
Matahari mulai menampakan dirinya di uduk timur, pertanda malam telah usai dan pagi telah tiba dimana Maira akan menjadi pengantin wanita hari itu. Wanita itu sudah mulai bersiap dengan segala hiruk pikuk persiapan pernikahannya yang tentu saja di bantu oleh tenaga-tenaga profesional yang setia mendampinginya.
Tidak hanya itu, Anin dan juga Sherly juga tidak pernah meninggalkan wanita itu walau hanya sebentar saja bahkan mereka sarapan pagi itu di kamar Maira agar mereka bisa ikut membantu segala kerumitan Maira pagi itu. Bak tiga orang yang sudah saling bersahabat lama mereka bahkan tidak canggung sama sekali untuk bantu membantu satu sama lainnya.
Setelah selesai Anin dan Sherly takjub akan kecantikan Maira yang bak tuan putri di negeri dongeng itu.
"Oh my god, kamu sangat cantik Maira". Seru Sherly histeris.
"Jangan terlalu berlebihan seperti itu aku bahkan belum melihat sendiri hasilnya, minggir aku mau berkaca dulu". Ujar Maira bangkit dari tempat duduk nya dengan di bantu oleh Anin dan juga Sherly.
Maira terharu menatap pantulan dirinya yang nyaris sempurna di depan cermin itu, dia tidak menyangka jika dia akan menikah lagi dengan pria yang dia cintai dan dengan pesta pernikahan yang dia impi-impikan. Di kepala wanita itu kembali berputar memori tentang pernikahan pertamanya yang nyaris tidak satu orangpun dia kenal di sana namun pernikahannya kali ini meskipun tidak semua orang penting di hidupnya hadir namun setidaknya ada Anin dan Sherly yang akan mendampinginya sampai ke atas pelaminan sana.
"Apa ku katakan, kamu sangat cantik bukan". Bisik Sherly lagi.
Maira menoleh kearah Sherly dan Anin. "Terimakasih sudah berada di sini dan mau menemaniku sejak tadi malam jika tidak ada kalian aku akan terlihat seperti pengantin wanita yang sangat menyedihkan tanpa satu orangpun teman yang menemaniku". Ujar Maira lirih.
"Sudah jangan berlebihan seperti itu apalagi sampai menangis nanti make-up mu rusak". Jawab Anin.
"Tapi maaf kami tidak bisa mendampingi sampai ke pelaminan Maira". Ujar Anin lirih.
__ADS_1
"Kenapa?". Tanya Maira terkejut bahkan ada raut kekecewaan di wajahnya.
"Karena aku yang akan mendampingi mu Maira". Seru Annabelle yang tiba-tiba datang dari balik pintu, Maira sangat tidak percaya jika wanita hamil itu ada di hadapan saat ini sehingga dia langsung menghampiri Anna dan memeluk erat wanita itu.
"Maaf Ra, aku tidak bisa hadir lebih awal, ya kamu tahu sendiri bagaimana kondisi ku saat ini". Sambung Anna lagi.
"An, kamu berada di sini saja aku sudah sangat bahagia, aku bahkan tidak pernah membayangkan jika kamu akan datang hari ini". Jawab Maira.
"Tidak mungkin aku tidak datang, calon suamimu itu pasti akan melakukan apapun asalkan aku datang".
"Lalu mas Dewa?". Tanya Maira penasaran karena sangat tidak mungkin Dewantara mau mengikuti keinginan Rian apalagi setelah insiden di Swiss kala itu.
Maira berpikir sejenak siapa wanita yang wajahnya sangat tidak asing itu sampai akhirnya bola matanya Maira serasa ingin keluar dari tempatnya setelah menyadari jika wanita cantik yang juga menggunakan baju yang sama dengan Anna, Anin dan Sherly itu adalah Shinta sahabat satu-satunya yang dia miliki saat masa-masa sekolahnya dulu.
"Shi-Shinta kamu kah itu?". Tanya Maira ragu-ragu karena dia tidak percaya jika dia bisa kembali bertemu dengan sahabatnya itu pasalnya sudah bertahun-tahun Maira dan Shinta tidak pernah lagi berkomunikasi satu sama lain bahkan Maira berpikir jika Shinta tidak lagi mengenalnya.
