Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 84


__ADS_3

Hari dimana Maira mendengar penjelasan psikiater waktu itu adalah hari terakhir Maira berkunjung kesana untuk berkonsultasi karena sejak saat itu Maira telah kembali lagi menjadi Maira seperti yang di kenal oleh Rian di hari pertama mereka bertemu dulu, Maira yang ceria dan selalu semangat dalam menjalani hari-harinya.


Rian dan tuan Dhika sangat bersyukur dengan kesembuhan mental Maira itu bahkan mereka sangat berterimakasih kepada psikiater yang telah menangani Maira selama ini karena berkat sang psikiater lah Maira yang mereka inginkan bisa kembali lagi ketengah-tengah keluarga mereka.


Sang psikiater sudah tentu mendapatkan bonus besar dari keluarga Mahendra berkat keahlian yang dia miliki bahkan mereka masih sering berkomunikasi dengan psikiater itu untuk menceritakan keseharian Maira saat ini. Psikiater itu juga menyarankan agar Rian dan tuan Dhika membiarkan Maira melakukan apapun yang dia inginkan dan menghindari Maira dari tekanan dalam bentuk apapun, baik itu mental maupun sikap keseharian dari mereka terhadap Maira.


Maka sari itu semua penghuni mansion sudah di berikan peringatan secara khusus untuk memperlakukan Maira dengan sangat hati-hati termasuk semua para pelayan. Rian, tuan Dhika dan Shinta yang sudah pasti akan memegang peran utama dalam menjaga kesehatan mental Maira tersebut karena wanita itu pasti lebih banyak berinteraksi dengan ketiga orang tersebut.


Maira setiap hari selalu melakukan hal-hal positif dan mengembalikan kebiasaannya sama seperti dulu namun dia tidak mau kembali bekerja di perusahaan karena dia ingin lebih fokus mengurus rumah dan suaminya saja.


Hubungan Maira dengan Rian juga semakin romantis saja dari hari ke hari bahkan bisa di katakan jika mereka seperti pengantin baru saja. Maira juga sering mengajak Rian makan malam di luar namun wanita itu selalu mengikutsertakan Shinta bersama mereka agar suasana semakin seru.


Rian juga tidak pernah keberatan dengan kehadiran Shinta di antara mereka karena memang Rian sama halnya dengan Dewantara yang menganggap Shinta layaknya adiknya sendiri. Benar saja, kehadiran Shinta di tengah-tengah mereka bisa membuat suasana yang semakin hidup sepertinya Shinta memang di takdirkan untuk memberi warna baru di setiap kehidupan orang lain.


Maira juga kerap kali mengajak Shinta mempercantik diri mereka di salon dan berbelanja pakaian-pakaian baru yang tentu saja sangat mahal bahkan sampai membuat Shinta yang biasanya bisa di bilang tidak tahu diri itu merasa tidak enak hati karena selalu Maira yang membayar semua tagihan transaksi mereka, namun Maira tetap tidak peduli dia tetap selalu mengajak Shinta kemanapun dia pergi.


Maira juga sudah sangat mahir memasak sekarang ini dia setiap hari menghidangkan makanan lezat untuk semua orang di rumah, namun tentu saja makanan yang dia hidangkan semua makanan-makanan bergizi bahkan juga makanan-makanan penyubur kandungan namun semua penghuni rumah tidak pernah protes karena makanan yang di hidangkan Maira sangatlah lezat.


"Jika setiap hari aku di hidangkan makanan sehat dan selezat ini pasti aku akan gemuk". Ujar Shinta sambil melahap sarapannya di pagi itu.

__ADS_1


"Jangan berlebihan seperti itu, tapi makanan sehat memang penting untuk kesehatan tubuh kita semua kan?". Jawab Maira.


"Aku tidak berlebihan Ra, bahkan kamu bisa buka restoran dengan resep-resep makanan mu ini, kamu pasti akan semakin kaya raya jika kamu membuka sebuah restoran". Celetuk Shinta lagi dan hal itu di setujui oleh semua orang.


Begitulah keharmonisan keluarga Mahendra yang kembali ceria dan bahagia seperti sedia kala apalagi dengan kehadiran Shinta yang menjadi pelengkap di tengah-tengah keluarga itu.


Bukan hanya di rumah saja, Maira juga mengantarkan makan siang untuk sang suami ke kantornya tentu saja dia juga ikut makan di kantor Rian bersama Shinta juga tentunya, wanita itu seperti sudah sangat melekat dengan pasangan suami istri itu bahkan para pegawai kantor iri melihat keakraban yang terjalin di antara mereka bertiga.


