
Dari kejauhan Maira menatap bahagia kearah Anna yang sedang di kelilingi oleh orang-orang yang sangat mencintainya dan berbahagia atas kelahiran putra pertamanya. Pancaran cinta yang luar biasa jelas terlihat dari Dewantara yang memperlakukan Anna layaknya seorang ratu. Maira tersenyum ketika membayangkan jika posisi Anna saat ini di gantikan olehnya, pasti Rian juga akan sebahagia Dewantara saat ini.
Maira benar-benar melamun dan membayangkannya ternyata bahkan dia tidak menyadari Rian yang sedari tadi menyapanya. Pria itu sampai heran mengapa istrinya itu tidak merespon kehadirannya karena mereka memang tidak datang bersama ke rumah sakit, Rian baru menyusul Maira ke rumah sakit saat dia pulang dari kantor.
"Heem bahagianya aku akhirnya aku bisa menjadi ibu sama seperti Anna". Batin Maira sambil memejamkan matanya namun sepersekian detik kemudian dia di kejutan oleh sentuhan lembut di tangannya yang tiba-tiba di genggam oleh suaminya Rian.
"Mas kamu di sini?". Tanya Maira kemudian melihat ke depan dimana yang terbaring di atas ranjang bersama bayi mungil bukanlah dirinya melainkan Anna.
"Pertanyaan macam apa itu sayang, tadi kamu yang meminta ku menyusul mu ke rumah sakit jadi tentu saja aku di sini sekarang". Jawab Rian heran.
"Ah Ya, maaf mas aku tadi aku melamun jadi tidak sadar jika kamu sudah tiba di sini".
"Melamunkan apa?". Tanya Rian penuh selidik.
"Rahasia, susah jangan di pikiran ayo kita bertemu Anna dan melihat bayinya yang sangat tampan itu". Jawab Maira langsung menarik tangan Rian untuk masuk ke dalam ruang rawatan Anna.
Maira sangat telaten bahkan cenderung lebih bisa menggendong bayi di bandingkan dengan Anna, entah bagaimana dia tahu dan dari mana dia belajar namun yang pasti semua orang takjub akan kelihaian Maira dalam memperlakukan dan mengurus bayi dengan baik dan benar, tapi jika semua orang kagum Rian justru khawatir namun dia tidak tahu mengapa dia justru khawatir melihat sang istri seperti sudah sangat siap memiliki bayinya sendiri.
Di dalam ruang rawat Anna sangat lah ramai dan semua bersuka cita akan kelahiran putra pertama Anna, hal yang tidak dia bayangkan oleh wanita itu sebelumnya jika anaknya akan di sambut dengan penuh suka cita dan mendapatkan banyak kasih sayang serta perhatian dari semua orang karena Anna pernah membayangkan jika dia akan menghadapi semuanya sendirian tanpa seorangpun di sisinya.
Mereka juga bahkan berebut ingin memberikan nama untuk sangat bayi tampan itu, tentu saja perdebatan sengit kembali terjadi di antara mereka semua kecuali Anna yang hanya pasrah saja dan juga Rian yang tampak sedang memikirkan sesuatu namun tidak pasti apa yang ada di dalam isi kepala pria itu.
"His diam semuanya, terutama kamu". Seru Dewa sambil menunjukkan ke arah Shinta karena memang suaranya yang paling dominan di antara mereka semua. "Suaramu yang melengking itu sangat menganggu putraku, kalian semua tidak perlu repot-repot memikirkan nama untuk putraku karena aku sudah menyiapkannya jauh-jauh hari". Sambung Dewa lagi dengan angkuh.
"Cih, sombong sekali daddy mu ini nak, dengarkan aunty kamu tidak boleh mewarisi sifatnya itu". Jawab Shinta kesal.
"Hei jangan bicara seperti itu, dia pasti akan bangga mempunyai daddy setampan aku". Lagi-lagi perdebatan tak terelakkan antara Dewa dan juga Shinta.
"Sudah cukup mas, perdebatan kalian membuat aku pusing saja, katakan saja siapa nama yang sudah kamu siapkan itu". Ujar Anna sudah jenuh mendengarkan perdebatan demi perdebatan sejak dia mau melahirkan tadi.
__ADS_1
"Hehe,maaf sayang, Kaisar Dewana, itu nama putraku, bagaimana apa kamu menyukainya?". Ucap Dewa lantang sambil bertanya kepada Anna.
Mendengar nama yang di sebutkan oleh Dewantara semua orang yang berada di ruangan tersebut sangat menyukainya fan langsung menyetujui nama tersebut, begitu juga dengan Anna, dia merasa nama itu memang cocok untuk putranya.
"Ya mas, aku suka nama itu". Jawab Anna sambil tersenyum kearah bayi yang sedang berada di gendongannya. "Hai Kaisar, nama kamu Kaisar sayang". Ujar Anna lembut pada bayinya. Dalam tidurnya Kaisar memberi respon dengan menarik sudut bibirnya sedikit dan itu adalah respon yang sangat menggemaskan bagi semua orang yang menyambut baby Kaisar penuh suka cita.
