
Entah suatu kebetulan atau bukan namun hari dimana Rian Mahendra datang ke perusahaan Dewantara adalah hari yang sama dimana Maira berencana mengantarkan makan siang untuk suaminya karena dia baru saja berhasil memasak masakan yang baru di pelajari dari Tini.
Di hari yang sama pula Rian berencana untuk menemui Dewantara yang telah menyembunyikan dan menutup segala akses baginya untuk menghubungi Maira, bahkan Maira sama sekali tidak mengajukan surat pengunduran dirinya padahal dia sudah tidak bekerja lagi di perusahaan Mahendra corp.
Ricko sangat menentang rencana Rian untuk menemui Dewantara meskipun alasannya adalah untuk menanyakan perihal surat pengunduran diri Maira karena Ricko hafal betul jika bukan itu tujuan utama Rian kesana melainkan untuk mencari tahu dimana Maira dan bagaimana keadaan wanita itu.
"Aku selalu memperingatkan anda tuan untuk berhati-hati dalam mengelola emosi anda karena anda bisa celaka karena itu apalagi nona Maira adalah istri sahnya tuan Dewantara". Ucap Ricko tegas namun Rian tidak menggubrisnya.
Rian masuk ke ruangan Dewantara tanpa permisi atau mengetuk pintu terlebih dahulu sehingga Dewantara yang sedang menerima tamu harus meminta tamunya untuk pergi dan melanjutkan pertemuan mereka di lain waktu.
"Ternyata tuan muda Rian Mahendra sama sekali tidak punya sopan santun saat berkunjung ke perusahaan ku". Ujar Dewantara sini.
"Dimana Maira?". Tanya Rian tanpa basa-basi.
"Apa aku tidak salah dengar, kau mencari istriku?".
"Kau membicarakan tentang sopan santun sedangkan Maira juga tidak punya sopan santun dimana dia tidak masuk kerja selama satu bulan ini dan tidak memberikan keterangan apapun tapi juga tidak mengajukan surat pengunduran dirinya sama sekali". Jawab Rian sinis.
"Jadi kau repot-repot kemari hanya untuk menanyakan surat pengunduran diri istriku, baiklah jika itu tujuanmu maka aku akan membuatkan surat pengunduran diri untuk istriku sekarang juga, tunggu sebentar". Jawab Dewantara tidak mau kalah.
__ADS_1
Mendengar Dewantara menyebutkan Maira sebagai istrinya berkali-kali membuat Rian sangat muak mendengarkannya. Sehingga dia tidak tahan dan ingin sekali menghajar pria di hadapannya itu yang seolah menunjukkan betapa dia mencintai Maira padahal jelas-jelas jika selama ini dia menyia-nyiakan Maira.
"Berhenti bersandiwara Dewantara, dimana Maira, apa kau menyiksanya atau mengurungnya sehingga dia tidak masuk kerja lagi heem?".
"Menyiksa?, mengurung?, apa aku tidak salah dengar tuan Rian?". Tanya Dewa sinis.
"Jangan macam-macam denganku Dewantara, aku tahu siapa dan bagaimana Maira, dia tidak akan mungkin mau kau kekang jika kau tidak mengancamnya". Ujar Rian tegas sambil menarik kerah jas Dewa.
"Oho, ternyata kau merasa lebih mengenal istriku di bandingkan aku suaminya sendiri. Dengarkan aku Rian Mahendra kali ini kau kalah dan aku pemenangnya, aku suami sah Maira, maira milik ku dan akan selalu menjadi milik ku dan dia tidak akan meninggalkan ku demi apapun termasuk hanya demi pria seperti mu". Jawab Dewantara tak kalah tegas.
Rian tersulut emosi ketika Dewantara menegaskan jika Maira miliknya dan mengatakan jika dirinya kalah jika di bandingkan dengan Dewantara yang merupakan suami sah Maira. Entah mengapa dia tidak terima akan kekalahannya itu terlebih lagi pria yang mengatakan hal tersebut adalah rival terbesarnya yang bahkan pernah meniduri calon istrinya dulu.
