Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 91


__ADS_3

Di sebuah kamar yang sederhana seorang wanita cantik sedang uring-uringan dengan keadaan di luar nalarnya yang sedang terjadi di hidupnya secara tiba-tiba, benar ada jika kehidupan itu memang sangat susah di tebak sama halnya seperti yang sedang terjadi kepda shinta saat ini, wanita itu serasa ingin berteriak dan menangis secara bersamaan saat ini namun dia tidak dapat melakukannya karena beberapa alasan.


"Kenapa hidupku selalu serba salah dan selalu saja tidak seperti yang Aku harapkan Tuhan". Ujar wanita itu penuh penekanan.


Flashback On...


Seorang wanita cantik menggeliat manja di atas kasur empuknya yang sangat nyaman itu, rasanya lama sekali dia tidak tidur selama dan se nyenyak itu beberapa bulan terakhir ini namun kali ini tidurnya terasa sangat berbeda. Aroma ruangan dan juga sprei yang sangat dia kenal membuat dia enggan untuk membuka mata karena dia berpikir jika dia sedang bermimpi dan dia sama sekali tidak mau terbangun dari mimpinya itu.


"Ya Tuhan selama berbulan-bulan aku merindukan kamar ini dan baru kali ini aku mimpi tidur di sini". Ujarnya dengan mata yang masih terpejam.


Dia kemudian kembali menarik selimut dan melanjutkan mimpinya namun pikirannya tiba-tiba terganggu karena mungkin yang dia alami saat ini bukanlah mimpi melainkan sebuah kenyataan karena pria yang menjadi atasannya memang pernah menjanjikan akan mengantarkan dirinya pulang ke kampung.


Shinta langsung membuka matanya lebar-lebar dan melihat sekelilingnya, benar tebakan wanita itu di memang tidur di kamarnya sendiri karena dia memang sangat hafal dengan kondisi kamar yang telah dia huni selama bertahun-tahun itu. Shinta kemudian mencubit pipinya untuk memastikan apakah ini kenyataan ataukah hanya mimpi saja karena terakhir yang dia ingat dia tiba-tiba tidak sadarkan diri di apartemen Ricko.


Shinta kemudian langsung menyibak selimut untuk kembali memastikan jika dia baik-baik saja dan tidak terjadi apapun kepadanya. "Huh aman, untung saja". Ujarnya lega.


"Yey, akhirnya aku pulang ke rumah ku sendiri dan bisa lari dari semua kegaduhan yang terjadi di jakarta". Tambah shinta lagi sambil kembali menarik selimut untuk melanjutkan tidurnya.


Namun baru saja dia memejamkan matanya tiba-tiba ibunya datang dan menarik selimut secara paksa. "Dasar anak gadis tidak tahu malu, kamu pikir ini sudah jam berapa hah?". Tanya ibu dengan nada kesal.


"Bu, tolong jangan ganggu tidurku hari ini karena sudah lama sekali aku tidak bisa tidur nyenyak". Protes shinta yang memang selalu beda pendapat dengan ibunya.

__ADS_1


"Jika sekarang saja kamu tidak biasa untuk bangun pagi dan mengurus dirimu sendiri bagaimana nanti jika sudah menikah kamu akan mengurus suamimu". Sentak ini lagi.


"Oh ya ampun, aku pikir di sini akan terhindar dari masalah tapi ternyata masalahnya semakin besar". Gumam Shinta. "Bu, berhentilah untuk terus berbicara tentang pernikahan, seperti aku akan menikah besok saja". Sambungnya lagi.


"Ya ibu tahu bukan besok tapi satu minggu lagi tapi satu minggu itu juga bukan waktu yang lama nak".


"Oh Tuhan, berhentilah berhayal bu dan jangan coba menjodohkan aku lagi karena aku akan pergi dan tidak pulang lagi". Ancam Shinta.


"Ya ampun gadis ini, bagaimana bisa ibu menjodohkan kamu lagi jika kamu akan menikah dengan pria pilihanmu sendiri".


"Nah itu ibu tahu, lalu apa maksud ibu tentang pernikahan ku satu minggu lagi tadi?". Tanya Shinta penasaran namun ada suara kegaduhan di luar sana yang membuat dia semakin penasaran sehingga membuat dia sangat ingin tahu. "Bu kenapa di luar sangat ribut sepertinya ada banyak orang di rumah kita?". Tanyanya lagi.


