Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 89


__ADS_3

"Apa kamu sudah tenang mas?". Tanya Anna kepada calon suaminya yang sejak tadi hanya dia tidur di atas pangkuannya dengan memejamkan mata tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Apa itu mempengaruhi dirimu?". Tanya Dewantara balik.


"Tidak mas, aku mengerti jika mas Rian hanya sedang emosi dan dia tidak bisa mengontrol ucapannya". Jawab Anna menenangkan Dewantara.


"Ck, bukan itu maksud ku".


"Lalu?". Tanya Anna bingung.


"Apa lamaran pria itu mempengaruhi hatimu?". Tanya Dewantara lagi.


"Oh ya ampun mas, dia tidak melamar ku, seperti yang aku katakan tadi jika mas Rian sedang emosi sehingga apa yang keluar dari mulutnya itu tidak bisa dia kendalikan".


"Tapi dengan menikah dengannya kamu bisa mendapatkan cinta pertamamu".


"Ck, kamu ini menyebalkan mas, lalu bagaimana jika Ayuna kembali apa kamu juga akan menikahinya?". Tanya Anna kesal.


"Tentu saja tidak, aku tidak menginginkannya lagi karena aku mencintaimu". Jawab Dewantara serius.


"Begitu juga dengan ku". Jawab Anna singkat.


"Begitu juga bagaimana maksudnya?".


"Entahlah, aku tidak mau menjawabnya". Anna memindahkan kepala Dewantara dan ingin menghindari pria itu namun dia kalah cepat karena Dewantara sudah terlebih dulu menarik tangan Anna sehingga wanita itu jatuh di pangkuannya.


"Jelaskan dulu apa yang ingin kamu katakan barusan". Bisik Dewantara lembut di telinga Anna.


"Tidak mau".


"Kalau begitu aku tidak akan melepaskan mu, ck, kenapa kita harus selalu berdebat untuk hal satu itu,tidakkah bisa kamu mengatakan jika kamu juga mencintaiku". Ujar Dewantara kesal.


Anna tersenyum tipis melihat tingkah laku Dewantara yang seperti anak kecil itu kemudian wanita itu memegang kedua pipi Dewantara dan menatap intens mata pria itu.


Cuup...


Anna mendaratkan sebuah ciuman di bibir Dewantara sebagai isyarat perasaan kepada pria itu namun kesempatan itu di manfaatkan dengan cukup baik oleh Dewantara dengan tidak membiarkan bibir Anna lepas begitu saja.

__ADS_1


Pergumulan adu bibir itu berlangsung hangat dan saling menuntut sampai Anna melepaskan secara paksa pertautan itu karena dia merasakan ada yang mengeras di pahanya dan hal itu akan berbahaya jika tidak segera di hentikan.


"Ayolah sayang, jangan pergi begitu saja". Kesal Dewantara sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Mas ingat pernikahan kita tidak lama lagi". Jawab Anna sambil berlalu dari hadapan Dewantara.


"Ck aku harus berkerja ekstra untuk menidurkan mu". Gumam Dewantara kepada dirinya sendiri. "Akan ku pastikan setelah menikah kamu akan aku kurung di kamar tanpa bisa ke mana-mana". Seru Dewantara kemudian dia pergi menidurkan juniornya itu.


......................


Sementara itu di tempat lain seorang wanita hanya diam seribu bahasa menatap keluar jendela, entah apa yang di lihat karena meskipun pemandangan di luar jendela sangat indah tapi bisa di pastikan jika wanita itu tidak menikmati pemandangannya.


"Apa kamu tidak ingin mandi, hati sudah mulai gelap". Suara datar seorang pria mengejutkan sang wanita namun dia enggan menoleh kearah sumber suara itu karena dia benci dengan sang pemilik suara.


"Aku tidak punya baju ganti". Jawabnya singkat tetap tanpa menatap lawan bicaranya.


"Aku sudah menyediakan semua keperluan mu termasuk pakaian jadi cepatlah mandi sebelum indera penciuman ku terganggu dengan aroma tidak sedap dari tubuh mu itu". Ujar pria itu lagi dan kali ini mampu membuat sang wanita menoleh kearahnya dengan tatapan yang sangat tajam seolah ingin menerkam nya saja.


Sang wanita wanita mengikuti saran sang pria untuk segera membersihkan tubuhnya yang memang sejak tadi sudah tidak nyaman lagi karena aktivitas beratnya hari ini. Dia sengaja menabrak bahu pria itu untuk meluapkan kekesalannya namun yang merasakan sakit justru bukan bahu sang pria tapi justru bahunya sendiri karena memang ukuran tubuh sang wanita yang ternyata adalah Shinta itu kalah jauh dengan ukuran tubuh pria yang bernama Ricko itu sehingga membuat Ricko tersenyum simpul dengan sikap Shinta.


"Dasar wanita aneh". Celetuk Ricko.


