Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 82


__ADS_3

Hari ini Maira akan melakukan operasi untuk membuat saluran telurnya menjadi normal, tentu dengan dokter yang sangat ahli di bidangnya. Rian, run Dhika dan Shinta setia menemaninya dan tidak pernah meninggalkan rumah sakit selama proses operasi berlangsung sedangkan Anna sendiri masih belum di perbolehkan untuk keluar rumah oleh Dewantara jadi dia hanya bisa memantau keadaan Maira melalui sambungan telepon.


Maira sama sekali tidak merasa takut atau gugup dalam menghadapi operasi tersebut justru dia merasa sangat bahagia karena dia sangat yakin jika tidak alamat lagi dia akan bisa seperti wanita normal pada umumnya yang bisa mengandung dan melahirkan keturunan untuk suaminya.


"Apa kamu takut sayang?". Tanya Rian menggenggam erat tangan Maira saat menunggu detik-detik Maira di masukkan ke dalam ruang operasi.


"Tidak, aku justru bahagia karena tidak lama lagi kita akan segera punya anak". Jawab Maira antusias.


"Itu tidak penting sayang, yang terpenting adalah operasi berjalan lancar dan kamu sehat dan selamat". Ujar Rian lagi.


"Iya, iya aku tahu itu suamiku, doakan aku ya". Celetuk Maira menghindari perdebatan.


Rian tampak mondar-mandir di depan ruangan operasi saat Maira sedang menjalani operasinya tersebut. Pria itu rupanya sangat mengkhawatirkan istrinya namun di luar dugaan operasi tersebut justru tidak berlangsung lama dan sangat lancar tanpa kendala apapun sehingga membuat Rian tersenyum bahagia.


"Selamat tuan, operasi istri anda sudah selesai dan berjalan dengan lancar, sebentar lagi nona Maira akan kami pindahkan ke ruang rawatan". Ujar dokter dengan senyuman di wajahnya.


Selama di rumah sakit Rian selalu setia menemani istrinya bahkan dia tidak masuk kerja karena dia ingin Maira bahagia karena dia memprioritaskan Maira di atas segalanya. Pria itu juga melayani istrinya itu dengan sangat baik dan tidak membiarkan Maira kekurangan apapun begitu juga dengan Shinta, wanita itu juga setiap hari menemani Maira selama Maira berada di rumah sakit.

__ADS_1


Shinta juga ikut menginap di rumah sakit untuk menemani Maira namun wanita itu tetap masuk kerja karena selama Rian mengambil cuti maka dia dan Ricko yang menangani semua urusan di perusahaan. Sama seperti saat berada di antara Anna dan Dewantara, Shinta juga sudah tidak canggung lagi berada di tengah-tengah Maira dan Rian namun terkadang jiwa jomblonya meronta-ronta saat melihat kemesraan mereka dan juga perhatian yang luar biasa dari Rian untuk Maira, terlihat jelas sekali jika Rian sangat mencintai istrinya itu.


"Oh Tuhan, tidak Anna atau Maira mereka sama-sama sangat beruntung karena di perlakukan dengan sangat baik oleh pasangan mereka, sungguh berat memang cobaan ku harus menjadi saksi hidup kemesraan mereka". Batin Shinta di tengah-tengah pemandangan di depannya dimana Rian tidur satu ranjang dengan Maira di rumah sakit.


Sebenarnya bukan tidak ada pria yang mendekati Shinta apalagi wanita itu memiliki paras yang cantik, bentuk tubuh yang ideal dan juga kecerdasan yang dia miliki dengan penampilan yang juga sangat menarik. Namun sayangnya ada saja ketidakcocokan antara dia dengan para pria yang mendekatinya tersebut sehingga membuat dia selalu gagal untuk memulai sebuah hubungan.


Ketika ada pria yang cocok dengannya dalam berbagai hal maka masalah yang terjadi adalah pria tersebut pasti menghilang begitu saja tanpa kabar berita lagi, Shinta sebagai wanita tentu tidak mau dan sangat pantang mengemis atau mencari pria tersebut sehingga ujung-ujungnya wanita itu kembali ke predikat lamanya yaitu jomblo sejati.


Namun semua hal itu tidak terlalu di permasalahkan bagi Shinta meskipun dia kerap kali selalu membahasnya di depan Maira dan juga Anna karena wanita itu merasa jika kehidupannya masih sangat beruntung apalagi setelah bertemu dengan Maira dan Anna, kehidupannya sekarang ini sangatlah tejamin dari segi materi dengan karir yang juga sangat bagus bahkan semua kebutuhannya terpenuhi tanpa harus dia menghabiskan gaji yang dia Terima dari perusahaan Mahendra.


