
Setelah kejadian di perusahaan Rian tempo lalu, Maira sudah beberapa hati ini tidak masuk kerja karena alasan kesehatannya. Jika Rian uring-uringan akan hal itu karena tidak bisa bertemu pujaan hatinya, maka beda dengan Dewa yang sangat bahagia karena dia juga tidak masuk kerja beberapa hati ini dan menghabiskan waktunya bersama Maira.
Dan yang perlu diketahui juga jika dalam beberapa hari ini pula mereka tidur di kamar bahkan ranjang yang sama namun Dewa dan Maira tidak melakukan hal apapun layaknya pasangan suami istri karena Dewa bertekad jika dia akan membuat Maira menerimanya dan mencintainya terlebih dulu baru dia akan memulai kehidupan mereka yang baru tanpa paksaan, melihat pemandangan itu tentu saja tin merasa sangat bahagia karena ini merupakan awal yang baik untuk hubungan majikannya.
"Kita akan memulai semuanya dari awal karena tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik, kamu mau kan Ra?". Begitulah Dewa bertanya kepada istrinya beberapa kali namun Maira hanya menjawabnya dengan anggukan kecil
Jika Dewa tidak risih atau canggung sedikitpun dengan kehadiran Maira yang selalu berada di sampingnya, Maira justru merasa risih apalagi pikirannya selalu berkelana pada pria tampan yang menjadi atasannya, apalagi beberapa hari ini Maira juga menutup akses bagi Rian untuk dapat menghubunginya.
Dewantara tidak pernah menanyakan perihal mengapa Maira beberapa hari ini tidak masuk kerja setelah kejadian dia tidak pulang malam itu karena Dewa cukup percaya jika istrinya yang lugu itu tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh di luar sana.
Hari ini Dewa berencana mengajak Maira untuk makan malam di luar, hal yang selama pernikahan mereka belum pernah mereka lakukan, Maira juga tidak dapat menolak niat baik suaminya itu karena bagaimanapun dia masih istri sah dari pria itu.
"Kamu suka tempat ini?". Tanya Dewa ketika mereka tiba di sebuah restoran mahal.
"Suka mas". Jawab Maira singkat.
"Ayo masuk". Ajak Dewa kemudian mereka masuk dan duduk di tempat yang sudah terlebih dulu di pesan oleh Dewa.
Awalnya acara makan malam tersebut berjalan lancar sampai pada ketika Maira pergi ke toilet dia mengalami hal yang sangat membuatnya terkejut yaitu kemunculan Rian yang tiba-tiba menariknya ke taman restoran yang tampak sangat sepi.
Pria yang sudah menahan rasa rindunya karena beberapa hari ini tidak melihat Maira pun langsung memeluk wanita itu dengan sangat erat.
"Aku merindukanmu sayang". Ujar Rian lembut.
"Tuan, apa yang anda lakukan di sini, lepaskan saya tuan, kalau mas Dewa melihat kita bagaimana?". Tanya Maira sambil terus berusaha menjauhkan Rian darinya.
"Jangan sebut nama orang lain saat kita sedang bersama". Ujar Rian tegas.
"Tuan saya mohon lepaskan saya". Bujuk Maira.
"Aku akan melepaskan mu jika kamu berjanji kamu akan masuk kerja lagi mulai besok".
__ADS_1
"Tapi tuan-".
"Jangan menghindari ku Maira, apa kamu lupa apa yang pernah kita lakukan bersama heem?".
Jika Rian sudah mengeluarkan kata-kata keramatnya itu, maka Maira tidak akan bisa berbuat apapun lagi karena di situlah titik kelemahan wanita itu. Apalagi pelukan Rian dan tatapan dari pria yang jujur juga sangat dia rindukan itu.
Rian mencium seluruh wajah Maira tanpa henti seolah menggambarkan betapa dia sangat merindukan wanitanya itu. Mereka melepaskan rindu yang seolah memuncak itu tanpa menyadari jika di dalam ada seseorang yang sedang menunggu kedatangan Maira.
"Tuan, saya harus pergi mas dewa sedang menunggu saya di dalam".
"Tapi berjanjilah jika besok kamu akan masuk kerja, Maira sejauh apapun kamu menghindari ku itu tidak akan pernah berhasil karena aku akan terus mencari mu". Jawab Rian kemudian melepaskan Maira.
