
"Apa ini masih sakit?". Tanya Shinta kepada Ricko sambil mengelus bekas luka di dada Ricko yang terlihat jelas. Masih jelas di ingatan wanita itu saat suaminya berjuang antara hidup dan mati bahkan shinta sempat kehilangan harapannya karena Ricko sempat mengalami masa kritis setelah melakukan operasi transplantasi jantung.
"Aku sudah tidak merasakan sakit apapun lagi sekarang". Jawab Ricko singkat, jawaban yang sama setiap hari karena pria itu memang tidak ingin melihat istrinya khawatir tapi kali ini pria itu tidak berbohong karena nyatanya kondisinya saat ini memang sudah sangat baik sepertinya jantung baru yang dia dapatkan sudah mulai bisa beradaptasi dengan tubuh pria itu.
Shinta lega setiap mendengar jawaban itu dari suaminya karena bukan hanya sekali ini shinta menanyakan hal. tersebut namun setiap harinya bahkan sampai Ricko pernah protes mengapa shinta terus saja menanyakan pertanyaan yang sama setiap saat.
"Ayo kita kembali ke indonesia". Ajak Ricko pada sangat istri yang saat ini tidur di dalam pelukannya. Ya, hubungan Ricko dan shinta saat ini sangatlah baik berjalan seolah tidak pernah terjadi masalah di antara mereka bahkan Shinta merawat Ricko dengan sangat baik dan tulus meskipun hubungan suami istri belum lah sempurna layaknya hubungan suami istri dalam arti yang sesungguhnya.
Sudah satu bulan sejak Ricko menerima donor transplantasi jantung, keadaan pria itu semakin membaik dari hari ke hari. Rusak ada masalah atau penolakan apapun dari tubuh Ricko terhadap jantung yang dia Terima itu rupanya di benar-benar berusaha memenuhi janjinya untuk berusaha sekuat tenaganya agar dia bisa bertahan dan sembuh.
Tidak ada juga pembahasan tentang masalah yang terjadi di antara mereka karena bagi Ricko melihat ketulusan istrinya dalam merawat dirinya sudah sangat cukup untuk semangat menjalani hidup normal seperti orang lain.
"Tidak mau, kita akan pulang ketika dokter sudah mengatakan jika kamu sudah benar-benar sehat mas". Jawaban yang sama setiap harinya dari Shinta setiap Ricko mengajaknya kembali ke indonesia.
Pria itu rupanya sudah muak dengan obat-obatan dan juga suasana di negeri orang, dia sudah sangat ingin kembali ke rumahnya dan menghabiskan waktu bersama dengan wanita yang sangat di cintainya itu.
"Sudah ku duga, tidakkah kamu bosan berada di sini?".
"Tidak sama sekali". Jawab Shinta tegas dan tidak terbantahkan.
"Apa kamu tidak merindukan sahabat-sahabat mu?".
"Aku bisa menelpon mereka setiap saat".
"Baby Kai, apa kamu tidak ingin menggendongnya?".
"Sangat". Shinta menghela napas panjang karena memang dia sangat merindukan bocah tampan itu.
"Apalagi kakakmu juga akan menikah satu bulan lagi, ayo kita pulang saja". Rengek Ricko, jiwa pekerja kerasnya meronta-ronta jika terus-terusan berada dalam pengawasan dokter seperti saat ini.
__ADS_1
"Mas, jangan terus bersikap seperti anak kecil, masih ada waktu satu bulan lagi dan kita akan memastikan semua akan baik-baik saja barulah kita bisa kembali kesana". Ujar Shinta tegas dan akhirnya Ricko pasrah pada perkataan istrinya.
"Mas". Kemudian Shinta memanggil suaminya.
"Iya".
"Ke depannya apapun yang kamu rasakan, sakit, sedih, bahagia atau apapun itu tolong jangan simpan itu semuanya sendiri, ada aku di sini sebagai tempat kamu berbagi, kamu sudah tidak hidup sendirian lagi sekarang mas". Ujar Shinta yang membuat Ricko tersentuh.
"Hidup sendirian sejak kecil tanpa tahu siapa sebenarnya diriku membuat aku terbiasa mandiri dan tidak pernah mengandalkan orang lain".
"Tapi mulai sekarang sudah ada aku di sini jadi kamu sudah tidak sendiri lagi, ada keluargaku juga dan sahabat-sahabat kita".
"Baiklah aku setuju". Jawab Ricko tanpa bantahan karena dia memang tidak pernah ingin membahas atau membantah apapun yang akan menyebabkan perdebatan di antara mereka, apapun itu yang penting Shinta tetap berada bersamanya.
