
Jika ada yang penasaran dengan bagaimana kehidupan Rian maka jawabannya adalah kehidupan pria itu sama saja seperti Maira yang hidup tanpa arah dan tujuan bahkan pria itu juga sudah tidak lagi berinteraksi dengan siapapun kecuali urusan pekerjaan.
Tuan Dhika yang ikut frustasi melihat tingkah kedua anaknya itu sehingga dia sedang merencanakan sesuatu agar kedua anaknya itu bisa kembali bersama karena dia tidak sabaran menunggu kehadiran cucu di usia senjanya itu.
"Aku harus melakukan sesuatu untuk mereka jika tidak Aku akan terus hidup sendirian bahkan Aku tidak akan pernah bisa merasakan bagaimana indahnya bermain-main dengan cucuku di hari tuaku ini". Ujar tuan Dhika kepada dirinya sendiri karena dia sudah cukup sabar menunggu kepastian dari kedua anaknya itu selama berbulan-bulan.
Tuan Dhika tidak akan pura-pura sakit lagi karena dia sudah pernah melakukan hal itu namun Maira dan Rian sama sekali tidak saling bertemu karena Maira dan Rian pulang di hari yang berbeda dan langsung pergi kembali ke tempat mereka masing-masing setelah memastikan jika kondisi tuang Dhika baik-baik saja bahkan ujung-ujungnya rencana konyol tuan Dhika itu di ketahui oleh kedua anaknya tersebut.
Hal tersebut tentu saja membuat Maira dan Rian mendiamkan tuan Dhika untuk beberapa hari bahkan mereka tidak mengangkat telepon dari pria paruh baya tersebut. Namun kali ini tuan Dhika sudah punya rencana yang menurutnya akan lebih masuk akal dan akan membuat kedua anaknya itu bertemu secara langsung dan tidak akan pernah terpisah satu sama lain lagi.
Tuan Dhika menghubungi Rian yang berada di luar kota untuk segera kembali ke jakarta karena ada hal penting yang akan dia sampaikan kepada Rian. Rian yang memang selalu mendengarkan apapun perintah dari papanya tersebut langsung menuju Jakarta pada hari itu juga apalagi saat tuan Dhika mengatakan jika dia ingin membahas tentang Maira yang sangat dia khawatirkan keadaannya di negeri orang sana.
"Rian". Sapa tuan Dhika ketika melihat anaknya telah sampai di mansion nya.
"Pa". Rian langsung memeluk papanya.
"Kamu sudah makan?". Tanya tuan Dhika.
__ADS_1
"Sudah pa, ada apa papa menyuruh Rian kembali?". Tanya Rian penasaran, sebenarnya dia lebih penasaran kenapa tuan Dhika mengatakan di telepon tempo hari jika dia sedang mengkhawatirkan keadaan Maira karena selama ini tuan Dhika tidak pernah mengkhawatirkan keadaan wanita itu karena tentu saja Maira sudah di jaga dengan sangat ketat oleh para pengawal yang di utus oleh tuan Dhika.
"Mari duduklah dulu dan papa akan menceritakan semuanya kepadamu". Ajak tuan Dhika.
Setelah mereka duduk dengan tenang di ruang tamu tuan Dhika langsung mengatakan jika Maira yang sedang meraih gelar masternya di negara Swiss saat ini sedang dalam bahaya karena ternyata Dewantara juga berada di sana dan tuan Dhika takut jika pria itu akan berbuat jahat lagi kepada Maira.
Tentu saja tuan Dhika sedang menjadi pembohong besar karena sebenarnya dia tahu mengapa dan untuk apa Dewantara berada di sana bahkan dia juga tahu tentang kisah cinta satu malam Dewantara bersama Anna. Karena sungguh mustahil bagi tuan Dhika jika dia tidak tahu tentang segala hal apalagi jika hal tersebut berhubungan dengan keselamatan putrinya Maira. Apalagi para pengawal yang bertugas menjaga Maira selalu memberikan informasi apapun yang berkaitan dengan Maira kepada tuan Dhika.
