
Satu minggu berada di Jepang, Shinta dan Ricko menghabiskan waktunya begitu saja namun Shinta sangat terkesan dengan perjalanan ke luar negerinya untuk pertama kalinya itu karena dia tidak mau ambil pusing dengan sikap dingin Ricko sedang pria itu sendiri tidak mendapatkan kesan apapun dari bulan madunya itu selain kesal dengan sikap kekanak-kanakan Shinta yang terus mengajaknya jalan-jalan setiap harinya.
Namun meskipun kesal pria itu tetap selalu setia menemani sang istri karena di Jepang mereka benar-benar hanya berdua saja dan rasa tanggungjawab kepada Shinta membuat pria itu mengenyampingkan rasa kesalnya.
Kini tiba saatnya mereka mengakhiri bulan madu mereka dan kembali ke indonesia karena memang Ricko hanya mengambil cuti selama satu minggu saja namun Shinta sudah merengek bahkan memaksa suaminya untuk kembali berlibur ke negera lain jika pekerjaan pria itu sedang tidak banyak.
Dalam perjalanan dari bandara menuju apartemen Shinta tampak bingung karena mobil yang membawa mereka justru tidak mengarah ke apartemen tersebut sehingga membuat wanita itu penasaran.
"Kita mau kemana?". Tanya Shinta.
"Pulang". Jawab Ricko singkat dan seperti biasanya pria itu sangat tidak tertarik basa-basi apalagi menoleh kearah istrinya.
"Tapi ini bukan arah ke sana".
"Duduk manis dan diam saja jika kamu ingin segera tiba di rumah". Jawab Ricko ketus.
Jawaban ketus dari Ricko ternyata mampu membungkam mulut Shinta, dengan memasang wajah kesal wanita itu langsung membuang pandangannya ke luar jendela tanpa mau berdebat lagi dengan Ricko.
Benar saja seperti yang di pikirkan oleh Shinta tadi jika mereka tidak pulang ke apartemen melainkan mobil itu terparkir di sebuah rumah yang sangat mewah dengan halaman yang cukup luas, seketika Shinta takjub akan keindahan dan kerapian rumah tersebut bahkan dia penasaran siapa pemilik rumah itu meskipun dia tidak mau bertanya lagi kepada Ricko.
Ketika suaminya sudah turun dari mobil Shinta masih setia menunggu di dalam mobil karena dia berpikir mungkin Ricko ingin mampir ke rumah seseorang terlebih dulu namun yang membuat dia aneh adalah ketika Ricko menyuruh sang supir untuk menurunkan semua barang-barang dan koper mereka dari bagasi mobil sehingga mau tidak mau dia harus mengalah dan kembali bertanya kepada Ricko.
"Kenapa kita menurunkan barang-barang kita disini?". Tanya Shinta penasaran.
__ADS_1
"Bukankah tadi aku mengatakan jika kita akan pulang". Jawab Ricko datar.
"Tapi rumah siapa ini kenapa kita pulang kesini bukankah seharusnya kita pulang ke apartemen mu?".
"Aku tidak mengatakan jika kita akan pulang k apartemen tapi kita akan pulang ke rumah dan jangan banyak tanya karena ini adalah rumah kita sekarang". Jelas Ricko.
Perkataan Ricko barusan membuat Shinta tersenyum kegirangan karena dia tidak menyangka jika Ricko bisa membeli rumah yang tak kalah mewah dari rumah Dewantara, padahal dia baru saja mengatakan jika dia ingin memiliki rumah yang luas dan juga kolam renang supaya ketika kedua orang tuanya berkunjung ke jakarta mereka punya kamar sendiri untuk menginap di rumah mereka.
"Uuh ternyata si kaki ini bisa romantis juga padahal aku baru saja memberikan ide untuk membeli rumah sederhana tapi dia justru memberikanku istana sebesar ini, sebenarnya sekaya apa dia ya, aku jadi penasaran, hihihi". Gumam Shinta kegirangan membayangkan banyaknya uang yang di miliki oleh Ricko, sedangkan pria itu sudah terlebih dulu menghilang di balik pintu rumah mewah tersebut.
Mendadak Shinta menjadi bangga menjadi istri Ricko yang ternyata juga tak kalah kaya raya di bandingkan dengan suami kedua sahabatnya Maira dan Annabelle. Tidak sia-sia dia menikah dengan pria itu meskipun dia sama sekali tidak mencintai Ricko setidaknya dia bisa menghambur-hamburkan uang suaminya itu pikirnya.
Dengan penuh semangat Shinta memasuki rumah mewahnya itu dengan penuh kebanggaan dan kebahagiaan, wajahnya juga tidak luput dari senyum penuh kemenangan, dia berkeliling ke semua ruangan dan mendapati ada kolam renang tepat di tengah-tengah rumah itu sehingga dia langsung lari berhamburan menuju kolam renang yang akan menjadi tempat kesayangan itu.