"Tentu saja ini aku, apa kamu tidak ingin memelukku juga?". Tanya Shinta penuh semangat.
Tanpa pikir panjang Maira langsung memeluk Shinta bahkan air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya tidak terbendung kan lagi. Maira sangat bahagia dan terharu karena Rian memenuhi janjinya untuk mewujudkan pernikahan impian seperti yang dia inginkan hari itu.
__ADS_1
Mereka semua turut bahagia atas kebahagiaan yang dia dapatkan oleh Maira hari itu. Bersama-sama mereka semua melangkah menuju pelaminan untuk mengantarkan Maira tentu saja dengan decak kagum dari semua tamu undangan yang turut hadir di sana namun kekaguman yang paling terlihat jelas tentu saja di rasakan oleh Rian yang akhirnya dapat mempersunting Maira.
Jika semua orang kagum akan kecantikan pengantin wanita dan sebagian lagi memuji nasib baik yang di dapatkan oleh wanita itu maka Maira sendiri justru tidak percaya apa yang di lihat di depan matanya saat ini, bukan hanya tamu undangan yang hadir di sana sangatlah banyak namun juga dekorasi ballroom hotel itu di hias dengan sangat mewah dan sangat indah.
Dari sekian banyak tamu undangan yang hadir di sana Maira juga terkejut melihat kehadiran mantan mertuanya yang duduk sambil tersenyum bahagia kearahnya, ya, nyonya Dewi dan tuan Anwar juga turut hadir di sana tentu saja Dewantara juga ikut karena Maira yakin tidak mungkin pria itu akan melepaskan Anna walau hanya sebentar saja tanpa pengawasan dari dirinya langsung.
Dalam langkah demi langkah yang di tapaki menuju pelaminannya Maira justru penasaran dengan reaksi nyonya Dewi dan tuan Anwar akan kehadiran Anna dan juga calon anaknya di tengah-tengah keluarga mereka, bukan berarti Maira khawatir akan keadaan Anna karena dia yakin jika mantan mertuanya adalah orang-orang yang sangat baik sehingga Anna akan di terima dengan baik oleh mereka namun bagaimana lucunya kisah mereka kedepannya apalagi jika nyonya Dewi sudah turun tangan akan hubungan mereka itu.
Maira bahkan tersenyum geli karena membayangkannya.
"Kamu akan menjadi wanita yang sangat bahagia An, karena mama Dewi dan Papa Anwar sudah lama menantikan kehadiran Dewantara junior di tengah-tengah keluarga mereka". Batin Maira sambil melirik kearah samping kanannya dimana Anna sedang menggandeng tangannya. Maira semakin yakin ketika Dewantara, nyonya Dewi dan tuan Anwar terlihat awas dalam mengawasi setiap langkah wanita hamil itu.
"Dan aku akan butuh waktu yang banyak untuk mendengarkan semua kisah tentangmu termasuk kisah cintamu Shin". Batin Maira lagi sambil menoleh kearah kirinya dimana Shinta juga menggandeng tangan satunya lagi dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari wajahnya apalagi jika dia membayangkan bagaimana wanita se cerewet Shinta jatuh cinta bahkan menikah dengan seorang pria pasti pria yang mau menerima sangatlah sabar untuk menghadapi tingkahnya itu.
Lalu Maira menatap lurus ke depan dimana calon suaminya telah menunggu kedatangan, pria tampan yang berdiri gagah di hadapannya itu terlihat tersenyum haru kearah dan sang papa yang setia menemani di samping juga ikut menitikkan air mata kala Maira tiba di sana. Tuan Dhika tidak menyangka jika kebahagiaan yang di dapatkan ternyata berlipat ganda dimana kedua anaknya menikah di hari yang sama dan saling mencintai satu sama lain sehingga dia akan memiliki mereka berdua tanpa harus mengorbankan salah satunya.
"Tuhan, lengkap sudah kebahagiaan ku saat ini, terimakasih untuk segala yang Engkau takdirkan untuk ku dan ikhlaskan hatiku untuk menerima apapun yang tidak Engkau takdirkan untuk ku termasuk mama yang tidak pernah aku kenal sejak aku di lahir kan ke dunia ini". Batin Maira.
...----------------...
__ADS_1