
"Shin". Maira menarik tangan Shinta namun Shinta langsung menghempaskan pegangan itu. "Tunggu dulu jangan marah seperti ini aku melakukan ini semua juga demi kebaikan kamu sendiri agar kamu tidak merasakan apa-". Perkataan Maira itu terpotong saat Shinta mengangkat tangan dan mengisyaratkan Maira untuk diam.
"Cukup Ra". Sentak Shinta. "Ini semua demi kebaikan aku atau kebaikan kamu sendiri hah?". Sambung Shinta lagi.
Keributan di koridor rumah sakit itu juga turut menyita perhatian Anna dan Dewantara yang saat itu baru saja tiba di rumah sakit, hari itu mereka memang sudah ada janji dengan dokter untuk melakukan imunisasi kepada banyak Kaisar. Rian dan Ricko yang sedang mencari keberadaan Maira dan Shinta juga ikut mencari sumber suara itu sehingga seperti sebuah kesengajaan mereka semua berkumpul di tempat yang sama hari itu.
"Aku bukan anak kecil yang tidak tahu apa-apa Ra, aku tahu selama ini rencana konyol yang sedang kamu jalani tapi mencoba untuk pura-pura tidak tahu untuk menjaga perasaanmu dan berharap kamu bisa sadar suatu saat nanti, Maira sadarlah jika ini semua salah, jika kamu ingin memiliki anak bukan seperti ini caranya". Seru Shinta dengan emosi yang meluap-luap bahkan semua yang sudah hadir di sana tidak berani ikut campur dalam keributan yang terjadi antara kedua sahabat itu.
"Shin, aku memang salah tapi setidaknya kita sama-sama bisa saling membantu dan saling membutuhkan, kamu belum memiliki kekasih dan ingin segera menikah sedangkan aku sudah menikah dan ingin segera memiliki anak jadi aku rasa tidak ada salahnya jika kamu menjadi istri kedua mas Rian dan mewujudkan keinginan kami untuk memiliki anak dan kami mewujudkan keinginan kamu untuk segera menikah". Jawab Maira tak kalah lantang.
Deg....
Rian, Ricko, Anna dan Dewantara benar-benar tidak menyangka jika hal itu yang akan mereka dengar dan keluar dari mulut Maira terutama Rian yang selama ini mencoba berpura-pura tidak tahu sama seperti Shinta.
Plaaak...
Sebuah tamparan keras melayang di pipi Maira bahkan bekas tamparan itu jelas tergambar di pipi putih mulusnya itu. Bukan Rian yang melakukannya namun Shinta, ya wanita itu sudah cukup bersabar selama ini namun apa yang dia dengar barusan sudah tidak dapat dia toleransi lagi. Semua orang kembali terkejut dengan apa yang mereka lihat terutama Anna yang tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi di antara Maira dan Shinta.
__ADS_1
"Hidup bukan hanya sekedar tentang apa yang kita inginkan Ra, hidup juga tentang perasaan dan kebahagiaan, apa kamu pikir dengan rencana konyol ini aku, kamu dan mas Rian akan bahagia hah?, apa kamu tega mempermainkan perasaan kami hanya untuk obsesi mu itu?, aku sangat kecewa padamu Ra, aku bahkan tidak kenal lagi dengan Maira yang berdiri di hadapanku saat ini, aku pikir tahta dan harta tidak akan bisa mengubah seorang Maira namun nyatanya Maira ku tetaplah hanya manusia biasa yang bisa berubah kapan saja, mulai saat ini tolong jangan tunjukkan lagi wajahmu di hadapan ku".
Ujar Shinta lirih kemudian langsung pergi sambil menghapus air matanya.
Tidak ada yang membenarkan tindakan Maira kali ini termasuk Rian sehingga meskipun dia tidak tega istrinya di tampar dengan sangat keras oleh Shinta namun dia tidak bisa melakukan apapun karena memang kali ini Maira harus di sadarkan. Shinta pergi setengah berlari di susul oleh Ricko yang di perintahkan oleh Rian untuk mengikuti wanita itu karena Rian tidak mau terjadi hal yang tidak di inginkan kepada Shinta jika wanita itu di biarkan sendirian.
Dengan mengusap pipinya yang perih dan air mata yang mengalir di pipinya Maira melihat kearah Rian dengan wajah yang memelas berharap Rian akan memaklumi sikapnya. "Ma-mas maksud aku baik, aku hanya ingin kamu segera memiliki keturunan-". Ujar Maira terbata-bata.
