Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 72


__ADS_3

Benar saja seperti apa yang di katakan nya, keesokan harinya ketika nyonya Dewi mengajak Anna pulang ke rumah mereka, Anna menjadikan Shinta senjata agar Dewantara dan kedua orang tuanya tidak memaksa dia untuk tinggal bersama mereka bahkan dia juga tidak mengatakan jika Shinta akan bekerja di perusahaan Mahendra agar mereka mengizinkan mereka berdua tinggal bersama.


"Tidak bisa, kamu tetap akan ikut denganku kemanapun aku pergi". Ujar Dewantara datar namun tegas setelah Anna mengutarakan semua alasan dan niatnya itu.


Shinta yang mendengar hal itu menjadi sangat canggung karena dia menjadi tidak enak hati berada dalam situasi tersebut apalagi dia baru saja mengenal orang-orang yang berada di hadapannya saat ini. Ingin sekali Shinta mengutuk mulut Anna yang menjadikannya alasan itu namun melihat wanita hamil itu seperti butuh pegangan juga membuat dia tidak tega dan hanya bisa pasrah saja.


"Memangnya kamu tinggal sendirian juga di kota ini nak?". Tanya nyonya Dewi lembut dan Shinta hanya bisa mengangguk pelan.


"Kenapa?, dimana kedua orang tuamu?". Tanya nyonya Dewi lagi sedangkan Dewantara merasa bosan mendengar basa-basi itu dan mendengar alasan wanita yang sama sekali tidak di kenalnya itu.


"Karena saya rencananya akan bekerja di perusahaan Mahendra dan kedua orang tua saya berada di kampung halaman kami nyonya". Jelas Shinta.


"Kalau begitu kamu saja yang tinggal bersama kami karena tidak baik jika kalian tinggal bersama tanpa ada yang menjaga, nanti di sana kami akan menjaga kalian, bagaimana?". Tanya nyonya Dewi lembut.


"Apa?". Seru Dewantara tak percaya dengan apa yang di dengarkannya. Tidak bisa dia bayangkan jika benar wanita bernama Shinta itu ikut tinggal bersama mereka, sudah pasti kesempatannya untuk mendekati Anna pasti akan sangat sulit.


"Saya setuju, kalau Shinta ikut bersama saya baru saya akan tinggal bersama di rumah anda nyonya". Jawab Anna antusias.


Shinta menghela napasnya karena harus terjebak dengan keluarga aneh ini karena sebelumnya dia tidak pernah membayangkan jika ini akan terjadi kepadanya. Di satu sisi dia tidak tega melihat wajah Anna yang penuh harap kepadanya seolah memohon agar dia ikut namun di sisi lain dia melihat tatapan tidak suka yang di tunjukkan oleh Dewantara kepadanya yang tentu saja membuatnya sangat risih.


"Baiklah Dewa, ayo cepat suruh anak buahmu mengemasi barang-barang mereka". Titah nyonya Dewi.


"Ta-tapi saya belum apa-apa nyonya". Saut Shinta.


"Sudahlah, diam mu itu mama anggap kamu setuju dan mulai sekarang kalian berdua harus memanggilku mama mengerti, karena mulai sekarang kalian berdua sudah menjadi putri-putriku, apalagi kamu Anna kamu itu sedang mengandung cucu mama". Ujar nyonya Dewi sambil menunjuk kearah Anna dan juga Shinta. "Oh ya ampun bertepatan bahagianya aku yang hanya memiliki satu anak sekarang memiliki anak-anak perempuan yang sangat cantik-cantik". Oceh nyonya Dewi lagi.

__ADS_1


Nyonya Dewi kemudian menarik tangan Anna di sebelah kanannya dan tangan Shinta di sebelah kirinya tanpa peduli mereka setuju atau tidak pulang ke rumahnya.


"Mama mau kemana?". Tanya Dewantara dan tuan Anwar kompak melihat para wanita itu meninggalkan mereka begitu saja.


"Tentu saja memberi putri-putri mama sarapan mereka pasti sudah kelaparan iyakan sayang?". Nyonya Dewi melirik ke kiri dan ke kanan meminta persetujuan kedua wanita itu fan mereka hanya mengangguk canggung.


