
Maira yang di tinggalkan sendirian begitu saja merasakan sesak di dadanya sehingga membuat air matanya jatuh tanpa permisi.
"Inikah perjodohan yang ibu inginkan bu?, pria yang menjadi suamiku bukan hanya tidak mencintaiku namun dia juga menginginkan perpisahan denganku bahkan baru beberapa jam saja kami sah sebagai suami istri". Gumam Maira sambil menangis.
Dia menangis bukan karena mendengar jika Dewa mencintai wanita lain namun karena merasa harga dirinya di injak-injak oleh pria itu, hal itu bisa Maira simpulkan dari tawaran yang di katakan Dewa lagi tentang biaya kuliah dan membantu Maira untuk mandiri ketika kelak mereka sudah tidak bersama lagi.
Maira menghapus air mata yang menetes di pipinya, air mata yang seharusnya tidak di keluarkan hanya untuk pernikahan yang tidak ada artinya itu apalagi untuk pria yang sama sekali tidak mencintanya dan tidak menjaga perasaannya.
"Ibu selalu mengatakan kepadaku jika setiap orang yang melihatku akan jatuh hati dengan mudahnya bahkan saat pertama kali melihatku, jadi tentu saja aku akan bisa membuat mas Dewa mencintaiku dalam waktu cepat ataupun lambat bukan?". Tekad Maira membuat Dewa jatuh cinta kepadanya dan tetap mempertahankan rumah tangganya apapun yang terjadi nanti.
"Tapi aku ini siapa?, aku hanya gadis biasa yang tidak punya kelebihan apapun, hiks, hiks". Ujar Maira sambil terisak, dia sadar jika Dewa sangatlah jauh untuk di gapai oleh tangannya karena perbandingan antara dirinya dan Dewa bak bumi dan langit, tipikal wanita idaman seorang Dewantara pastilah wanita berkelas yang memiliki kecantikan dan kekayaan yang luar biasa.
Setelah Dewa pergi meninggalkannya begitu saja Maira memutuskan tidur dalam kesedihannya dan berharap jika apa yang di alaminya saat ini adalah sebuah mimpi. Sedangkan Dewantara ternyata berada di ruangan kerjanya karena dia tidak mungkin pergi meninggalkan rumah di malam pertamanya itu apalagi masih ada kedua orang tuanya di sana.
Dewa harus bersabar untuk beberapa hari lagi sebelum akhirnya kedua orang tuanya kembali keluar negeri karena Tuan Anwar menetap di luar negeri dan nyonya Dewi juga akan ikut suaminya kesana karena itulah nyonya Dewi tidak menunda lagi pernikahan putranya agar dia bisa segera tinggal bersama suaminya lagi setelah satu bulan dia tinggalkan hanya untuk memastikan jika putra satu-satunya itu benar-benar menikah.
Hal itu pula yang membuat Dewa tidak menolak saat mamanya ingin menjodohkannya karena dia hanya perlu menjadi seorang suami di hadapan mama dan papanya saja ketika mereka berada di sini selebihnya maka Dewa bisa melakukan apapun sesuka hatinya apalagi yang dia nikahi tenyata seorang gadis yang tidak berdaya seperti Maira maka akan lebih mudah baginya untuk mengendalikan gadis itu.
__ADS_1
Menjelang subuh Dewa ke kamarnya dan melihat Maira masih tertidur pulas. Dewa kemudian juga ikut tidur di samping Maira namun membelakangi gadis itu. Entah terbuat dari apa hati pria itu, dia sama sekali tidak penasaran apalagi sampai tergoda kepada Maira meskipun gadis itu sangatlah cantik padahal dia tidur di ranjang yang sama dengan maira, atau mungkin Dewa memang sangat mencintai wanitanya sehingga seluruh hati dan pikirannya hanya di penuhi oleh wanita yang di cintai olehnya saja.
Maira tahu jika Dewa mendekati tempat tidur dan berbaring di sampingnya, awalnya dia sempat takut jika Dewa akan melakukan hal-hal yang aneh namun nyatanya pria itu sama sekali tidak menyentuhnya meskipun mereka tidur satu ranjang.
"Dia tidak akan tergoda dengan wanita seperti diriku". Batin Maira dalam hatinya.
