Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 101


__ADS_3

Di tempat lain seorang pria yang sudah satu minggu ini bersahabat dengan minuman terlarang sedang menegak minuman itu tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi pada tubuhnya padahal seumur hidupnya dia sangat menghindari barang terlarang itu karena dia tahu betul resiko yang akan dia tanggung karenanya.


Pria yang di kenal sangat menjaga pola makan dan peduli akan kondisi kesehatannya itu bahkan minum sampai menghabiskan beberapa botol sekaligus, tidak ada yang mampu melarangnya dan seolah memang tidak ada yang peduli terhadapnya. Sang pria adalah Ricko yang setia dengan botol di tangannya. Ricko tidak sedang berada di klub karena dia memang tidak terbiasa berada di sana, dia lebih suka menghabiskan waktunya dengan mengutuk nasibnya di rumah sendiri tanpa ada seorang pun yang mengganggu apalagi sang istri sudah tidak tinggal di rumah tersebut lagi.


Ya, begitulah Ricko nyangka sesungguhnya, ketika dia memiliki masalah maka tidak akan ada satu orang pun yang mengetahuinya termasuk Rian sahabat baiknya sendiri. Terbiasa hidup sendiri dan mampu menyelesaikan banyak masalah sendirian membuat Ricko lebih nyaman seperti itu bahkan ketika dia berada di kantor dia terlihat sangat baik-baik saja dan tidak menunjukkan gelagat mencurigakan apapun, pria itu memang sangat pandai dalam hal menyembunyikan perasaannya.


"Aku memang selalu di takdirkan hidup sendiri". Gumam Ricko lirih. " Saat ini kamu pasti sudah tidak mau lagi bertemu apalagi hidup denganku, apa aku memang harus menyerah dan pasrah sampai di sini saja". Sambung pria itu lagi dengan air mata yang menetes begitu saja di pipinya.


Ingatannya melayang pada sosok wanita yang sangat di cintainya, wanita pertama yang bisa mengetuk pintu hatinya yang telah di kunci rapat karena dia memang tidak berniat jatuh cinta apalagi menikah seumur hidupnya. Betapa sakit ketika ingatan itu terhenti saat mengingat Shinta berusaha merayu sahabatnya Rian.


" Prannng"....


Jangan tanya lagi bagaimana kondisi rumah mewah itu saat ini setelah Ricko melemparkan botol minuman yang ada di tangannya ke dinding, sangat sakit rasanya ketika mengingat kejadian hari itu di ruangan Rian, melihat wanita yang dia cintai ternyata menaruh rasa kepada pria lain bahkan tanpa mempedulikan perasannya sama sekali sebagai suaminya.


"Padahal kau tidak perlu membalas semua rasa cintaku ini Shinta, cukup hidup bersamaku dan tetap selalu berada di sampingku saja itu sudah cukup bagiku". Seru Ricko lagi dengan suara lantang sambil memegang dadanya yang terasa sangat sakit seperti tertusuk pedang sampai akhirnya pria itu tidak sadarkan diri seorang diri di rumah itu.

__ADS_1


Sedangkan Dewantara, tuan Anwar dan juga nyonya Dewi saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah tersebut untuk mengantarkan Shinta yang akhirnya mau pulang ke rumah suaminya setelah mendengarkan semua cerita dari Dewantara tentu saja juga karena tuan Anwar dengan tegas melarang Shinta meninggalkan suaminya lebih lama lagi sendirian.


Shinta sendiri sama sekali tidak menceritakan kejadian yang terjadi antara dirinya, Rian dan Ricko tempo hari di perusahaan Mahendra karena dia tahu pasti Dewantara dan papanya akan sangat marah jika tahu sikap menjijikkannya itu sehingga diam dan tidak bercerita yang sebenarnya adalah keputusan yang terbaik menurutnya bahkan dia sendiri saja sama sekali tidak mau mengingat bagaimana tingkah lakunya yang memalukan itu seumur hidupnya.


