
Saat Dewantara sudah siap untuk menerkam Maira, dengan sekuat tenaga yang di kumpulkan oleh wanita itu dia mendorong tubuh Dewa untuk menjauh dari tubuhnya bahkan dia reflek menendang bagian inti dari suaminya itu sehingga membuat Dewa sangat kesakitan dan kehilangan keseimbangannya.
"Aws". Teriak Dewa. "Wanita brengsek, apa yang kau lakukan?". Teriaknya lagi sambil menahan sakit yang luar biasa di bagian intinya.
Maira menggunakan kesempatan itu untuk lari keluar kamar dan mencoba pergi sejauh mungkin dari jangkauan Dewa. Dengan tertatih Dewa tetap berusaha mengejar Maira karena dia tidak terima dengan penghinaan yang di lakukan Maira terhadapnya.
Maira berhasil turun ke lantai dasar dan mencapai pintu utama rumah tersebut untuk keluar dari sana namun baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, rambutnya di tarik dengan sangat kuat oleh Dewa dan kepalanya di benturkan ke pintu tersebut sehingga menyebabkan dahi Maira mengeluarkan darah segar.
"Mau kemana kau hah?". Tanya Dewa setengah berteriak.
Maira melihat sekelilingnya dengan pandangan buram akibat pusing yang dia rasakan karena benturan yang cukup keras tadi. Dia berusaha mencari dimana pintu keluar namun dia tidak berhasil menemukannya.
"Mas, a-aku mohon, lepaskan aku". Ucapnya lirih dengan air mata, peluh dan juga darah yang telah membaur menjadi satu di wajah dan sekujur tubuhnya.
"Lepaskan?, setelah apa yang kau lakukan kau pikir aku akan melepaskan mu begitu saja". Jawab Dewa kemudian dia mencekik leher Maira dan membanting tubuh mungil Maira di lantai.
Sungguh sangat kejam memang apa yang di lakukan oleh Dewa terhadap istrinya butuh, emosi yang memuncak nyatanya telah menutup logika dan hati nuraninya sebagian seorang manusia dan terutama sebagai seorang suami sehingga dia tega menyakiti Maira hingga wanita itu tidak berdaya.
Bugh...
****Braaak****.....
Suara tubuh Maira yang jatuh di lantai seiringan dengan suara pintu yang di tendang dengan sangat kuat dari arah luar dan membuat pintu tersebut terbuka lebar. Tuan Dhika telah berdiri dengan tetap di ambang pintu dan menyaksikan apa yang di lakukan oleh Dewantara terhadap Maira, begitu juga dengan Ricko dan beberapa orang pengawal yang ikut serta dengannya. Tidak lama kemudian nyonya Dewi dan tuan Anwar juga menyusul di sana.
__ADS_1
"Maira". Teriak nyonya Dewi histeris, dia tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini, bahkan kakinya kaku untuk melangkah mendekati menantu kesayangannya itu.
Tidak bisa di lukiskan dengan kata-kata apa yang di rasakan oleh tuan Dhika itu menyaksikan putri tercinta yang telah bertahun-tahun dia cari itu dalam keadaan lemah tak berdaya akibat di sakiti oleh pria yang tidak bertanggungjawab seperti Dewantara. Begitu juga dengan nyonya Dewi dan tuan Anwar yang tidak menyangka jika putra mereka bisa berbuat sekeji itu.
Darahnya mendidih dan tatapan tuan Dhika sangat tajam melihat kearah Dewantara dengan air mata yang tanpa terasa menetes begitu saja seolah beliau siap menghabisi Dewantara saat itu juga. Maira yang melihat kehadiran tuan Dhika dan beberapa orang lainnya itu menatap penuh harap agar mereka menolongnya dari kekejaman yang di lakukan oleh suaminya.
Tuan Dhika langsung membuka jasnya dan mendekati Maira untuk menutupi tubuh putrinya yang terlihat menyedihkan dengan pakaian yang berantakan itu dan membantu Maira bangkit dari lantai.
"Kamu baik-baik saja nak?". Tanya tuan Dhika lembut dan Maira hanya mampu menganggukkan kepala dengan air mata yang terus menetes di pipinya.
