Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 57


__ADS_3

"Dia anakku, Rian Mahendra". Jawab tuan Dhika lantang.


Jawaban yang di ucapkan tuan Dhika tentu saja membuat nyonya Mirna sangat terkejut. Air mata langsung membasahi pipi wanita cantik itu apalagi melihat suaminya lebih memilih menenangkan bocah bernama Rian itu dari pada menenangkan dirinya atau menggendong putri mereka yang berada di dalam box bayi di ruangan itu.


"A-apa mas?, kamu jahat mas kamu selama ini ternyata membohongi aku, pantas saja selama ini kamu sangat tertutup dan sering meninggalkan aku berhari-hari tanpa kabar". Seru nyonya Mirna tak kalah lantang.


"Sayang bukan begitu, kamu tenang dulu aku bisa menjelaskan semuanya". Tuan Dhika yang tersadar jika jawabannya akan membuat konflik bru antara dirinya dan sang istri langsung menurunkan nada bicaranya.


Namun sayangnya nyonya Mirna terus menuduh suaminya itu dengan berbagai tuduhan dan nada bicaranya sangat lantang sehingga membuat Rian menangis semakin kuat bahkan putri kecilnya juga ikut menangis sehingga nyonya Mirna langsung menenangkan putrinya sedangkan tuan Dhika masih fokus dengan Rian yang masih terguncang jiwanya akibat kematian kedua orang tuanya di tambah lagi dengan nada bicara yang sangat tinggi dari nyonya Mirna.


Nyonya Mirna yang baru saja melahirkan dan kadar hormon yang ada di dalam tubuhnya belum stabil terus terngiang-ngiang akan jawaban dari suaminya dan memiliki pemikiran yang sangat jauh bahkan menyangka jika suaminya itu sudah pernah menikah dan menjadikan dia istri simpanannya. Hal itu juga di dukung dengan suaminya yang pergi begitu saja meninggalkan dirinya dan membawa Rian yang menangis kencang itu bersama dengannya.


Setelah suaminya pergi pemikiran demi pemikiran buruk terus berputar-putar di otak nyonya Mirna dimana dia ingin meninggalkan suaminya itu dan pergi jauh bersama putrinya bahkan dia tidak peduli dengan kondisinya yang masih sangat lemah itu.

__ADS_1


Setelah mencabut infus yang masih terpasang di tangannya nyonya Mirna segera membawa putrinya yang telah di beri nama Maira itu untuk segera meninggalkan rumah sakit itu namun belum juga dia keluar dari ruangan itu nyonya Mirna terkejut karena ruangannya di jaga oleh para pengawal yang berbadan kekar dan pakaian serba hitam hal itu membuat nyonya Mirna yakin jika suaminya bukan pria biasa.


Pikiran nyonya Mirna semakin melayang jauh, dia berpikir jika suaminya akan merebut putrinya dari tangannya dan meninggalkan dirinya begitu saja sehingga dia mencari jalan keluar agar bisa pergi dari sana tanpa di ketahui oleh para pengawal itu.


Tanpa mempedulikan kondisinya yang masih lemah nyonya Mirna bersikeras meninggalkan rumah sakit setelah sekian lama menghindar dari pengawasan para pengawal yang terus berjaga di depan kamarnya. Entah kemana tujuannya wanita yang baru saja resmi berstatus sebagai ibu itu namun langkah kakinya terus membawanya semakin jauh dari rumah sakit sampai akhirnya nyonya Mirna sudah kehabisan tenaganya ketika dia sampai tepat di sebuah panti asuhan.


Karena melihat pangi asuhan itulah timbul ide di benaknya untuk menitipkan Maira untuk beberapa saat di sana sampai dia merasa jika keadaannya aman dan juga kondisi tubuhnya sedikit membaik karena untuk terus berjalan tanpa arah membawa Maira sudah tidak mungkin dia lakukan lagi karena bekas operasi di perutnya sudah mengeluarkan darah segar, apalagi para pengawal yang menjaganya pasti sudah tersadar jika dia tidak berada di rumah sakit dan sedang mencari keberadaannya.


