Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 20


__ADS_3

Tini yang diminta oleh Dewa untuk menyiapkan makan malam untuk pria itu berniat menyampaikan pesan Maira kepada majikannya namun belum sempat dia mengatakannya, secara tiba-tiba Dewa sudah terlebih dulu menanyakan keberadaan wanita itu padahal sebelum-sebelumnya Dewa tidak pernah menanyakan keberadaan Maira bahkan dia terkesan tidak peduli.


"Sepertinya aku tidak melihat Maira sejak tadi". Ujar dewa datar sambil menarik kursi dan duduk di meja makan.


"Iya tuan, nona Maira memang sedang tidak berada di rumah, beliau menitipkan pesan kepada saya untuk mengatakan kepada tuan kalau nona Maira harus pergi ke luar negeri untuk kunjungan bisnis di kantornya". Jawab Tini.


Mendengar penjelasan Tini, Dewa langsung menghentikan aktivitas makannya. "Dia pergi ke luar negeri?". Tanya Dewa tidak percaya, dia tahu jika Maira sudah mendapatkan pekerjaan namun dia tidak menyangka jika Maira bekerja pada perusahaan yang cukup besar buktinya istrinya itu bahkan sampai di ajak ke luar negeri.


"I-iya tuan, seperti itulah yang dikatakan oleh nona Maira, tapi saya juga tidak tahu ke negara apa". Jawab Tini lagi.


Entah mengapa setelah mendengar jika Maira pergi ke luar negeri membuat hati Dewa tidak tenang, dia merasa khawatir dengan keadaan Maira karena takut jika kepolosan istrinya itu di manfaatkan oleh orang yang tidak bertanggungjawab.


"Apa kau punya nomor ponsel Maira?". Tanya Dewa, sebenarnya itu adalah pertanyaan buang aneh yang di lontar oleh seorang suami yang bahkan tidak menyimpan nomor ponsel istrinya namun Tini sudah sangat hapal bagaimana kondisi rumah tangga majikannya dan dia juga tidak pernah mau tahu atau ikut campur perihal urusan pribadi majikannya, sehingga Tini langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Coba hubungi dia sekarang juga". Titah Dewa dan Tini langsung melakukan apa yang di perintahkan oleh majikannya namun sayangnya sambungan telepon itu tidak terhubung karena nomor ponsel Maira tidak dapat di hubungi.


"Sudah saya coba beberapa kali tuan tapi nomor ponsel nona Maira tidak dapat di hubungi". Ujar Tini.


Kali ini Dewa benar-benar menghentikan aktivitas makannya dan membuang napas kasar. "Hubungi dia terus sampai kau mendapatkan informasi dimana dia saat ini, jika sudah ada berita tentang Maira segera katakan padaku, aku tunggu di ruang kerja". Ucap Dewa sambil berlalu dari meja makan dimana makanan yang di sediakan Tini bahkan nyaris tidak tersentuh.


"Ba-baik tuan". Jawab Tini singkat, pelayan itu bahkan sampai khawatir melihat reaksi tidak biasa dari Dewa tersebut karena dia takut jika Maira akan kena marah oleh suaminya itu.

__ADS_1


"Aneh sekali, biasanya tuan tidak pernah peduli kemana dan dimana nona Maira, dia juga pernah berhari-hari tidak pulang tanpa mengabari nona Maira tapi sekarang wajahnya seperti sangat marah dan khawatir kepada nona Maira, semoga saja nona Maira segera bisa di hubungi dan dia tidak kena marah". Gumam Tini.


...----------------...


"Maira". Seru Rian panik.


Bagaimana tidak panik, Rian melihat hidung wanita yang menjadi sekretarisnya itu mengeluarkan darah segar. Tanpa berpikir panjang Rian langsung mengambil tissue dan membersihkan darah itu kemudian secara spontan membawa Maira kedalam baju tebalnya dengan mendekap erat tubuh Maira agar Maira merasa lebih hangat.


Namun bukannya merasa lebih tenang Rian justru merasa semakin panik bahkan detak jantungnya berpacu dengan sangat cepat, entah dia merasa khawatir atau justru dia merasa hal lain ketika tubuhnya dan tubuh Maira menyatukan dalam sebuah pelukan yang sangat erat itu.


Para pengawal Rian yang melihat kekhawatiran majikannya itupun ikut menenangkan Rian agar pria itu tidak panik karena Maira hanya mengalami mimisan akibat suhu yang sangat dingin.


"Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?. Cepat ambilkan baju milikku untuknya dan tambah kecepatan agar kita segera sampai di hotel". Titah Rian khawatir, entah mengapa dia sangat takut jika terjadi sesuatu pada wanita itu.


"Baik tuan". Jawab dia pengawal yang ikut serta dalam perjalanan bisnis Rian dan Maira kali ini.


Pengawal yang bertugas menjadi supir langsung melajukan mobil dengan sangat kencang dan yang satunya lagi segera mengambil baju tebal milik Rian kemudian langsung dia serahkan kepada majikannya itu.


Rian segera membungkus tubuh mungil Maira dengan baju tebal yang terlihat sangat besar di tubuh wanita itu dan setelah itu Rian kembali memeluk wanita itu tanpa ada rasa canggung sedikitpun. Aroma tubuh Maira tercium jelas pada indera penciuman Rian, aroma yang sangat menenangkan jiwanya bahkan Rian enggan untuk melepaskan wanita itu dari pelukannya.


"Perasaan apa ini, tidak jangan pikirkan yang tidak-tidak Rian, Maira istri orang bahkan dia istri pria yang sangat kamu benci di dunia ini". Batin Rian.

__ADS_1


Jujur pria itu sempat memiliki pikiran nakal saat Maira berada dalam pelukannya bahkan sampai membuat juniornya memberontak di bawah sana padahal selama ini banyak wanita yang coba menggoda dirinya bahkan sampai melepaskan pakaian mereka di hadapan pria itu namun pria itu sama sekali tidak tertarik apalagi tergoda dengan mereka, tapi berbeda dengan Maira yang saat ini wajah wanita itu berada cukup dekat dengan wajahnya, rasanya ingin sekali Rian ******* bibir ranum sekretarisnya itu.


"Shiit, ini benar-benar menyiksaku, tapi aku juga tidak mungkin melepaskan pelukan ini karena Maira membutuhkan kehangatan". Umpat Rian dalam hati.


Beruntung tidak lama mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai juga di lobi hotel yang akan mereka tempat selama berada di negara yang menjadi kiblat para remaja tersebut karena ketampanan para pria dan keromantisan drama-drama yang di suguhkan oleh industri perfilman mereka. Rian segera menggendong tubuh Maira dan berjalan dengan sangat cepat untuk mencapai kamar yang sudah di sediakan khusus untuk mereka dengan para pengawal yang setia mengikutinya dari belakang.


Rian meletakkan tubuh Maira di atas ranjang dan kembali membungkus tubuh Maira dengan dengan selimut tebal. Rian juga menggosok-gosokan tangan Maira menggunakan tangannya agar wanita itu hangat dan segera tersadar dari pingsannya namun sayangnya Maira belum juga sadar sampai membuat rian tertidur di samping Maira karena kelelahan dan selama perjalanan rian memang sama sekali tidak tidur.


Seperti layaknya pasangan yang sangat romantis, Rian tidur di sebelah Maira dalam posisi duduk namun wajahnya sangat dekat dengan Maira, jika orang melihat mereka sekilas maka mereka akan mengira jika mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai.


Maira yang sudah beberapa jam pingsan akhirnya terbangun juga ketika merasa tubuhnya semakin hangat, apalagi ada penghangat ruangan di kamar tersebut. Ketika matanya terbuka maka yang pertama kali dia lihat adalah wajah tampan rian yang tepat berada di depan wajahnya sehingga dia tersenyum manis karena mengira jika dia sedang bermimpi.


"Kenapa anda bisa masuk kedalam mimpi saya tuan?". Tanya Maira lembut dan membenarkan rambut Rian yang sebagian menutupi wajahnya itu, karena jika pada kenyataan maka sangat tidak mungkin Rian bisa berada sedekat itu dengannya karena selama ini Rian selalu berusaha menjauhi dirinya.


"Anda tampan sekali jika sedang tidur seperti ini, sepertinya lebih baik anda tidur saja selalu karena jika anda bangun maka wajah anda kembali berubah menjadi monster". Gumam Maira lagi namun tiba-tiba mata Rian terbuka lebar dan membuat Maira sangat terkejut.


"Jadi kamu menginginkan aku mati ya?". Tanya Rian tegas.


"Tu-tuan!". Seru Maira.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2