Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 13


__ADS_3

Keesokan harinya Maira yang masih tertidur di ruang tamu dengan baju pesta yang masih melekat di tubuhnya itu terbangun karena terkejut karena ponselnya berbunyi. Maira kemudian melihat siapa yang menghubunginya dan ternyata itu adalah panggilan dari Tini yang menanyakan keberadaannya karena pelayan sekaligus temannya itu sangat mengkhawatirkan keadaan Maira.


"Aku di rumahku Tin, kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku, aku baik-baik saja". Ujar Maira mencoba menenangkan Tini.


Maira juga menanyakan tentang keberadaan Dewa dan ternyata Dewa sudah pergi ke kantor tanpa menanyakan apapun tentang keberadaan Maira. Jika sebelum-sebelumnya Maira merasa kecewa karena Dewa tidak pernah mengkhawatirkan dirinya namun sekarang Maira justru merasa biasa saja karena kejadian tadi malam susah cukup membuat Maira sangat jijik kepada suaminya itu dan tidak mengharapkan apapun lagi dari pria itu.


Maira ingin sekali segera bercerai dari Dewantara namun tidak adil rasanya jika pria yang sudah mempermainkan dirinya dan juga ikatan suci pernikahan di tinggalkan begitu saja tanpa rasa penyesalan sedikitpun sehingga Maira bertekad akan membuat Dewa menyesali perbuatannya dan ketika tiba saatnya Maira menceraikan pria itu, Dewa sudah sangat takut kehilangan dirinya.


"Jika aku minta perpisahan begitu saja bukankah tidak adil rasanya, aku harus melepaskan status gadisku sebagai janda begitu saja sedangkan kau bisa bersenang-senang kapanpun kau mau bersama wanitamu itu tanpa beban apapun. Sangat di sayangkan bukan ketika statusku masih menjadi nyonya Dewantara aku tidak memanfaatkannya dengan sebaik mungkin". Ujar Maira geram. Mulai dari saat itu Maira akan memanfaatkan segala fasilitasnya sebagai nyonya Dewantara.


Hari itu Maira mengajak Tini untuk ikut dengannya pergi ke salon untuk mempercantik diri, Tini yang merasa ada yang aneh dengan majikannya itu sampai geleng-geleng kepala karena tidak biasanya Maira mau melakukan berbagai macam perawatan di salon karena Maira bukanlah tipe wanita yang suka dengan segala hal yang berhubungan dengan salon bahkan Tini juga harus ikut melakukan perawatan karena di desak oleh Maira.


"Tidak perlu non, nona Maira saja yang melakukan perawatan saya tidak usah". Tolak Tini merasa tidak enak hati dengan tawaran sang majikan.


"Tin, lakukan apa yang aku perintahkan, kamu tidak perlu khawatir karena uang suamiku sangatlah banyak". Jawab Maira acuh sehingga Tini mau tidak mau harus menuruti keinginannya.


Maira juga menuju toko perhiasan untuk membeli berbagai macam perhiasan yang di inginkan nya dan juga mengganti ponselnya dengan ponsel keluaran terbaru yang harganya mencapai puluhan juta rupiah karena dia mau ketika kelak Dewantara mencampakkan dirinya dia sudah mendapatkan dispensasi atas segala penderitaan yang dia rasakan saat ini.


Berbulan-bulan sudah berlalu namun Maira bukanlah Maira yang dulu, hidup sederhana dengan penampilan sederhana melainkan menjadi Maira yang cantik dan elegant layaknya istri seorang CEO kaya raya. Namun anehnya Dewantara sama sekali belum menyadari perubahan apapun yang di lakukan Maira karena pria itu memang sangat tidak peduli dengan apapun yang di lakukan Maira.

__ADS_1


Maira juga tidak peduli d ngan Dewa, kapanpun pria itu pulang dan pergi dari rumah sudah bukan lagi menjadi urusannya. Maira sekarang hanya fokus membahagiakan dirinya dan juga menyelesaikan kuliahnya secepat mungkin agar dia segera bisa bekerja dan mendapatkan pekerjaan sehingga dia bisa segera lepas dari pernikahan aneh yang sedang dia jalani saat ini.


