Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 36


__ADS_3

Sesampainya di rumah Maira hendak masuk ke kamarnya untuk mandi dan berganti baju namun Dewa melarangnya dan mengajaknya untuk ikut bersamanya ke kamarnya.


"Maira ikut denganku". Ujar Dewa langsung menarik Maira tanpa menunggu jawaban dari istrinya itu.


Maira mulai merasa ada hawa yang tidak enak yang akan terjadi apalagi melihat raut wajah Dewa yang mulai berubah dimana tampak jelas jika di lihat dari samping rahang Dewa terlihat sangat tegas dari sebelumnya apalagi baru kali ini Maira melihat raut wajah suaminya yang seperti itu.


Keanehan memang sudah mulai terasa saat Tini sang asisten rumah tangga yang bekerja di rumah tersebut tampak tidak menyambut kepulangan mereka dari kantor. Rupanya tanpa sepengetahuan Maira, Dewantara memang sudah menyuruh Tini untuk pulang ke rumahnya dengan alasan agar dia dan Maira punya waktu berduaan untuk beberapa hari ini.


Dewa membuka pintu dengan kasar dan setelah pintu kamar itu terbuka lebar, Dewa menghempaskan tubuh Maira kedalam kamarnya hingga membuat Maira terjatuh di lantai. "Aws". Ringis wanita itu. "Ma-mas kamu kenapa?". Tanya Maira bingung.


Dewa menghela napas kasar, sungguh dia sebenarnya tidak tega memperlakukan istrinya dengan kasar. Dewa kemudian menghempaskan foto-foto yang di terimanya tadi dari seseorang yang tidak dia kenal sehingga foto-foto yang di setting sedemikian rupa sehingga tampak seperti dua orang yang sedang tidur tanpa busana itu berhamburan tepat di hadapan Maira.


"Kamu yang kenapa Maira?". Tanya Dewa balik. "Kenapa kami melakukan ini semua hah?". Teriak Dewantara hingga membuat Maira sangat terkejut.


"Ma-mas Aku tidak tahu kenapa itu bisa terjadi, mas Aku benar-benar minta maaf". Jawab Maira dengan suara bergetar.


"Katakan padaku jika ini semua bohong Maira, katakan". Seru Dewa lagi. Namun Maira hanya bisa menangis tanpa bisa menjawab sehingga Dewa dapat menyimpulkan jika foto-foto tersebut benar adanya.


Dewa terjatuh di lantai saat tidak ada pembelaan apapun dari mulut Maira kecuali isak tangis saja tentang apa yang terjadi di dalam foto-foto tersebut. Kakinya lemah hingga tidak mampu lagi menopang berat badannya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa harus dengannya Maira, kenapa harus dia?". Tanya Dewa lagi dengan nada bicara yang sudah melemah seolah dia kehilangan banyak tenaga.


Lagi-lagi hanya isak tangis yang semakin jelas terdengar dari dari mulut Maira yang menjadi jawabannya hingga membuat Dewantara merasa muak dan menghampiri wanita itu kemudian mencengkeram wajah Maira dengan kasar.


"Hentikan tangisan menjijikkan mu itu dan bicaralah Maira". Seru Dewa dengan tatapan mematikan sehingga membuat Maira ketakutan setengah mati. Maira tidak menyangka jika suaminya itu akan semarah ini karena pada dasarnya pernikahan mereka hanyalah formalitas semata tanpa di dasari oleh rasa cinta satu sama lain.


"Ma-mas maafkan aku". Hanya itu yang bisa Maira katakan karena apapun pembelaan yang akan dia katakan tidak akan mungkin bisa memaafkan kesalahan fatal yang telah dia perbuat.


Dewantara mendorong tubuh mungil Maira lagi dan menghempaskan Maira di atas ranjang. "Apa kau sangat menikmati setiap sentuhannya, apa kalian baru saja melakukannya lagi tadi sehingga baju yang kau kenakan harus kau nanti hah?". Tanya Dewa yang ternyata sadar jika baju Maira telah berubah.


Deg....


Wajah Maira sangat pucat mendengar ucapan suaminya, Dewa yang selama ini sangat acuh dan tidak mempedulikan apapun tentangnya ternyata bisa memperhatikannya juga.


"Apa?, kenapa tidak memberitahukan kepadaku sayang, kau pasti terluka karena ketumpahan kopi panas itu kan, sini aku lihat dan akan aku obati". Jawab Dewa dengan nada bicara yang di buat-buat seolah-olah dia peduli akan keadaan Maira.