Rian juga sama seperti Dewantara yang menerima kehadiran Shinta dengan sangat baik termasuk di perusahaannya meskipun awalnya dia ragu dengan kinerja yang di miliki wanita itu namun ketika Rian melihat hasil kerja Shinta maka harus di akui meskipun Shinta mendapatkan pekerjaan dengan memanfaatkan jalur instan namun kemampuan Shinta dapat di perhitungkan.


Bukan hanya itu Rian juga mengajak Shinta untuk tinggal di mansionnya setelah Maira di perbolehkan pulang dari rumah sakit, hal itu Rian lakukan untuk membuat Maira bahagia dan agar istrinya tidak merasa kesepian dalam menunggu proses penyembuhannya, hal itu tentu saja di sambut dengan sangat antusias oleh Maira yang juga ikut memaksa Shinta untuk ikut dengan mereka.


"Ayolah Shin, kapan lagi kita bisa bersama-sama jika bukan sekarang lagi pula apa kamu tidak kasihan melihatku". Bujuk Maira.


Shinta tampak berpikir keras karena walau bagaimanapun dia merasa lebih nyaman kembali ke rumah Dewantara apalagi sekarang ada baby Kaisar yang selalu dia rindukan di rumah tersebut. "Tapi sebaiknya aku pulang ke rumah mas Dewa saja Ra, tapi tenang aku janji pulang kerja aku akan ke mansionmu lebih dulu". Jawab Shinta.

__ADS_1


"Kamu ternyata lebih sayang Anna dari pada aku, padahal Anna banyak yang menemaninya, di sana ada mama Dewi dan juga baby Kaisar yang selalu bersamanya sedangkan aku hanya sendirian". Ujar Maira lesu sehingga membuat Shinta menjadi tidak enak hati.


"Oke, baiklah aku akan ikut denganmu untuk beberapa hari ke depan". Ujar Shinta mengalah.


Namun rencana hanyalah tinggal rencana, Shinta yang awalnya akan tinggal di mansion Maira untuk beberapa hari saja kini bahkan sudah hampir satu bulan dia berada di sana namun tetap saja setiap hari dia pasti akan pulang ke rumah Dewantara untuk melihat perkembangan baby Kaisar yang setiap saat dia rindukan itu, karena walau bagaimanapun Shinta merasa tidak tega jika meninggalkan Maira dalam keadaan seperti itu.


Maira sendiri saat ini sudah di nyatakan oleh dokter jika dia sudah sembuh total dan sudah bisa merencanakan untuk memiliki anak sehingga wanita itu rutin mengkonsumsi berbagai macam obat-obatan dan vitamin untuk menunjang segala keinginannya itu tentu saja dengan dukungan penuh dari Rian dan juga orang-orang tersayangnya.


Beberapa bulan sudah berlalu, Maira yang sudah bosan dengan segala usaha yang tidak membuahkan hasil itu merasa benar-benar kalah dan putus asa dengan keadaan sehingga dia meminta dokter merencanakan bayi tabung untuknya karena menurutnya hal itu yang akan membuat dia cepat hal tanpa harus menunggu waktu bertahun-tahun lamanya.


Rian sendiri mengikuti sana apapun kemauan Maira asalkan istrinya merasa nyaman dan supaya Maira tidak merasa stress karena terus memaksakan dirinya untuk hamil secara normal. Maka proses pembuatan bayi tabung pun di lakukan oleh dokter atas permintaan Maira. Maira sendiri sangat yakin jika kali ini dia pasti akan hamil karena tingkat kegagaln bayi tabung memang sangat sedikit apalagi yang menangani dirinya juga bukan dokter sembarangan melainkan dokter yang sudah sangat ahli di bidangnya.


Hal itu juga yang membuat Shinta semakin tidak tega meninggalkan Maira sehingga wanita itu memilih untuk tetap tinggal bersama Maira dan memberi semangat untuk sahabatnya itu padahal nyonya Dewi dan tuan Anwar selalu menyuruhnya untuk pulang ke rumah mereka.


"Ma, Pa, Shinta pasti akan pulang tapi tidak sekarang karena Shinta harus menemani Maira selama proses bayi tabungnya". Ujar Shinta memberikan pengertian kepada orang tua angkatnya itu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2