
"Ah, akhirnya kamu muncul juga, dimana kamarku?". Tanya Shinta ketus wajah bahagianya sudah menghilang sejak mendengar percakapan Ricko dengan Rian tadi.
"Ikut aku". Rian kemudian melangkah menuju lantai atas dan di ikuti oleh shinta di belakangnya.
"Apa rumah sebesar ini tidak ada pelayan, kita tidak mungkin mengurus rumah ini berdua saja kan?". Tanya Shinta penasaran karena melihat rumah itu sangat sepi.
"Dasar wanita pemalas, kamu tenang saja aku sedang memilih pelayan yang cocok untuk kita". Jawab Ricko ketus.
Shinta tidak ambil pusing ketika Ricko menyebutnya sebagai wanita pemalas karena se rajin apapun dirinya pasti dia tidak akan sanggup mengurus rumah sebesar itu sendirian. "Aku rasa kita membutuhkan lebih dari satu pelayan karena-". Ucapan Shinta terpotong karena Ricko tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Aku pastikan kamu tidak akan pernah memegang sapu ketika tinggal di rumah ini". Timpal Ricko menyindir Shinta namun wanita itu justru memasang wajah bahagia.
"Uuh, kamu memang suami terbaik". Sindir Shinta. Sepertinya pasangan suami istri ini memang pintar dalam hal saling perang batin dan salin sindir.
"Ini kamar kita". Ujar Ricko ketika mereka tiba di depan pintu sebuah kamar.
"Kita?, aku mau kamar ku sendiri". Tegas Shinta.
"Jangan membantah karena kamu istriku jadi kita kan tidur di kamar yang sama". Jawab Ricko tak kalah tegas sehingga membuat Shinta tidak ingin berdebat lagi.
"Ck, baiklah". Timpal Shinta kemudian dia langsung masuk ke kamar yang sangat tertata rapi itu. Shinta takjub dengan isi kamar itu, selain sangat luas kamar itu juga terlihat sangat mewah dan elegan.
"Wow, aku salut karena mereka menyiapkan semuanya dengan cukup matang hanya untuk pernikahan konyol ini". Gumam shinta dalam hati.
Tanpa membantah lagi Shinta menjalani apapun yang sudah di rancang oleh Ricko untuknya dia bahkan terlihat sangat tunduk kepada apapun yang di katakan oleh Ricko. Tapi sifat aslinya tetap dia tonjolkan dimana dia akan melakukan apapun seenaknya terutama saat ini dia langsung naik ke tempat tidur dan ber lompat ria di atasnya.
"Yuhuu, aku pasti akan malas bangun pagi jika kasurnya se empuk ini". Seru Shinta dan anehnya Ricko sama sekali tidak melarangnya meskipun bentuk kasur itu sudah tidak beraturan lagi padahal pria itu sangat benci jika melihat sesuatu yang berantakan.
"Dia terlihat seperti seorang suami yang mencintai istrinya apa adanya, baiklah jika seperti itu aku akan lihat seberapa sabar kamu menghadapi aku". Batin Shinta melihat Ricko yang acuh ketika dia membuat bentuk kasur yang tertata rapi itu layaknya seperti kapal pecah.
Namun meskipun Shinta tidak pintar dalam hal merapikan rumah dan membuatnya tampak rapi, tapi wanita itu sangat lihai dalam hal memasak bahkan dia melarang Ricko untuk memesan makanan untuk makan malam mereka karena dia ingin memasak sendiri apalagi ketika melihat dapur yang sangat luas dan isi kulkas juga sangat lengkap wanita itu langsung tertantang untuk melancarkan aksinya untuk memasak.
Dari kejauhan Ricko tersenyum simpul melihat betapa lihainya Shinta memainkan semua peralatan dapur.
"Ternyata ada juga keahlian yang dia miliki selain membuat semua isi rumah ini berantakan". Gumam Ricko.
