
"Tini, maafkan aku, meskipun aku tahu jika tidak akan ada yang bisa ku lakukan untuk menebus kesalahanku". Ujar Dewantara lagi sambil membelai rambut Anna.
Dewantara melamun memikirkan bagaimana dia bisa berbuat seperti kepada Anna dengan pandangan yang tidak pernah lepas dari wajah cantik Anna, Dewantara juga tidak menyangka jika pelayannya itu memiliki wajah yang sangat cantik dan tubuh yang sangat indah.
"Ah, sepertinya aku sudah gila karena memikirkan hal itu". Gumam Dewantara karena pikiran nakal kembali menghinggapi otaknya karena jujur petualangan tadi malam sangat berbeda dengan petualangannya sebelum-sebelumnya tentu saja itu karena baru kali ini dia merasakan wanita yang masih suci dan tidak tersentuh seperti Anna.
Dewantara berkali-kali menjambak rambutnya sendiri karena tidak tahu apa yang harus di katakan kepada wanita itu ketika nanti Anna sudah sadar dari pingsannya sampai pada akhirnya dia di kekuatan dengan kedatangan seseorang di luar sana yaitu dokter yang sejak tadi di tunggu olehnya.
Dewantara langsung membawa dokter menuju kamarnya dan segera memeriksa keadaan Anna. Dokter memasang stetoskop di telinganya dan hendak menyibak selimut yang menutupi tubuh Anna agar dia bisa memeriksa kondisi wanita itu namun Dewantara langsung menahan tangan sang dokter.
"Apa yang ingin anda lakukan?". Tanya Dewantara terkejut. Selain pria itu tidak mau sang dokter tahu bagaimana kondisi seluruh tubuh Anna, dia juga merasa tidak terima jika ada pria lain yang melihat keindahan tubuh Anna karena dokter itu adalah seorang pria muda.
"Tentu saja memeriksa kondisi kekasih anda tuan". Jawab dokter.
"Jangan buka selimutnya, periksa saja wajahnya". Titah Dewantara tegas bahkan sampai membuat sang dokter mengerutkan keningnya karena bingung.
"Tapi kenapa, bagaimana mana saya tahu keadaan seseorang hanya dari wajahnya saja?".
"Dia, dia tidak memakai apapun". Jawab Dewantara dengan suara yang pelan namun terdengar jelas di telinga dokter itu sehingga dia bisa menyimpulkan apa yang sedang di alami oleh Anna apalagi di dalam kamar tersebut aroma bekas percintaan tercium sangat jelas.
__ADS_1
"Baiklah". Ujar sang dokter sambil tersenyum tipis kemudian meletakkan tangannya di atas kening Anna. "Dia seperti demam karena kelelahan, sebaiknya jangan terlalu memaksakan kekasih anda tuan, dia bahkan sampai tidak sadarkan diri seperti ini". Celetuk dokter lagi karena dia sudah hapal dengan kelakuan Dewantara sang casanova itu.
"Aku tidak menyuruhmu memberikan aku saran untuk itu, periksa saja dia secepatnya dan berikan aku solusi agar di segera membaik". Ujar Dewantara ketus karena kesal kepada dokter langganannya itu.
"Hahaha, Aku hanya bercanda tuan, baiklah Aku akan memasangkan dia infus dan menyuntikkan obat kedalamnya, bolehkah Aku menyentuh tangannya?". Tanya dokter dengan masih saja menggoda Dewantara.
Dokter kemudian melakukan pekerjaannya dengan baik tanpa mempedulikan pandangan Dewantara yang terus mengintimidasi dirinya karena dia sudah terbiasa menghadapi tingkah konyol sang tuan muda Dewantara.
Setelah dokter meninggalkan rumahnya Dewantara masih saja betah memandang wajah cantik sang pelayan dan membayangkan kembali kejadian tadi malam saat dirinya menyerang Anna secara membabi buta karena menganggap jika Anna adalah Maira sampai dia merasa tubuhnya terasa lengket dan dia segera memutuskan untuk membersihkan tubuhnya di kamar mandi sembari menunggu Anna sadarkan diri.
Anna bersusah payah membuka matanya ketika dia tinggal sendirian di kamar Dewantara, ada rasa sakit yang sulit di artikan di seluruh tubuhnya terutama bagian intinya namun pergi dark tempat itu adalah tujuan utamanya saat ini karena dia tidak mau jika Dewantara kembali mengulangi perbuatannya.