"Ini saja sudah lebih dari cukup, kamu selalu berada di sisiku Shinta". Batin Ricko kemudian memeluk erat tubuh wanitanya itu.
......................
Ya. Kaisar yang sebentar lagi genap satu tahun itu sudah lancar berjalan meskipun masih belum sepenuhnya bisa mengontrol langkahnya sehingga dia terkadang terjatuh saat berjalan. Hal itulah yang menambah kerepotan Anna dan Dewantara dalam persiapan pernikahan mereka padahal jujur Anna sebenarnya tidak ingin pesta pernikahannya di rayakan secara besar-besaran cukup sah di mata hukum dan agama saja sudah sangat membuatnya bahagia namun keputusan keluarga Dewantara selalu tidak terbantahkan sehingga mau tidak mau dia harus mengikuti keputusan itu.
Bukan hanya pesta pernikahan yang akan mereka rayakan namun juga hari ulang tahun putranya yang pertama juga ikut di sertakan dalam acara tersebut, ya, Dewantara memang sengaja mengadakan pesta pernikahan itu bertepatan dengan hari kelahiran anaknya sekaligus untuk memperkenalkan Kaisar kepada semua orang sebagai putranya.
Ternyata Stress menjelang pernikahan antara dirinya dan Dewa sangat berpengaruh bagi wanita itu sampai membuat hubungannya dengan Dewa sedikit merenggang dan tentu saja Dewa tidak akan bisa menerimanya begitu saja. Pria itu sudah merencanakan sesuatu agar hubungannya dengan calon istrinya kembali harmonis sehingga malam itu dia mengajak Anna ke suatu tempat meskipun harus membujuk Anna dengan penuh perjuangan.
Anna dengan wajah yang tidak bersahabat mau tidak mau ikut dan duduk di samping Dewantara yang sedang mengemudikan mobil bahkan sangking kesalnya wanita itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun dan membuang pandangan keluar jendela mobil.
"Sayang". Panggil Dewantara lembut sambil menggenggam jemari Anna.
"Heem". Jawab Anna acuh.
__ADS_1
"Ck, belum menikah saja sudah galak". Celetuk Dewantara.
"Kalau begitu kita jangan menikah saja". Jawab Anna ketus.
"Ciiit".....
Dewantara langsung menghentikan mobil yang sedang di kendarai itu secara tiba-tiba begitu mendengar apa yang di ucapkan oleh Anna barusan sehingga membuat wanita itu takut bukan main.
"Mas, kenapa berhenti mendadak seperti itu". Protes Anna semakin kesal saja kepada calon suaminya itu.
Dengan wajah yang sudah memerah karena menahan amarah Dewantara langsung menarik tekuk Anna dan melahap bibir ranum milik wanita itu dengan sangat buasnya bahkan membuat Anna yang di serang secara tiba-tiba kesusahan untuk bernapas dengan normal.
Dewantara tidak mau melepaskan pertautan bibir itu meskipun Anna telah menepuk-nepuk dadanya sebagai isyarat jika dia sudah sangat kesulitan dalam bernapas namun akhirnya suara klakson dari mobil-mobil yang ada di belakang mereka lah yang membuat pria itu harus menyerah dan melepaskan Anna.
Jangan tanya bagaimana marahnya para pengendara mobil yang berada di belakang mobil Dewantara karena mereka sudah pasti menggerutu dengan berbagai macam sumpah serapah kepada pria itu dan tentu saja membuat Anna semakin kesal saja kepada Dewantara.
"Mas". Protes Anna ketika mulutnya sudah bisa berbicara lagi.
"Jaga ucapanmu itu jika tidak aku akan melakukan hukuman yang lebih sadis dari pada itu bahkan tanpa peduli dimana tempatnya". Ancam Dewantara serius dan Anna menyadari jika pria itu tidak main-main dengan ucapannya.
Bukannya takut dengan ancaman itu Anna justru merasa sangat tersanjung karena meskipun dia tidak serius dengan ucapannya tadi, calon suaminya itu tampak sangat nyaman bahkan takut jika Anna mengatakan hal tersebut.
"Bagaimana bisa kamu membuat aku merasa sangat di cintai sebesar ini mas". Batin Anna dalam hati sambil tersenyum simpul kearah Dewantara.
"Jangan senyum-senyum seperti itu, aku sedang marah besar padamu". Ujar Dewantara tanpa menoleh kearah Anna.
"Dan aku sedang sangat bahagia". Timpal Anna tak mau kalah.
"Ck". Dewantara akhirnya menyerah dan kembali fokus menuju tempat tujuan mereka malam itu.
__ADS_1
...----------------...