
Kembali ke rumahnya Maira di sambut bahagia oleh Tini apalagi pelayan itu sudah tahu jika Maira membawakannya banyak oleh-oleh dari Korea. Wajah Maira berseri-seri dan di hiasi oleh senyuman sepanjang waktu karena wanita itu sedang merasakan bagaimana indahnya jatuh cinta kepada seorang pria. Tini yang melihat hal tersebut juga ikut bahagia meskipun dia tidak tahu penyebab Maira tersenyum sepanjang waktu itu.
Maira juga tidak pernah lagi mempertanyakan atau mempedulikan lagi kapan suaminya pulang. Hubungan antara dirinya dan Rian yang semakin intens membuat wanita itu benar-benar melupakan segalanya.
"Maira". Entah yang ke berapa kalinya Dewa memanggil-manggil nama Maira namun gadis itu tidak menjawabnya.
"I-iya mas". Jawab Maira.
"Bagaimana perjalananmu ke Korea?"
"Ba-baik mas, urusan pekerjaan kami juga berjalan lancar".
" Heem, syukurlah, apa kamu pergi dengan atasanmu?".
"Iya mas kami pergi bersama tim juga".
"Maira, berhati-hatilah dalam bergaul dan berhubungan karena aku tidak ingin kamu dalam bahaya". Ujar Dewa sambil menatap wajah cantik istrinya.
"Iya mas, terimakasih mas sudah mengingatkan aku".
"Aku akan membersihkan diri dan berganti pakaian dulu setelah itu kita makan malam bersama". Ujar Dewa setelah itu di pergi meninggalkan Maira yang masih mematung di sana.
Maira menatap punggung suaminya yang semakin menjauh sambil menghela kan napas, entah bagaimana jika sampai Dewa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepadanya karena dalam pikirannya Maira telah menyerahkan dirinya secara utuh kepada Rian.
Bukan hanya Maira, Rian juga mengalami hal yang sama sampai membuat Ricko bingung melihat wajah majikannya yang biasanya sangar menjadi berbinar itu.
__ADS_1
"Sepertinya anda sedang bahagia tuan". Ujar Ricko datar.
"Tidak juga, aku hanya lega saja karena pekerjaan kita di Korea bisa selesai sesuai dengan target". Jawab Rian.
"Baiklah, saya hanya ingatkan jangan bermain dengan api jika anda tidak ingin terbakar". Ujar Ricko penuh penekanan.
Rian terdiam dengan raut wajah yang berubah karena dia tahu maksud dari ucapan Ricko itu.
"Bukankah kamu yang menerimanya bekerja di sini agar aku bisa bermain-main dengannya".
"Tapi bukan bermain dengan hatinya tuan, karena kita berdua sama-sama tahu jika Maira juga korban sama seperti anda". Setelah mengucapkan hal tersebut Ricko meninggalkan Rian begitu saja dan Rian sangat tahu apa artinya itu, ya, pria yang menjadi orang kepercayaan itu pasti sedang marah kepadanya.
Rian merenungi apa yang di katakan oleh Ricko namun jika dia mengingat bagaimana manisnya senyuman Maira, pria itu lupa akan segala rintangan besar yang akan di dia dan Maira hadapi di depan sana nanti.
Namun Rian dan Maira tetaplah sepasang insan biasa yang jika bertemu akan melupakan segalanya, seperti halnya saat ini, Rian langsung memeluk Maira yang sudah dia hari tidak masuk kerja karena memang dia di berikan cuti untuk beristirahat di rumah setelah melakukan perjalanan ke Korea.
"Tuan, bukankah ini salah?". Tanya Maira gelisah.
"Tugasmu saat berada di sampingku hanya memikirkan tentangku saja tidak tentang orang lain, apa kamu tidak takut jika kamu benar-benar hamil dan membuat anak kita stress di dalam sini". Ujar Rian menggoda Maira.
"Tuan jangan bicarakan tentang hamil, aku takut".
"Tidak perlu takut sayang, ada aku di sini". Rian semakin mengeratkan pelukannya.