"Ti-tidak perlu mas, aku baik-baik saja karena bukan kopi panas yang-".


"Kalau begitu biarkan aku melihatnya, bukankah aku suamimu dan aku punya hak seutuhnya terhadap dirimu hah?". Sentak Dewa memotong perkataan Maira karena seolah tahu jika Maira sedang berbohong.

__ADS_1


Dewantara merangkak di atas ranjang secara perlahan dan mendekati Maira yang terus berusaha menghindari dirinya. Maira ingin berlari namun Dewantara sudah terlebih dahulu meraih kaki Maira dan menariknya dengan kasar. "Jangan lari dariku atau kau akan rasakan akibatnya". Ancam Dewantara.


Melihat suaminya yang semakin arohan, Maira semakin ketakutan dan gemetaran. Maira bahkan berdoa akan ada seseorang orang yang akan membantunya keluar dari rumah tersebut karena dia bisa mati ketakutan akibat ancaman dari Dewantara.


"Ya Tuhan bantu aku, apakah ini akhir dari hidupku?. Tuan Rian aku sangat takut". Batin Maira.


Setelah Maira terbaring tepat di hadapannya, Dewa merangkak naik ke atas tubuh Maira dan membuka paksa kemeja yang Maira kenakan dan terpampang nyata pemandangan yang sangat memilukan hatinya dimana seluruh dada Maira yang hanya terbalut bra itu di penuhi oleh tanda kepemilikan yang sungguh menjijikkan di matanya.


Jika tadi Dewa sangat beringas dan kasar, begitu melihat apa yang sangat dia hindari itu, tubuhnya langsung merasa lemah dan tidak berdaya. Dia terbaring di samping Maira sambil memejamkan matanya sedangkan Maira menangis pilu sembari berusaha menutup dadanya dengan baju yang sudah tidak berbentuk itu sebisa mungkin.


Sekian lama Dewa terbaring dengan mata terpejam, entah apa yang ada di pikiran pria itu namun Maira juga tidak berani mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya hingga akhirnya dia bangun tanpa menatap kearah istrinya lagi. "Akan ku habisi pria brengsek itu dengan tanganku sendiri". Ujar Dewa tegas dengan tangan yang mengepal menuju pintu, namun sebelum itu Dewa juga sudah meraih sebuah pistol yang di ambil dari dalam laci nakasnya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya dan benda yang berada di dalam tangan Dewantara, Maira spontan bangun dan menahan langkah Dewa dengan bersimpuh di kaki Dewa dan memeluk erat kaki sangat suami. "Mas, jangan lakukan itu aku mohon mas, lakukan apapun yang kamu inginkan terhadapku tapi jangan kepada tuan Rian karena di sini aku yang salah, malam itu aku mabuk dan semuanya terjadi tanpa aku sadari". Ujar Maira berusaha menenangkan Dewa.


Namun bukannya tenang, Dewantara justru semakin murka kala istrinya sangat melindungi pria yang sangat dia benci itu. "Kau bahkan rela mati demi dia Maira, tapi sayangnya aku akan tetap menghabisi pria itu". Ujar Dewa.


"Ma-mas jangan mas, aku mohon, aku akan melakukan apapun dan aku rela menanggung semuanya sendirian asalkan jangan lakukan tindakan konyol itu. Aku tidak mau kalian berdua jadi korban akibat kesalahan ku".


"Baiklah jika kau memaksaku Maira, aku mau mulai sekarang lupakanlah dan jauhi dia dan jadilah istriku seutuhnya karena apapun yang terjadi aku tidak akan menceraikan mu. Jika kau berani melanggar aturanmu sejam saat ini maka akan ku pastikan jika Rian akan hancur karena jika aku tidak bisa menghabisinya maka aku akan menuntutnya dengan pasal perzinahan dan akan ku pastikan dia membusuk di penjara dan karirnya hancur seperti hancurnya hatiku saat ini". Ancam Dewa sambil menghempaskan kakinya dengan kasar sehingga Maira terjatuh di lantai untuk kesekian kalinya kemudian dia pergi begitu saja meninggalkan Maira.

__ADS_1


Maira langsung menyetujuinya tanpa membantah lagi karena itu memang sudah seharusnya terjadi karena walau bagaimanapun Dewantara tetap suami sahnya yang bisa melakukan apapun dan punya hak penuh atas dirinya.


...----------------...


__ADS_2