Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 48


__ADS_3

"Ka-kamu". Ujar Maira terbata-bata dengan memundurkan langkahnya seiring dengan pria yang berada di hadapannya itu terus melangkah maju.


"Maira maafkan aku, aku kemari untuk menjelaskan jika tadi semua hanyalah-". Ujar Rian namun Maira langsung memotong pembicaraan Rian dengan mengangkat tangan agar Rian menghentikan langkahnya.


Ya, pria yang berada tepat di depan Maira saat ini tentu saja Rian, karena Dewantara tidak akan mungkin bisa menembus sistem pertahanan yang di siapkan oleh tuan Dhika untuk menjaga Maira, karena meskipun tidak terlihat namun orang-orang suruhan tuan Dhika selalu siap siaga di sekitaran Maira dengan jumlah yang juga tidak sedikit.


"Berhenti di situ tuan, atau aku akan berteriak". ajar Maira mengancam namun suaranya sungguh sangat tidak mencerminkan dia sedang mengancam Rian karena dia masih tidak percaya jika pria yang sedang di tangisi itu berada begitu dekat dengannya.


Rian sendiri sama sekali tidak mengindahkan ancaman Maira itu, pria itu justru semakin mendekati tubuh Maira dan meraih wanita itu kemudian membawa Maira kedalam pelukannya.


"Teriak saja sekuat tenagamu, aku tidak takut, setidaknya para tetangga akan berdatangan dan menikahkan kita secepat mungkin". Ujar Rian sambil melepaskan rasa rindu yang begitu lama sudah di pendam.


Maira sangat bingung dengan perubahan sikap Rian yang sangat tiba-tiba itu karena baru saja beberapa jam yang lalu dia mengatakan jika dia mencintai Ayuna yang tentu saja sangat membuat hatinya panas bahkan hanya dengan mengingatnya saja namun saat ini pria itu justru berharap dapat menikah dengan Maira secepatnya.


Dasar Maira yang lemah dan mudah tergoda, baru saja dia memupuk rasa benci yang begitu dalam di hatinya untuk pria bernama Rian namun begitu dia berada di pelukan pria itu, hatinya luluh begitu saja bahkan untuk melawan saja Maira sudah tidak mampu sehingga dia sangat menikmati pelukan hangat itu sambil menghirup banyak-banyak aroma tubuh Rian yang sangat dia rindukan itu.


Rian melepaskan pelukannya dan menatap intens wajah Maira kemudian dia tersenyum manis namun seketika hatinya kembali panas kala melihat bekas luka di pelipis Maira akibat perbuatan Dewantara. Jika saja pria itu berada di hadapannya saat ini maka bisa di pastikan jika wajahnya akan hancur karena Rian tidak akan mengampuni perbuatannya terhadap Maira.


Jangan berpikir jika Rian tidak tahu apa yang terjadi kepada Maira saat wanita yang di cintainya itu berada di Jerman, karena nyatanya Rian selalu saja menginterogasi Ricko untuk mengetahui segala sesuatu tentang Maira.

__ADS_1


Rian mengecup kening Maira dengan lembut namun terasa begitu hangat bagi Maira kemudian Rian berbisik. "Aku mencintaimu dengan dan tanpa ku ucapkan bahkan seluruh dunia tahu itu Maira,kali ini aku tidak akan membiarkanmu pergi kemanapun lagi karena kamu hanya milikku". Ujar Rian namun Maira tidak menerima pernyataan cinta itu begitu saja, dia bersikap untuk mencecar Rian dengan berbagai pertanyaan dan tidak lupa caci maki keran pria itu telah membuatnya menangis tapi belum sempat dia melakukan hal tersebut Rian sudah terlebih dulu membungkam bibir Maira dengan menggunakan bibirnya, rupanya pri itu tahu betul jika Maira akan mengeluarkan sumpah separah kepadanya.


CUP....


Pungutan di bibirnya yang mendadak dan tidak di sangka oleh Maira itu tentu saja tidak bisa dia hindari apalagi Rian mengunci tubuhnya di dalam pelukan yang cukup erat. Pungutan yang semakin lama semakin menuntut itu membuat keduanya larut dalam suasana yang juga sangat mendukung bahkan Maira tidak tahu kapan tubuhnya itu sudah berada di tempat tidur miliknya dengan tubuh Rian berada di atasnya.