Rian juga semakin posesif kepada Maira, dimana setiap malamnya dia akan selalu menghubungi Maira sampai dia sudah memastikan jika Maira tidak tidur sekamar dengan Dewantara, aneh memang tapi itu semua bukalah rekayasa karena Rian melakukan benar-benar karena dia tidak terima jika Maira dan Dewantara berdekatan apalagi sampai tidur di satu ranjang yang sama.
__ADS_1
Setiap harinya mereka juga sering menghabiskan waktu untuk makan siang di luar bersama dan hanya berdua saja bahkan Ricko yang sudah memperingatkan kepada Rian untuk tidak terlalu menunjukkan hubungan mereka di depan umum di abaikan begitu saja.
Bahkan di kalangan para karyawan juga sudah berhembus kabar tentang kedekatan keduanya sehingga keberadaan Maira di tengah-tengah para karyawan semakin di kucilkan. Namun bukanlah Maira jika mempermasalahkan hal yang tidak penting seperti itu.
Kebahagiaan bersama Rian nyatanya menutup mata hatinya Maira untuk peka akan keadaan sekitarnya bahkan ada yang mengatakan jika Maira berbohong akan statusnya yang sudah menikah karena tidak ada satu orangpun dari mereka yang mengenal atau pernah melihat suami wanita cantik itu. Bahkan ada yang terang-terangan menghina Maira sebagai wanita licik yang memanfaatkan status dan kecantikannya untuk menggoda Rian.
Suatu hari, para karyawan wanita yang sangat membenci Maira merencanakan untuk mencelakai wanita itu, mereka mencari momen dimana Rian dan Ricko sedang tidak berada di kantor sehingga mereka bisa leluasa untuk mencelakai Maira.
Kebetulan hari ini Rian dan Ricko harus melakukan survey secara langsung di lapangan dimana proyek yang mereka kerjakan sedang mengalami sedikit kesulitan, Rian sengaja tidak mengajak Maira karena pria itu tidak mau wanita yang membuat hari-harinya lebih berwarna itu kelelahan sehingga Rian menyuruh Maira tetap berada di kantor dan menyelesaikan pekerjaan di kantor saja.
Namun meskipun Rian tidak berada di kantor dia selalu berbagi kabar dengan Maira layaknya sepasang kekasih yang sedang menjalin hubungan jarak jauh. Hari itu Rian juga mengatakan jika dia tidak akan kembali lagi ke kantor karena banyak hal yang harus dia kerjakan di luar kantor.
"Jangan lupa makan siang dan nanti pulanglah duluan karena aku tidak akan kembali ke kantor". Ujar Rian.
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik, aku pasti akan sangat kesepian disini sendirian". Jawab Maira.
Karena Rian tidak berada di kantor maka Maira memutuskan untuk makan siang di kantin perusahaan tersebut. Selama dia berada di sana banyak sekali bisikan-bisikan dan sindiran-sindiran yang di tujukan oleh para karyawan wanita kepadanya namun anehnya Maira tetap nyaman menghabiskan semua makanannya tanpa sisa sehingga membuat para karyawati-karyawati itu semakin membencinya.
Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk memasukkan sesuatu ke dalam minuman yang terletak di meja kerja Maira sebelum wanita itu kembali ke meja kerjanya, setelah Maira meminum minuman itu tanpa dia sadari dia merasa jika matanya sangat terasa berat dan Maira tidur seketika itu juga rupanya mereka ingin Maira tertidur pulas sehingga misi mereka mudah untuk di lakukan.
Tiga orang wanita yang juga bekerja di perusahaan tersebut kemudian saling bantu membantu untuk mengangkat tubuh Maira untuk di kurung di dalam gudang untuk memberikan Maira pelajaran agar Maira tidak sanggup lagi bekerja di sana dan mengundurkan diri.
Ketiga wanita itu tertawa penuh kemenangan karena misi mereka berhasil, suasana yang sudah sepi karena jam pulang kerja juga membuat misi mereka berjalan dengan lancar.
"Setelah hari ini wanita itu pasti akan ketakutan dan tidak mau lagi bekerja di sini". Ujar salah satu dari mereka.
__ADS_1
Mereka juga sengaja mengunci Maira di gudang yang sama sekali tidak pernah di lewati oleh para karyawan termasuk petugas keamanan agar tidak ada yang tahu dimana keberadaan wanita cantik itu.
...----------------...