Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 30


__ADS_3

"Tuaaan". Teriak Maira dengan peluh yang membasahi seluruh tubuhnya. Rupanya wanita itu cukup mengalami trauma sehingga kejadian yang menimpanya tadi malam sampai terbawa ke alam bawah sadarnya.


"Hei sayang tenanglah, aku di sini". Ujar Rian langsung memeluk Maira.


Maira memeluk erat tubuh pria yang telah mengisi hati dan hari-harinya belakangan ini. Pelukan Rian sangat membuat dia tenang dan merasa aman.


"Saya sangat takut tuan, ada yang mengurung saya di tempat gelap dimana saya tidak bisa melihat apapun". Ujar Maira lirih. Mendengar hal itu membuat rahang Rian kembali mengeras karena menahan emosi kepada para karyawan nya yang tega mengurung Maira di dalam gudang gelap.


"Sekarang ada aku di sini dan tidak ada yang berani melakukannya lagi, sekarang tenanglah dan aku akan menyuruh pelayan untuk menyiapkan makanan untukmu karena sejak semalam kamu tidak makan apapun". Ujar Rian lagi dan Maira hanya menganggukkan kepala tanda setuju namun dia masih tidak sadar dia berada dimana saat ini.


Setelah merasa tenang, Maira melihat ke sekelilingnya dan dia baru menyadari jika malam telah berganti pagi dan dia berada di sebuah kamar yang sangat besar dan mewah, kamar yang lebih besar dari kamar-kamar yang berada di rumah suaminya Dewantara dan yang paling penting adalah kenapa Rian berada di ranjang yang sama dengannya.


Spontan saja Maira melihat seluruh tubuhnya dan menyadari jika dia hanya menggunakan kemeja yang sangat kebesaran di tubuhnya tanpa menggunakan bawahan kecuali ********** saja. Maira menelan salivanya dengan susah payah dan melirik ke arah Rian. "Tu-tuan, kita dimana?". Tanyanya penasaran karena dia membayangkan jika mereka semalam menghabiskan waktu di hotel lagi.


"Di kamarku". Jawab Rian singkat.


"Apaa?". Teriak Maira.


"Kenapa berteriak?, untung saja kamar ini kedap suara kalau tidak seluruh isi mansion ini akan langsung berlarian kemari".


"Lalu saya harus bagaimana, tuan saya semalam berada di sini artinya saya tidak pulang ke rumah?". Rian hanya menggelengkan kepala saat Maira bertanya.


"Dan-". Maira mengisyaratkan ke pakaian yang sedang di gunakan saat ini.


"Tentu saja aku harus menggantikan pakaianmu karena semalam kamu di penuhi keringat dan juga debu".


"Apaa?". Tarian Maira lagi.

__ADS_1


"Hei, sekarang kamu hobby sekali berteriak". Gerutu Rian.


"Tuan". Ujar Maira memelas sambil meremas selimut.


"Maira kamu ini kenapa, bukankah aku sudah pernah melihat semuanya saat kita berada di Korea jadi wajar saja jika aku-". Ucapan Rian terpotong karena mulutnya di tutup oleh tangan Maira.


"Oh my god, apa yang sudah aku lakukan?". Ujar Maira sambil menangis.


"Kenapa sayang, jangan menangis". Bujuk Rian khawatir.


Maira terus menumpahkan air matanya karena merasa jika dirinya telah menjadi wanita yang paling hina dan paling jahat karena telah mengkhianati suaminya. "Saya wanita yang sangat jahat, saya wanita bersuami tapi saya melakukan hal yang menjijikkan bersama pria lain". Ujar Maira lirih.


"Hei lihat aku, kamu tidak jahat, yang jahat aku karena aku sudah berusaha merebut mu dari suamimu tapi itu semua aku lakukan karena aku mencintaimu Maira, aku mencintaimu dan aku akan membahagiakanmu sedangkan pria itu tidak mencintaimu jadi wajar jika aku ingin membuatmu bahagia, kamu mengerti kan?". Ujar Rian serius.


Maira sangat terharu mendengar pernyataan cinta dari Rian, dia langsung memeluk erat Rian dan menangis sejadi-jadinya.


Setelah Maira tenang, Rian menyuruh wanita itu untuk membersihkan dirinya namun Maira menolak karena dia berdalih jika dia tidak memiliki baju ganti.


