
Selama satu minggu Maira berada di indonesia Rian sama sekali tidak menanyakan dan tidak peduli dengan keadaan dan kondisi Maira satu ini sehingga hal tersebut membuat tuan Dhika merasa sedikit curiga namun kemudian dia teringat jika antara Maira dan juga Rian masih ada masalah yang belum terpecahkan sehingga tuan Dhika merencanakan untuk mempertemukan mereka berdua.
Tuan Dhika mengundang Maira untuk makan malam di rumahnya tentu saja dengan di kawal ketat oleh Anna. Rian sendiri sama sekali tidak mengetahui rencana tersebut sehingga dia sama sekali tidak bisa menghindari pertemuannya dengan Maira.
Maira sendiri sebenarnya sangat tidak ingin bertemu Rian apalagi kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka belum selesai sejak Maira menganggap dirinya sebagai tumbal balas dendam Rian terhadap pengkhianatan Dewantara dan Ayuna di masa lalu namun menolak undangan pria paruh baya yang sudah menyelamatkan nyaman dan masa depannya itu juga sangat tidak mungkin Maira lakukan meskipun dia tahu betul jika ini adalah salah satu usaha tuan Dhika untuk mempertemukan mereka berdua.
Maira di jemput khusus oleh Ricko ke rumahnya bersama dengan Anna, wanita itu tampak sangat cantik malam itu dengan pakaian yang juga telah di sediakan oleh tuan Dhika. Suasana di mansion milik Rian juga tampak sedikit berbeda dimana para pelayan menyiapkan banyak masakan lezat untuk menyambut Maira.
Rian tampak bingung ketika tanpa sengaja melihat kondisi di ruang makan dan Ricko yang tak kunjung menunjukkan batang hidungnya sejak tadi sore sehingga dia menanyakan kepada salah satu pelayannya tetang persiapan yang sedang mereka lakukan malam ini.
"Apakah akan ada tamu spesial sehingga kalian menyiapkan begitu banyak makanan?". Tanya Rian.
"Iya tuan muda, tuan besar meminta kami menyiapkan semua ini untuk menyambut nona Maira untuk makan malam disini". Jawab salah satu pelayan itu.
Deg....
Rian langsung kembali menuju kamarnya karena merasa jika pasokan oksigen di dadanya sangat berkurang, bagaimana bisa dia bertemu dengan wanita yang di cintainya itu setelah mengetahui kebenaran tentang hubungan di antara mereka berdua.
Rian memutar otaknya untuk memikirkan cara agar dia tidak bertatapan langsung dengan Maira bagaimanapun caranya. Setalah lama berpikir akhirnya Rian menemukan sebuah cara yang menurutnya memang sangat menyakitkan bagi Maira namun cara tersebut sangat ampuh untuk membuat Maira melupakan dirinya untuk selama-lamanya.
Maira datang tepat waktu malam itu tentu saja dengan tampilan yang sangat cantik. Maira mengutuk kedatangannya ke rumah itu seolah dia yang memohon agar Rian melirik kearahnya namun kembali lagi penolakan tidak mungkin dia lakukan tapi di sisi lain dia juga sangat merindukan sosok Rian yang telah lama tidak dia lihat itu, sungguh cinta itu buta bahkan saat dia tahu jika Rian memanfaatkan dirinya dan tidak mempedulikan keberadaannya.
__ADS_1
"Selamat malam nak". Sapa tuan Dhika begitu Maira tampak di ambang pintu, beliau memang sudah menunggu kedatangan Maira sejak tadi sore karena dia sudah sangat merindukan putrinya itu.
"Selamat malam tuan, maksudnya pa". Jawab Maira canggung. Maira melirik ke sekelilingnya memastikan jika Rian tidak berada di ruangan tersebut karena itu akan membuat hatinya gundah tak menentu karena berhadapan dengan pria itu setelah sekian lamanya.
"Ayo masuk". Tuan Dhika kemudian mengajak Maira menuju taman belakang dimana di sana ada sebuah kolam ikan yang cukup besar, pemandangan yang cukup asri juga membuat hati Maira sedikit tenang.
"Maira, papa tahu jika ada masalah yang belum terpecahkan antara kamu dan Rian". Ujar tuan Dhika tenang. "Tapi nak, jika masalah itu tidak kalian selesaikan sampai kapan kalian akan seperti ini terus". Sambung tuan Dhika lagi.