...----------------...
Benar saja seperti yang di prediksi oleh Dewa jika kedua orang tuanya akan segera kembali ke indonesia begitu melihat Dewa menikah, terbukti baru dua hari setelah Dewa dan Maira menikah kini nyonya Dewi sudah memerintahkan para pelayan untuk menyiapkan segala kebutuhannya untuk ikut dengan suaminya.
Maka bisa di bayangkan bagaimana repotnya para pelayan mengikuti segala perintah dari nyonya mereka itu sehingga membuat Maira yang baru saja keluar dari kamarnya penasaran dan melihat apa yang terjadi di kamar ibu mertuanya itu.
"Maira sayang, ini mama sedang beres-beres karena nanti malam mama dan papa akan kembali keluar negeri". Jawab nyonya Dewi.
"Luar negeri?". Tanya Maira lagi masih tak percaya jika mertuanya akan pergi jauh.
"Oh ya, mama lupa jelasin ke kamu kalau mama dan papa memang menetap di luar negeri sayang karena bisnis papa memang berkembang pesat di sana".
__ADS_1
"Terus aku?". Pertanyaan yang konyol itu spontan saja keluar dari bibir Maira padahal dia tahu jawabannya pasti dia akan tinggal berdua saja dengan Dewa di rumah besar itu namun rasa khawatir akan nasibnya sepeninggalan mertuanya itu membuat Maira tidak sengaja bertanya seperti itu.
"Tentu saja kamu tetap di sini bersama suamimu". Jawab nyonya Dewi.
"Ah iya ma, Maira hanya tidak menyangka kalau mama akan pergi secepat ini saja". Jawab Maira canggung.
Maira kemudian ikut membantu ibu mertuanya sambil berbincang-bincang dengan nyonya Dewi meskipun dalam hatinya dia merasa sangat tidak suka dengan kepergian nyonya maira karena dia takut jika harus tinggal berdua saja dengan Dewa, bahkan Maira juga tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu jika kedua orang tuanya sudah tidak tinggal di Indonesia lagi, mungkin saja Dewa akan membawa wanita yang di cintainya tinggal bersama mereka.
"Kamu tidak usah khawatir karena ada Dewa yang akan selalu menjaga dan melindungi kamu di sini dan jangan lupa pakai baju tidur yang mama siapkan di lemari kamu untuk menarik perhatian suamimu ya, kamu tahu para suami sangat senang melihat istrinya memakai baju itu. Semoga kamu juga cepat hamil karena nanti kalau kamu hamil mama pasti akan segera kembali ke indonesia lagi". Ujar nyonya Dewi lembut sepertinya tahu jika Maira sedang merasa khawatir karena di tinggal pergi.
Baju tidur yang di maksudkan oleh nyonya Dewi adalah lingerie yang dilihat oleh maira sejak pertama dia membuka lemari yang di siapkan untuknya. Jangankan untuk memakainya melihatnya saja sudah membuat maira mual karena membayangkan jika dia mengenakan lingerie tersebut.
Namun ketika ibu mertuanya mengatakan jika para suami akan suka melihat istrinya memakai baju tersebut membuat maira tertarik untuk mencobanya karena jika Dewa sudah menyentuhnya dan dia mengandung anak dewanpasti pria itu tidak akan memikirkan wanita lain apalagi sampai berpikir untuk berpisah dengannya.
"Apa benar yang mama katakan jika para suami akan menyukainya, tapi bagaimana kalau mas Dewa berbeda dengan suami-suami lainnya karena dia tidak menyukaiku. Ah, tapi tidak ada salahnya kan untuk aku coba di depan suamiku sendiri". Batin Maira sambil tersenyum.
Rasa tidak siapnya untuk melayani Dewa sebagai seorang istri dalam arti yang sesungguhnya sudah tidak lagi menjadi hal utama yang di pikirkan Maira karena dia lebih ingin jika rumah tangannya itu tetap bertahan sampai selama-lamanya apalagi dia merasa beruntung memiliki kesempatan untuk menjadi istri seorang Dewantara dan dia tidak akan menyia-nyia kesempatan itu untuk dapat memikat hati suaminya.
__ADS_1
...----------------...