Dewantara dan Anna yang tidak tahu apa-apa hanya bisa diam mematung dan mencoba mencerna apa yang sedang terjadi saat ini, mereka bahkan merasa bersalah karena terlalu sibuk dengan baby Kaisar dan persiapan pernikahan mereka sehingga mereka mengabaikan Shinta.
"Apa tidak memiliki anak membuat kita tidak bisa bahagia Maira?. Apa aku pernah meminta mu jadi seperti ini atau seperti itu?. Apa aku pernah membanding-bandingkan mu dengan wanita lain yang bisa memiliki anak hah?". Tanya Rian lagi dengan emosi yang meluap-luap bahkan sampai membuat Anna sangat terkejut beruntung baby Maira tidur dengan sangat pulas sehingga tidurnya tidak terganggu.
" Tidakkah perjuangan cinta kita selama ini tidak berharga mu Maira, apa cintaku padamu tidak cukup besar sehingga kamu tidak bisa melihat jika hanya kamu satu-satunya wanita yang ku inginkan dengan atau tanpa adanya anak di antara kita. Aku mencintaimu dan kamu mencintaiku tidakkah bisa hidup bahagia dengan cinta kita saja tanpa harus mencari cinta dan menyakiti hati yang lainnya?". Tanya Rian dengan suara bergetar karena pria itu sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya. Jujur Maira sangat menyesal dengan apa yang telah dia lakukan apalagi hal itu sudah menyakiti pria yang sangat dia cintai dan juga sahabat yang yang sangat dia sayangi.
Suasana menjadi sangat emosional, bukan hanya Rian dan Maira saja yang tidak bisa menahan air mata mereka namun Anna juga ikut menitikkan air matanya, Dewantara sendiri sama sekali tidak mau ikut campur apalagi ambil pusing dengan masalah yang sedang di hadapi oleh pasangan suami istri itu sehingga dia ingin mengajak Anna untuk segera menjumpai dokter anak langganan mereka.
"Jawab aku Maira jangan hanya diam saja". Sentak Rian lagi membuat langkah Anna dan Dewantara kembali terhenti. "Apa kau sangat ingin aku menikah lagi hah?, baiklah aku akan menikah tapi kenapa harus dengan Shinta yang belum tentu bisa memberikan ku keturunan, bagaimana jika akau menikahi Anna saja yang sudah tentu bisa mengandung dan melahirkan mungkin saja hanya sekali aku dan Anna ber-". Teriak Rian namun ucapannya terpotong karena dia merasa perih yang luar biasa di salah satu pipinya dan disitulah awal mula kegaduhan akan terjadi.
__ADS_1
Buugrh...
Sebuah bogem mentah melesat dengan begitu cepat dan bersarang tepat di rahang Rian, siapa lagi yang melakukan hal tersebut jika bukan Dewantara yang tidak terima jika harga diri calon istri yang sangat dia cintainya itu di lukai oleh pria yang memang sangat dia benci itu. Rian sendiri sebenarnya tidak bermaksud melukai harga diri Anna namun emosi yang terlalu tinggi sehingga membuat dia tidak bisa mengendalikan ucapannya lagi.
"Mas". Seru Anna terkejut namun dia juga tidak bisa melakukan apapun karena dia sedang menggendong baby Kaisar.
"Aku tidak peduli kau sedang punya masalah atau tidak tapi jaga ucapanmu apalagi terhadap Anna karena jika tidak aku akan membunuhmu". Teriak Dewantara kemudian pria itu langsung menghajar Rian secara membabi buta tanpa bisa Rian melakukan perlawanan, pria itu seolah pasrah dengan setiap rasa sakit itu karena sakit di hatinya tidak sebanding dengan sakit yang di rasakan di tubuhnya.
Maira hanya bisa mematung melihat hal tersebut entah apa yang ada di benak wanita itu namun dia seperti orang yang sedang kebingungan dan tidak bisa melakukan apapun sampai Anna berteriak memanggil namanya.
"Maira, pisahkan mereka atau suamimu akan mati". Seru Anna kemudian barulah Maira melerai perkelahian itu.
"Mas, aku mohon hentikan, jangan pukul mas Rian lagi". Mohon Maira sambil menangis sehingga membuat Dewantara tidak tega dan melepaskan Rian dengan wajah yang sudah berlumuran darah itu, tentu saja Rian juga sudah tidak sadarkan diri.
"Jangan pernah lagi membawa-bawa Anna dalam urusan kalian atau kalian akan menyesal". Ancam Dewantara kemudian pria itu langsung menarik tangan Anna menuju parkiran, pria itu bahkan sudah melupakan tentang jadwal imunisasi baby Kaisar.
...----------------...
__ADS_1