
"Namanya Ayuna, wanita yang sangat aku cintai tapi dia adalah kekasih Rian, aku tidak tahu jika selama berhubungan denganku Ayuna juga berhubungan dengan Rian sehingga aku marah dan kecewa kepadanya namun pesona Ayuna sudah membutakan ku Maira, aku tidak peduli jika dia mencintaiku atau tidak yang penting tubuh Ayuna tetap bisa aku nikmati kapan saja aku mau, aku melakukannya bukan sekedar untuk melampiaskan hasratku namun aku melakukannya atas dasar cinta bahkan aku mengajaknya menikah beberapa kali dan melupakan Rian namun sayangnya Ayuna menolak ajakanku sehingga membuatku putus asa dan menerima perjodohan yang mama ajukan kepadaku. Maafkan aku Maira, karena dendam Rian terhadapku membuat kamu harus ikut menanggung akibatnya". Jelas Dewantara panjang lebar kepada istrinya yang sudah tampak tenang.
Maira tersenyum simpul kearah suaminya. "Bisakah kita melupakan semua ini mas, ingin sua terjadi juga buka kesalahan kamu atau tuan Rian seutuhnya jika saja malam itu aku tidak mabuk maka hal itu tidak akan terjadi. Mas, aku akan menerima apapun keputusan kamu tentang hubungan kita, aku bukanlah Maira istri kamu yang suci lagi jadi aku terima apapun resikonya karena kamu berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku".
"Apa yang kamu bicarakan Maira, aku akan tetap berada di sampingmu apapun yang terjadi, tidak ada yang berubah tentang hubungan kita".
"Mas, aku tidak aku menutup-nutupi apapun lagi di antara kita, jika kamu memang ingin mempertahankan pernikahan kita maka kamu harus siap dengan aku yang masih belum bisa menerima kamu sebagai suamiku seutuhnya karena jujur aku masih trauma dan takut dengan semua yang terjadi di hidupku".
"Tidak masalah sayang, aku kan pernah bilang jika aku akan sabar menunggu saat-saat bahagia kita nanti". Ujar Dewantara lembut sambil mengelus pucuk kepala Maira dengan lembut.
...----------------...
Dua hari sudah Rian di rawat di rumah sakit, dan selama dua hari pula setelah sadar dari pingsannya pria itu banyak diam dan termenung. Entah apa yang ada di pikirannya, yang jelas dia masih tidak dapat memahami semua kejadian yang menimpa dirinya dua hari yang lalu.
Para sahabat bahkan papa Rian tuan Dhika silih berganti mengunjungi Rian bahkan mengajak Rian untuk berbicara perihal insiden yang terjadi di perusahaan Dewantara namun pria itu hanya dia seribu bahasa dengan tatap lurus ke depan.
Tampaknya bukan hanya luka di fisiknya saja yang cukup parah namun luka di batin Rian juga tidak dapat di remehkan. Seakan trauma dan kehilangan arah Rian hanya bisa menatap keluar jendela dengan tatapan kosong karena jika dia memejamkan matanya maka yang tampak hanyalah wajah cantik Maira yang menangis karena kecewa akan sikapnya tempo hari.
__ADS_1
Jika para sahabatnya seperti Nino dan Haikal lebih banyak menceramahinya maka berbeda dengan sang papa yang justru bangga dan mendukung tindakan putranya yang jatuh cinta kepada istri orang lain, karena entah mengapa tuan Dhika sangat menyukai Maira meskipun mereka hanya baru sekali saja bertemu namun melihat betapa teduhnya wajah cantik Maira membuat tuan Dhika merasa nyaman.
"Kamu hebat nak, papa tidak menyangka jika putra papa satu-satunya ini bisa membuat istri orang takluk akan pesonanya bahkan papa saja kalah dengan kamu, hahaha, kamu benar-benar pria sejati". Seru tuan Dhika kegirangan namun di sambut tatapan tajam dari Nino, Haikal dan Ricko yang juga berada di ruang perawatan Rian.
"Kalian kenapa menatap om seperti itu?, apa yang om katakan ini adalah kebenaran. Rian pokoknya kamu harus segera sembuh dan memperjuangkan cinta kamu lagi kepada Maira karena papa akan selalu mendukungmu". Sambung tuan Dhika lagi.