Bahkan jika orang awam melihat maka mereka akan menyayangkan sikap Maira yang terlalu mempercayai Shinta dan mengajak wanita itu masuk terlalu dalam ke dalam tanah pribadinya dengan Rian karena dewasa ini banyak kasus hancurnya rumah tangga yang di sebabkan oleh orang kegiatan dan tidak sedikit dari kasus-kasus itu di sebabkan oleh orang terdekat.


Namun anehnya baik Shinta, Maira dan Rian sama sekali tidak pernah punya pikiran sepicik itu karena persahabatan yang terjalin antara Maira dan Shinta memang sangatlah intim layaknya persaudaraan dua orang yang memiliki ikatan darah.


Rian dan Shinta ya g sudah menunggu satu jam lamanya saling tatap satu sama lain seolah mereka berbicara lewata tatapan tersebut dan takut untuk mengungkapkan arti dari isyarat yang mereka pikirkan di pikiran mereka masing-masing.


"Aku mengutuk diriku sendiri karena punya pikiran seperti ini Shin". Ujar Rian lirih bahkan terlihat jelas oleh Shinta jika pelupuk mata pria itu tampak basah.


Sinta menghela napas panjang dan memejamkan matanya seolah dia juga sangat benci dengan pikirannya sendiri. "Aku juga memikirkan hal yang sama mas". Jawab Shinta datar.


"Tapi kenapa harus seperti ini, apakah Maira tega melakukan ini kepada kita?". Tanya Rian tak percaya.

__ADS_1


"Aku juga menyesali perbuatan Maira kali ini mas, aku benar-benar tidak menyangka jika Maira mampu melakukan hal ini".


"Apa aku sebegitu tidak berharganya di bandingkan obsesinya untuk memiliki anak hah?, kali ini Maira benar-benar keterlaluan aku benar-benar tidak bisa terima dengan ini semua". Sentak Rian sambil memukul keras meja kemudian dia bangkit hendak menemui Maira saat itu juga.


Ya, baik Rian maupun Shinta mengerti jika Maira sengaja mengatur makan malam mereka berdua karena wanita itu ingin mendekatkan entah apa maksud dan tujuannya namun mereka tahu jika itu ada hubungannya dengan keinginan Maira untuk segera memiliki anak apalagi jika di kaitkan dengan Maira yang sangat rajin menghidangkan makanan bergizi untuk keduanya akhir-akhir ini.


"Mas". Seru Shinta kemudian dia menahan langkah Rian dengan menarik tangan Rian. "Mas, aku mohon jangan emosi seperti ini, tenangkan dirimu dulu demi kondisi mental Maira". Sambung Shinta kemudian memberi isyarat agar Rian duduk kembali.


"Mas, ini memang masalah serius tapi jika kita menyelesaikannya dengan emosi maka semuanya akan semakin berantakan. Kita sama-sama ingin yang terbaik untuk Maira, kamu sangat mencintai Maira dan aku juga sangat menyayanginya mas jadi kita harus bekerja sama untuk menyadarkan Maira jika apa yang dia lakukan ini adalah hal yang salah". Bujuk Shinta meredam emosi Rian yang sudah memuncak hal itu jelas terlihat dari rahang pria itu yang tampak mengeras.


Rian terdiam mendengar semua penjelasan Shinta karena dia salut dengan wanita itu yang bisa berpikir jernih padahal sahabatnya sendiri seolah telah melukai harga dirinya karena berusaha mendekatkan suaminya sendiri dengan wanita itu, namun Shinta tetap mengutamakan perasaan dan kondisi mental Maira di bandingkan dengan membela harga dirinya.


"Lalu kita harus bagaimana Shin?". Tanya Rian frustasi.


"Kita tidak perlu melakukan apapun dan bertanya atau bahkan mencari tahu apa sebenarnya rencana Maira karena tidak akan terjadi apapun di antara kita mas, kita hanya perlu menunjukkan kepada Maira jika apapun usahanya dia akan selalu gagal". Ujar Shinta yakin dan Rian langsung menyetujuinya.


Pria itu benar-benar salut dengan kebaikan hati Shinta yang terlihat jelas sangat tulus menyayangi istrinya padahal banyak di luar sana wanita yang sangat ini memanfaatkan kesempatan yang di berikan oleh Maira kepada Shinta itu namun dia tidak habis pikir dengan Maira yang tega memanfaatkan kebaikan Shinta tersebut untuk kepentingan pribadinya tanpa memikirkan perasaan orang-orang yang tulus menyayanginya.


"Terimakasih Shin". Ujar Rian tulus.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2