
Dewantara terus melangkah menuju ruangan yang sudah tidak asing baginya, ruangan dimana dia dan Rian pernah berseteru sengit demi memperebutkan Ayuna dan kini hal yang sama terjadi lagi, namun bedanya kali ini dengan wanita yang berbeda yaitu Maira.
Ya, Dewa curiga jika Rian memanfaatkan keluguan Maira untuk membalas dendam masa lalu terhadapnya namun kali Dewa tidak aken membiarkan hal itu terjadi apalagi wanita itu berstatus sebagai istrinya jadi dia punya kekuasaan dan hak yang pasti terhadap Maira sehingga Rian tidak akan bisa melakukan apapun.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, Dewa langsung masuk ke ruangan Rian dan hal itu cukup membuat Rian terkejut namun dia tetap berusaha untuk bersikap setenang mungkin.
"Selamat pagi tuan Rian Mahendra". Sapa Dewantara dengan senyum penuh makna.
"Selamat pagi tuan Dewantara, aku cukup terkejut dengan kedatangan anda kesini pagi hari ini". Jawab Rian dengan senyum tak kalah bermakna.
"Tentu saja dengan senang hati, apalagi aku harus memastikan jika istriku tiba di kantor dengan selamat". Ujar Dewa sambil memandang wajah cantik istrinya penuh rasa bangga.
"Manis sekali, kamu beruntung Maira, memiliki suami yang sangat perhatian seperti tuan Dewantara ini tapi aku heran setelah sekian lama Maira bekerja di sini kenapa baru kali ini anda menyempatkan diri untuk mengantarkan istri anda ke kantor". Balas Rian tidak mau kalah.
"Mas, sebaiknya kamu langsung ke kantor mu saja, nanti kamu terlambat". Potong Maira saat melihat aroma persaingan yang begitu kental di antara kedua pria yang berada di ruangan tersebut.
Maira memang tidak tahu bagaimana hubungan yang terjalin antara Rian dan suaminya namun jika di lihat sekilas bahkan orang awam pun akan tahu jika mereka berdua sama sekali bukan teman seperti yang di katakan oleh Dewantara tadi melainkan saingan atau bahkan musuh yang sudah lama berseteru.
"Terimakasih sayang sudah mengingatkan ku, aku pergi dulu ya, nanti sore tunggu aku jemput". Ujar Dewa lembut kemudian mengecup kening Maira di hadapan Rian.
Melihat hal tersebut mampu membuat hati Rian terbakar api cemburu, dia tidak terima ada orang lain yang menyentuh Maira meskipun itu adalah suami Maira sendiri. Rian membuang tatapannya dengan rahang yang mengeras ingin sekali dia mendorong jauh tubuh pria yang sangat di bencinya itu namun dia tidak punya hak apapun terhadap Maira.
Dewantara sendiri menyadari perubahan ekspresi dari Rian, meskipun dia tidak melihat secara langsung akan tetapi dia tahu jika ada yang tidak beres dengan Rian Mahendra. Sehingga saat dia keluar dari perusahaan Mahendra Corp dia langsung memerintah seseorang untuk menyelidiki apa yang terjadi sebenarnya antara istrinya dan Rian.
__ADS_1
"Dapatkan semua informasi yang berkaitan dengan istriku dan juga Rian Mahendra, terus awasi mereka dan laporkan apapun yang kau dapatkan". Titah Dewa kepada orang yang di hubungi melalui sambungan telepon tersebut.
"Tidak akan aku lepaskan kau dari pengawasan ku Rian Mahendra, karena kali ini aku tidak akan kalah darimu, Maira hanya milikku seorang". Batin Dewantara dengan rahang yang mengeras.
Sementara di ruangannya Rian melemparkan apapun yang ada di atas mejanya ke bawah untuk meluapkan seluruh amarah yang dia pendam sejak tadi.
"Beraninya pria brengsek itu". Serunya sampai membuat Maira terkejut melihat sikap Rian.
"Ikut aku". Rian kemudian menarik tangan Maira menuju kamar mandi kemudian menyuruh wanita itu untuk mencuci wajahnya. "Basuh wajahmu dengan air Maira". Titahnya.