"Tidak ada masalah apapun lagi antara kami, lupakan saja tentang itu semua pa".
"Maira, Rian benar-benar menyesali segala perbuatan dan kamu tidak tahu betapa dia mencari mu seperti orang yang tidak waras selama kamu pergi. Maira temuilah Rian, karena mungkin Rian malu dengan sikapnya selama ini dan tidak tahu bagaimana cara untuk memulainya kembali". Ujar tuan Dhika lembut dengan menatap wajah sendu Maira.
Apa yang di katakan oleh tuan Dhika benar adanya, jika dia dan Rian tidak menyelesaikan masalah mereka kapan semua ini akan berakhir. Setidaknya Maira harus tahu yang sebenarnya dan mendapatkan penjelasan dari Rian tentang ucapannya tempo lalu tentang balas dendam masa lalunya itu sehingga Maira menganggukkan kepalanya.
Jantung Maira berdetak kencang begitu melihat pintu kamar Rian terbuka. Dia mengayunkan langkah demi langkah kakinya dengan ragu dan berapa terkejutnya Maira ketika melihat sebuah pemandangan yang sangat tidak ingin di lihatnya. Tentu saja Rian mengetahui jika Maira sudah berdiri tepat di ambang pintu kamarnya karena dia telah melihat dari kamera CCTV yang telah di hubungkan ke ponselnya.
Rian duduk membelakanginya dengan sebuah lukisan di hadapannya, lukisan yang sangat besar dengan wajah wanita cantik terlihat jelas di sana, wajah wanita cantik itu tentu saja bukan wajah Maira, meskipun Maira tidak mengenal wanita yang ada di dalam lukisan itu namun dia dapat menyimpulkan jika itu adalah wajah cantik Ayuna.
"Aku merindukanmu Ayuna". Ujar Rian menatap lukisan itu.
"Sekeras apapun aku mencoba melupakanmu dan mengingat segala kesalahan yang telah kamu lakukan bersama pria brengsek itu nyatanya itu semua tidak bisa menggeser posisimu di hatiku". Sambung Rian lagi sambil mengusap lukisan itu dengan lembut.
__ADS_1
Deg....
"Kenapa kamu harus melakukan kebodohan itu Ayuna?, jika saja semua itu tidak terjadi mungkin saat ini kita sudah menikah dan hidup bahagia bersama selamanya". Rian mengucapkan itu dengan penuh tekanan berusaha menutupi segala kebohongan yang sedang dia lakukan.
Rian menuju balkon kamarnya danenghela napas panjang. "Tapi aku sangat puas Ayuna, karena bisa membalas pengkhianatan yang telah kalian lakukan kepadaku sehingga pria brengsek itu bisa merasakan apa yang aku rasakan dulu". Ujar Rian sambil menahan dirinya agar tidak meoleh ke belakang dan melihat wajah sedih wanita yang dia cintai.
Deg, Deg, Deg...
Benar saja, seperti di sambar petir Maira merasa jika apa yang sedang dia dengarkan butuh mampu membuat dunianya runtuh dimana Rian mengucapkan hal tersebut tanpa tahu keberadaannya di sana. Air matanya jatuh tanpa permisi namun dia mencoba menahan tangisannya karena tidak ingin Rian tahu jika dia berada di sana dengan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Maira langsung berbalik arah dan menuju lantai bawah dengan langkah cepat karena dia ingin pergi dari sana secepat mungkin. Tuan Dhika yang melihat Maira turun dari lantai atas dengan wajah di penuhi air mata langsung menghampiri Maira dan bertanya kepadanya karena mersa penasaran begitu juga dengan Anna dan Ricko yang sangat penasaran.
"Maira, ada apa?". Tanya tuan Dhika.
"Maira mau pulang sekarang juga". Jawab Maira lirih dengan terus melangkah.
"Tapi ada apa ini?". Tuan Dhika menahan langkah Maira.
"Maira mohon tuan, Maira hanya ingin pulang saja". Maira langsung melangkah cepat dan tuan Dhika memberi kode kepada Anna agar wanita itu terus mendampingi Maira.
"Dasar anak bodoh". Sentak tuan Dhika mengutuk perbuatan Rian.
__ADS_1
...----------------...