
"Apa aku mengenal pria itu?". Tanya Maira lagi.
Deg......
"Maira aku sudah tidak ingin membahasnya atau mengingatnya lagi". Jawab Anna lirih.
"Baiklah, lupakan semua yang membuat hati kita sedih karena saat ini kita berdua akan saling melengkapi satu sama lain, kita akan merawat anakmu bersama-sama karena dia juga anakku mulai saat ini". Ujar Maira penuh semangat.
Maira kemudian langsung mengalihkan pembicaraan karena dia tahu jika sahabatnya itu banyak melalui hal sulit di dalam hidupnya dan dia tidak ingin membebani pikiran Anna lagi, apalagi saat ini wanita itu sedang hamil sehingga Anna tidak boleh banyak pikiran.
Mulai saat itu Maira selalu mengunjungi Anna di sela kesibukan di kampusnya. Wanita itu selalu berusaha untuk meluangkan waktu agar Anna tidak menara sendirian apalagi dalam kondisi hamil seperti saat ini bahkan dia juga rutin menemani Anna untuk pergi memeriksakan kandungannya ke dokter.
Maira sangat bahagia karena hari-harinya yang hampa saat ini sudah mulai berwarna lagi karena kehadiran anna dan juga calon anak yang berada di kandungan Anna, bahkan Maira lebih antusias menunggu kelahiran bayi itu di bandingkan Anna sendiri. Maira juga selalu mengingat dengan baik jadwal Anna mengunjungi dokter kandungan karena hal itulah yang membuat wanita itu sangat bahagia karena Maira bisa melihat perkembangan bayi yang ada di kandungan Anna melalui pemeriksaan Ultrasonografi atau USG.
Memasuki trimester akhir ini memang kehamilan Anna sudah tampak sangat jelas bila di periksa melalui USG bahkan mereka juga sudah tahu jenis kelamin anak yang di kandung Anna itu ternyata adalah bayi laki-laki. Dokter kandungan yang memeriksa Anna saja sampai heran melihat dia wanita yang berada di hadapannya itu dengan dua ekspresi wajahnya yang berbeda dimana Maira jauh lebih terlihat sangat bahagia dengan setiap penjelasan yang di jelaskan oleh dokter tentang kehamilan Anna, sedangkan Anna sendiri yang sedang hamil itu terlihat biasa saja bahkan terkesan tidak peduli dengan kondisi bayinya itu.
Jelas saja jika dokter bingung karena memang sang dokter tidak tahu menahu perihal kehamilan tersebut bahkan dokter itu juga sempat bertanya-tanya dalam hati mengapa selalu Maira yang menemani Anna sedangkan suaminya tidak pernah kelihatan.
Maira sendiri sangat mengerti jika Anna seperti tidak peduli tentang kehamilannya karena memang kehadiran bayi itu tidak di inginkan oleh Anna apalagi Anna juga masih trauma dengan kehidupan masa kecilnya sehingga dia takut jika tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk anaknya tapi Maira yakin jika jauh di lubuk hatinya yang terdalam Anna yang menyayangi dan menginginkan kehadiran bayinya, hal itu bisa di lihat dari sikap Anna yang tetap mempertahankan kehamilan sampai saat ini padahal wanita itu bisa saja menggugurkannya kapan saja.
__ADS_1
Namun ada yang berbeda dari kunjungan Maira dan Anna hari ini ke rumah sakit karena Maira tanpa sengaja menabrak seseorang yang sangat dia kenal namun sudah lama tidak berjumpa. Dewantara, ya pria itu yang secara tidak sengaja di tabrak oleh Maira saat dia baru kembali dari apotik untuk menebus vitamin kehamilan untuk Anna yang saat ini sedang berada di toilet rumah sakit.
"Aws". Ringis Maira karena tentu saja tubuhnya yang kecil akan kalah jauh dengan tubuh Dewantara yang tetap dan kekar itu. "Maafkan saya tuan". Ujar Maira kemudian tanpa melihat wajah pria itu.