" Apa kamu tahu, jika pernikahan kalian sama sekali bukanlah rekayasa Shinta, Ricko mencintai dirimu, aku mengetahui dimana saja lokasi kamu berkencan dengan para pria itu dari mana lagi kalau bukan dari Ricko yang selalu saja berusaha menggagalkan kencan itu agar kamu tidak sampai mendapatkan pasangan. Mungkin pernikahan kalian terkesan pemaksaan dan terburu-buru namun dia melakukan itu karena dia takut jika Maira benar-benar serius ingin menikahkan kamu dengan Rian sehingga dia tidak mau lagi menunda pernikahan itu dan untuk mengajakmu menikah dengan sebuah lamaran atau pengakuan cinta Ricko sama sekali tidak bisa melakukannya, dia sama sekali tidak tahu cara mengutarakan perasaannya terhadap wanita apalagi baru kali ini dia jatuh cinta kepada seseorang, tapi Ricko datang kepada kami untuk mengutarakan keinginannya untuk menikah mu, bahkan dia juga tidak peduli tentang perasaanmu terhadapnya karena dia yakin jika dengan cinta darinya saja kalian akan hidup bahagia. Kamu salah besar jika Ricko menikah denganmu karena paksaan seseorang Shin, aku mengenalnya jauh sebelum aku mengenalmu dan tahu betul bagaimana sifat asli Ricko yang sebenarnya jadi sangat tidak mungkin jika dia menikah denganmu hanya demi keuntungan pribadinya saja". Sepanjang perjalanan ucapan Dewantara yang penuh penekanan itu terus saja berputar-putar di otak Shinta bahkan sampai membuat dada wanita itu terasa sesak.


Shinta tak habis pikir bagaimana bisa di zaman yang sudah modern seperti saat ini ada pria yang berpikiran sekolot itu. Bagaimana bisa semua pernikahan mereka sebenarnya memang sudah terencana sebelumnya dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi isi otak wanita yang sedang menatap ke luar jendela mobil dengan tatapan kosong itu.


Belum lagi Shinta juga bingung bagaimana dia harus menghadapi suaminya nanti, apakah Ricko sudah menyerah dengan perasaannya itu dan akan menceraikan dirinya apalagi suaminya itu sama sekali tidak menjemput bahkan tidak menghubungi dirinya.


Lalu jika memang pernikahannya itu di pertahankan apakah dia bisa mencintai Ricko suatu saat nanti, entahlah rasanya kepala Shinta ingin pecah saja menghadapi permasalahan dalam hidupnya yang sama sekali tidak dia bayangkan itu namun di sisi lain dia merasa sangat tersanjung ketika mengingat tentang penjelasan Dewantara tadi, jika benar dia satu-satunya wanita yang bisa menaklukkan sifat dingin seorang pria bernama Ricko itu berati dia adalah wanita yang sangat beruntung karena di cintai begitu besar oleh suaminya itu.


"Aku harus bersikap seperti apa sekarang Tuhan". Gumam Shinta dalam hati bahkan dia masih setia dalam mobil ketika Dewantara dan kedua orang tuanya sudah turun dari mobil tersebut.


"Ayo turun nak". Ajak nyonya Dewi.

__ADS_1


"Emmh, Shinta takut ma". Jawab Shinta ragu-ragu.


"Tenang saja, mama sama papa akan membantu bicara dengan suamimu nanti".


"Ta-tapi ma".


"Ayo turun, atau aku akan menyeret mu dari dalam mobil sampai ke dalam rumah". Tegas Dewantara.


"Jaga ucapanmu terhadap adikmu Dewa". Kilah tuan Anwar. "Ayo.turun nak, ada kami yang akan bicara dengan Ricko". Sambung tuan Anwar kemudian.


" Baiklah pa". Jawab Shinta lesu. Jika tuan Anwar sudah mengeluarkan suaranya maka wanita itu sudah tidak bisa berkutik lagi sehingga mah tidak mau dia mengikuti langkah mereka semua menuju pintu utama dan atas perintah Dewantara Shinta membuka pintu rumah mewah itu dengan menggunakan sidik jarinya karena rumah itu dapat di buka begitu saja dengan sidik jari Shinta dan juga Ricko.


Kondisi rumah yang sangat gelap itu membuat Shinta penasaran bahkan berharap jika Ricko tidak ada di rumah sehingga dia sedikit bersemangat untuk melangkah ke dalam rumah dan menyalakan satu persatu lampu di sana, namun betapa terkejut mereka saat melihat ruang tengah rumah itu yang sangat berantakan dan tidak terurus bahkan ada pecahan kaca dimana-mana.


Tentu saja yang membuat mereka sangat terkejut ada di lantai tergeletak sosok yang sangat mereka cari-cari sejak tadi. "Ricko". Seru mereka semua hampir bersamaan dan langsung menuju kearah Ricko.

__ADS_1


.


...----------------...


__ADS_2