Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 74


__ADS_3

Sudah genap satu bulan Anna dan Shinta tinggal bersama dengan keluarga Dewantara dan mereka sangat nyaman berada di rumah mewah itu, tidak ada lagi kecanggungan lagi di antara mereka karena nyonya Dewi benar dengan janjinya yang benar-benar memperlakukan mereka dengan sangat baik layaknya putri mereka sendiri bahkan tuan Anwar juga melakukan hal yang sama.


Satu-satunya kecanggungan yang terjadi di rumah itu hanyalah ketika Dewantara mencoba mendekati Anna ketika di rumah sedang tidak ada siapapun, wanita hamil itu sungguh tidak bersikap biasa saja kepada pria yang menjadi ayah dari bayinya itu, entah karena dia masih membenci Dewantara atau justru ada rasa lain yang sulit untuk dia ungkapkan.


Anna memang tidak ragu akan kebaikan keluarga itu karena dia pernah bekerja di rumah tersebut dan cukup kenal baik dengan semua anggota keluarga Dewantara hanya saja jika harus tinggal sendirian di rumah itu tanpa Shinta dia juga merasa sedikit terganggu namun beruntung kini Shinta berada di sana dan membuat suasana rumah yang sangat besar itu cukup menyenangkan dengan semua tingkah konyolnya.


Shinta dan Dewantara juga bersikap sangat akrab layaknya adik dan kakak laki-laki yang terkesan sangat posesif kepada Shinta apalagi dia tahu jika wanita itu sangat lugu sehingga Dewantara takut jika akan di manfaatkan oleh para pria hidung belang di luar sana. Bukan hanya itu kedua orang tua Shinta juga sudah pernah berkunjung ke rumah Dewantara karena nyonya Dewi dan tuan Anwar yang mengundang bahkan mengirimkan pengawal untuk menjemput mereka ke jakarta.


Bisa di bilang jika hidup Shinta sangat beruntung karena bersahabat dengan Maira kemudian mengenal Anna yang juga menjadikannya sahabat itu. Hanya saja Shinta sangat muak dengan berbagai macam larangan dan ancaman Dewantara kepadanya yang menurutnya sangat mengganggu kelancarannya untuk mendapatkan kekasih hati pasalnya setiap ada pria yang mendekati Shinta pasti akan di ancam oleh Dewantara.


Namun Shinta tidak kehilangan akal, demi mendapatkan kekasih hati dan sebelum predikat perawan tua benar-benar pada dirinya, dia bahkan sering berbohong kepada Dewantara jika dia sedang ada lembur di kantor sehingga harus pulang larut malam padahal wanita itu diam-diam berkencan dengan pria yang dia kenal lewat sosial media.


Ketika wanita energik itu merasa dia sudah menang dan bisa melakukan trik tersebut untuk berkencan dengan pria kenalannya karena di kencan pertama mereka Dewantara sama sekali tidak curiga, namun tiba-tiba pada kencannya malam ini Dewantara justru menyusulnya ke restoran tempat dia berkencan, entah bagaimana caranya pria itu sampai tahu keberadaan secara detail, entahlah yang jelas Shinta sangat mengutuk tindakan Dewantara tersebut.


"Selamat malam, apa aku terlambat?". Tanya Dewantara lugu dan langsung duduk di samping Shinta.


"Ma-mas Dewa". Seru Shinta dengan wajah pucat.


"Siapa dia Shin?" Tanya pria teman kencan Shinta.


"Apa Shinta tidak mengatakan kepadamu jika aku akan bergabung dengan kalian?,kenalkan aku kakaknya Shinta". Ujar Dewantara cuek bahkan tidak mengulurkan tangannya kepada pria di hadapannya.

__ADS_1


"Oh, anda kakaknya Shinta, senang bisa bertemu dengan anda tuan". Ujar pria itu seramah mungkin apalagi dia tahu jika dia sedang berhadapan dengan Dewantara salah satu pengusaha muda yang cukup berpengaruh. Shinta menjadi sedikit lega karena pria kenalannya itu tidak marah dan justru senang dengan kehadiran Dewantara.


"Sayangnya aku tidak senang bertemu denganmu".


"Mas Dewa". Sentak Shinta.


"Tidak apa-apa Shin, tuan Dewantara memang biasa berbicara seperti itu aku sudah cukup mengenalnya, tuan silahkan pesan apapun yang anda inginkan".