"Jangan sentuh istriku dan pergi dari sini, jangan ikut campur urusan rumah tangga ku". Sentak Dewantara namun di respon noleh tuan Dhika hanya dengan mengangkat tangannya saja seolah memberi tanda jika dia menyuruh Dewantara untuk diam di tempatnya.
Seketika langkah Dewa terhenti melihat reaksi yang seolah mengancam keselamatan jiwanya tersebut. Tuan Dhika mengambil liontin milik Maira dari saku celananya dan menunjukkan kepada Maira.
"I-iya tuan, ini kalung peninggalan orang tua saya". Jawab Maira terbata-bata karena dia masih trauma dengan kejadian yang baru saja menimpanya.
Deg....
Segala keraguan di hati tuan Dhika sirna begitu saja, dengan bukti yang ada beliau sangat yakin jika Maira adalah putri kandungnya apalagi sejak pertama kali melihat Maira beliau memang sudah terkesima dengan kemiripan wajah Maira dengan sang istri.
"Sini papa pakaikan". Ujar tuan Dhika lembut.
Deg....
__ADS_1
Semua yang mendengar tuan Dhika memanggil dirinya papa sangat terkejut pasalnya pria paruh baya itu tidak memiliki hubungan apapun dengan Maira, tentu saja Maira juga merasa terkejut namun dia tidak mau ambil pusing karena lepas dari cengkeraman Dewa saja sudah sangat membuat dirinya lega, dia juga pernah mendengarkan sebelumnya ketika dia bertemu dengan pria paruh baya itu tempo lalu di mansion Rian, dimana tuan Dhika juga memanggil dirinya dengan sebutan papa di hadapan Maira.
Setelah memakaikan kalung liontin tersebut, tuan Dhika menatap penuh harus wajah putrinya itu dengan mata berkaca-kaca kemudian dia spontan mengecup kening Maira sekilas sehingga membuat semua orang yang berada di sana kembali merasa tak percaya dengan apa yang mereka lihat terutama Dewa yang tidak Terima jika istrinya di sentuh pria lain termasuk tuan Dhika sekalipun.
"Bajiingan, jangan sentuh istriku". Sentak Dewa hendak menyerang tuan Dhika namun dia gagal karena bogem mentah dari tuan Dhika sudah lebih dulu mendarat di wajahnya.
Tuan Dhika menyerang Dewantara secara membabi buta sehingga membuat nyonya Dewi berteriak histeris memohon agar tuan Dhika menghentikan aksinya namun sayangnya pria paruh baya itu tidak menggubrisnya sama sekali sehingga nyonya Dewi menarik-narik baju suaminya yang tampak tenang melihat Dewa di hajar habis-habisan oleh tuan Dhika.
"Pa, tolong anak kita, dia bisa mati di tangan tuan Dhika". Teriak nyonya Dewi namun tidak di respon oleh tuan Anwar.
Melihat suaminya tidak mempedulikan ucapannya, nyonya Dewi mendekati Maira dan memohon kepada Maira agar menyuruh tuan Dhika menghentikan aksinya.
"Maira mama mohon, tolong suruh tuan Dhika berhenti menghajar Dewa karena Dewa bisa mati nak". Bujuk nyonya Dewi.
Seketika Maira ketakutan mendengarkan ucapan sang ibu mertua yang akan mengakibatkan tuan Dhika di penjara karena membunuh Dewantara demi menyelamatkan dirinya sehingga dia langsung berlari menuju tuan Dhika dan memohon agar beliau melepaskan Dewantara. Benar saja begitu Maira memintanya untuk berhenti barulah tuan Dhika menghentikan aksi brutalnya tersebut.
"Ingat baik-baik anak muda, aku tidak akan melepaskan mu lain kali. Tunggu surat cerai yang akan segera aku kirimkan untukmu dan pastikan kau segera menandatanganinya jika kau masih ingin jati jemarimu selamat". Ancam tuan Dhika sebelum benar-benar melepaskan Dewantara.
"Ayo kita pergi dari sini nak, di sini bukan tempatmu". Ujar tuan Dhika kemudian.
Maira mengikuti langkah kaki tuan Dhika dan beberapa pengawal yang berjalan di belakang mereka sedangkan tuan Anwar dan juga nyonya Dewi tidak dapat menghentikan langkah Maira karena putra mereka memang bersalah, sedangkan Dewantara sendiri sudah terbaring tidak sadarkan diri.
...----------------...
__ADS_1