
Jika di kamar sederhana milik Maira dia insan yang sedang di mabuk cinta sedang menghabiskan waktu indah bersama sembari melepaskan rasa rindu di hati masing-masing maka di tempat lain seorang pria tampan sedang mengamuk dan memecahkan berbagai macam benda-benda yang berada di sekitarnya akibat sebuah map yang baru saja dia terima dari pelayannya.
Siapa lagi pri itu jika bukan Dewantara yang baru saja di Indonesia namun Anna langsung menyodorkan sebuah map yang berisikan surat gugatan cerai dari Maira, tentu saja sebenarnya Maira tidak tahu menahu perihal surat tersebut namun tuan Dhika lah yang membereskan berkas-berkas tersebut karena dia tidak sudi jika harus mempunyai menantu seperti Dewantara.
Anna mengatakan jika surat itu di kirim beberapa hari yang lalu ke rumah tersebut padahal yang sebenarnya dialah yang di tugaskan oleh taun Dhika untuk membereskan berkas tersebut dan memberikan kepada Dewantara bahkan tuan Dhika memerintahkan Anna agar Anna memastikan jika surat tersebut segera di tanda tangani oleh Dewan barulah tugasnya menyamar sebagai pelayan di rumah Dewantara selesai. Namun bukannya di tanda tangani, surat itu justru di lempar begitu saja oleh Dewantara hingga tercecer di lantai.
"Aku pastikan jika kau tidak akan pernah mendapatkan tanda tanganku di surat ini Maira". Teriak Dewantara cukup kencang sehingga membuat Anna semakin pusing untuk mendapatkan tanda tangan Dewantara sesegera mungkin karena dia juga sudah tidak sanggup berada di rumah tersebut apalagi dia juga sudah sangat muak dengan Dewantara yang telah melakukan kekerasan terhadap Maira.
Anna memijat-mijat pelipisnya yang terasa berdenyut sambil mondar-mandir di kamarnya, bukan hanya karena memikirkan bagaimana mendapatkan tanda tangan Dewantara yang menyebabkan kepalanya terasa pusing, namun mendengarkan pecahan demi pecahan yang di hasilkan dari perbuatan Dewantara dan juga umpatan demi umpatan yang di dengar dari mulut Dewantara juga sangat membuatnya sakit kepala.
"Apapun yang terjadi anda harus tetap menandatanganinya tuan Dewantara, jika tidak tugasku disini tidak akan pernah berakhir". Ujar Anna kesal.
Puas membuat rumahnya seperti kapal pecah dan mengeluarkan berbagai sumpah serapah kepada Maira dan juga tuan Dhika, Dewantara pergi dari rumah begitu saja tanpa mengatakan apapun kepada Anna sehingga Anna tidak tahu kemana perginya pria itu namun dengan sangat terpaksa dia tetap harus berada di sana menunggu Dewantara pulang dan mendapatkan tanda tangan pria itu.
"Hah, shiit, kapan ini semua akan berakhir". Seru Maira begitu melihat mobil yang di kendarai oleh Dewantara menghilang dari pandangannya.
Dewantara membelah jalanan dengan melajukan mobilnya dengan cukup kencang menuju sebuah klub. Rupanya otaknya buntu dan tidak dapat memikirkan apapun selain melampiaskannya dengan minuman haram yang ada di klub tersebut. Malam itu Dewantara menghabiskan beberapa botol minuman di sana sampai dia mabuk berat dan tidak sadarkan diri, beruntung ada orang yang mengenali dirinya sehingga mereka membantu Dewantara pulang ke rumah di waktu larut malam itu.
__ADS_1
Anna yang memilih menginap di rumah Dewantara tentu saja sudah mengantuk ketika Dewantara pulang apalagi dia sangat kelelahan setelah membersihkan kamar Dewantara yang seperti kapal pecah akibat ulahnya tadi sehingga dia tidak peduli lagi dengan penampilannya yang cukup acak-acakan dengan rambut terurai panjang dan baju tidur yang cukup terbuka, tentu saja dia terlihat sangat cantik dan seksi sekali.