"Kami juga belum sarapan ma". Jawab tuan Anwar.


"Papa dan Dewa urus semua barang-barang mereka dulu lalu susul kami ke restoran". Nyonya Dewi kemudian langsung berlalu tanpa mau mendengar ocehan suami dan putranya lagi.


Maka begitulah awal mula kehidupan Anna bersama keluarga Dewantara yang bahkan ikut menyeret Shinta kedalamannya. Bagaimana kedepannya keseharian mereka di rumah pria yang menjadi ayah dari bayi Anna itu tentu saja sangat di dominasi oleh nyonya Dewi yang sangat heboh menyambut kehadiran mereka di rumahnya bahkan tuan Anwar dan Dewantara menjadi korban kehebohan dari wanita paruh baya itu.


Jika Shinta membayangkan hidupnya akan sangat tertekan dan serba salah maka semua itu salah karena keluarga Dewantara menerimanya dengan sangat baik bahkan tuan Anwar yang terlihat dingin juga menerima kehadiran Shinta dengan baik di tengah-tengah keluarganya karena selain membuat Anna tidak punya alasan untuk menolak mereka, Shinta juga tipikal hadis yang periang dan banyak bicara sehingga tanda-tanda kehidupan semakin jelas terlihat di tengah-tengah keluarga mereka yang sepi dan sangat tertutup.


Sementara orang-orang pada umumnya sudah melewati sarapannya bahkan sudah menuju waktu makan siang, Maira dan Rian justru baru saja bangun dari alam mimpi mereka, Rian bangun dengan senyum mengembang di wajahnya ketika melihat sang wanita yang sangat di cintainya berada di samping dan telah sah menjadi istrinya itu. Sedangkan Maira justru dengan wajah kusut dan pucat akibat kurang tidur dan juga rasa lapar yang melilit perutnya.


"Selamat siang istriku". Sapa Rian mesra.


"Aku lapar". Jawab Maira tanpa basa-basi.


"Aku akan memesan makanan untukmu sayang".


Selesai memesan makanan Rian langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, dia sengaja berendam air hangat untuk membuat tubuhnya rileks dan memulihkan kembali staminanya rupanya bukan hanya Maira dia juga merasa sangat kelelahan karena kegiatan mereka tadi malam cukup menguras energinya.


Setelah menyelesaikan ritualnya di kamar mandi Rian merasa heran karena Maira masih setia bergelung di dalam selimutnya. "Sayang, ayo mandi setelah itu kita akan makan siang, kamu bilang kamu lapar kan?".

__ADS_1


"Tidak mau, aku mau langsung makan saja".


"Kenapa?, bersihkan dulu tubuhmu agar kamu merasa segar". Titah Rian lagi.


"Aku tidak mau, nanti kamu akan pura-pura menawarkan untuk menggendong ku ke kamar mandi lalu kita akan melakukannya lagi". Jawab Maira polos.


Rian menatap aneh ke arah istrinya dengan dahi yang berkerut. "Siapa yang mengatakan itu padamu?". Tanya Rian heran.


"Novel". Jawab Maira singkat.


"Novel?".


"Ya, aku membaca di novel-novel biasanya yang terjadi akan seperti itu".


Rian menepuk keningnya karena tak habis pikir dengan apa yang di katakan Maira. "Sayang, bangun dari alam mimpimu dan bersihkan dirimu agar pikiranmu kembali jernih. Aku bahkan sudah mandi jadi kamu tidak perlu takut aku akan minta mandi bersama".


"Benarkah?".


"Tentu saja".


"Baiklah". Maira langsung semangat mendengar jawaban dari Rian sehingga dia langsung melangkah menuju ke kamar mandi namun di luar dugaannya ternyata apa yang di katakan oleh suaminya itu barusan dengannya yang sangat serius hanyalah tipu muslihat saja, nyatanya Rian benar-benar langsung menggendong Maira menuju kamar mandi dan yang di tulis di novel-novel benar adanya.


"Hanya satu kali lagi sayang, setelah ini aku janji akan melepaskan mu". Bisik Rian nakal tanpa peduli dengan raut wajah Maira yang sangat tidak bersahabat.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2