Ricko kemudian menghampiri Shinta dan berdiri tepat di belakang wanita itu dengan mengikis jarak di antara mereka. "Apa yang kamu masak?". Tanya Ricko berbisik lembut di telinga Shinta sehingga membuat Shinta merinding mendengarkannya.
__ADS_1
"Ba-banyak, semoga kamu suka". Jawab Shinta terbata-bata.
"Pasti,apapun yang kamu masak dengan menggunakan tanganmu pasti akan menjadi makanan kesukaan ku". Jawab Ricko lembut kemudian dia melingkarkan tangannya di pinggang Shinta.
Entah mengapa aksi Ricko kali ini mampu membuat jantung Shinta berdetak tidak karuan, dia merasa jika apa yang sedang di lakukan oleh suaminya itu sangatlah natural tanpa rekayasa sedikitpun apalagi mendengar perkataan Ricko barusan.
Tak berhenti di situ saja, Ricko juga menyapu hampir seluruh leher jenjang Shinta dengan hidung dan bibirnya sehingga membuat Shinta melayang karena kenikmatan yang di timbulkan oleh aksi suaminya itu namun secepatnya dia tepis perasaan itu dan melepaskan cengkeraman tangan Ricko di pinggangnya.
"Mas, jika kamu mengganggu ku seperti ini kapan aku bisa menyelesaikan ini semua?". Protes Shinta.
"Aku tidak melakukan apapun, aku hanya memelukmu saja, ayo lanjutkan lagi".
"Mas, aku tidak bisa masak jika kamu berdiri disini, ayo duduklah disini dengan tenang agar masakannya cepat siap karena aku sudah sangat lapar". Shinta langsung menarik tangan Ricko dan menuntunnya untuk duduk di meja makan dan Ricko tidak membantahnya lagi.
Setelah setengah jam berkutat dengan peralatan dapur akhirnya Shinta siap juga dengan aksi dan semua makanan yang sudah tertata rapi di hadapan suaminya. Ya, Ricko memang sengaja duduk di meja makan dan menikmati pemandangan yang mulai di sukai yaitu memperhatikan Shinta memasak bahkan sampai membuat Shinta sedikit salah tingkah apalagi ketika pria itu tidak berkedip saat menatap dirinya.
"Ayo makan". Ajak Shinta kemudian keduanya larut dengan makan malam mereka. Benar saja, Ricko terlihat makan dengan sangat lahap dan menghabiskan semua makanannya tanpa sisa, Shinta yang melihat hal itu bahkan di buat sangat terkesan dan tersenyum simpul.
"Sangat lezat, berat badanku pasti akan bertambah pesat jika setiap hari kamu masak seenak ini". Ujar Ricko memuji masakan istrinya tanpa harus di minta sehingga lagi-lagi Shinta salah tingkah di buatnya.
Tak hanya itu, aksi mengejutkan lainnya yang di tunjukkan Ricko adalah ketika pria itu membantu Shinta membereskan dan membersihkan peralatan dapur yang sudah berantakan dan kotor, pria itu juga tidak canggung sama sekali apalagi merasa jijik ketika tangannya harus memegang piring kotor.
"Tidak masalah, kamu sudah lelah menyiapkan makan malam untukku jadi apa salahnya aku membantumu membersihkan ini semua". Jawab Ricko.
Akhirnya tanpa bantahan lagi mereka melakukan pekerjaan dapur itu secara bersama-sama layaknya pasangan suami istri yang sangat harmonis dan saling mencintai.
"Ayo". Ajak Ricko ketika semua pekerjaan di dapur sudah beres.
"Kemana?". Tanya Shinta bingung.
"Tentu saja ke kamar". Jawab Ricko.
"Kamu duluan saja mas aku masih belum mengantuk". Shinta mulai menyadari jika ada maksud lain dari ajakan suaminya tadi.
"Justru bagus jika kamu berusaha mengantuk karena kita memang ke kamar bukan untuk tidur".