Tempat pertama yang Anna tujuan adalah kamarnya karena dia harus menggunakan pakaian yang sangat tertutup untuk pergi dari sana agar tidak ada yang melihatnya dalam keadaan menyedihkan seperti itu. Setelah berpakaian lengkap Anna hanya mengambil ponsel dan barang-barang pribadi miliknya tanpa peduli lagi dengan hal lain termasuk surat perceraian yang sudah di tanda tangani oleh Dewantara.
Setelah kepergian Anna dari rumahnya Dewantara yang baru saja menyelesaikan mandinya sangat terkejut karena ranjangnya telah kosong tak berpenghuni lagi. Secepatnya kilat Dewantara berlari menuju kamar sang pelayan karena dia mengira Anna mungkin saja telah kembali ke kamarnya namun sayangnya Anna sama sekali tidak ada di sana sehingga membuat pria itu frustasi.
Dewantara bahkan berlarian sampai ke depan rumahnya karena dia mengira mungkin saja Anna belum pergi jauh dari rumahnya namun hasilnya tetap nihil. Dewantara kemudian kembali masuk ke rumahnya karena dia mau bersiap-siap mencari Anna meskipun dia tidak tahu kemana dia harus mencari wanita itu.
Seharian sudah Dewantara berkeliling tanpa arah dan tujuan dengan menggunakan mobilnya namun wanita yang di carinya itu tidak kelihatan sama sekali seperti di telan bumi, bahkan ponsel Anna juga sudah tidak bisa di hubungi lagi sejak Anna meninggalkan rumahnya tadi pagi.
__ADS_1
Dewantara yang mulai putus asa memutuskan untuk kembali ke rumahnya karena sisa tenaga yang dia miliki sudah tidak cukup untuk tetap menerus misinya untuk mencari Anna. Dewantara melihat setiap sisi kamarnya yang masih berantakan akibat ulahnya tadi malam bahkan bercak darah di sprei masih utuh di ranjangnya.
Padahal bukan kali ini saja Dewantara membawa seorang wanita naik ke atas ranjangnya namun saat Anna yang berada di sana tentu saja dengan paksaan darinya membuat Dewantara merasa sangat bersalah apalagi wanita itu masih suci bukan seperti wanita kebanyakan yang dia temui selama ini.
"Kamu dimana tin, harusnya kamu tidak boleh pergi sebelum menghukum ku dan marah-marah kepadaku karena perbuatanku sungguh sangat kejam". Gumam Dewantara lirih.
Dewantara kemudian mendapati surat perceraiannya dengan Maira yang telah dia tanda tangani tadi malam, entah mengapa dia sama sekali tidak peduli dan tidak tertarik lagi memikirkan apapun yang berkaitan dengan istrinya itu, padahal dia bisa saja merobek atau membakar surat itu agar Maira tidak bisa lepas darinya namun yang dia lakukan justru sebaliknya.
Dewantara menghubungi pengacara dan mengatakan jika dia ingin segera bercerai dari Maira dan surat perceraian tersebut sudah dia tanda tangani, Dewantara tidak mau di repot kan lagi dengan urusan Maira sehingga apapun yang berkaitan dengan perceraiannya dia serahkan kepada sangat pengacara.
Setelah kejadian tadi malam rupanya Dewantara sudah tidak ingin lagi menghabiskan waktunya untuk memikirkan hal-hal yang tidak penting lagi apalagi tentang Maira yang sama sekali tidak mencintai dirinya dan sudah tidak mungkin mau bersamanya lagi.
Bagi Dewantara saat ini yang paling adalah menemukan Anna karena dia takut jika wanita itu akan melakukan hal yang tidak di inginkan. Rasa tanggungjawab di hati Dewantara tiba-tiba muncul begitu saja bahkan tanpa dia rencana meskipun dia ingin melupakan semuanya begitu saja namun nyatanya bayangan Anna terus menghantuinya.
"Apa ini semua terjadi akibat semua kelicikan yang telah aku lakukan selama ini Tuhan". Teriak Dewantara.
Pria itu menyesali semua perbuatan jahat yang selama ini dia lakukan baik kepada Rian, Ayuna, Maira dan sekarang kepada Anna yang sama sekali tidak bersalah namun harus menanggung akibat dari perbuatannya itu.
...----------------...
__ADS_1