Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 83


__ADS_3

Gagal, itulah hasil dari proses bayi tabung yang di lakukan oleh Maira dan juga Rian. Hancur, sedih, putus asa bahkan nyaris depresi begitulah yang dirasakan oleh Maira saat ini meskipun Rian tidak merasakan hal tersebut juga namun melihat Maira yang terpuruk akibat gagalnya proses bayi tabung yang di lakukan oleh Maira dengan sangat baik itu pasti membuat Rian juga sangat terpukul dan tidak tega melihat kondisi sang istri tercinta.


"Maira, aku memang sangat menginginkan anak dari rahimmu tapi aku lebih menginginkan Maira ku yang ceria dan bahagia seperti dulu kembali lagi di tengah-tengah kehidupanku, apa yang bisa aku lakukan untuk itu semua sayang?". Batin Rian sambil mengusap sudut matanya yang basah.


Tuan Dhika juga merasakan hal yang sama, bahkan dia mengutuk kekuasaan dan kekayaannya yang dia miliki namun sama sekali tidak berguna di saat seperti ini bahkan dia nyaris tidak dapat melakukan apapun demi putri tercintanya, Maira.


"Seandainya papa bisa menukar semua kekayaan yang papa miliki dengan kebahagiaan kamu Maira, maka akan papa lakukan karena melihat kamu sedih adalah kehancuran bagi papa nak". Batin tuan Dhika yang melihat Maira murung dan diam saja sudah beberapa hari ini.


Pria paruh baya itu juga itu menitikkan air mata melihat perjuangan putrinya untuk memiliki keturunan namun tuan Dhika sama sekali tidak menunjukkannya di depan Rian ataupun Maira karena beliau tidak ingin jika anak-anaknya itu semakin sedih dan putus asa.


Namun beruntung Maira memiliki banyak orang-orang yang mencintainya dan juga terus mendukungnya dalam situasi terburuknya saat ini termasuk Shinta yang bahkan rela tidak cukup istirahat demi menemani Maira dalam kondisi apapun.


Shinta juga tidak bisa berbuat apapun melihat sahabatnya itu yang dulu ceria namun sekarang menjadi pendiam dan pemurung bahkan setiap kekonyolan yang terlontar tanpa aba-aba dari mulutnya tidak lagi bisa membuat Maira tersenyum apalagi tertawa seperti dulu.


"Oh Tuhan, haruskah aku selalu ada di situasi seperti ini, dimana ketika sahabat-sahabatku berada dalam masalah dan aku yang harus menemani mereka, kapan ini semua akan berakhir?". Batin Shinta.


Ya setelah kegagalan yang di alami Maira penghuni mansion itu seolah banyak menghabiskan waktu dengan berkomunikasi melalui batin masing-masing karena memang suasana mansion itu bisa di katakan sangat mencekam bahkan kehadiran Shinta yang cerewet saja tidak bisa mengubah keadaan tersebut.


"Ra, kenapa harus bersedih seperti ini heem, kamu tidak kasihan padaku yang kesepian". Ujar Shinta kepada Maira namun wanita itu tidak meresponnya sama sekali.


"Hei, lihat aku, ini bukan Maira yang aku kenal dulu, Maira yang aku kenal sangat bisa memanfaatkan keadaan apalagi fasilitas yang ada, sekarang kamu Maira Mahendra,m yang punya segalanya jadi bukan hal sulit bagimu untuk kembali mencoba program bayi tabung bahkan sampai puluhan kali sekalipun". Sambung Shinta lagi sambil menatap intens wajah sahabatnya itu.

__ADS_1


"Tapi aku-".


"Huust, dengarkan aku jika kamu gagal kali ini maka kamu harus berhasil untuk kedepannya, bila perlu kita akan mencari atau bahkan mengundang dokter langsung dari luar negeri untuk mu, kamu mampu melakukan itu tidak perlu terpuruk seperti ini". Jelas Shinta.


Maira memeluk Shinta dengan sangat erat dan menangis sejadi-jadinya dan Shinta membiarkan Maira menangis sampai puas karena wanita itu tahu bagaimana kecewa dan bersedihnya Maira saat ini namun dia berharap apa yang dia katakan olehnya barusan bisa menjadi sebuah harapan baru bagi sahabatnya.


"Terimakasih Shin, aku tidak tahu bagaimana aku jika kamu tidak berad di sini saat ini". Ujar Maira ketika dia sudah mulai tenang.


"Always, aku akan selalu ada dan akan selalu mendukung kamu sampai kamu bisa mencapai apa yang kamu cita-citakan Ra". Jawab Shinta lembut.


