
Maira membuka matanya perlahan pagi itu, dia merasa sedikit sesak dan aneh karena merasa jika ada benda yang lumayan berat melingkar di atas perutnya. Ketika matanya telah terbuka sempurna, betapa terkejutnya wanita itu karena melihat ternyata tangan seseorang melingkar di perutnya dan orang tersebut adalah atasannya Rian.
Maira langsung spontan menghempaskan tangan Rian dan bangkit dari tidurnya kemudian memeriksa seluruh keadaan tubuhnya dan juga tubuhnya Rian yang ternyata masih menggunakan pakaian lengkap.
"Apa yang kamu pikirkan?". Tanya Rian dengan suara khas orang bangun tidur karena tidurnya yang teramat nyaman tadi terganggu karena ulah Maira.
"Tu-tuan, kenapa anda ada di sini?" Tanya Maira ragu-ragu.
"Tanyakan pada dirimu sendiri, mengapa kamu memaksaku untuk menemanimu di sini".
"Apa?, mana mungkin saya melakukan itu".
"Oh ya, jadi kamu melupakan semua kejadian tadi malam?".
"Ke-kejadian apa?".
"Jangan pernah menyentuh minuman haram itu lagi karena kewarasan mu akan hilang jika meminumnya". Ujar Rian sambil menyentil kening Maira kemudian kembali melanjutkan tidurnya dengan menarik selimut. "Jangan ganggu tidurku lagi karena aku masih kelelahan menggendong tubuh berat mu itu". Gerutu Rian lagi.
Maira mematung mendengar apa yang di katakan oleh Rian dan mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam namun yang ada di ingatannya terakhir kalinya hanyalah ketika dia minum minuman keras di sebuah club, Maira mengutuk perbuatan konyolnya itu sambil menepuk keras keningnya sendiri.
Maira sangat malu dengan tingkahnya yang merepotkan atasannya itu namun dia tidak mengingat apapun yang terjadi tadi malam sehingga membuat dia sangat ketakutan jika benar terjadi hal yang tidak di inginkan antara dia dan Rian.
Maira mulai menangis segugukan sehingga mau tidak mau Rian harus bangun dan menenangkan wanita itu.
"Kenapa menangis?". Tanya Rian.
"Tuan bagaimana ini, kalau saya hamil bagaimana?". Tanya Maira polos.
Mendengar ucapan Maira membuat Rian ingin tertawa namun dia menahan dirinya karena ingin melihat sejauh mana kepolosan Maira.
"Jika kamu hamil, suamimu pasti akan bahagia". Jawab Rian enteng.
__ADS_1
"Hiks, hiks, hiks, tuan anda tidak tahu apa-apa tentang rumah tanggaku". Maira menangis semakin kencang.
"Maka katakanlah biar aku tahu".
"Sebenarnya, se-sebenarnya saya dan suami saya tidak pernah tidur bersama dan melakukan hal itu". Jwab Maira ragu.
"Jadi kamu baru melakukannya denganku seorang?".
"Tentu saja tuan, bagaimana ini, saya takut jika saya hamil".
"Jika kamu hamil aku yang akan bertanggung jawab".
"Lalu suamiku?".
"Ceraikan saja dia".
"Tuan tidak semudah itu".
"Tuan".
"Hahaha, aku akan pesan kan makanan aktivitas kita tadi malam cukup menguras tenaga ku". Ujar Rian tanpa mempedulikan lagi kegelisahan Maira yang menurutnya sangat menggemaskan itu.
Seharian ini Maira hanya menangisi nasibnya yang sangatlah soal menurutnya itu, dimana dia telah tidur dengan atasannya sedangkan suaminya sendiri tidak pernah sekiipun menyentuhnya. Sedang Rian sangat menikmati kesedihan yang di tunjukkan oleh Maira tanpa ada niatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada wanita itu.
"Dia ini bodoh atau bagaimana, mana mungkin kami melakukannya sedangkan dia dan aku masih sama-sama memakai pakaian lengkap". Batin Rian menahan tawa.
"Maira hentikan tangisan tidak bermanfaat mu itu dan makanlah makananmu". Ujar Rian datar.
"Bagaimana saya bisa makan dalam keadaan seperti ini tuan?". Sentak Maira kesal.
