Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 25


__ADS_3

"Dan apakah anda tahu, mas Dewa bahkan tidak pernah menyentuh dan menginginkan saya sebagai seorang istri dalam arti yang sesungguhnya, dia mungkin jijik kepada saya tuan". Ucap Maira sambil berbisik.


Deg....


Inilah keterkejutan yang tidak pernah terduga yang akan di dengar langsung oleh Rian dari mulut Maira.


"Berarti Maira tidak berbohong jika dia belum pernah berciuman sebelumnya". Batin Rian dengan menatap bibir Maira dengan tatapan yang sulit di artikan karena mendapatkan kenyataan jika dialah pria pertama yang menyentuh bibir mungil tersebut.


"Haha, jangan katakan kepada siapapun tuan, ini rahasia kita berdua. Aku masih perawan, sangat aneh bukan padahal aku sudah menikah selama dua tahun lamanya". Seru Maira dengan suara yang lumayan keras meskipun dia mengatakan jika itu adalah rahasia, beruntungnya mereka sedang berada di Korea sehingga tidak ada yang tahu Maira sedang meneriakkan apa.


"Tapi aku masih merasa beruntung setidaknya ada ibu mertua yang sangat menyayangi ku dan setidaknya nasibku masih beruntung karena aku bisa tinggal di rumah mewah dengan segala fasilitas mewah. Harga diriku memang semurah itu tuan". Sambung wanita itu lagi sambil menitikkan air matanya.


Pria tampan itu juga mengutuk perbuatan Dewantara yang memperlakukan Maira dengan tidak adil, bagaimana bisa Dewa tidak jatuh cinta kepada wanita secantik dan sepolos Maira padahal wanita itu jelas sangat bisa menjaga dirinya sebagai seorang wanita.


"Apa mungkin Dewantara tidak jatuh cinta kepada istri yang sudah bertahun-tahun dia nikahi, kenapa justru aku yang terus di bayang-bayangi oleh sosok Maira padahal aku baru mengenalnya beberapa bulan. Shiit, inikah karma yang sesungguhnya, dia dan Ayuna menjalin hubungan di belakangku dan sekarang aku yang terpesona oleh istrinya". Batin Rian lagi sambil mengusap wajah kasar.


Karena asik dengan pikirannya sendiri, Rian bahkan tidak menyadari jika Maira telah menghilang dari sampingnya. Pria itu kembali harus di buat kerepotan untuk mencari Maira sampai akhirnya dia melihat pemandangan yang sama sekali tidak di bayangkan sebelumnya yaitu Maira sedang menari panas bahkan wanita itu membuka baju tebalnya dan menyisakan dress tanpa lengannya.


Suhu tubuhnya rupanya memanas akibat minuman yang dia teguk beberapa gelas tadi dan di dukung juga oleh penghangat ruangan yang membuat suasana semakin panas sehingga Maira melemparkan baju tebal entah kemana.


Mata Rian terbelalak melihat betapa liat dan seksinya Maira menari di tengah kerumunan orang di sana, gairahnya sebagai pria normal seketika saja bangkit apalagi melihat betapa seksinya tubuh mungil Maira jika sedang menari seperti itu, sampai akhirnya dia menyadari jika Maira menjadi pusat perhatian para pria hidung belang yang menatapnya dengan tatapan siap memangsa Maira.

__ADS_1


Tentu saja Rian tidak terima akan hal itu dia sama sekali tidak rela melihat tatapan nakal mereka kepada Maira, rahang mengeras mendengar para pria yang memuja-muja wanita yang datang bersamanya itu sehingga Rian langsung membuka baju tebalnya dan menghampiri Maira untuk menutup kembali tubuh indah Maira.


"Tuan, jangan mengganggu ku, biarkan aku menikmati malam ini karena besok aku akan menerima dan menjalani kenyataan hidupku yang menyedihkan lagi". Tolak Maira saat Rian menariknya untuk meninggalkan tempat tersebut.


"Kamu tidak akan selamat di sini Maira". Ucap Rian penuh penekanan karena pria itu memang sedang menahan emosinya.


"Biar saja, aku tidak peduli dan tidak ada yang peduli juga apapun yang terjadi kepadaku". Jawab Maira setengah berteriak.


"Tapi aku peduli Maira". Jawab Rian sambil menarik wajah Maira agar menatap matanya.