Tentu saja bukan hal yang mudah memaksa Shinta untuk ikut dengannya karena wanita itu berencana untuk segera kembali ke kampung halamannya sendirian namun Ricko meyakinkan Shinta jika dia yang akan mengantarkannya pulang ke kampung atas perintah Rian.


Setelah menyelesaikan ritual mandinya Shinta di buat terkejut dengan semua perlengkapannya ya g sudah terletak rapi di atas ranjang dan bisa di pastikan itu semua masih baru. Shinta juga takjub melihat pemandangan di sekelilingnya yang teramat sangat rapi, dia memang tidak heran jika kamar Ricko sangat rapi karena pria itu memang sangat perfectionist.


"Dari mana dia tahu semua ukuran pakaianku ini". Gumam Shinta kemudian dia membulatkan matanya. "Apa jangan dia-". Shinta itu mampu melanjutkan lagi ucapannya dia langsung memeluk dadanya dengan keduanya tangannya.


Shinta membayangkan jika mungkin saja Ricko memasang CCTV dia setiap sudut ruangan apartemennya sehingga dia bisa mengetahui ukuran bajunya bahkan sampai pada pakaian dalamnya, wanita itu bergegas memeriksa setiap sudut kamar dan juga setiap sudut kamar mandi namun dia tidak menemukan satupun CCTV di sana.


"Tidak ada CCTV lalu bagaimana dia tahu?". Tanya Shinta pada dirinya sendiri sambil memegang kepalanya seolah dia sedang berpikir keras.


"Dia pasti mengintip aku mandi tadi, tapi aku kan mengunci pintunya, Hah, tentu saja dia tahu dia pasti sudah terbiasa menghadapi tubuh wanita, ck, dasar pria kaya dimana saja kalian sama saja". Ujar Shinta kemudian dia langsung menggunakan semua fasilitas yang di sediakan oleh pria itu tanpa mau tahu lagi dari mana Ricko mengetahui segala tentangnya secara detail itu.


"Ayo makan". Ajak Ricko begitu Shinta keluar dari kamar.


Shinta sama sekali tidak menanggapinya dia langsung berjalan ke meja makan dengan makanan yang sudah tersedia di atasnya. Tanpa basa-basi Shinta langsung melahap makanan lezat itu.

__ADS_1


"Aku akan tidur dimana malam ini?". Tanya Shinta setelah selesai makan.


"Tentu saja di sini". Jawab Ricko singkat.


"Tapi di sini hanya ada satu kamar".


"Lalu apa masalah?". Tanya Ricko acuh.


"Lalu haruskah aku tidur dengan anda di kamar yang sama tuan". Ujar Shinta penuh penekanan karena rasa kesalnya kepada pria itu.


"Kamu sudah mengetahui jawabannya tapi masih saja bertanya". Jawab Ricko santai.


"Apa?, aku tidak mau tidur di kamar yang sama denganmu". Protes Shinta.


"Kalau begitu tidur saja di dapur atau di kamar mandi".


"Oh ya ampun anda tega sekali". Kesal Shinta.


"Aku sudah menawarkan mu tidur di kamar tapi kamu tidak mau lalu dimana salahku?". Tanya Ricko seolah-olah bingung.


"Yang salah adalah karena anda dan ada yang tidur di kamar yang sama sedangkan kita itu tidak punya hubungan apapun tuan".


"Hubungan di antara kita cukup jelas kamu dan aku adalah partner kerja".


"Huh, percuma berdebat dengan anda lebih baik aku mengalah saja". Shinta bangkit dari tempat duduknya untuk bersiap meninggalkan Ricko. "Kalau begitu aku pergi saja dari sini, aku akan menginap di hotel saja untuk malam ini atau mencari rumah kontrakan bila perlu". Sambung Shinta lagi.


"Lakukan saja jika kamu memang bisa". Jawab Ricko seolah tidak peduli.


"Kenapa tidak bisa?, aku punya uang dan tabungan, atau jangan-jangan-". Shinta langsung berlari kearah pintu karena dia takut jika Ricko akan menyanderanya namun ternyata pintu itu bisa di buka dengan mudahnya.


Shinta berbalik dan melihat Ricko dengan tatapan penuh selidik. "Tidak ada yang menghalangi aku sekarang". Ujarnya ketus kepada Ricko.


Buugrh...


Tubuh Shinta kemuakan tumbang tepat di ambang pintu dan wanita itu sudah tidak sadarkan diri lagi. Ricko tersenyum simpul melihat Shinta yang sudah tidak sadarkan diri itu sambil melangkah mendekati wanita itu. "Kamu terlalu banyak bicara jadi harus aku tidurkan dulu secara paksa". Ujar pria itu pada Shinta kemudian dia mengangkat tubuh Shinta untuk di bawa ke dalam kamar. sudah di pastikan jika pria itu sengaja mencampurkan sesuatu ke adalam makanan Shinta agar wanita itu tidak bisa pergi kemana-mana.


"Kamu tidak akan bisa kemana-mana lagi sekarang". Sambung Ricko lagi dengan senyuman penuh arti.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2