"Emmmh, lalu?". Tanya Shinta pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
Tanpa menjawab dan basa-basi lagi Ricko langsung menggendong tubuh istrinya dan membawa sang istri menuju kamar mereka. Sesampainya di kamar Ricko langsung meletakkan tubuh Shinta di atas kasur dan menindihnya.
"Mas, apa yang akan kamu lakukan?". Tanya Shinta panik.
"Aku meminta hakku sebagai suamimu". Jawab Ricko lembut.
"Ta-tapi mas-". Ricko tidak membiarkan sepatah katapun lagi keluar dari mulut Shinta karena dia langsung membungkam bibir seksi tersebut dengan serangan ganasnya.
Tenaga dan kekuatan Shinta benar-benar tidak sanggup mengimbangi tenaga yang di miliki oleh suaminya sehingga sekeras apapun dia berusaha melepaskan diri tetap saja dia tidak mampu melakukannya. Serangan Ricko terus turun kearah leher jenjang dan bagian dada Shinta yang sangat menggoda itu sehingga Shinta kembali bisa memohon kepada Ricko agar melepaskan dirinya.
"Mas aku mohon aku tidak bisa melakukan ini". Ujar Shinta namun Ricko sama sekali tidak mempedulikannya bahkan dia sudah menanggalkan baju Shinta dan hanya tersisa bra yang menutupi bagian intinya saja.
"Mas, aku mohon jangan seperti ini, lepaskan aku mas". Semakin Shinta memohon semakin membuat gairah Ricko menggebu-gebu bahkan saat ini Ricko sangat menikmati permainannya di buah kembar yang berada tepat di depan wajahnya.
"Mas, aku benar-benar tidak bisa mas, aku sedang datang bulan". Ucap Shinta kali ini dengan suara bergetar karena menahan tangisnya.
Deg...
Mendengar hal itu spontan membuat Ricko menghentikan aktivitasnya dan menatap tak percaya kearah sang istri, bagaimana bisa Shinta kali ini kembali membohongi dirinya padahal jelas ketika mereka sedang berbulan madu wanita itu sedang datang bulan.
"Lagi-lagi kamu ingin mempermainkan aku hehhm?". Tanya Ricko tak percaya.
"A-aku tidak berbohong kali ini". Jawab Shinta takut melihat kita kan kemarahan yang terpancar jelas di mata suaminya.
"Lalu di jepang?". Tanya Ricko penasaran.
"Ma-maafkan aku mas aku berbohong waktu itu". Jawab Shinta dengan air mata yang mulai menetas di sudut matanya.
Ricko menghela napas kasar karena dia sudah tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut sangat istri. "Aku bahkan terlalu naif karena sudah mempercayai mu sebanyak dua kali tapi kali ini aku tidak akan tertipu lagi bahkan dengan air mata palsu mu itu". Ujar Ricko tegas.
"Ja-jangan mas". Teriak Shinta ketika Ricko menarik paksa celana pendek yang di kenakan.
Dan benar saja hal yang seharusnya tidak di lihatnya menjadi pemandangan yang membuat hatinya ikut tergores apalagi Shinta, wanita itu merasa sangat malu dan tidak punya harga diri di hadapan Ricko. Shinta kemudian langsung menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya dan bangkit dari kasur begitu juga Ricko yang seolah memberi jalan untuk Shinta.
"Ma-maafkan aku". Ujar Ricko namun tidak di gubris oleh Shinta, wanita itu menghapus air matanya kemudian pergi meninggalkan Ricko namun baru beberapa langkah dia berjalan dia kembali lagi mendekat kearah Ricko.
Plak...
__ADS_1
Sebuah tamparan yang cukup keras di lakukan Shinta dan kena tepat di pipi suaminya itu namun Shinta tetap tidak mengeluarkan sepatah katapun hanya air mata sebagai isyarat jika dia sangat kecewa dengan sikap Ricko, Ricko sendiri hanya menerima perlakuan istrinya tanpa bisa membantah karena dia memang sudah salah dalam bertindak.
...----------------...