Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 21


__ADS_3

"Jadi kamu menginginkan aku mati ya?". Tanya Rian tegas.


"Tu-tuan!". Seru Maira.


"Jawab pertanyaan ku". Sentak Rian.


"Hei, jangan berteriak di mimpiku, ini daerah kekuasaanku jadi jangan macam-macam denganku di sini ya tuan".


"Mimpi?". Tanya Rian bingung.


"Jadi dia mengira jika dia sedang bermimpi, baiklah kalau begitu mari bermain-main sebentar Maira". Batin Rian dengan ide nakal di benaknya.


"Baiklah aku tidak akan membentak mulai, aku justru akan membelai mu". Ujar Rian sambil membelai mesra rambut Maira dan mendekati wanita itu di atas ranjang untuk duduk di samping Maira.


"Tuan, coba saja setiap hari anda lembut seperti ini padaku, aku pasti akan langsung jatuh cinta padamu". Ujar Maira polos.


"Benarkah?".


"Tentu saja, apalagi kalau anda sering-sering tersenyum seperti ini". Jawab Maira sambil menarik dia sisi bibir Rian agar pria itu tersenyum.


Keadaan mereka yang sangat dekat itu membuat jantung Maira berdetak dengan sangat kencang, wanita itu merasakan ada perasaan aneh dalam dirinya padahal dia masih meyakini dirinya jika saat itu dia sedang bermimpi. Begitu juga dengan Rian, pria itu buka hanya merasa deg-degan tapi juga kembali merasakan tersiksa nya junior yang memberontak di bawah sana untuk kedua kalinya akibat ulah Maira.


Diluar dugaan ternyata Maira bukannya menghindari atau menjauh saat posisi mereka sedekat itu namun wanita itu justru semakin mendekatkan wajahnya kearah Rian sambil tersenyum nakal.


"Tuan, aku belum pernah berciuman bagaimana jika aku mencium anda sekali saja". Ujar Maira nakal.


Cup..

__ADS_1


Entah bagaimana penyatuan bibir sekilas itu bisa terjadi begitu saja namun yang pasti bukan Rian yang memulai karena pria itu bahkan sangat terkejut dengan apa yang terjadi. Ingin sekali Rian mengulang apa yang terjadi barusan namun dia segera tersadar jika ini adalah sebuah kesalahan besar sehingga dengan spontan dia menyentil kening Maira.


Pletak..


"Aws". Ringis Maira sambil menggosok keningnya yang terasa nyeri itu. "Kenapa menyentil keningku tuan?". Tanyanya kesal.


"Aku akan memesankan makanan untukmu, kamarku ada di sebelah kamarmu jika kamu membutuhkan sesuatu hubungi saja pihak hotel atau pada pengawal". Ujar Rian mencoba mengatur suasana senormal mungkin padahal yang terjadi adalah dia sedang merasakan ketegangan yang luar biasa. Rian pergi meninggalkan Maira begitu saja tanpa menunggu Maira merespon ucapannya karena dia harus segara menuju kamar mandi untuk menetralkan juniornya.


"Sakit". Gumam Maira kemudian dia membulatkan matanya karena sadar jika dia sedang tidak bermimpi.


Maira melihat sekelilingnya dan menyadari jika dia sedang berada di atas ranjang kamar hotel. Maira kemudian langsung menggelengkan kepalanya beberapa kali dan berteriak sekuat tenaga. "Tidak". Seru Maira.


Maira menyembunyikan seluruh tubuhnya sampai batas kepala berusaha sebaik mungkin untuk bersembunyi karena malu dengan tingkah konyolnya yang tanpa sengaja merendahkan harga dirinya sendiri.


"Oh ya ampun Maira, apa yang kamu lakukan, memalukan sekali, rasanya aku ingin sekali pulang ke Indonesia sekarang juga ya Tuhan". Gumam Maira bahkan sampai mengeluarkan air mata karena menyadari jika ciuman pertamanya terjadi dengan sangat memalukan.


Sementara itu di kamar sebelah, Rian yang sedang berendam air panas untuk menetralkan sesuatu yang tegang dalam dirinya selalu terbayang-bayang bagaimana Maira menciumnya tadi, meskipun itu hanyalah sebuah ciuman sekilas namun entah kenapa Rian sangat terkesan dengan penyatuan bibir mereka berdua. Hangat dan lembut itulah yang Rian deskripsikan tentang penyatuan bibir itu.


