Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 85


__ADS_3

Ya, jika banyak wanita di luar sana yang waspada akan kedekatan suaminya mereka dengan sahabatnya maka berbeda dengan Maira, entah apa yang sedang merasuki wanita itu namun yang pasti dia mencoba mendekatkan suami yang sangat dia cintai dengan sahabatnya sendiri hanya semata-mata agar Rian memiliki keturunan.


Rian sendiri tentu saja sangat tidak menyangka jika Maira tega melakukan hal tersebut. Pria itu tampak sangat kecewa dengan tindakan yang di lakukan istrinya bahkan dia mengutuk perbuatan Maira kali ini, padahal selama ini Rian sama sekali tidak memaksakan kehendaknya untuk memiliki anak bahkan ketika dia tahu jika Maira akan sulit hamil, Rian sudah mengubur dan menepis jauh-jauh bayangan untuk menggendong seorang anak.


Bukan hanya Rian, Shinta juga tidak habis pikir jika Maira mampu melakukan hal yang sangat ceroboh seperti ini, wanita itu juga merasa jika Maira telah melukai harga dirinya sebagai seorang wanita namun sebisa mungkin Shinta meredam amarahnya dan mencoba mengerti situasi Maira karena menjadi Maira menurutnya memanglah tidak mudah.


Shinta berharap dengan seiring berjalannya waktu Maira akan sadar jika apa yang dia lakukan bukan hanya menyakiti dirinya sendiri namun juga menyakiti banyak orang terutama Rian sang suami. Shinta yang duduk di dalam mobil tepat di samping Rian tengah mengemudikan mobil melirik kearah pria itu dengan tatapan yang sedikit canggung, rencana Maira ternyata mampu membuat situasi yang kurang mengenakkan di antara kedua orang itu.


"Maira, bagaimana bisa kamu merencanakan hal sebodoh ini di saat kamu memiliki suami yang begitu sempurna seperti mas Rian". Batin Shinta yang jujur saja sangat mengagumi sosok pria tampan itu.


Bohong jika ada wanita yang tidak kagum akan sosok pria seperti Rian, bukan hanya sangat tampan pria itu juga sangat kaya raya, cerdas, baik kepada semua orang dan tidak pernah melakukan hal negatif yang merugikan orang lain apalagi pria itu juga sangat setia kepada pasangan namun Shinta sangat sadar jika cinta Rian hanya untuk Maira dan dia tidak akan masuk di antara keduanya hanya karena dia belum juga menikah atau bahkan memiliki pasangan sampai saat ini.


Suasana di dalam mobil benar-benar hening tanpa ada satu patah katapun yang keluar dari bibir keduanya, baik Rian maupun Shinta sama-sama sibuk dengan pikiran mereka masing-masing bahkan sampai tidak sadar jika mereka telah sampai di rumah yang seolah terasa hanya menyita waktu yang sangat singkat itu padahal jarak restoran ke mansion Mahendra cukuplah jauh.


Setelah memarkirkan mobilnya Rian langsung berniat turun dan menuju ke dalam mansion namun Shinta menahannya sejenak.


"Mas, ingat yang aku katakan tadi, kita tidak tahu apapun dan tidak perlu tahu jadi bersikaplah seperti biasa agar Maira merasa jika semua rencananya itu gagal". Ujar Shinta serius.


Rian menghela napas kemudian mengatur suasana hatinya sebaik mungkin agar dia bisa bersikap seperti biasanya kepada Maira. "Baiklah, terimakasih telah mengingatkan aku lagi". Ujar Rian lembut kepada Shinta lalu kedua langsung menuju mansion tanpa beban apapun.

__ADS_1


Rian dan Shinta kompak menuju kamar Maira untuk melihat kondisi wanita itu karena mereka sudah sepakat untuk mengikuti permainan yang sedang di mainkan Maira. Begitu tiba di kamar Maira, benar saja wanita itu sedang berbaring di atas kasur untuk menyempurnakan akting yang sedang tidak enak badan di depan Shinta dan juga suaminya.


"Sayang, kamu baik-baik saja?". Tanya Rian langsung memeluk istrinya itu dengan mesra padahal di hatinya Rian sedang menahan amarahnya.


"Aku baik-baik saja mas hanya saja kepalaku terasa sedikit pusing". Jawab Maira memelas.


"Apa perlu aku panggilkan dokter Ra?". Tanya Shinta khawatir.


"Tidak perlu". Jawab Maira spontan.


"Sebaiknya kita panggilkan dokter saja sayang". Tambah Rian.


