
"Annabelle". Ujar Dewantara lirih dengan genangan air mata di sudut matanya.
Saat dua pasang mata saling bertemu maka suami serasa berhenti disitu baik Anna maupun Dewantara sama-sama tidak bisa mengalihkan pandangan mereka dari satu sama lain, jelas Dewantara sangat bahagia karena akhirnya bertemu dengan Anna karena selama ini rasa bersalah yang menghantuinya kepada Anna jauh lebih besar dari pada kepada Maira sehingga dia harus minta maaf atas kesalahan yang telah dia lakukan.
Anna juga sama sekali tidak bisa menggerakkan seluruh anggota tubuhnya, ingin rasanya dia melangkahkan kakinya sejauh mungkin namun kaki tersebut seolah mati rasa seketika itu juga. Nyatanya Anna masih saja berada di situ dan menatap Dewantara tanpa hentinya, entah apa yang ada di pikiran dan di hatinya karena isi pikiran dan isi hatinya seolah saling berlawanan satu sama lain.
"Annabelle". Desah Dewantara lagi namun pandangan saat ini menyusuri seluruh tubuh Anna untuk memastikan jika dia tidak salah melihat jika Anna benar-benar sedang berada di hadapannya saat ini.
Namun pandangan Dewantara langsung berhenti di perut buncit Anna yang terlihat begitu jelas jika wanita itu tengah mengandung. Dewantara menatap tak percaya bahkan menatap mata Anna dengan penuh tanda tanya seolah dia membutuhkan jawaban namun untuk bertanya lidah nya serasa kelu dan tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.
Anna yang menyadari jika Dewantara yang terus memperhatikan perut dengan dengan tatapan yang penuh tanda tanya langsung tersadar dan melangkahkan kakinya melewati Dewantara dan meraih tangan Maira untuk segera meninggalkan tempat tersebut.
"Maira, ayo kita pulang". Ujar Anna yang membuyarkan lamunan Maira yang sejak tadi memperhatikan Anna dan Dewantara yang saling menatap satu sama lain dengan penuh makna itu.
"Ba-baiklah". Jawab Maira kemudian mengikuti langkah Anna yang berada di sampingnya.
Namun Dewantara yang sudah tidak mau lagi kehilangan Anna itu langsung bergegas menyusul mereka dan menarik tangan Anna. "Annabelle, jangan menghindar dariku". Ujarnya tegas seolah dia harus tahu yang sebenarnya terjadi.
Anna berusaha menarik tangannya untuk pergi dari sana namun kekuatannya kalah jauh bila di bandingkan dengan kekuatan genggaman Dewantara sehingga hal yang dia lakukan itu sia-sia saja. Sedangkan Maira kembali menatap tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi di hadapannya itu.
"Lepaskan aku tuan, aku harus segera pulang". Ujar Anna kali ini tanpa menatap ke wajah Dewantara. "Maira, aku mohon antarkan aku pulang aku sudah sangat kelelahan dan butuh istirahat". Sambung Anna lagi mencoba meminta bantuan kepada Maira.
"Apa?, kamu kelelahan?, ya sudah ayo kita pulang". Jawab Maira yang paling tidak bisa mendengar Anna mengeluh karena dia sangat khawatir dengan kondisi kandungan Anna.
__ADS_1
Namun langkah mereka tetap tidak bisa di lanjutkan karena Dewantara tetap tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Anna.
"Aku akan mengantarkan kalian karena aku tidak mau jika terjadi sesuatu kepadamu". Ujar pria itu tegas.
"Baiklah, aku setuju". Jawab Maira tanpa pikir panjang padahal Anna sedang mencoba menghindar dari Dewantara.
"Tidak perlu, aku bisa pulang bersama Maira saja". Ucap Anna tegas menolak ajakan Dewantara.
"Kamu hanya akan pulang jika aku yang mengantarkannya Annabelle atau mungkin kamu ingin kita tetap berada di sini saja". Jawab Dewantara tak kalah tegas sehingga membuat nyali Anna menciut namun dia masih tetap pada pendiriannya. Jangan tanya bagaimana ekspresi wajah Maira dengan apa yang dia lihat di hadapannya saat ini, tentu saja dia merasa sangat kebingungan bahkan untuk bertanya saja dia sudah tidak bisa.
"Lepaskan aku tuan, aku lelah dan ingin segera beristirahat jadi jangan mengajakku untuk berdebat di tempat umum seperti ini".