"Apa karena meminum minuman terlarang itu kamu jadi tidak tahu cara makan makanan lagi heem".
__ADS_1
"Tuan saya sedang tidak becanda".
"Baiklah aku akan serius sekarang, katakan padaku apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan tangisan mu itu?".
"Beri saya solusi agar saya keluar dari masalah ini tuan, saya takut jika saya hamil". Ujar Maira lirih dan mendengar hal tersebut membuat Rian luluh dan yakin jika Maira benar-benar mengira jika mereka telah melakukannya tadi malam.
Rian menyentuh pipi Maira dengan lembut dan menatap mata wanita itu. "Aku akan bertanggungjawab atas apapun yang terjadi padamu, kamu tenang saja". Ujar nya lembut sehingga membuat Maira tenaga dan percaya pada apa yang Rian katakan.
"La-lalu mas Dewa?". Tanya Maira ragu.
"Bukankah dia tidak mencintaimu dan tidak menginginkan mu Maira, maka wajar jika kamu meninggalkannya. Maira kita bisa memulai hal baru bersama karena setiap orang berhak bahagia dengan kehidupan mereka masing-masing tanpa harus selalu mengorbankan perasaan mereka". Jawab Rian spontan tanpa sadar karena hanyut akan suasana.
Entah mengapa ucapan itu bisa terlontar dari bibir Rian, ingin sekali dia mengutuk ucapannya tadi yang seolah memberi harapan kepada Maira padahal dia sendiri masih takut untuk membuka hatinya kepada wanita manapun. Namun saat berada di dekat Maira Rian merasa sangat nyaman dan ingin sekali waktu terhenti di sana.
Maira sendiri juga tidak membantah atau menolak setiap perlakuan manis pria yang menurutnya telah mendapatkan keistimewaan karena telah merenggut kesuciannya itu karena menurut Maira Rian sangat lebih baik dari pada Dewantara yang tidak mau bertanggungjawab sebagai seorang suaminya kepada dirinya.
"Apa aku akan hamil tuan?". Tanya Maira yang sudah tenang.
"Tidak akan, tenanglah". Rian menarik Maira dalam pelukannya, jika ada yang melihat aksinya itu maka orang akan berpikir jika Rian sudah gila.
"Maira dengarkan aku, untuk saat ini jangan ada yang tahu tentang apapun yang terjadi di antara kita termasuk suamimu karena kita butuh waktu untuk membuat semua ini menjadi lebih pasti". Ujar Rian lagi dan Maira sangat menyetujuinya karena dia juga tidak tega mengecewakan ibu mertua yang sangat menyayanginya itu.
Sejak satu itu Maira dan Rian bertingkah layaknya pasangan kekasih yang sedang di mabuk cinta, apalagi Maira yang selama ini tidak pernah mendapatkan perhatian dari suaminya itu merasa jika dia sangat di cintai oleh Rian. Para pengawal juga merasa tak percaya dengan apa yang mereka lihat karena selama ini Rian tidak tersentuh oleh wanita manapun namun Maira dengan mudahnya bisa bersandar kepada pria tampan itu.
Namun Rian bisa memastikan jika para pengawal atau karyawan manapun tidak akan berani bertanya atau berkomentar apapun tentang apa yang majikannya itu lakukan kecuali Ricko karena asisten pribadi Rian tersebut memang sangat akrab dan selalu bisa mengatur apapun yang di lakukan oleh Rian.
Entah bagaimana reaksi Ricko ketika melihat keakraban yang terjalin antara Maira dan majikannya nanti namun apapun itu Rian hanya ingin jika Maira sedang berada di dekatnya maka wanita itu menjadi miliknya tanpa peduli dengan status Maira yang sebenarnya.
Selama di dalam privat jet, Maira bahkan tidur dalam pelukan Rian, jika mata awam yang melihat hal tersebut maka sungguh tidak adil bagi Dewantara namun kekecewaan yang bertubi-tubi di rasakan Maira membuat wanita itu menutup mata hatinya akan semua kesalahan yang sedang dia lakukan saat ini karena benar seperti yang di katakan oleh Rian jika dia juga berhak menentukan kebahagiaannya sendiri.
...----------------...
__ADS_1