"Oke baiklah kalau begitu, tapi jika kamu memang membutuhkan dokter katakan secepatnya ya biar aku menghubungi dokter kita". Ujar Rian lembut sambil membelai lembut rambut Maira lalu pria itu mengecup kening istrinya itu kemudian bersiap untuk melahap bibir Maira juga untuk melihat reaksi Maira.


Benar saja Maira langsung menahan suaminya ketika suaminya itu hendak menciumnya di depan Shinta. "Mas, ada Shinta disini". Protes Maira.


"Hei, kenapa memangnya jika ada aku di sini, bukankah kalian suami istri?, mas Dewa dan Anna saja pernah melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman di depanku jadi santai saja walaupun aku jomblo tapi aku tidak akan iri melihat kemesraan kalian". Celetuk Shinta seperti biasanya tanpa ada rasa bersalah.


"Tapi tidak-". Perkataan Maira itu langsung terpotong karena bibirnya tiba-tiba di bungkam oleh Rian dengan bibir pria itu.

__ADS_1


Cuup....


Ciuman yang awalnya lembut itu berubah menjadi ciuman yang semakin ganas dan bergairah bahkan Maira yang sebisa mungkin untuk melepaskan tautan bibir itu selalu gagal karena Rian ******* bibir Maira dengan sangat kuat. Rian seolah sedang melampiaskan kemarahannya dengan bergumul di atas ranjang dengan sang istri karena hanya dengan cara itulah Rian bisa melampiaskan kemarahannya iyu tanpa membuat Maira curiga.


"Oh my God, batu aku pancing mereka langsung melakukannya di hadapanku, yuhuu, aku harus segera pergi dari sini sepertinya". Ujar Shinta setengah berteriak karena terkejut dengan pemandangan di hadapannya kemudian dia langsung berlarian keluar kamar pasangan suami istri itu.


Shinta menghela napas panjang sambil memejamkan matanya, wanita itu bersandar di dinding depan kamar Maira sambil memegang dadanya yang berdetak dengan sangat kencang itu. Entah mengapa Shinta merasa aneh melihat Maira dan Rian bercumbu seperti itu padahal ketika melihat Anna dan Dewantara waktu itu wanita itu tidak merasakan hal aneh apapun dalam dirinya.


"Segera waras lah Shinta, mereka pasangan suami istri jadi wajar mereka melakukan hal itu dimana saja dan kapan saja yang mereka mau". Ujar Shinta pada dirinya sendiri.


"Dan kamu Ra, bagaimana bisa kamu berpikir jika suami mu itu mau menginginkan wanita lain di saat dia sangat bergairah dan sangat mencintaimu, dasar bodoh". Umpat Shinta lalu pergi meninggalkan kamar yang dia yakini sekarang sudah di penuh dengan suara ******* dari pasangan suami istri itu dan menuju kamarnya untuk beristirahat karena hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi Shinta bukan hanya fisiknya saja yang di tempa oleh pekerjaan, mentalnya juga di tempa oleh rencana aneh dari sahabatnya Maira.


"Hah, sepertinya aku harus memikirkan cara agar segera keluar dari mansion ini dan kembali ke rumah mas Dewa, no, tidak aku tidak mau lagi tinggal bersama Anna atau Maira aku harus tinggal di rumahku sendiri tanpa ada mereka di hidupku lagi, sudah cukup mereka berdua membebani pikiranku selama ini, aku juga butuh me time bukan untuk menjaga kewarasan ku, ya aku harus segera memikirkan untuk membeli rumah ku sendiri. Oh ya ampun aku bahkan harus memikirkan segala sesuatunya sendiri di saat sahabat-sahabatku sudah memiliki pasangan untuk tempat mereka bersandar". Gerutu Shinta meratapi nasibnya yang sampai satu ini masih hidup sendiri.


Shinta sebenarnya memang sudah memiliki tabungan untuk membeli rumah sederhana seperti yang dia impikan selama ini apalagi selama bekerja di perusahaan Mahendra dia tidak pernah menggunakan gajinya karena hidupnya terus di dukung oleh keluarga Dewantara dan juga keluarga Mahendra apalagi gajinya di perusahaan tersebut juga sangatlah besar namun kedua keluarga itu seolah selalu membayang-bayangi dirinya sehingga dia terus saja harus menempel kepada mereka tanpa bisa bebas dan memiliki kehidupan yang normal seperti yang dia inginkan.


"Tuhan, seandainya saja ada pria yang menikahi ku dan membawa aku pergi dari kedua keluarga ini, pasti aku akan sangat bahagia,aku juga ingin memiliki dan memikirkan kebahagiaan ku sendiri". Ujar Shinta lirih kemudian wanita itu langsung tenggelam di alam mimpi.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2