...----------------...
"Hah, Anna memang sangat beruntung ya mas". Ujar Maira ketika dia dan Rian sedang berjalan di loby rumah sakit menuju kantin untuk mengisi perut Maira yang sejak tadi di biarkan kosong karena wanita itu tidak mau meninggalkan Anna dan Kaisar walau sebentar saja.
"Iya sayang". Jawab Rian singkat.
"Setelah ini semoga kita akan segera punya baby juga ya mas". Ujar Maira penuh harap.
"Aamiin".
"Mas, mumpung kita di rumah sakit ayo kita lakukan pemeriksaan". Ajak Maira penuh semangat.
"Iya mas karena kalau kita rencanakan pasti selalu saja gagal karena kamu selalu sibuk di kantor".
"Emmh".
"Ayolah mas". Bujuk Maira.
"Baiklah". Ujar Rian akhirnya menyetujuinya.
"Ya sudah ayo".
"Hei sayang, kamu makan dulu kamu kan lapar sejak tadi belum makan".
__ADS_1
"Oh iya, aku sampai lupa. Ya sudah setelah makan kita menemui dokter ya mas".
Setelah sepakat untuk melakukan pemeriksaan Rian dan Maira langsung menuju kantin untuk mengisi perut mereka, Maira bahkan makan dengan sangat cepat sangking tidak sabarnya untuk bertemu dokter sehingga membuat Rian menggeleng-gelengkan kepalanya.
Pemeriksaan yang mereka lakukan adalah pemeriksaan secara lengkap termasuk darah sehingga dokter kandungan tidak langsung menjadi tujuan mereka. Setelah melakukan pemeriksaan secara keseluruhan dokter dan petugas kesehatan menjelaskan jika hasilnya akan keluar tiga hari kemudian lalu barulah mereka akan di konsultasi kan dengan dokter kandungan untuk pemeriksaan lebih lanjut dan lebih spesifik lagi.
Dan masa tiga hari tersebut seolah berjalan lambat bagi Maira karena dia benar-benar penasaran dengan hasil yang akan di dapatkannya nanti. Bahkan dia tidak tenang siang dan malam hanya karena hasil pemeriksaan itu, hal sebaliknya justru terjadi kepada rian, pria itu seolah tidak sedang terjadi apapun, pria itu sama sekali tidak memikirkan tentang pemeriksaan tersebut.
Hari dimana hasil pemeriksaan itu keluar Maira bahkan tidak mengizinkan suaminya untuk pergi ke kantor karena pagi-pagi sekali wanita itu telah bersiap-siap dan mengajak rian untuk menuju ke rumah sakit.
"Sayang hasil pemeriksaan itu tidak akan lari hanya karena kita datang terlambat kan?". Tanya Rian tak percaya dengan siap Maira.
"Mas kamu tidak tahu betapa aku sangat penasaran dengan hasilnya". Jawab Maira cuek.
"Tapi ada rapat penting hari ini jadi biarkan aku ikut rapat tersebut sebentar saja setelah itu kita langsung ke rumah sakit, bagaimana?". Tanya Rian sebisa mungkin sabar menghadapi sikap istrinya itu.
"Tapi mas-".
"Maira aku juga penasaran dengan hasilnya tapi bukan berarti kita harus stress hanya karena hasil pemeriksaan itu dan hanya karena kamu belum juga hamil, sayang kita bahkan menikah belum satu tahun". Ujar Rian lembut agar Maira mau mengerti.
Maira akhirnya mengalah dan membiarkan Rian mengikuti rapatnya terlebih dulu meskipun dia juga harus ikut kemanpun Rian pergi karena dia takut jika Rian akan di sibukkan dengan aktivitas kantor lainnya. Namun kali ini Rian membuktikan ucapannya, setelah rapat dia langsung membawa Maira menuju rumah sakit tanpa mempedulikan pekerjaan lainnya.
"Sayang tunggu dulu". Rian menarik tangan Maira saat Maira hendak turun dari mobil setibanya mereka di rumah sakit.
"Kenapa mas?". Tanya Maira penasaran.
"Bagaimana jika ada masalah dengan diriku?". Tanya Rian karena harus dia akui jika masa lalunya bukanlah masa lalu yang baik, dia bahkan hampir setiap malam berada di klub untuk minum-minum bersama teman-temannya sedangkan Maira adalah wanita baik-baik bahkan dia sangat menjaga kehormatannya selama ini tentu saja masalah tidak akan muncul dari diri Maira.
Maira menghela kan napasnya mendengar pertanyaan suaminya itu. "Mas tidak akan ada yang berubah di antara kita, aku akan tetap ada di sampingmu. Kita melakukan pemeriksaan ini justru untuk mendapatkan jawaban dan mencari solusi bersama-sama". Jawab Maira bijak.
__ADS_1
"Terimakasih sayang". Rian memeluk Maira dengan sangat erat dan mencari kenyamanan dan ketenangan di sana karena entah mengapa sekarang justru dia merasa tidak siap dengan hasil pemeriksaannya sendiri.
...----------------...