"Tapi untuk apa tuan?". Tanya Maira bingung.
"Lakukan saja Maira, aku mohon". Bujuk Rian dengan suara yang dia usahakan selembut mungkin saat berinteraksi dengan Maira. Mau tidak mau Maira melakukan apa yang di perintahkan oleh Rian.
"Apapun yang terjadi jangan pernah tinggalkan aku Maira, percayalah bahwa aku mencintaimu". Ujar Rian lirih.
Maira tidak dapat mengatakan atau menjawab apapun, wanita itu merasa terharu ketika pria seperti Rian mencintanya dengan tulus, hal yang tidak pernah di ucapkan oleh suaminya selama bertahun-tahun lamanya namun Rian bisa melakukannya dengan mudah, bahkan ketika Rian sudah tahu jika dia sudah menikah.
Namun di sisi lain Maira juga tidak bisa memberi harapan apapun kepada Rian karena dia adalah istri Dewantara, walau bagaimanapun Dewantara juga berhak di beri kesempatan untuk memperbaiki segalanya apalagi pria itu sekarang sudah berubah. Tapi jika dia boleh jujur di hatinya saat ini telah terukir nama Rian Mahendra.
"Ya Tuhan, aku harus bagaimana ini". Batin Maira.
"Ini akan semakin rumit tuan, sebaiknya saya tidak bekerja di sini lagi agar kita bisa berjauhan dan melupakan satu sama lain". Ujar Maira ketika Rian telah melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Kamu lebih memilih dia?". Tanya Rian tak percaya.
"Seharusnya dari awal anda sudah tahu jawabannya tuan".
"Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang aku dengar padahal kita telah melewati momen penting bersama". Ujar Rian.
"Saya permisi dulu tuan, surat pengunduran diri saya akan segera saya kirimkan". Ujar Maira meninggalkan Rian begitu saja.
Maira tidak menggubris lagi perkataan Rian, dia sudah bertekad untuk jujur kepada suaminya tentang apa yang telah terjadi antara dirinya dan juga Rian. Apapun keputusan dari Dewantara nantinya akan dia terima karena bagaimanapun dalam rumah tangga harus ada saling keterbukaan.
Rian murka melihat Maira yang hendak pergi begitu saja sehingga dia menarik tangan Maira dengan kasar dan langsung menggendong wanita itu menuju kamar rahasia yang berada di dalam ruangannya.
Kamar yang di lengkapi dengan berbagai fasilitas layaknya sebuah kamar itu juga memiliki ranjang yang berukuran cukup luas. Rian menghempaskan tubuh Maira di atas ranjang tersebut dan menghimpit tubuh Maira di bawah kungkungannya.
Entah setan apa yang merasuki pria itu, namun teriakan dan isak tangis Maira sama sekali tidak di dengar olehnya. Rian menyerang bibir Maira tanpa ampun lalu turun ke leher dan benda kenyal kembar milik Maira menjadi sasarannya kali ini.
Maira juga menyangka jika Rian yang selama ini selalu bersikap lembut dan memperlakukannya dengan baik bisa melakukan hal yang menyakiti fisik dan harga dirinya itu, yang Maira tahu memang ini bukan kali pertama Rian menyentuhnya namun ketika Rian melakukannya secara paksa seperti ini seolah dia tidak memiliki harga diri lagi di hadapan pria tersebut.
Rian menarik paksa kemeja yang di kenakan oleh Maira sampai kancing kemeja tersebut berhamburan di lantai. Melihat pemandangan indah di depannya rian semakin tidak terkendali kan, dia langsung melahap benda kenyal itu dengan buas secara bergantian tanpa henti bahkan sampai membuat tanda merah dimana-mana.
"Hiks, hiks, hiks, Tuan saya mohon jangan lakukan lagi". Isak tangis Maira sayup-sayup terdengar di telinga Rian.
"Tuan, saya mohon, ini bukan penyelesaian masalah yang sedang kita hadapi saat ini". Mohon Maira lagi kepada Rian.
__ADS_1
...----------------...