Sejak saat itu Maira kembali bersemangat untuk melakukan program bayi tabungnya untuk kedua kalinya namun tentu saja tidak di dokter yang sama lagi. Kali ini tuan Dhika dan Rian secara khusus mencarikan dokter yang menurut mereka lebih profesional di bidangnya karena mereka ingin memastikan jika kali ini Maira tidak lagi merasakan kekecewaan seperti sebelumnya.


Beberapa bulan setelah kegagalan itu akhirnya Maira hari ini akan melakukan lagi program bayi tabung itu dengan sebelumnya tim dokter yang menangani dirinya sudah melakukan persiapan yang cukup matang, wanita itu juga tampak sangat bersemangat dan antusias sama halnya ketika percobaan pertama kali dia lakukan dulu.


Namun entah apa yang salah dan siapa yang harus di salahkan program bayi tabung untuk yang kedua kalinya itu kembali gagal begitu saja. Dan jangan tanyakan bagaimana kondisi psikologis Maira saat ini karena hal itu pasti sudah terbayangkan oleh semua orang.


Maira benar-benar merasa sama sekali tidak berguna sebagai seorang wanita. Hal yang mudah bagi wanita lain namun sungguh sangat mustahil baginya yaitu mengandung dan melahirkan buah cintanya dari rahimnya sendiri.


Maira kali ini selalu mengurung diri, dia tidak lagi berinteraksi dengan siapapun termasuk suaminya bahkan dia juga tidak pernah lagi keluar rumah dan melihat keramaian di luar sana, dia sangat menghindari bertemu dengan siapapun terutama melihat wanita yang sedang mengandung.


Pernah satu ketika Shinta mencoba mendekati Maira dengan menunjukkan video-video tentang baby Kaisar namun di luar dugaan reaksi Maira justru di luar dugaan, wanita itu menangis sejadi-jadinya dan berteriak histeris sehingga Shinta tidak pernah lagi berani melakukan hal tersebut.

__ADS_1


"Apa yang harus kita lakukan pa?". Tanya Rian lirih kepada tuan Dhika.


Tuan Dhika menghela napas panjang dan memegang pundak putranya itu sambil berkata. "Papa sangat tidak ingin mengatakan ini tapi kita harus membawa Maira ke psikiater nak". Ujarnya lesu.


"Pa, Maira tidak gila". Sentak Rian spontan mendengar saran dari sang papa.


"Rian, papa tidak mengatakan jika Maira gila tapi dia butuh psikiater nak, dia butuh bantuan tenaga ahli untuk keluar dari masalahnya ini, Maira juga putri papa satu-satunya jadi papa tidak ingin jika kita telat menangani masalah ini karena ini masalah serius". Jawab tuan Dhika serius sehingga membuat Rian lemah dan harus mengakui jika apa yang di katakan oleh tuan Dhika benar adanya.


Maka setelah berdiskusi panjang baik tuan Dhika, Rian, bahkan juga Shinta maka mereka semua sepakat membawa Maira ke psikiater guna penyembuhan mental Maira karena mereka ingin Maira bisa mengatasi masalahnya sebelum semuanya terlambat.


Benar saja, selama beberapa kali pertemuan Maira dengan seorang psikiater, wanita itu sudah menunjukkan kemajuan, Maira sudah mau berbicara walaupun hanya sepatah dia patah kata saja.


Pada suatu hari Maira yang menatap kosong ke depan mengeluarkan sebuah pertanyaan kepada sang psikiater yang membuat psikiater itu merasa senang karena selama ini Maira hanya menjawab singkat setiap pertanyaan.


"Dokter, apa aku selemah ini sampai aku tidak di percaya oleh Tuhan untuk memiliki anak?". Tanya Maira datar.


"No, itu tidak benar Maira, justru kamu wanita kuat sehingga Tuhan menguji mu dulu sebelum memberikan apa yang kamu inginkan". Jawab psikiater itu serius namun Maira tidak merespon apapun.


Psikiater tersebut mendekati Maira dan menatap Maira dengan intens. "Maira jangan buang masa muda mu hanya karena kamu ingin memiliki anak. Suami, papa dan semua orang-orang tercinta mu menunggu kehadiran kamu di tengah-tengah mereka, apa kamu tidak ingin menghabiskan waktu bersama mereka yang sudah jelas ada di dalam kehidupan mu dari pada memikirkan hal yang tidak pasti?, lagipula banyak hal yang bisa kamu lakukan untuk mempunyai anak di jaman yang sudah modern seperti saat ini misalnya kamu mengadopsi anak atau bahkan mencari jasa ibu pengganti". Jelas dokter panjang lebar dan Maira langsung meresponnya dengan menatap wajah dokter dengan tatapan yang sulit di artikan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2