Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 58


__ADS_3

Setelah selesai mendengarkan apa yang di ceritakan oleh tuan Dhika, baik Maira ataupun Rian sama sekali tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun hanya ekspresi kesedihan di wajah kedua yang terlihat jelas abaikan mereka juga kompak menyeka air mata yang terjatuh di wajah mereka tanpa mereka sadari.


Maira langsung bangkit dari sofa dan menuju kamarnya begitu juga dengan Rian. Tuan Dhika tahu betul jika bagaimanapun cerita masa lalu akan mempengaruhi kondisi mental keduanya meskipun keduanya tidak menunjukkannya secara langsung.


Satu bulan berlalu setelah mengetahui semua kenyataan yang terjadi di masa lalu dan selama itu pula baik Maira ataupun Rian sudah tidak lagi saling menyapa, bertemu bahkan saling peduli lagi. Ya, seharusnya saat ini mereka sudah menjadi pasangan suami istri yang sedang berbahagia dengan pernikahan yang mereka impikan namun nyatanya masa lalu telah mengubah segalanya.


Bukan cinta mereka yang telah memudar atau hati mereka yang telah goyah akan perasaan yang mereka rasakan saat ini namun baik Maira ataupun Rian terus mengutuk dan menyalahkan diri mereka sendiri akan hal yang terjadi di masa lalu. Rian menganggap kehadiran dirinya di tengah-tengah keluarga Mahendra sebagai penyebab Maira harus kehilangan mamanya dan harus berpisah dengan tuan Dhika selama bertahun-tahun lamanya sedangkan Maira sendiri menganggap bahwa papanya sebagai penyebab pria yang sangat di cintainya itu kehilangan kedua orang tuanya sekaligus sehingga dia juga turut merasa bersalah atas apa yang di alami oleh Rian.


Jika ada yang bertanya dimana keberadaan mereka saat ini maka jawabannya adalah mereka berada di negara yang berbeda, saling menjauh dan menghilangkan jejak satu sama lain meskipun rindu tengah menghantui hati keduanya. Maira memutuskan untuk melanjutkan studinya ke luar negeri dan hal itu dengan sangat terpaksa harus di setujui oleh tuan Dhika dimana beliau harus kembali terpisah jarak dengan sang putri namun untuk melarang Maira sungguh tuan Dhika juga tidak mampu apalagi dia tahu betul alasan Maira meskipun Maira tidak mengatakan alasan apapun kepadanya.


Sedangkan Rian juga pergi keluar kota dan mengatakan kepada sang papa yang telah merawatnya dengan sangat baik sejak dia masih kecil itu jika dia ingin mengembangkan bisnisnya secara mandiri dan mendirikan perusahaannya sendiri agar dia lebih bisa mengasah kemampuannya lagi dan tentu saja tuan Dhika juga tahu betul jika itu semua hanyalah alasan belaka dari Rian saja.


Namun yang membuat tuan Dhika tidak habis pikir adalah kedua insan yang saling mencintai itu tidak pernah lagi membahas tentang satu sama lain atau bahkan sekedar ingin tahu kabar berita satu sama lain. Mereka seolah tidak pernah aling kenal dan tidak pernah saling mencintai bahkan nyaris hampir menikah.


Setiap kali tuan Dhika ingin membahas tentang Rian kepada Maira ketika mereka melakukan komunikasi jarak jauh maka Maira selalu mengalihkan pembicaraan bahkan Maira juga pernah berdalih jika dia harus segera memasuki kelasnya. Tidak jauh berbeda dengan Maira, Rian juga melakukan hal yang sama karena meskipun mereka berjauhan dengan sang papa namun mereka akan rutin setiap harinya menghubungi pria paruh baya itu untuk sekedar menyapa dan bertukar kabar.

__ADS_1


Dengan semangat dan kemampuan yang dia miliki, Rian berhasil menjadi pengusaha muda dan terbilang cukup sukses sebagai pemula hal itu tentu saja di dukung dengan semua fokus di hidupnya yang hanya di prioritaskan kepada pekerjaannya karena hanya dengan giat bekerja dia akan bisa melupakan Maira dan juga segala kerinduan di hatinya kepada sang pujaan hati.


