
Namun bukan Rian namanya jika dia tega menyakiti wanita yang di cintainya itu, perlahan Rian menghentikan aksinya meskipun hasratnya yang sudah memuncak sangat sulit untuk dia redam.
Sungguh dia mengutuk perbuatannya itu namun jika itu jalan satu-satunya agar Maira tetap berada di sisinya maka pria itu tidak akan segan melakukannya. Rian menghela napas kasar dan membaringkan tubuhnya di samping Maira. Rian meraih jasnya yang sudah dia buka tadi untuk menutupi dada Maira yang terbuka akibat ulahnya.
Memeluk erat wanita itu sambil beberapa kali mencium kening Maira. "Maafkan aku sayang, rasa takutku akan kehilangan mu membuat aku menjadi egois". Ujar Rian lembut bahkan sampai menitikkan air mata dari sudut matanya.
Maira yang mulanya sangat marah dan juga mengutuk perbuatan Rian, perlahan berubah menjadi iba apalagi saat dia tahu jika Rian sampai menitikkan air matanya. Maira juga membalas pelukan Rian tanpa mengeluarkan sepatah katapun, di benaknya saat ini berkecamuk tentang kejamnya takdir mempermainkan dirinya, dimana saat dia merasakan jatuh cinta namun sayangnya di saat statusnya sudah memiliki suami.
"Percayalah Maira, apapun yang aku lakukan itu karena aku takut kehilangan mu dan apapun kelak yang terjadi percayalah jika aku benar-benar mencintaimu". Ucap Rian lagi penuh kesungguhan.
Sungguh Maira sangat percaya apapun yang di katakan oleh pria yang sedang memeluknya erat itu, tidak ada keraguan sedikitpun di hatinya. Hari itu Maira dan Rian sama sekali tidak melakukan bekerja, kegiatan mereka hanya berada di kamar pribadi Rian sepanjang hari, becanda dan mengobrol seolah tidak sedang tidak terjadi apapun di antara mereka, apalagi mereka berdua sudah bertekad untuk menghadapi segala sesuatunya bersama.
"Sayang, aku ingin kamu mengetahui sesuatu". Ujar Rian. Dia berniat mengatakan segalanya kepada Maira terutama perihal Ayuna dan Dewantara di masa lalu namun hatinya masih ragu.
"Katakanlah tuan". Jawab Maira.
"Aku mencintaimu". Ujarnya kemudian mengurungkan niatnya untuk membahas tentang Ayuna.
Rian sebenarnya ingin sekali jujur tentang bagaimana hubungannya dengan Dewantara yang sebenarnya dan apa yang membuat mereka saling mengenal satu sama lain namun dia tidak ingin merusak suasana romantis yang tercipta di antara mereka hari itu apalagi hanya untuk membahas masa kalau yang baginya sama sekali tidak penting karena baginya Ayuna sama sekali tidak penting untuk di bahas olehnya bersama Maira.
__ADS_1
"Anda aneh sekali, saya pikir anda ingin mengatakan apa tadi". Jawab Maira sambil tersenyum.
"Aku aneh, atau kamu yang aneh heem?, setiap kali aku mengatakan jika aku mencintaimu tapi tidak sekalipun kamu membalas ucapan cintaku".
"Akan ada waktunya suatu saat nanti tuan". Maira kemudian mengambil tasnya untuk bersiap pulang karena jam pulang kantor telah tiba, apalagi Dewantara mengatakan jika dia kan menjemput Maira sehingga wanita itu tidak ingin membuat suaminya menunggu apalagi sampai mencarinya ke dalam kantor. "Saya permisi dulu tuan". Sambungnya lagi namun rian sudah terlebih dulu menarik tangannya.
"Berikan aku ciuman perpisahan karena butuh waktu besok untuk kita bertemu lagi dan itu akan sangat menyiksa batinku". Ucap Rian nakal.
"Tidak mau, sejak tadi anda terus menciumku tanpa henti apa itu tidak cukup?".
"Tentu saja tidak, baiklah jika kamu tidak mau maka tidak akan ku lepaskan pelukan ini dan biarkan Dewantara mencarimu sampai kesini". Ancam Rian.