Dewantara sendiri langsung menoleh kearah Maira saat mendengar suara yang sangat di kenal oleh telinganya itu dan berapa terkejutnya pria itu karena bertemu dengan Maira di negara orang seperti ini, dulu bahkan di Indonesia Maira sangat sulit untuk di jangkau karena penjagaan yang ketat dari sang papa.
"Maira". Seru Dewantara.
Maira juga langsung menoleh saat mendengar namanya di panggil oleh pria yang juga sangat dia kenal suaranya tersebut. "Ma-mas Dewa". Ujar Maira.
Keduanya saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang sulit di artikan karena sejak kejadian dimana Dewantara berbuat kasar kepada Maira baru kali inilah mereka saling bertatap muka kembali bahkan saat proses perceraian keduanya tidak pernah saling berkomunikasi bahkan walau sekedar melalui sambungan telepon.
Rasa canggung menyeruak dan terasa sangat kental di antara kedua insan yang pernah menjadi pasangan suami istri tersebut. Jika Maira tidak tahu harus bersikap bagaimana karena banyaknya catatan tidak menyenangkan antara dirinya dengan mantan suaminya itu maka Dewantara merasa bersyukur karena akhirnya dia bisa bertemu langsung dengan Maira setelah sekian lama dan bisa meminta maaf atas sikapnya yang sangat tidak pantas kepada Maira tempo lalu.
"Emm, lupakan saja mas". Jawab Maira canggung, jujur dia masih sangat tidak bisa bersikap biasa saja kepada Dewantara.
"Aku tahu kata-kata itu bahkan tidak pantas di ucapkan oleh pria seperti diriku namun percaya lah jika rasa bersalah dan penyesalan terus saja menghantuiku selama ini Maira". Ujar Dewa lagi.
"Itu semua sudah berlalu mas, sebaiknya kita tidak lagi membahasnya dan aku sudah memaafkan kamu".
__ADS_1
"Terimakasih Ra, kamu memang wanita yang sangat baik dan pantas saja jika Tuhan memisahkan kita karena pria sepertiku tidak pantas untuk mu".
"Emm, bagaimana kabar kamu mas?". Tanya Maira mengalihkan pembicaraan.
"Baik, seperti yang kamu lihat, kamu sendiri bagaimana?". Tanya Dewa juga.
"Baik".
"Lalu kenapa kamu berada di Rumah sakit?". Tanya Dewantara penasaran apalagi melihat banyaknya vitamin dan obat-obatan di tangan Maira tapi wanita itu justru kelihatan baik-baik saja.
"Oh ini, aku menemani-". Ucapan Maira terpotong saat dari arah belakang Dewantara sosok wanita hamil yang tidak lain adalah Anna muncul lalu langsung memanggil nama Maira.
"Maira, aku sudah siap, apa kamu juga sudah siap?". Tanya Anna tanpa melihat jika di hadapannya ada seorang pria yang tengah berdiri membelakangi dirinya.
Deg....
Jantung Dewantara serasa berhenti berdetak saat mendengar suara yang sangat di yakini olehnya adalah suara Anna bahkan tanpa dia melihat siapa wanita yang saat ini berada di belakangnya, jika mendengar suara Maira tadi irama jantung Dewantara masih aman maka ketika mendengar suara Anna, Dewantara merasa sesak yang luar biasa di dadanya.
Bagaimana tidak, wanita yang selama ini sangat dia rindukan dan dia cari di setiap sudut kota itu ternyata saat ini berada tepat di belakangnya meskipun dia belum melihat wajah cantik itu secara langsung.
__ADS_1
Dewantara langsung membalikkan tubuhnya dan memastikan dengan mata kepalanya sendiri jika dia sudah menemukan wanita itu. "Annabelle". Ujar Dewantara lirih dengan genangan air mata di sudut matanya.
...----------------...