Sama halnya dengan Rian, Maira dalam kekosongan hatinya setelah meninggalkan Rian dan juga semua kenyataan masa lalunya memiliki kehidupan yang sangat hambar di luar negeri namun studi yang sedang dia tempuh berjalan dengan sangat mulus apalagi dengan kecerdasan yang di miliki oleh wanita itu. Dia juga mulai beradaptasi dengan lingkungan sekitar meskipun dia tidak memiliki banyak teman di sana karena dia lebih suka menyendiri dan menyibukkan dirinya dengan berbagai macam buku-buku pelajaran.


Namun suatu hari wanita itu sangat di kejutkan dengan sesosok wanita yang sangat di kenalnya bahkan sangat di cari-carinya selama ini yang terlihat oleh mata kepalanya sedang berjalan di seberang jalan tak jauh dari tempat dia sedang berdiri. Maira beberapa kali memanggil nama wanita itu namun nyatanya wanita itu tidak dapat mendengarkan Maira karena banyaknya kendaraan yang melintas di jalan sehingga Maira harus berusaha mengejar langkah kaki wanita yang berjalan secara peralatan itu dan dia sangat yakin jika kali ini dia bisa bertemu secara langsung dengan wanita itu.


"Annabelle". Seru Maira dengan suara lantang dan wanita yang ternyata adalah Anna itu langsung menghentikan langkahnya seketika ketika mendengar suara yang sangat karab di telinganya.


Anna membalikkan tubuhnya dan melihat Maira tepat berdiri di hadapannya. "Nona Maira". Ujar Anna dengan suara bergetar.


Maira menatap perut buncit Anna dengan tatapan penuh tanda tanya sehingga Anna sendiri juga ikut melihat kearah perutnya yang sudah sangat jelas tergambar jika dia sedang berbadan dua.


"Nona, aku-". Ujar Anna mencoba untuk menjelaskan namun ucapannya langsung di potong oleh Maira.


"Oh ya ampun An, kamu sudah menikah tapi tidak mengundang diriku, sungguh kamu adalah teman yang sangat tega". Ucap Maira dengan nada penuh kekecewaan namun seketika kemudian dia berlari kearah Anna dan langsung memeluk wanita itu dengan sangat antusias.

__ADS_1


"Tapi aku turut bahagia untukmu apalagi sebentar lagi aku akan memiliki keponakan darimu, kamu tahu, aku sangat merindukanmu dan sangat mengkhawatirkan keadaanmu selama ini". Sambung Maira kegirangan karena jujur dia sangat bahagia bisa bertemu dengan lagi apalagi mengetahui jika Anna dalam keadaan baik-baik saja bahkan sebentar lagi wanita itu akan segera menjadi ibu.


"An, kemana saja dirimu kenapa menghilang begitu saja, apa suamimu melarangmu untuk memberi kabar kepadamu hemm?". Tanya Maira bertubi-tubi bahkan Anna sendiri sampai bingung harus menjawab apa.


"Baiklah, jangan jelaskan apapun di sini karena aku akan ikut ke rumahmu untuk mendapatkan penjelasan darimu, jika perlu aku juga akan langsung berkenalan dengan suamimu dan akan ku marahi dia karena telah berusaha memisahkan kita berdua, ayo kita kerumah mu". Cecar Maira tanpa henti lagi bahkan dia langsung menarik tangan Anna agar membawanya kerumah wanita hamil itu.


Mau tidak mau Anna harus mengikuti langkah Maira meskipun dia sangat berat untuk mengajak Maira kerumahnya karena jujur Anna belum siap untuk menjelaskan segalanya kepada Maira apalagi untuk mengatakan semua kebenaran ya g terjadi selama ini.


"Hei, kenapa langkahmu lambat sekali dan wajahmu seperti orang yang sedang kebingungan?". Tanya Maira ketika menyadari jika ada yang tidak beres dengan Anna.


"Ti-tidak ada apa-apa Nona, saya hanya tidak percaya saja jika kita bisa bertemu di sini". Jawab Anna. Ya, Anna sama sekali tidak menyangka jika dia akan bertemu Maira di negara dimana ibunya berasal itu.


"Jangan terlalu memikirkan yang tidak penting, ayo sekarang kita ke rumahmu saja dan aku akan menjelaskan juga kepadamu kenapa aku berada di sini". Ujar Maira dan kemudian kedua wanita cantik itu menuju rumah Anna.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2