Dewantara langsung mendekati Rian dan melayangkan pukulan yang sangat keras di wajah tanpa pria itu. "Bugh". Pukulan itu mendarat tepat di pipi Rian, bersamaan dengan jatuhnya bekal makanan yang di pegang Maira di tangannya.
"Maira". Seru Dewantara sehingga membuat Rian terkejut dengan kehadiran wanita yang sedang di carinya itu. Maira memundurkan langkah demi langkah kakinya karena tidak menyangka apa yang baru saja di dengar olehnya.
"Brengsek, kau memanfaatkan istriku untuk membalaskan dendammu kepadaku, aku akan menghabisi mu Rian Mahendra". Seru Dewantara kemudian menghajar wajah Rian lagi.
Kaki Maira lemah ingin dia berlari namun langkahnya terasa sangat berat untuk di ayunkan. Dunianya runtuh saat pria yang terus membayangi hidupnya justru memanfaatkannya sebagai pelampiasan dendamnya padahal pria tersebut telah mengisi seluruh isi hati dan pikirannya selama ini.
__ADS_1
Maira merasa sangat bodoh karena salah menilai Rian yang di pikirnya tulus mencintainya namun ternyata mendekatinya hanya karena Rian tahu jika Maira adalah istri dari Dewantara. Maira baru teringat pantas saja Rian dengan mudahnya menerima dia bekerja di perusahaannya dulu bahkan di saat Maira baru saja menyelesaikan pendidikannya dan tidak memiliki pengalaman kerja sedikitpun.
Maira berlarian menuju mobilnya dan menumpahkan air mata sepuasnya. Dia tidak peduli lagi apa yang akan terjadi antara suaminya dengan Rian di dalam sana. Maira segera meninggalkan perusahaan Dewantara dengan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Setelah puas menghajar Rian yang tanpa perlawanan itu, Dewantara menyuruh anak buahnya untuk menghubungi Ricko agar menjemput majikannya itu karena kondisi Rian sudah tidak sadarkan diri. Entah mengapa Rian sama sekali tidak membalas setiap pukulan yang melayang ke tubuhnya itu padahal biasanya Rian selalu menang jika beradu otot dengan Dewantara.
Tidak butuh waktu lama untuk Ricko datang dan menjemput majikannya itu karena dia memang selalu bisa di andalkan dalam segala hal, Ricko kemudian membawa Rian ke rumah sakit karena kondisi majikannya saat itu cukup parah dengan luka dan darah bercucuran di mana-mana.
Sedangkan Dewantara sendiri sudah pergi untuk menyusul istrinya karena dia tahu jika Maira membutuhkan seseorang saat ini untuk menemaninya di saat-saat seperti ini dan benar saja ketika Dewantara tiba di kamar Maira wanita itu langsung memeluknya dan menangis sejadi-jadinya.
Dewantara tidak melarang Maira menangis karena dia tahu jika istrinya memang membutuhkan itu saat ini. Dia membelai lembut rambut istrinya karena dia merasa ikut bersalah telah melibatkan Maira dalam masalah yang terjadi antara dia dan Rian.
"Maafkan aku Maira, ini semua terjadi karena kesalahan ku di masa lalu". Ujarnya lembut.
"Mas, bawa aku pergi jauh dari sini, aku butuh suasana baru. Kamu mau kan mas?". Tanya Maira lirih.
"Tentu saja sayang, kita akan pergi jauh dan bila perlu kita tidak akan kembali lagi kesini yang penting kamu bisa hidup nyaman dan bahagia". Jawab Dewantara lembut.
Dewantara sangat mengerti jika Maira akan melewati masa-masa sulit di hidupnya sehingga dia akan selalu memenuhi keinginan Maira dan selalu setia mendampingi istrinya itu.
__ADS_1
...----------------...