"Aku hanya ingin adikku segera pulang dan kau jangan pernah berani menemuinya lagi". Ancam Dewantara tegas.


"Mas kenapa berbicara seperti itu hah?". Sentak Shinta lagi.


"Ya, kami adalah teman berbagi wanita dulu dan aku heran bagaimana seorang Dewantara yang anak satu-satunya ini bisa memiliki adik secara tiba-tiba atau mungkin dia adalah salah satu simpananmu dan kau cemburu saat dia bersama ku, ayolah Dewa kita sudah bisa berbagi sejak dulu bukan". Ujar pria itu yang membuat Shinta terdiam di tempat sedangkan Dewantara entah bagaimana dia bergerak dengan begitu cepat namun sebuah bogem mentah telah melayang di pipi pria yang berbicara penuh rasa percaya diri itu.


Bugh....


Pukulan yang cukup keras itu membuat pri itu jatuh bahkan sampai tidak sadarkan diri seketika itu saja. Dewantara langsung menarik tangan Shinta dan menyeret tubuh wanita itu menuju mobilnya di parkiran.


"Cepat masuk". Titah Dewantara dan Shinta langsung melesat masuk mobil tanpa membantah.


Dalam perjalanan pulang tidak ada satu orang pun dari mereka yang membuka suara. Shinta tentu sangat ketakutan dengan apa yang di lihatnya tadi di restoran sehingga dia tidak berani menayangkan apapun lagi karena sudah jelas jika pria yang mengajaknya berkencan itu bukanlah pria baik-baik.

__ADS_1


Sedangkan Dewantara sendiri sedang berusaha sebisa mungkin untuk meredam emosinya karena pria itu memang sangat mudah tersulut emosi apalagi Dewantara memang sedang berusaha sebisa mungkin agar Anna tidak melihatnya dalam keadaan asi karena dia takut jika Anna sampai trauma dan stress karena tingkahnya itu.


Sesampainya di rumah mereka langsung di sambut oleh Anna yang khawatir akan keadaan Shinta karena dia tahu jika Dewantara sedang menjemput Shinta tadi. Dari gelagat kedua orang yang baru tiba di rumah itu Anna sudah bisa membaca jika terjadi hal yang tidak beres di sana.


"Shin, kamu baik-baik saja?". Tanya Anna khawatir.


"Baik An, aku tidak apa-apa". Jawab Shinta singkat.


"Itu karena aku datang tepat waktu, dengarkan peringatanku yang terakhir kalinya untuk mu Shinta, jika kau berani bertemu dengan pria sembarangan lagi di luar sana maka akan ku pastikan kau akan di jaga oleh pengawal selama dua puluh empat jam kemanapun kau pergi, apakah mengerti?". Sentak Dewantara penuh kemarahan bahkan rahangnya sampai mengeras.


Shinta sangat terkejut dengan sentakan dari Dewantara kepadanya sehingga dia tidak mampu menjawab dengan kata-kata melainkan hanya mengangguk saja dengan air mata yang tiba-tiba jatuh di sudut matanya. Anna juga sangat tidak menyangka jika Dewantara sangat marah karena tindakan Shinta kali ini, dia bahkan merasa jika Dewantara sangat berlebihan kepada wanita itu.


Anna bahkan sempat berpikir apakah sebenarnya pria itu merasa cemburu karena Shinta pergi bersama pria lain karena dia tidak pernah melihat Dewantara se posesif ini sebelumnya bahkan kepada Maira yang istrinya dulu sekalipun, justru Dewantara sangat tidak peduli Maira mau melakukan paling dan kemanapun dia pergi.


"Apa hanya aku saja yang berpikir terlalu berlebihan". Batin Anna, entah kenapa ada perasaan yang sulit di artikan di hatinya melihat Shinta mendapatkan perhatian yang begitu istimewa dari Dewantara.


"An, tidurlah kamu butuh istirahat, bergadang tidak baik untuk kesehatan mu". Ujar Dewantara lagi dengan nada yang sangat lembut kepada Anna. Anna yang sejak tadi melamun bahkan sampai terkejut dan baru menyadari jika Shinta telah melangkah lebih dulu ke kamarnya.


"Baiklah". Jawab Anna dengan senyuman terpaksa sambil berlalu menuju kamarnya sedangkan Dewantara masih setia menatap punggung Anna yang semakin menjauh. Begitulah Anna dan Dewantara berkomunikasi selama ini, singkat, padat dan jelas tanpa basa-basi.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2