"Kenapa lama sekali?". Tanya Dewa kepada istrinya yang baru kembali dari toilet.
"Tadi di toilet banyak sekali orang mas". Ujar Maira, wanita itu mengutuk kebohongan demi kebohongan yang di ciptakan untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
...----------------...
Sesuai dengan janjinya Maira hari ini berencana masuk kerja lagi, sama halnya dengan Maira, Dewa juga akan pergi ke kantornya sehingga dia melarang Maira untuk membawa mobil karena dia ingin mengantarkan Maira ke kantornya agar dia tahu dimana letak kantor sang istri.
"Tidak perlu bawa mobil sendiri Ra, aku akan mengantarkan kamu ke kantormu". Ujar Dewa.
"Tapi kan kantor kamu dan kantor aku beda arah mas". Jawab Maira.
"Kalau begitu bagaimana jika kamu bekerja di kantor ku saja agar arah kantor kita jadi searah".
"Tidak begitu juga maksudku mas".
"Iya aku tahu, tidak masalah walaupun beda arah aku akan tetap mengantarkan mu karena aku harus dimana istriku bekerja". Maira tidak membantah lagi ketika Dewa dimudahkan mengatakan hal itu karena suaminya memang berhak tahu dimana dia bekerja.
Setelah menyebutkan alamatnya Maira duduk di samping Dewantara tanpa mengatakan apapun lagi. Begitu juga Dewantara yang tidak menyangka jika perusahaan yang di maksud oleh istrinya adalah perusahaan Mahendra Corp. Dewantara menatap tidak percaya ketika menyadari jika dia sedang berada tepat di depan perusahaan rivalnya Rian Mahendra, kemudian dia melirik sang istri yang tersenyum kearahnya.
__ADS_1
"Mahendra Corp, Maira bekerja di sini?. Bodohnya aku yang tidak tahu Maira bekerja kepada siapa selama ini". Batin Dewa dengan wajah tak percaya. Dia merasa kecolongan karena Maira bekerja kepada rivalnya sendiri.
"Terimakasih mas, aku turun dulu". Ujar Maira bersiap untuk turun dari mobil.
"Tunggu Maira". Cegah Dewa dengan menarik tangan Maira.
"Ada apa lagi mas?". Tanya Maira bingung.
"Jadi kamu bekerja di sini?".
"Iya mas, Mahendra Corp". Jawab Maira santai.
"Sebagai sekretaris?". Tanya Dewa masih tak percaya meskipun dia tahu jika istrinya itu memang bekerja sebagai sekretaris. Pasalnya Dewa tahu jika selama ini Rian sangat anti jika ada wanita yang bekerja di sekelilingnya.
"I-iya mas".
"Apa atasan mu tahu jika kamu sudah menikah?". Tanya Dewa penasaran.
"Ta-tahu mas".
"Kalau begitu aku akan mengantarkan kamu sampai ke dalam".
"Untuk apa mas?". Tanya Maira cemas karena dia takut jika Dewa mengetahui sesuatu tentang dirinya dan juga Rian.
"Karena pemilik perusahaan ini adalah teman baikku". Jawab Dewa.
Deg...
Tanpa menunggu persetujuan dari Maira Dewa langsung ikut turnamen dari mobil kemudian masuk ke dalam kantor tempat Maira bekerja dengan menggenggam erat tangan istrinya itu sehingga membuat para karyawan di sana ikut berbisik-bisik tentang siapa pria tampan yang bersama Maira tersebut pasalnya tidak ada satupun dari mereka yang mengenal suami Maira sebelumnya namun mereka cukup mengenal sosok Dewantara, salah satu pengusaha yang cukup sukses dan tentu saja dia adalah rival abadi Rian Mahendra.
"Aku tidak percaya jika Rian Mahendra tidak punya maksud tertentu menerima Maira bekerja di sini bahkan ketika dia tahu jika Maira sudah menikah denganku". Batin Dewa melirik Maira yang terlihat risih jalan beriringan dengannya sambil bergandengan tangan.
__ADS_1
Ya, pria sekelas Rian tentu tahu siapa yang menjadi suami dari setiap karyawannya apalagi sekretarisnya sendiri. Dan Dewa penasaran apa sebenarnya tujuan Rian menerima Maira bekerja di sana.
...----------------...