"Tenang saja, kemejaku masih penuh di dalam lemari itu kamu bisa pakai yang mana saja yang kamu suka". Ujar Rian menggoda Maira sehingga membuat wajah Maira memerah menahan malu.


"Tuan berhentilah menggoda saya". Jawab Maira.


"Kamu tahu tidak, kamu terlihat sangat seksi memakai kemejaku yang sangat kebesaran di tubuhmu itu". Bisik Rian ke telinga Maira.


Maira kembali menenggelamkan seluruh tubuhnya kedalam selimut karena malu sehingga Rian membuat Rian tertawa lepas. "Aku hanya becanda, aku sudah menyuruh pelayan wanitaku untuk memberikan pakaian untuk mu, jadi ayo bangun dan mandi kita harus ke perusahaan hari ini karena ada hal penting yang harus kita kerjakan di perusahaan".


Mendengarkan hal itu Maira segera mengikuti apa yang di katakan oleh Rian dia membersihkan dan bersiap-siap dimana segala perlengkapan sudah tersedia lengkap di kamar tersebut setelah dia menyelesaikan ritual mandinya. Rian juga ternyata sudah siap dengan pakaian kantornya karena Maira menyuruhnya keluar dari kamar itu untuk mandi dan bersiap-siap di kamar lain karena dia malu jika Rian berada di kamar tersebut.

__ADS_1


Setelah mereka siap, Rian mengajak Maira untuk sarapan karena para pelayan sudah menyiapkan makanan untuk mereka. Maira benar-benar takjub dengan isi mansion Rian yang ternyata sangat luar bak istana itu bahkan Rian memiliki banyak pelayan yang bekerja di mansion nya.


Namun ada sesuatu yang membuat jantung Maira tiba-tiba berdegup tak karuan ketika melihat seseorang yang duduk di meja makan dan menyambut mereka dengan senyuman.


"Selamat pagi tuan dan nona Mahendra, sepertinya tidur kalian sangat nyenyak tadi malam". Ujar paruh baya yang sangat tampan menurut Maira tersebut.


"Morning pa, hentikan candaan papa karena itu tidak lucu". Jawab Rian.


Deg....


Jantung Maira seakan berhenti berdetak ketika Rian memanggil pria paruh baya itu dengan sebutan papa. Bagaimana mungkin Rian bisa senang itu membawanya ke mansion tersebut padahal di sana ada sang papa dan Maira juga merasa sangat malu, dia kehilangan harga dirinya di depan papa Rian karena bermalam di mansion tersebut bahkan tidur satu ranjang dengan atasannya sendiri.


"Ayo duduk Maira, tidak perlu sungkan, kenalkan saya Dhika Mahendra, papa Rian". Ujar tuan Dhika lagi ketika melihat wajah cantik Maira berubah jadi pucat.


"Ba-baik tuan". Jawab Maira terbata-bata.


"Jangan terlalu formal Maira, panggil naku papa sama seperti Rian memanggil saya". Ujar tuan Dhika langit namun Maira hanya membalasny dengan senyuman canggung.


"Pa". Seru Rian seolah memperingatkan papanya untuk tidak membuat Maira semakin malu.


Bisa di bayangkan bagaimana kakinya suasana sarapan di pagi hari itu, dimana Maira merasa sangat tidak nyaman meskipun tuan Dhika beberapa kali mengajaknya berbincang-bincang sambil bercanda. Maira tetap merasa dirinya sebagai wanita yang sangat rendah dan tidak punya harga diri karena berada di tempat yang tidak seharusnya apalagi jika suatu saat nanti tuan Dhika mengetahui tentang statusnya.


Sepanjang perjalanan menuju perusahaan Maira juga banyak diam karena sibuk dengan pemikirannya sedangkan Rian sibuk meredam amarahnya yang memuncak kepada tiga karyawannya yang bertindak di luar batas terhadap Maira.


"Tuhan takdir macam apa ini, benar aku ingin bahagia tapi haruskah dengan jalan berliku seperti ini". Batin Maira meratapi nasibnya dalam hati.


"Tidak akan ku lepaskan siapapun yang ingin bermain-main dengan Maira, lihat saja apa yang bisa ku lakukan kepada ketiga wanita itu". Batin Rian dengan pemikirannya sendiri sehingga suasana di dalam mobil sangat sepi.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2