Rencana tuan Dhika untuk membuat Rian khawatir dan cemburu sepertinya tidak sia-sia karena tuan Dhika bisa melihat dengan jelas bagaimana rahang Rian yang mengeras saat mendengar nama Dewantara di sebut olehnya tadi sehingga dia merasa sangat bahagia karena misinya kali ini tidak mungkin gagal.
"Bagaimana bisa papa membiarkan Maira pergi sejauh itu pa, lalu bagaimana dengan para pengawal, mereka ada di dekat Maira selalu kan?". Tanya Rian khawatir.
Rian terdiam mendengarkan ucapan tuan Dhika karena semua itu memang benar, harusnya bukan tuan Dhika yang menahan langkah Maira untuk pergi sejauh itu di negeri orang tapi dia, namun Rian sendiri masih terbelenggu dengan masa lalu yang seharusnya tidak bisa merusak cinta dan masa depannya dengan Maira begitu saja.
Dalam diamnya Rian terus membayangkan Maira dan Dewantara bersama-sama jauh di negeri orang sana dan Dewantara bisa melakukan hal licik apapun untuk membuat Maira kembali ke dalam pelukannya belum lagi Maira adalah gadis yang sangat polos dan sangat mudah percaya dengan orang lain.
Rian mengutuk sikapnya yang tidak cukup berani mengambil keputusan dan resiko untuk hubungannya dengan Maira sehingga membuat wanita yang di cintainya itu saat ini sedang berada dalam bahaya. Tidak bisa di bayangkan oleh Rian jika Maira akan di perdaya oleh Dewantara lagi layaknya Ayuna dulu.
__ADS_1
"Sudah berapa lama pria itu berada di sana pa?". Tanya Rian lagi.
"Baru beberapa hari ini nak, papa di hubungi oleh para pengawal yang menjaga Maira". Jawab tuan Dhika polos.
Rian menjambak rambutnya dengan kasar dan langsung bangkit dari duduknya. "Aku akan ke Swiss sekarang juga pa, Aku akan membawa Maira segera kembali ke indonesia". Ucapnya tegas.
Tuan Dhika tersenyum simpul karena rencananya membuat Rian cemburu dan marah akhirnya berhasil walaupun dia dia harus mengorbankan Dewantara dan menjelek-jelekkan pria itu padahal Dewantara sama sekali sudah tidak peduli dengan Maira lagi karena tujuannya berada di Swiss sampai saat ini hanyalah untuk selalu berada di sisi Anna.
"Tapi kamu baru saja melakukan perjalanan jauh nak dan ini juga sudah malam, apa tidak sebaiknya besok saja kamu berangkat?". Tanya tuan Dhika.
"Tidak bisa pa, Maira dalam bahaya". Jawab Rian tegas.
Pria itu kemudian langsung menghubungi asistennya untuk menyiapkan keberangkatannya ke Swiss malam itu juga karena dia tidak ingin ada kata terlambat lagi kali ini. Tentu saja tidak sulit untuk pria sekelas Rian untuk berangkat malam itu juga karena privat jetnya yang selalu bisa di andalkan dalam keadaan darurat seperti saat ini.
Sepanjang perjalanan Rian terus mengutuk dirinya yang melepaskan Maira begitu saja padahal selama ini perjuangannya untuk mendapatkan wanita itu tidaklah mudah. Rian tidak tahu apa yang akan dia lakukan kepada Dewantara jika pria itu melakukan hal buruk terhadap wanita yang sangat dia cintainya itu.
Rian benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada hidup Dewantara selama ini dan bagaimana kehidupan yang dia jalani sejak dia berpisah dengan Maira sehingga pikiran-pikiran buruk tentang Dewantara terus menari-nari di dalam kepalanya.
__ADS_1
"Maira aku datang, tunggulah aku sayangku". Gumam Rian.
...----------------...