Pergumulan panas itu terus saja bergulir secara alami karena besarnya rasa rindu yang sudah mereka pendam masing-masing selama di pisahkan oleh jarak yang cukup jauh selama ini bahkan mereka lupa akan masalah atau status apapun yang masih melekat pada diri mereka saat ini.


Namun secara tiba-tiba Rian menghentikan aksinya tentu saja dengan menahan hasratnya sekuat mungkin karena dia tidak ingin merusak sesuatu yang di anggap tantangan sangat berharga sebelum dia menikahi Maira secara sah.


Maira merasa heran dengan perubahan sikap Rian yang tiba-tiba itu padahal saat ini baik dia ataupun Rian sudah dalam keadaan setengah polos dimana hanya pakaian dalam saja yang masih melekat di tubuh keduanya. Rian merebahkan tubuhnya di samping Maira dengan menghela napas panjang.


Maira sendiri tidak bisa berkata apapun karena dia terharu dengan apa yang di lakukan oleh Rian padahal yang dia tahu jika mereka sebelumnya sudah pernah melakukan hal tersebut tapi anehnya Rian sekarang justru menjaga harga dirinya seolah dia masih perawan saja.


"Cih, dia bertingkah seolah-olah dia tidak memanfaatkan tubuhku sebelumnya". Umpat Maira dalam hati.


Karena jujur meskipun dia merasa tersanjung karena Rian begitu menjaga hal-hal yang tidak boleh di lakukan sebelum menikah namun hasrat Maira benar-benar sudah memuncak tadi, dia sangat ingin merasakan kenikmatan dunia itu karena meskipun baginya mungkin itu bukan kali pertama namun saat pertama kali Rian menidurinya dulu dia tidak merasakan apapun karena dia mabuk berat sehingga dia amat penasaran dengan kenikmatan yang katanya memabukkan itu.


Rian membawa Maira dalam pelukannya dan mereka tidur sambil berpelukan di kamar tersebut karena mulai saat itu Rian tidak akan lagi melepaskan Maira walaupun hanya sebentar saja.

__ADS_1


"Sekarang tidurlah, aku akan memberikan mu kenikmatan itu setiap hari setelah menikah nanti jadi jangan pasang wajahnya cemberut mu itu lagi". Ujar Rian menggoda Maira.


Mendengar hal itu Maira langsung mencubit perut seksi Rian sampai membuat pria itu meringis kesakitan.


"Aws, sakit sayang, kenapa mencubit ku hemm?". Tanya Rian.


"Jaga ucapanmu tuan, ini rumah ku jadi aku bisa mengusir mu kapan saja aku mau". Gerutu Maira mecoba melepaskan pelukan Rian karena dia kesal ketika Rian menggodanya.


"Apa kamu yakin akan mengusirku, apakah kamu akan sangat merindukanku jika aku pergi?".


"Tidak, pergi saja aku tidak peduli padamu".


"Benarkah?, tapi tadi kamu sangat menginginkan ku bahkan kamu mencumbu ku hampir-".


Maira langsung membekap mulut Rian dengan menggunakan tangannya karena dia tahu Rian akan terus menggodanya dengan kalimat-kalimat yang sangat menjengkelkan untuk dia dengar.


"Hentikan tuan, atau aku akan benar-benar mengusir anda dari sini". Ancam Maira serius sehingga Rian menghentikan aksi nakalnya menggoda Maira karena dia tidak ingin merusak momen indah mereka malam itu.


Malam itu kedua insan itu sangat menikmati momen kebersamaan mereka setelah lamanya perpisahan yang mereka alami, berada di dalam satu kamar dan menghabiskan malam bersama, bercanda bahkan juga merencanakan masa depan yang terasa begitu indah di depan mata namun ada hal yang masih mengganjal di hati Maira yaitu statusnya sebagai istri orang lain dan akankah Dewantara mau menceraikannya begitu saja mengingat pria itu sangat terobsesi kepada dirinya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2