Setelah asik dengan aksinya bermain-main di pinggir kolam Shinta menyadari jika dia belum tahu dimana kamarnya dan juga kemana suaminya pergi sehingga dia memutuskan untuk mencari keberadaan Ricko dan bertanya dimana letak kamarnya, wanita itu juga berniat meminta kamar sendiri karena dia ingin kebebasan tanpa ada gangguan dari pria itu.
Namun setelah beberapa saat dia berkeliling dia tak kunjung menemukan keberadaan Ricko sehingga membuatnya sangat kesal. Shinta memutuskan untuk berkeliling ke taman belakang rumah untuk melihat ada keindahan apa di sana untuk mengobati rasa kesalnya, benar saja ketika kakinya menginjak taman itu dia langsung takjub dengan bunga-bunga indah yang tertata rapi di sana.
"Oh ya ampun, pria itu benar-benar punya selera yang sangat baik dalam hal mencari rumah yang bagus". Ujar Shinta. Keindahan tanam belakang rumahnya sejenak membuat dia lupa akan rasa kesalnya kepada Ricko yang tiba-tiba keberadaannya menghilang tanpa jejak itu.
Shinta sibuk menciumi bunga-bunga yang sedang bermekaran indah di taman itu sampai akhirnya dia sayup-sayup mendengar suara yang tidak asing di telinganya sedang berbicara di ujung taman tersebut sehingga dia langsung menghampiri sumber suara ketika dia yakin jika itu suara suami.
"Aku sudah kelelahan mencarinya dia malah sedang asik berbicara entah dengan siapa disini". Kesal Shinta dengan langkah cepat.
__ADS_1
Namun isi pembicaraan Ricko dengan seseorang di ponselnya di seberang sana membuat Shinta menghentikan langkahnya dan menguping pembicaraan itu, entah mengapa dia merasa penasaran dengan apa yang sedang Ricko bicarakan dengan seseorang itu.
"Sangat sesuai tuan, rumah ini seperti benar-benar seperti yang aku harapkan". Ujar Ricko sehingga Shinta yakin jika Ricko sedang berbicara dengan seorang pria.
"Apa dia sedang bicara dengan mas Rian?". Tanya Shinta pada dirinya sendiri karena Ricko pria di balik ponsel itu dengan sebutan tuan.
"Sekali lagi terimakasih kasih untuk rumah yang begitu indah ini, anda memang sangat mengerti apa yang aku inginkan dan aku butuhkan, baiklah tuan sampai jumpa di kantor". Entah apa yang di katakan oleh pria di balik ponsel itu namun itulah yang di dengan Shinta keluar dari mulut Ricko.
Deg....
Entah mengapa mendengar ucapan Ricko barusan membuat dada Shinta serasa sesak dan oksigen yang masuk ke dalam paru-parunya seolah terhenti begitu saja.
"Jadi rumah ini pemberian dari Rian Mahendra". Gumam Shinta sangat terkejut dengan apa yang di dengarkan itu.
Perlahan-lahan langkah Shinta mundur dengan sendirinya, wanita itu merasa kecewa dengan kenyataan yang baru saja dia tahu itu ternyata Ricko bersedia menikahi dirinya hanya untuk mendapatkan rumah mewah yang akan mereka tempati ini.
Dan dia juga tak kalah kecewa kepada suami dari sahabatnya Rian Mahendra yang tega menghancurkan masa depan dan harga dirinya dengan demi keutuhan rumah tangganya sendiri, ini sungguh tidak adil bagi Shinta, tidakkah ada cara lain untuk menghentikan rencana Maira untuk menikahkan Rian dengan dirinya.
"Ya, tentu saja dia dengan mudahnya mau menikah denganku dan dengan mudahnya mampu memiliki rumah semewah ini, dia sedang memperdagangkan harga diriku ternyata dan itu semua akan mudah jika ada ikut campur tangan dari Rian Mahendra". Ujar Shinta lagi dengan air mata yang tak dapat dia hentikan mengalir dari sudut matanya.
Padahal Shinta sudah membuang jauh-jauh pikiran buruknya itu apalagi ketika Ricko mau memenuhi keinginan memiliki rumah sendiri bahkan wanita itu ingin berterimakasih kepada suaminya itu namun apa yang di tahu sangatlah melukai hati dan perasaannya namun untuk mengakhiri ini semua sekarang bukanlah pilihan yang akan dia lakukan karena dia ingin membalas perbuatan keluarga Mahendra dan juga Ricko kepada dirinya.
"Jadi kalian ingin bermain-main denganku, baiklah mari kita memainkan permainan ini hingga di garis finish". Gumam Shinta lagi.
__ADS_1
...----------------...