Rian memejamkan mata dan menarik napas panjang untuk membuang segala pikiran kotor yang menghantui isi otaknya. Dia membayangkan andai saja dia memanfaatkan kepolosan Maira tadi mungkin saat ini mereka sedang berbagi kenikmatan di atas ranjang apalagi di saat cuaca dingin seperti saat ini yang sangat mendukung suasana tersebut.


Namun Rian teringat akan sesuatu yaitu kata-kata Maira sebelum dia mencium pria yang menjadi bosnya itu.


"Tuan, aku belum pernah berciuman bagaimana jika aku mencium anda sekali saja".


Rian membuka matanya dan mencoba mencerna apa yang di ucapkan oleh Maira tadi. "Apa maksudnya dia tidak pernah berciuman?". Tanya Rian bingung.


"Apa jangan-jangan Dewantara tidak pernah menyentuh istrinya itu?". Tanya Rian lagi pada dirinya.

__ADS_1


"Tapi apa mungkin?, bukankah pria itu adalah pemain yang sangat handal". Gumam Rian sambil tersenyum kecut mengingat adegan ranjang Dewantara bersama Ayuna satu tahun yang lalu.


Rasa sakit yang begitu dalam masih saja terasa jelas di hati Rian bahkan sampai saat ini atas pengkhianatan yang di lakukan oleh Ayuna dan Dewantara, bukan karena dia masih mencintai wanita cantik itu namun karena rasa percayanya yang begitu dalam yang dia berikan kepada Ayuna dengan mudahnya di khianati oleh wanita itu bahkan dengan musuhnya sendiri.


Tiba waktu makan malam, Rian berniat mengajak Maira untuk makan malam di luar karena selain ingin membuat suasana di antara mereka tidak canggung lagi, Rian juga ingin menunjukkan kepada Maira jika apa yang terjadi tadi siang dia antara mereka tidaklah berarti apa-apa untuknya karena bagaimanapun Rian tidak ingin membuat Maira terkesan dapat menaklukkan dirinya yang selama ini sangat anti pada seorang wanita itu.


Rian memencet bel kamar Maira beberapa kali namun wanita itu sama sekali tidak memunculkan batang hidunganya sedikitpun, padahal dari dalam kamar Maira dapat melihat jelas jika bosnya itu sedang berdiri tepat di depan pintu kamarnya.


"Tuan, untuk apa anda kemari?, aku sedang tidak mau bertemu dengan anda, aku sangat malu tuan". Ujar Maira sambil mengintip Rian beberapa kali dari lubang di pintu kamarnya. Maira sengaja tidak membuka pintu kamar itu agar Rian segera pergi dari sana dan mengira jika dia sudah tidur.


Rian yang merasa kesal karena Maira tidak kunjung membuka pintu akhirnya memutuskan untuk menghubungi Maira, namun hasilnya tetap nihil karena wanita itu juga tidak merespon panggilannya sehingga hal itu membuat Rian khawatir d ngan keadaan Maira.


Dalam keadaan khawatir itu Rian berinisiatif untuk mengancam Maira karena dia tahu jika sekretarisnya itu sangat takut padanya sehingga dia pasti merespon jika Rian sudah mengancamnya.


"Cepat keluar atau aku akan memecat mu sekarang juga dan meninggalkan mu di sini sendirian". Sebuah pesan singkat yang di tulis Rian kemudian dia mengirimkannya kepada Maira.


Banar saja Maira yang berada di dalam kamar dan membaca pesan itu langsung ketakutan dan berlarian menuju pintu kamarnya dan membukakan pintu untuk bosnya itu.


"Jangan pecat saya tuan, maaf saya ketiduran tadi". Seru Maira bahkan dia tidak menyadari jika penampilannya sangat berantakan akibat menangisi nasib ciuman pertamanya yang memalukan itu.


Rian yang sedang kesal itu menatap tak percaya dengan penampilan berantakan Maira saat ini sehingga dia melihat Maira dari ujung kaki sampai ujung kepala, karena biasanya wanita itu selalu tampil rapi dan modis.


Maira juga mengikuti arah pandangan Rian dan menyadari jika penampilannya sangatlah berantakan sehingga dia kembali berinisiatif untuk masuk ke kamarnya lagi dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat karena rasa malu yang kedua kalinya dia lakukan hati ini.


Namun dengan sigap Rian menahan pintu tersebut dengan tangan kokohnya dan menyelinap masuk ke kamar Maira.


"Tunggu". Seru Rian.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2