Benar saja ancaman itu berhasil, buktinya mair langsung mengecup pipi Rian sekilas namun Rian tidak pernah puas sebelum dia mendapatkan apa yang dia inginkan.
Wajah Maira memerah karena malu, dia langsung berlarian keluar untuk menghindari Rian yang mungkin akan menyerang bibirnya lagi.
Sementara itu di tempat lain Dewantara sedang marah besar dengan kenyataan yang dia ketahui tentang hubungan istrinya dengan Rian. Bukan dari info yang di berikan oleh orang suruhan yang ternyata tidak mengetahui apapun itu namun dari sebuah amplop coklat yang di kirim khusus oleh seseorang yang tidak di kenal langsung ke kantornya.
Amplop coklat tersebut berisikan foto-foto Maira yang tidur di ranjang yang sama dengan Rian, dimana mereka saling berpelukan mesra. Rupanya itu adalah foto-foto yang sengaja di ambil oleh seseorang ketika Maira dan Rian tidur di ranjang yang sama saat mereka berada di Korea.
__ADS_1
Melihat foto-foto itu membuat darah Dewantara panas mendidih, dia melemparkan apapun yang ada di mejanya sehingga berhamburan di lantai. Sungguh dia tidak Terima ketika istrinya Maira di sentuh oleh pria lain sedang dirinya saja belum pernah melakukan hal tersebut.
Dewantara bersumpah pada dirinya sendiri jika dia akan membunuh Rian Mahendra dengan tangannya sendiri. "Rian Mahendra, aku ku habisi kau dengan tanganku sendiri". Teriak Dewantara.
"Kurang ajar kalian bermain api di belakangku, Maira berani sekali kau, apa kau lupa siapa dirimu sebenarnya dan dari mana asalmu hah?". Sambung Dewantara lagi.
Sungguh Dewantara tidak menyangka di balik kelucuan istrinya ternyata Maira berani berbuat sejauh itu dengan Rian dan menyimpan rahasia tersebut dengan sangat baik sampai dia sendiri tidak mengetahuinya. Dia merasa telah salah menilai Maira dari sisi luarnya saja tanpa mencari tahu siapa Maira sebenarnya bahkan di saat dia telah membuka hatinya kepada wanita yang menjadi istrinya itu.
"Ternyata semua wanita sama saja, mereka akan tergoda jika melihat pria yang memiliki kelebihan di bandingkan suaminya sendiri". Umpat Dewantara lagi.
Kali ini lagi-lagi Dewantara merasa di kalahkan oleh Rian Mahendra. Dia sudah pernah merasakan sakitnya wanita yang dia cintai lebih memilih Rian dibandingkan dirinya dan kali ini dia tidak akan membiarkan wanita yang sudah dia nikahin juga akan lebih memilih Rian di bandingkan dirinya, sehingga walaupun bagaimanapun dia akan tetap mempertahankan Maira untuk tetap berada di sisinya apalagi jika hal tersebut bisa membuat Rian tersakiti maka itu akan membuat dia sangat bahagia.
Setelah puas meluapkan kemarahannya pada apapun yang berada di sekitarnya dan mampu mengatur emosinya kembali untuk menjemput Maira sesuai janjinya tadi pagi, Dewa bersiap untuk menuju perusahaan Rian dan memasang wajah seolah tidak sedang terjadi apapun pada dirinya karena dia akan menyelesaikan tentang fakta yang dia ketahui di rumah bersama Maira.
Dia tidak ingin Maira mengetahui jika dia sudah tahu segalanya dan membuat wanita itu takut untuk pulang ke rumah dengannya. Rian bersikap seramah dan senormal mungkin layaknya hari-hari biasanya. Begitu juga dengan Maira wanita itu juga bersikap senormal mungkin ajkgara suaminya tidak curiga dengannya apalagi kemeja yang dia kenakan saat ini berbeda dengan kemeja yang dia kenakan sekarang karena ulah Rian tadi yang membuka paksa kemejanya.
"Ayo kita pulang". Ajak Dewantara.
"Iya mas". Jawab Maira kemudian masuk ke dalam mobil Dewantara.
__ADS_1
Rian yang menyaksikan interaksi keduanya hanya bisa menahan amarahnya sampai waktunya tiba, dimana Maira akan jujur kepada suaminya itu tentang hubungan mereka.
...----------------...