"Tentu saja nak, mereka sedang menyiapkan persiapan pernikahanmu karena ibu tidak setuju dengan calon suamimu itu yang mau melaksanakan pesta pernikahan di hotel mewah, ibu kan maunya semua orang kampung kita-". Belum habis ibu menggerutu Shinta langsung memotong pembicaraan ibunya.


Ibu menghampiri putrinya dan langsung menarik telinga Shinta sehingga wanita itu mengaduh kesakitan. "Kenapa ibu justru menarik telinga ku?". Tanya Shinta kesal.


"Agar kamu bangun dari dunia mimpimu, kamu sendiri yang pulang ke sini secara tiba-tiba bersama calon suamimu dan mengatakan jika kalian akan segera menikah tapi sekarang justru kamu sendiri yang mempertanyakan semua pertanyaan konyol itu". Ujar ibu tak kalah kesal.


Shinta menepuk keningnya sendiri karena dia sekarang sudah mengerti jika pria bernama Ricko telah menjebaknya saat ini. "Aku tidak menyangka jika dia akan berbuat sepicik ini". Gumam Shinta.


"Bu, jangan dengarkan pria itu dia hanya-". Ibu langsung memberikan kode kepada Shinta untuk berhenti bicara sehingga wanita itu tidak bisa melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


"Sudah jangan banyak bicara, cepat pergi mandi karena semua orang terutama calon suamimu sudah menunggu di luar". Titah ibu tak terbantahkan dan meninggalkan Shinta begitu saja.


"Tapi bu-, oh ya ampun bagaimana ini, Aku tidak menyangka Maira akan senekat ini dan menjebakku, bu tolonglah mengerti jika yang akan di nikahkan denganku adalah suami orang lain, suami Maira sahabatku sendiri". Seru Maira lesu dan tentu saja ibu tidak dapat mendengarnya lagi.


Shinta segera melakukan saran dari ibunya untuk membersihkan diri karena walau bagaimanapun dia harus segera menghentikan segala kekonyolan yang terjadi di rumah dan di hidupnya saat ini.


"Lama-lama aku yang akan mengalami depresi karena ini semua". Celetuk Shinta.


Shinta benar-benar menikmati mandinya karena dia harus mempersiapkan dirinya untuk menghadapi masalah besar yang mungkin akan membuat dia dan orang tuanya sangat malu karena mereka pasti akan menjadi buah bibir semua orang di kampung itu.


Setelah siap dengan semua aktivitasnya Shinta berdiri tegak di depan pintu kamarnya, wanita itu menghela napas panjang sembari mengumpulkan keberanian untuk membuka pintu kamarnya dan benar saja ketika pintu kamar itu terbuka seluruh ruangan di rumahnya sudah di sulap sedemikian rupa layaknya gedung untuk melaksanakan pesta pernikahan.


Sekilas di terkesima dengan sua dekorasi yang menurutnya sangat indah meskipun di tempatkan di rumahnya yang sederhana. Shinta takjub karena rumahnya terlihat sangat indah dan sepertinya Maira benar-benar menyulap rumahnya dengan niat yang sangat sungguh-sungguh.


Shinta kemudian terus melangkah kesana kemari untuk mencari sosok yang sangat ingin dia marahi yaitu Maira namun sosok itu tak kunjung dia temukan namun ada sosok lain yang bisa menjadi tempat pelampiasan kemarahannya sehingga dia langsung menghampiri sosok yang tidak lain adalah Ricko.


Shinta langsung menarik pria yang sedang di kerumuni oleh ibu-ibu paruh baya para tetangganya itu, tentu saja dia akan menjadi pusat perhatian para ibu-ibu genit itu yang tidak bisa melihat pria tampan bahkan mereka juga meminta foto bersama pria itu.


"Ayo ikut aku". Ujar Shinta kesal namun tetap pelan agar para ibu-ibu itu tidak curiga. Ricko sudah tahu apa yang akan di lakukan wanita itu karena hal itu jelas tergambar dari rait wajah wanita bernama Shinta itu namun pria itu hanya tersenyum simpul seolah tidak terjadi apapun sehingga membuat Shinta semakin kesal.


"Huh, calon pengantin wanita itu pelit sekali". Gerutu para ibu-ibu itu namun Shinta tidak peduli dia tetap menarik Ricko ke tempat dimana dia rasa aman untuk meluapkan emosinya kepada Ricko.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2