Rian menatap tak percaya kepada papanya yang selama ini terkenal sangat tegas itu karena memang tuan Dhika adalah bekas bos geng mafia yang cukup terkenal dulu.
"Nak, cinta sejati tidak datang dua kali, jika kamu memang yakin jika Maira adalah hidupmu maka kejar dia sampai kamu yakin jika kalian akan bahagia jika memiliki satu sama lain". Ujar tuan Dhika serius.
"Tapi Maira istri orang lain pa dan yang lebih parah yang lagi suaminya adalah Dewantara". Jawab Rian, itulah kali pertamanya dia merespon ucapan seseorang setelah kejadian di perusahaan Dewantara tempo lalu sehingga membuat para sahabatnya mendekat kearah ranjangnya.
"Pasti pa". Jawab Rian dengan semangat yang menggebu.
"Jika begitu maka lanjutkan perjuanganmu nak dan ingat satu hal kendalikan emosimu sebaik mungkin karena orang lain terutama Dewantara akan memanfaatkannya untuk kepentingan mereka, segala sesuatu yang kita lakukan dalam keadaan marah dan emosi maka hasilnya pasti akan hancur berantakan, belajarlah dari pengalaman kamu sebelumnya, lihatlah betapa Dewantara sekarang menjadi pria yang sangat bijak, itu karena dia pandai dalam memainkan perannya". Mendengar perkataan tuan Dhika bukan hanya Rian, Nino, Haikal dan Ricko juga ikut mengangguk-anggukkan kepala mereka.
"Tapi aku tetap tidak setuju om, apapun alasannya Rian tetap orang luar yang berusaha merusak rumah tangga orang lain". Bantah Nino setelah sadar dengan keadaan yang ada.
__ADS_1
"Jika suaminya tidak bisa membahagiakan wanita itu, bukankah kita juga membiarkan mental sang wanita rusak akibat rumah tangga yang tidak bahagia?". Tanya tuan Dhika tidakau kalah.
Nino terdiam mendengar perkataan tuan Dhika karena dia merasa tertampar akibat perbuatannya sang istri pergi meninggalkannya dalam keadaan hamil dulu. Karena memang benar adanya jika pernikahan atau hubungan yang tidak sehat di pertahankan hanya karena terhalang beban moral yang berkembang di masyarakat luas maka berapa banyak hati dan perasaan manusia yang harus di korbankan hanya karena memikirkan ucapan dan pandangan orang lain terhadap kita bukankah bahagia kita hanya kita yang berhak menentukannya.
"Kalau begitu Rian akan menjelaskan kepada Maira semuanya pa dan Rian juga akan jujur kepada Maira kalau Rian tidak pernah menyentuh Maira saat di Korea, foto-foto itu semua murni rekayasa hanya agar Dewantara menceraikan Maira dan Rian bisa menikah dengan Maira". Ujar Rian antusias.
"Apa?". Sentak ke empat orang pria yang berada di ruangan tersebut yang terkejut dengan ucapan Rian barusan.
Tuan Dhika bahkan sampai menjentikkan jarinya di kening putranya itu karena menganggap jika Rian punya pikiran yang sangat bodoh.
"Kau ini bodoh ya?. Permainan konyol macam apa yang sedang kau lakukan hah, pantas saja Maira membencimu karena kamu bermain-main dengan harga dirinya". Sentak tuan Dhika.
"Oh ya ampun aku tidak percaya, seorang mafia seperti mu punya rencana serendah itu". Celetuk Haikal.
"Tuan, kenapa baru kali ini anda bertindak tanpa bertanya dan bekerja sama dengan saya dan lihatlah hasilnya tuan". Ujar Ricko tak mau kalah karena dia juga mengutuk cara memalukan sekaligus rendahan yang di pilih oleh Rian.
"Cinta benar-benar membuat seseorang bodoh bahkan sampai buta mata hatinya ternyata ya". Timpal Nino lagi.
__ADS_1
Rian menghela napas kasar mendengar berbagai macam umpatan yang di tujukan oleh orang-orang terdektanya itu kepadanya. Jika di tanya mengapa dia bisa melakukan hal tersebut maka dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa selain dari tujuannya agar Maira terikat dengannya selamanya.
...----------------...