Anna membawa Dewantara yang masih setengah sadar dengan mulut yang terus menggerutu tidak jelas itu menuju kamarnya. Dalam benaknya Maira mungkin saja bisa memanfaatkan momen dimana Dewantara masih mabuk berat itu untuk mendapatkan tanda tangannya sehingga dia meresa sangat di untungkan dengan keadaan Dewantara yang seperti itu.
Setelah meletakkan tubuh tegap Dewantara di atas ranjang dengan susah payah, Anna tersenyum licik kearah Dewantara yang terus memanggil-manggil nama Maira dengan mata tertutup itu.
"Anda bertingkah seolah-olah anda sangat mencintai nona Maira, cih, mana ada cinta yang sanggup menyakiti seperti yang anda lakukan terhadap nona Maira". Ujar Anna dengan nada mengejek.
Namun walaupun kesal, Anna tetap membantu Dewantara untuk mendapatkan posisi ternyamannya di atas kasur bahkan dia juga membantu membukakan sepatu yang di kenakan oleh Dewantara. Setelah selesai dengan Dewantara, Anna langsung menuju laci tempat dia menyimpan surat cerai yang harus di tanda tangani oleh Dewantara dan tidak lupa pulpennya juga, Anna merasa beruntung Dewantara tidak merobek surat tersebut tadi jika tidak Anna harus di repot kan dengan menyiapkan surat perceraian yang baru lagi.
Anna duduk di sisi ranjang tepat di samping kemudian menyentuh lengan Dewantara secara perlahan, rupanya wanita itu takut jika Dewantara akan marah karena dia mencoba membangunnya.
"Tuan, tuan, bangun dan tanda tangani surat ini, saya mohon". Ujar Anna pelan sambil menggoyangkan lengan Dewantara.
Anna melakukan hal tersebut berulang kali namun Dewantara sama sekali tidak meresponnya sehingga membuat wanita itu putus asa dan berencana membatalkan misinya untuk mendapatkan tanda tangan Dewantara malam itu dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat karena dia masih mengantuk dan juga sangat kelelahan seharian ini apalagi ini sudah larut malam.
Namun baru saja dia ingin beranjak, Dewantara menghentikan aksinya untuk beranjak dari ranjang itu dengan menarik langan Anna sehingga wanita itu kembali duduk di sisi ranjang. Dewantara membuka matanya yang terlihat sayu dan menatap Anna dengan tatapan yang sulit di artikan bahkan sampai membuat Anna sedikit ketakutan.
__ADS_1
"Katakan apa yang kau inginkan". Ujar Dewantara dengan suara serak khas orang mabuk.
"Saya ingin meminta tanda tangan anda tuan". Jawab Anna tegas, setelah mengetahui jika Dewantara masih mabuk membuat Anna kembali memiliki nyali karena orang mabuk tidak akan sadar dan tidak akan tahu dengan apa yang akan di lakukannya.
"Oke". Jawab Dewantara tanpa bantahan, hal itu tentu saja membuat anda sangat kegirangan.
Anna langsung menyodorkan surat cerai yang ada di tangannya dan memberikan sebuah pulpen kepada Dewantara abadi menuntun pria itu untuk menunjukkan dimana yang harus dia tanda tangani karena tentu saja dalam keadaan mabuk seperti itu Dewantara tidak dapat melihat dengan jelas isi surat tersebut.
"Disini tuan". Ujar Anna dan kemudian Dewantara menuruti begitu saja keinginan Anna tanpa bertanya lagi surat apa itu.
"Yes, Akhirnya aku bisa bebas". Batin Anna seperti terlepas dari belenggu besar ketika melihat dengan jelas tanda tangan Dewantara telah di bubuhi di sana.
"Sudah tuan, saya permisi dulu". Ujar Anna antusias kemudian dia ingin beranjak dari sana namun lagi-lagi Dewantara menarik tangannya dengan kuat sehingga Anna terhempas di atas ranjang.
"Kau mau kemana hah, tidak ada yang gratis, kau harus membayar mahal untuk mendapatkan tanda tanganku di atas surat itu". Ujar Dewantara sambil mendekati tubuh Anna lalu menindihnya.
...----------------...
__ADS_1