengawal khusus agar putrinya itu di jaga dan di awasi selama dua puluh empat jam penuh orang para pengawal untuk keamanan Maira apalagi dia yakin jika Dewantara tidak akan tinggal diam dan akan mencoba mencari keberadaan Maira lagi.
"Apa kamu yakin ingin kembali kesana?, papa bisa menyediakan apartemen atau rumah lain jika kamu membutuhkannya nak". Ujar tuan Dhika.
"Tidak perlu pa, Maira hanya ingin berada di sana untuk saat ini, itu akan membuat Maira merasa tenang karena tidak ada tempat yang lebih nyaman dari rumah masa kecil Maira saat ibu masih ada dulu". Jawab Maira.
"Baiklah jika itu keinginanmu tapi kamu harus selalu memberi kabar kepada papa atau Rian ya". Maira mengangguk penuh haru mendengar perkataan tuan Dhika yang sangat mengkhawatirkan keadaannya itu, dia merasa sangat di sayangi oleh sosok pria paruh baya yang berstatus sebagai papa dari pria yang terus mengusik hatinya selama ini.
"Apa ibumu sudah tidak ada?". Tanya tuan Dhika penasaran dengan sosok yang membesarkan putrinya itu.
"Iya pa, ibu sudah meninggal beberapa tahun yang lalu". Jawab Maira lirih.
"Baik pa".
Tuan Dhika terus memandang kalung yang di kenakan oleh Maira, sebuah liontin yang terukirkan inisial nama sang istri dan juga namanya di sana, MS Mirna dan Sandhika sehingga dia tidak salah lagi jika Maira benar-benar putri kandungnya.
"Kalung mu bagus". Ujar tuan Dhika spontan.
__ADS_1
"Ah, iya tuan ini peninggalan orang tua saya, di kalung ini juga terukir inisial nama saya MS, Maira Syahila". Jawab Maira.
Tuan Dhika hanya tersenyum kecut mendengarkan penjelasan Maira karena Maira salah mengartikan inisial yang ada di kalung tersebut.
"Bukan itu inisial yang sebenarnya nak, itu inisial nama mama dan juga papa yang di pesan khusus oleh nenekmu dulu". Batin tuan Dhika. Rupanya dari ini inisial dari kalung tersebutlah ibu panti yang merawat Maira memberikan nama belakang untuk wanita cantik itu.
Sementara itu di sebuah klub malam Rian tengah mabuk berat bahkan dia tidak tahu apapun yang terjadi di sekitarnya lagi namun selalu ada Anna yang setia menemaninya. Anna tahu betul jika akan banyak wanita-wanita yang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendapatkan majikannya itu sehingga dia harus siap siaga menjaga Rian, tentu saja dia tidak akan membiarkan wanita manapun mendekati pria yang di cintainya itu.
Padahal selama ini Rian sudah tidak lagi menyentuh minuman haram tersebut, dimana terakhir kalinya dia mengalami hal yang sama saat dia mengetahui pengkhianatan Ayuna dan Dewantara. Setalah itu pria itu sama sekali tidak berhubungan dengan yang namanya suami malam lagi karena dia memang sudah berubah sejak dia jatuh cinta kepada wanita cantik bernama Ayuna.
Anna juga merasa heran dengan perubahan sikap majikannya tersebut, jika di awal kehilangan jejak Maira, Rian tidak pernah mabuk-mabukan maka lain halnya dengan sekarang di saat dia justru sudah mengetahui dari Ricko jika tuan Dhika sudah ikut andil dalam pencarian Maira.
Namun Anna tidak pernah menanyakan apapun perihal apa yang akan dan ingin di lakukan oleh majikannya itu karena tugasnya hanyalah memastikan jika Rian Mahendra dalam keadaan aman dan tidak ada yang mengusik kehidupannya seperti yang selalu di perintahkan oleh tuan besarnya Sandhika Mahendra.
Puas dengan minumannya, Rian berjalan tanpa arah hingga tubuhnya hampir terjatuh namun Anna dengan sigap langsung menangkap tubuh Rian dan membawanya pulang ke mansion nya dan hal itu.
"Hanya ketika Anda dalam keadaan mabuk seperti inilah aku bisa berada sedekat ini dengan anda tuan, seandainya saja aku wanita yang anda cintai itu pasti masalah yang akan anda alami tidak akan serumit ini". Batin Ricko.
"Kenapa cinta selalu merusak mental dan hidupku?". Seru Rian setengah berteriak di dalam mobil yang di kendarai oleh Anna.
__ADS_1
Pria itu bahkan mengeluarkan air matanya tanpa sadar dan Anna dapat melihatnya dengan sangat jelas sehingga dia juga merasa iba kepada majikannya itu yang telah mengalami sakit karena cinta yang di miliknya. Wanita cantik yang menjadi salah satu orang kepercayaan keluarga Mahendra itu sama sekali tidak menggubris perkataan Rian karena dia merasa sakit hati ketika Rian dengan mudahnya bisa mencintai Maira tapi hal sebaliknya justru terjadi padanya yang telah lama mengharapkan cinta Rian.
...----------------...