"Maafkan mama sayang karena kamu harus mengalami hal sulit bahkan di saat baru beberapa jam saja kamu di lahirkan ke dunia ini tapi mama janji jika kita akan hidup bahagia setelah ini semua berakhir, baik-baik di sini nak mama pasti akan menjemputmu". Ujar nyonya Mirna lirih dengan air mata bercucuran di wajahnya dan juga rasa sakit yang luar biasa yang dia rasa di bagian perutnya.


Sementara itu di rumah sakit bisa di bayangkan bagaimana murka dan khawatirnya tuan Dhika ketika dia kembali ke kamar istrinya namun sang istri dan juga putrinya sudah tidak berada di ruangan tersebut. Semua para pengawal yang berjaga merasakan bagaimana akibat dari kelalaian yang mereka lakukan dengan menerima bogem mentah dari sang majikan.


Setelah puas menghajar para pengawalnya dengan membabi buta tuan Dhika mengerahkan lebih banyak lagi para pengawal untuk menemukan keberadaan sang istri dan putrinya bahkan dia tidak akan segan-segan mengancam akan menghilang nyawa para pengawalnya sang istri tidak di temukan malam itu juga.

__ADS_1


Karena banyaknya pengawal yang mencari keberadaan nyonya Mirna akhirnya wanita itu di temukan tergeletak di pinggir jalan dengan simbahan darah segar di bagian perutnya dan tidak ada Maira lagi bersamanya. Tuan Dhika langsung membawa nyonya Mirna ke rumah sakit untuk di tangani oleh dokter sedangkan para pengawal masih di tugaskan untuk menemukan Maira.


Nyonya Mirna kehilangan banyak darah dan luka bekas operasinya mengalami robek yang cukup serius sehingga dokter tidak dapat melakukan apa-apa dan nyonya Mirna di nyatakan meninggal dunia bahkan dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Tuan Dhika murka dan menghancurkan apapun yang ada di dekatnya mendengar berita yang di sampaikan oleh dokter bahkan sang dokter juga hampir saja kehilangan nyawanya karena ulah tuan Dhika namun beruntung tangan kecil Rian menghalangi tindakannya dan bocah itu menangis ketakutan dengan tindakan kasar tuan Dhika.


Melihat bocah polos yang menangis kearahnya menyadarkan tuan Dhika jika semua yang terjadi di dalam hidupnya saat semua adalah akibat perbuatannya sendiri. Masa lalunya yang kelam tentu saja yang menjadi penyebab utama dari segala kekacauan yang terjadi saat ini karena walau bagaimanapun dia pernah menjadi mafia yang sangat kejam dan di takuti oleh banyak orang.


Tuan Dhika memeluk erat tubuh mungil Rian sambil menangis meratapi hidupnya saat ini, di hari dimana seharusnya menjadi hari yang sangat membahagiakan baginya karena putrinya terlahir ke dunia ini dia hari itu pula dia harus kehilangan putrinya yang entah dimana keberadaannya saat ini bahkan dia belum sempat menggendong dan memberikan ciuman pertama untuk putrinya itu.


Pada hari itu pula tuan Dhika juga harus merelakan kepergian wanita yang sangat dia cintainya dan juga sahabatnya di hari yang sama. Saat ini yang tuan Dhika miliki hanyalah Rian seorang yang harus dia jaga dan dia rawat layaknya putranya sendiri dengan tetap melakukan pencarian terhadap putrinya bahkan sampai puluhan tahun lamanya.


Sejak saat itu tuan Dhika dan Rian hidup sebagai ayah dan anak yang penuh cinta dan kasih sayang dimana bahkan bocah berumur lima tahun itu tidak merasa kekurangan apapun di hidupnya termasuk sosok kedua orang tuanya yang sudah tidak dia ingat lagi.

__ADS_1


"Maafkan aku Mirna, semua ini terjadi karena kesalahan dan kelalainku tapi aku berjanji padamu aku akan menemukan putri kita dan dia akan hidup bahagia untuk mu". Batin tuan Dhika.


Flashback Off....


__ADS_2