"Tunggu sebentar". Dewantara kemudian memanggil salah satu petugas kesehatan yang berada di sana agar membawakan sebuah kursi roda untuknya namun tetap saja genggaman tangannya tidak pernah dia lepaskan dari tangan Anna, rupanya pria itu benar-benar tidak akan membiarkan Anna pergi kemanapun tanpa dirinya.
"Tidak, aku tidak membutuhkan itu, aku masih bisa berjalan sendiri". Tolak Anna tegas.
"Tadi kamu mengatakan jika kamu kelelahan jadi cepat naik karena aku tidak mau terjadi sesuatu pada kandunganmu". Titah Dewantara lagi.
"Mas Dewa benar An, sebaiknya kamu duduk di kursi roda agar kandunganmu tidak kenapa-kenapa". Timpal Maira polos bahkan wanita itu tidak tahu jika Anna mengatakan kelelahan hanya untuk menghindar dari Dewantara saja. Sungguh Anna mengutuk kepolosan Maira saat ini.
"Aku tidak mau". Tolak Anna tegas lagi.
Dewantara tahu jika akan sia-sia jika terus berdebat dengan wanita itu karena Anna pasti akan tetap mempertahankan pendapatnya sehingga membuat Dewantara yang malas berdebat itu langsung menggendong tubuh Anna dan membawanya menuju parkiran.
__ADS_1
Ketika tubuh Anna dan Dewantara menyatu dalam sebuah pelukan dan terasa sangat dekat bahkan Anna bisa merasakan detak jantung Dewantara, entah mengapa wanita ith merasa kenyamanan yang luar biasa namun dia tidak ingin terbawa suasana apalagi sampai Dewantara menyadari akan hal itu sehingga dia tidak Terima tubuhnya di gendong oleh pria itu.
Dewantara sendiri merasa sangat bahagia karena bisa menggendong tubuh Anna dan merasakan lagi bagaimana kehangatan yang di salurkan oleh tubuh yang teramat di rindukannya itu bahkan dia tidak peduli saat Anna terus memukuli dadanya dengan pukulan yang lumayan keras.
Jangan berpikir Anna tidak melakukan pemberontakan meskipun Dewantara tidak pernah meresponnya namun pemberontakan yang dia lakukan sia-sia saja tentu karena kekuatannya yang tidak sebanding dengan kekuatan Dewantara.
"Jangan banyak bergerak Annabelle, apa kamu mau jatuh dan terjadi sesuatu dengan anak kita". Ancam Dewantara.
Bukan Ancaman dari Dewantara yang membuat Anna terkejut namun pernyataan Dewantara yang tanpa ragu mengakui jika bayi di dalam kandungannya itu sebagai anaknya tanpa bertanya dan mencari tahu terlebih dulu lah yang membuat Anna sampai kehabisan kata-kata.
Jangan tanya dimana keberadaan Maira saat ini karena wanita itu masih setia dengan kebingungannya menghadapi situasi yang sangat teramat membuatnya terkejut itu sehingga kakinya saja sangat enggan dia langkahkan dan dia masih mematung di tempatnya menatap punggung Dewantara yang semakin menjauh dengan Anna di dalam gendongannya, Anna sendiri mengutuk setiap tindakan wanita itu karena Maira yang di harap sebagai penyelamatnya justru tidak bisa dia andalkan sedikitpun.
"Turunkan aku kalau tidak aku akan berteriak dan orang-orang akan menganggap mu sebagai penculik". Ancam Anna kalah.
"Berteriak lah sesukamu jika kamu tidak malu dengan dirimu dan anakmu, kamu bukan anak kecil lagi tapi calon ibu dari anak kecil, ingat itu". Jawab Dewantara santai dengan masih melanjutkan langkahnya.
"Aku tidak peduli aku tetap akan berteriak". Seru Anna dan Dewantara langsung menghentikan langkahnya. Anna pikir jika misinya telah berakhir dan dia bisa terlepas dari Dewantara namun nyatanya Dewantara justru tersenyum penuh makna kearah Anna dengan tatapan yang dia fokuskan ke bibir mungil wanita itu.
"Jika kamu berani berteriak aku akan membungkam bibirmu itu dengan caraku". Ujarnya dengan tatapan yang sangat mudah di artikan oleh Anna sehingga wanita itu langsung menutup bibirnya menggunakan kedua tangannya.
Dewantara kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju mobilnya dengan senyum penuh kemenangan karena dia sudah tahu cara agar Anna tunduk kepadanya.
...----------------...
__ADS_1