...----------------...


Dua tahun sudah pernikahan Maira dan Dewa, kondisi pernikahan mereka masih sama seperti dulu tidak ada perkembangan apapun. Mereka hanya berperan sebagai suami istri hanya jika nyonya Dewi sedang berkunjung ke Indonesia saja.


Apalagi ketika ibu mertuanya itu selalu bertanya tentang kehamilan Maira, jika dulu Maira masih bisa mengatakan jika mereka menunda untuk memiliki momongan karena Maira masih kuliah dan mereka masih mau menikmati masa pacaran setelah menikah, namun kali ini Maira cukup di pusingkan untuk memikirkan jawaban yang harus di berikan untuk ibu mertuanya itu karena pernikahannya dengan Dewa sudah berjalan dua tahun lamanya.


Kuliah Maira sudah selesai, gadis itu sudah beberapa kali mencari pekerjaan namun sayangnya tidak ada satupun perusahaan yang menerimanya bahkan dengan kecerdasan yang dia miliki.


"Sepertinya aku ada ide, bagaimana jika aku mengandalkan nama suamiku sebagai jaminan agar aku bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah, anggap saja ini sebagai dispensasi terakhir yang aku dapatkan sebelum aku menceraikan pria itu". Gumamnya sambil berpikir keras.


Maira masuk ke perusahaan tersebut dengan penuh percaya diri apalagi ketika dia mendengar jika perusahaan tersebut membutuhkan tenaga sekretaris baru.


"Saya mau melamar pekerjaan di perusahaan ini sebagai sekretaris". Ujar Maira kepada resepsionis di kantor itu.


"Maaf Nona apa anda tidak membaca dengan jelas jika perusahaan ini hanya menerima tenaga sekretaris seorang pria atau wanita yang sudah menikah saja". Jawab sang resepsionis sinis.


"Aku membacanya dan aku ini wanita yang sudah menikah jadi aku bisa melamar disini".

__ADS_1


Mendengar jawaban Maira kedua resepsionis yang berada di hadapannya itu menatap Maira dengan tatapan sinis kerana mereka mengira jika Maira sedang berbohong, bagaimana mungkin gadis semuda Maira sudah menikah sedangkan mereka yang usianya lebih tua dari Maira saja belum menikah.


"Nona, jangan berbohong hanya untuk mendapatkan pekerjaan karena jika anda ketahuan berbohong nanti akan fatal akibatnya, apa anda tahu jika perusahaan ini punya peraturan yang sangat ketat dan pemilik perusahaan ini sangat tegas". Ujar resepsionis itu dengan nada yang sangat sinis.


"Nona, aku sedang tidak berbohong, apa yang aku katakan adalah kebenaran jadi ini terima berkas-berkas ku". Ujar Maira tak kalah sinis dan menyodorkan berkas yang dia pegang kepada mereka.


Diluar dugaan dua resepsionis itu malah menghubungi petugas keamanan untuk mengusir Maira dari sana bahkan tanpa melihat dulu berkas-berkas Maira untuk melihat kejelasan status gadis itu.


"Usir gadis ini dari sini pak, dia mempersulit pekerjaan kami saja". Perintah resepsionis.


Atas perintah itu petugas keamanan langsung memegang lengan Maira untuk menarik gadis itu keluar kantor namun Maira memberontak dan berteriak sehingga menimbulkan keributan di sana yang mencuri perhatian banyak orang.


"Lepas, kalian tidak tahu siapa aku ya, berani-beraninya kalian memperlakukan aku seperti ini, perusahaan seperti apa ini tidak ada tata krama nya sedikitpun". Sentak Maira sehingga membuat Ricko yang baru saja melintas jadi penasaran dengan apa yang terjadi.


Ricko ada sang asisten pribadi pemilik perusahaan itu dan kekuasaannya juga sama seperti pemilik perusahaan karena dia sangat di percaya oleh bosnya.


"Ada apa ini?". Tanya Ricko penasaran dan melihat sekilas kearah Maira.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2