Tatapan intens keduanya membuat Maira luluh dan langsung menyambar bibir Rian dengan liarnya sehingga Rian sama sekali tidak bisa menghindari hal tersebut. Para pria yang tadi menggoda Maira merasa kecewa dan menjauh dari pasangan yang sedang saling pungut bibir satu sama lain itu.


Jika pada ciuman pertama mereka tempo lalu Rian hanya diam saja karena terkejut maka kali ini Rian sangat memanfaatkan momen, dimana dia langsung membalas ciuman Maira dengan liarnya. Tangan Rian menarik pinggang Maira agar tubuh wanita itu menempel pada tubuhnya sehingga mengikis jarak diantara keduanya. Rian seperti benar-benar menunjukkan bakat dan pengalamannya dengan cukup baik kepada Maira.


"Kamu beruntung Maira karena kita berada di tempat umum, jika tidak aku mungkin akan melupakan statusmu sebagai istri orang, ya Tuhan, akh pasti sudah gila karena punya pemikiran seperti ini". Batin Rian.


Namun saat ciuman itu berakhir Maira bukannya merasa malu atau canggung, wanita itu justru memeluk erat tubuh jangkung pria yang ada di hadapannya itu dan langsung terisak.


"Terimakasih tuan, anda tidak menghindari saya dan tidak merasa jijik kepada saya". Ujar wanita itu kemudian tubuh Maira jatuh seperti tak bertulang, rupanya Maira pingsan. Kemudian Rian menggendong Maira dan bergegas membawa wanita itu untuk kembali ke hotel.


Rian menatap wajah cantik Maira yang terlelap pulas di atas kasur, seandainya saja wanita itu bukanlah istri Dewantara mungkin dia sudah menikahi Maira saat itu juga, tidak peduli wanita itu mencintainya atau tidak.

__ADS_1


Pandangan Rian kemudian menyusuri seluruh tubuh Maira yang terlihat sangat seksi, ingin sekali dia memanfaatkan kesempatan itu untuk menjadikan Maira miliknya seutuhnya sekaligus membalas pengkhianatan Dewantara terhadapnya dulu, namun jika dia melakukan hal tersebut apa bedanya dia dengan Dewantara dan Ayuna sehingga Rian tetap mengontrol dirinya untuk tidak menjadikan Maira sebagai pelampiasan balas dendamnya semata.


Setelah memastikan Maira nyaman dengan posisi tidurnya, Rian memutuskan untuk segera kembali ke kamarnya sebelum pikirannya semakin menggila karena berada di dalam kamar yang sama dengan wanita yang mampu membangkitkan gairah kejantanan itu.


"Tuan jangan pergi". Ujar Maira dengan suara seraknya sambil menarik tangan Rian, mata wanita itu bahkan masih dalam keadaan tertutup.


"Maira, lepaskan aku atau kamu akan menyesal dan akan sangat membenciku". Jawab Rian sambil memejamkan mata.


Maira melepaskan tangan Rian dan pria itu kembali melangkah tanpaenoleh kearah Maira lagi namun siapa sangka jika langkahnya kembali terhenti karena ada sepasang tangan yang melingkar erat di pinggangnya.


"Jangan pergi, temani saya malam ini karena saya takut tidur sendirian tuan, saya takut karena semua yang berada di dekat saya selalu saja pergi meninggalkan saya". Ucap Maira lagi, dari suaranya jelas terdengar jika pengaruh minuman yang dia minum di club tadi masih mempengaruhi dirinya.


Mau tidak mau Rian menghadap Maira untuk menjelaskan jika dia harus pergi demi keselamatan mereka berdua namun wanita itu kembali memeluknya dengan erat.


"Maira kamu yang memaksaku jadi jangan salahkan aku untuk apa yang terjadi malam ini". Ujar Rian kemudian menuruti segela kemauan Maira malam itu.


...----------------...


Hai, hai 🙋‍♀️


maaf ya kalau otor update nya kadang-kadang agak lambat karena otor akhir-akhir ini sibuk banget di real life, makasih juga support nya selama ini, bantu like dan comment yang membangun juga ya untuk novel ku ini, saran juga boleh untuk kedepannya kalian mau karakter

__ADS_1


di novel ini mau bagaimana siapa tahu bisa lebih mengembangkan novel receh ini 🥰🤗


__ADS_2